Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 : SARAPAN PAGI YANG TAK DISENGAJA
...BAB 23...
...SARAPAN PAGI YANG TAK DISENGAJA...
Cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai apartemen.
Pagi telah datang.
Amelia membuka matanya perlahan. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar Berry sebelum akhirnya tersadar.
Ia langsung bangun. "Astaga..."
Amelia meraih ponselnya. Sudah pukul 06.30 pagi. Ia menguap sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Ingatan tentang malam tadi kembali memenuhi kepalanya.
Bintang demam. Rumah sakit. Reyga yang panik. Dan akhirnya ia menginap di apartemen Berry.
Amelia segera keluar kamar dengan langkah pelan. Ruang tengah masih sunyi. Matanya langsung tertuju pada sofa. Reyga tertidur di sana.
Tubuh lelaki itu sedikit meringkuk. Satu tangannya masih berada di atas dahinya. Wajahnya terlihat sangat lelah.
Amelia terdiam. Semalaman Reyga memang hampir tidak tidur.
Beberapa kali Amelia terbangun karena mendengar suara Bintang merengek. Setiap kali itu pula terdengar suara Reyga menenangkan bayi tersebut.
Sekarang lelaki itu akhirnya tertidur pulas. Amelia berjalan pelan menuju kamar Bintang.
Bayi itu masih tidur. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan semalam.
Amelia menyentuh dahi Bintang dengan punggung tangannya. "Sudah nggak panas lagi..." ia tersenyum lega.
Kemudian kembali ke ruang tengah. Sebenarnya Amelia ingin segera pulang. Namun melihat Reyga yang tertidur begitu lelap, ia mengurungkan niatnya.
"Kasihan kalau dibangunin." Ia kemudian berjalan menuju dapur.
Perutnya tiba-tiba berbunyi. Kruuuk! Amelia membeku. Ia memegang perutnya. "Ya ampun..."
Baru sekarang ia sadar sejak kemarin sore dirinya belum makan dengan benar.
Amelia membuka kulkas. Ia terdiam. "Ini kulkas apa gudang makanan anak kos?"
Isinya sebagian besar makanan siap saji. Ada nugget, sosis, kentang beku. Beberapa bungkus makanan instan semua. Dan...
"Ada telur." Amelia mengambil beberapa butir telur. "Setidaknya ada ini."
Ia mencari bahan lain. Tidak banyak. Akhirnya Amelia memutuskan membuat telur omelet dan nugget.
Ia mulai memasak. Suara minyak yang mendesis memenuhi dapur. Aroma telur yang matang perlahan memenuhi seluruh ruangan.
Amelia tersenyum puas. "Lumayan." Ia membalik omelet dengan hati-hati.
Namun di ruang tengah...
Reyga yang masih tertidur mulai mengernyitkan dahi. Hidungnya bergerak. Aroma makanan menyeruak sampai ke sofa.
Perutnya tiba-tiba berbunyi.
Kruuuk!
Reyga membuka mata. "Hah?" Ia mengangkat kepala. Perutnya berbunyi lagi. "Siapa yang masak?"
Reyga duduk sambil mengusap wajah. Rambutnya berantakan. Ia bahkan masih mengenakan kaus yang sama seperti semalam.
Reyga berjalan menuju dapur. Begitu sampai di sana, ia melihat Amelia sedang berdiri di depan kompor.
Perempuan itu memakai celemek milik Berry yang kebesaran. Reyga terdiam beberapa detik.
Amelia menoleh. "Kamu sudah bangun?"
Reyga mengangguk. "Lo yang masak?"
"Iya."
Reyga melihat meja. Ada omelet dan nugget yang sudah tersusun di atas piring.
"Lo menemukan makanan?"
"Lebih tepatnya menemukan sisa-sisa kehidupan."
Reyga tertawa kecil. "Berry memang begitu. Dia punya uang banyak, tapi isi kulkasnya cuma beginian."
Lalu Reyga duduk. "Dia benar-benar sibuk kerja."
Amelia ikut duduk. "Kamu tidur cuma sebentar?"
Reyga mengangguk. "Semalaman Bintang beberapa kali bangun."
"Kasihan."
"Yang kasihan gue."
Amelia tertawa. "Kamu mengeluh?"
"Gue cuma menyampaikan fakta."
Mereka mulai sarapan. Reyga mengambil omelet cukup banyak.
Begitu masuk ke dalam mulutnya, matanya langsung sedikit membesar. "Enak."
Amelia tersenyum. "Serius?"
"Iya."
"Kirain kamu cuma lapar."
Reyga mengangguk sambil makan. "Ya... dua-duanya."
Amelia tertawa.
Beberapa saat kemudian suasana menjadi lebih santai.
"Lo sering masak?" tanya Reyga.
"Sering. Dari dulu."
"Di rumah?"
"Iya. Aku biasa bantu Ibuku."
Reyga mengangguk. Amelia memperhatikannya sebentar.
"Reyga."
"Hm?"
"Terima kasih."
Reyga berhenti makan. "Untuk?"
"Semalam."
Reyga mengangkat bahu. "Gue yang harusnya berterima kasih."
"Kenapa?"
"Karena lo mau menjaga Bintang."
Amelia tersenyum. "Dia lucu."
Reyga menatap ke arah kamar. "Kadang."
"Kadang?"
"Kalau nggak nangis."
Amelia terkekeh.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari kamar.
"Eh..." Keduanya langsung menoleh. Bintang mulai terbangun.
Reyga berdiri. "Biar gue."
Namun Amelia lebih cepat. "Aku saja."
Mereka berdua hampir bersamaan berjalan menuju kamar. Dan akhirnya saling bertabrakan di pintu.
"Eh!" Amelia hampir kehilangan keseimbangan.
Reyga spontan memegang lengannya. "Pelan-pelan."
Amelia menatap tangan Reyga yang masih memegang lengannya.
Kemudian keduanya saling pandang. Beberapa detik.
"Maaf," ucap mereka hampir bersamaan. Reyga segera melepaskan tangannya.
Bintang malah mulai tertawa dari tempat tidurnya.
Amelia menatap bayi itu. "Dia ketawa."
Reyga menghela napas. "Kayaknya dia sengaja."
*****
Sementara itu di tempat lain, Berry masih berada di pabrik milik ayahnya. Sudah hampir satu minggu ia tidak kembali ke apartemen.
Namun bukan semata-mata karena masalah pekerjaan. Ada alasan lain. Berry sedang memperhatikan seseorang.
Dari dalam mobilnya yang terparkir agak jauh dari sebuah rumah makan, matanya terus tertuju pada seorang perempuan yang sedang bekerja.
Melda.
Perempuan itu terlihat sedang membawa beberapa piring ke meja pelanggan. Sesekali ia berhenti untuk menarik napas. Tangannya kemudian tanpa sadar menyentuh perutnya.
Berry menggenggam kemudi. Sejak pertemuan mereka di rumah sakit, pikirannya tidak pernah tenang. Lima bulan. Lima bulan kandungan. Dan waktu itu...
Berry menghitung dalam kepalanya. Kemungkinan besar memang anaknya. Ia menghela napas panjang. "Melda..."
Berry sebenarnya ingin masuk. Tetapi ia tidak berani. Setiap kali melihat Melda, keberaniannya menghilang.
Kemarin perempuan itu bahkan mengembalikan uang yang diberikannya. Tidak mau menerima bantuan sedikit pun.
Berry akhirnya menemukan cara lain. Ia membuka ponselnya.
Sebuah pesan masuk.
Sudah dikirim, Pak.
Berry membalas singkat.
Pastikan dia yang menerimanya. Jangan bilang dari saya.
Tak lama kemudian, seorang kurir berhenti di depan rumah makan. Ia membawa beberapa makanan. Buah-buahan, susu, roti, semuanya makanan bergizi.
Melda tampak bingung ketika menerima semuanya. "Ini untuk siapa Mas?"
Kurir itu hanya tersenyum. "Katanya untuk Mbak Melda."
"Dari siapa?" tanya Melda penasaran.
"Maaf, saya cuma diminta mengantarnya." Kurir itu pergi setelah memastikan Melda yang menerimanya.
Melda menatap bungkusan itu cukup lama. Ia kemudian membawanya masuk.
Dari dalam mobil, Berry mengembuskan napas lega. Setidaknya perempuan itu mau makan.
Ia teringat perkataan dokter kemarin. "Kondisi tubuhnya lemah. Ia membutuhkan istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi."
Berry langsung menjalankan saran itu. Walaupun Melda menolak uangnya. Walaupun Melda tidak mau berbicara dengannya.
Berry tetap ingin memastikan perempuan itu baik-baik saja.
"Kalau lo nggak mau uang gue..." gumam Berry. "Setidaknya jangan tolak makanan itu."
Namun Berry belum tahu. Perhatiannya yang diam-diam itu perlahan mulai mengubah sesuatu dalam dirinya.
Dulu ia selalu pergi ketika hubungan menjadi rumit. Sekarang justru ia tidak sanggup pergi.
Berry kembali menatap Melda dari kejauhan. Perempuan itu sedang memakan buah yang baru dikirim.
Senyum kecil muncul di wajah Berry. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, melihat seseorang makan dengan lahap saja sudah cukup membuat hatinya tenang.
Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Berry mengangkatnya. "Ya ada apa?"
Suara salah satu pekerja terdengar dari seberang. ["Pak Berry, ada masalah lagi di gudang."]
Berry menghela napas. "Masalah apa lagi?"
["Beberapa barang belum masuk."]
Berry melirik Melda sekali lagi. "Baik. Gue ke sana." Ia menyalakan mesin mobil.
Namun sebelum pergi, matanya kembali tertuju pada rumah makan itu.
"Jaga diri lo baik-baik, Melda."
Mobil Berry perlahan meninggalkan tempat tersebut.
Tanpa ia sadari, perasaan yang selama ini selalu ia hindari mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
*****
Sementara di apartemen...
Reyga sedang sibuk mengganti popok Bintang. Dan Amelia berdiri di sampingnya sambil menahan tawa.
"Reyga..."
"Apa?"
"Popoknya kebalik."
Reyga membeku. "...Apa?"
Amelia menunjuk. "Itu bagian belakang."
Reyga menatap popok di tangannya. Kemudian menatap Bintang. Bintang menatapnya balik. "Jangan lihat gue begitu."
Amelia tertawa lagi.
Pagi itu, dua sahabat dan seorang bayi kembali membuat kekacauan kecil. Dan tanpa mereka sadari, kehidupan mereka perlahan mulai berubah.
Bersambung...