Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suasana di dalam penthouse mewah milik Rangga Pratama kian hari kian menunjukkan warna aslinya. Kepulangan Resti bukanlah membawa ketenangan atau kehangatan masa lalu yang dirindukan, melainkan membawa serta hawa beracun dari ego yang mendominasi dan sifat asli yang selama ini tertutup rapi di balik senyuman manja.
Sejak Rania memutuskan untuk menarik diri dan menerapkan sikap dingin, dinamika di bawah atap tersebut berubah menjadi medan perang psikologis yang sunyi. Di hadapan Rangga, Resti tetap memasang topeng wanita rapuh yang manis dan membutuhkan perlindungan. Namun, begitu bayangan Rangga menghilang di balik pintu utama—pergi menuju kantor pusat untuk mengurus keraaan bisnisnya—Resti dengan cepat melepas topeng itu tanpa beban.
Hari menjelang sore ketika Rania baru saja kembali dari salah satu cabang toko rotinya. Langkah kakinya terasa ringan namun pasti saat ia memasuki area ruang tengah penthouse. Di atas sofa beludru impor, puluhan kotak belanjaan dari butik-butik ternama berserakan tidak beraturan, menumpuk di atas permadani mahal bersama gaun-gaun malam dan sepatu bermerek yang dibeli menggunakan kartu kredit Rangga selama beberapa hari terakhir.
Resti berdiri di dekat tumpukan barang-barang itu, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi wajah yang menyiratkan rasa jijik dan superioritas yang meluap-luap. Melihat kehadiran Rania yang melangkah tenang menuju koridor kamar, mata Resti menyipit tajam.
"Hei, pengantin pengganti!" panggil Resti dengan nada suara yang sengaja dibuat tinggi, merendahkan, dan menusuk gendang telinga.
Rania menghentikan langkahnya. Ia tidak langsung berbalik, melainkan mengambil napas pelan untuk menata kesabarannya agar tetap berada di ambang batas kewarasan. Dengan gerakan anggun, Rania membalikkan tubuhnya, menatap kakak tirinya itu dengan sorot mata yang datar tanpa binar emosi sedikit pun.
Resti mendengus sinis, melangkah mendekat dengan dagu terangkat angkuh. Ia menunjuk tumpukan kotak belanjaan dan beberapa koper kosong yang berserakan di dekat sofa dengan ujung sepatu hak tingginya.
"Kau lihat semua barang ini?" ucap Resti dengan nada penuh perintah, seolah-olah ia adalah nyonya besar yang sedang berbicara kepada seorang pelayan rendahan. "Pindahkan semuanya ke kamar tamu di sayap barat sekarang juga. Dan bereskan kotak-kotak bekas ini ke tempat sampah luar. Ruangan ini terlihat seperti kapal pecah, dan aku belanja semua ini bukan untuk menjadi pemandangan kotor di ruanganku."
Perintah itu diucapkan dengan keangkuhan yang luar biasa, mencerminkan bagaimana Resti memandang rendah kedudukan Rania di rumah tersebut. Bagi Resti, Rania tetaplah gadis penurut yang dulu selalu bisa ia injak-injak di bawah bayang-bayang keluarga Pratama sebelum hari pernikahan kacau itu terjadi.
Alih-alih menunjukkan kemarahan, kepanikan, atau rasa terhina seperti yang diharapkan oleh Resti, Rania justru berdiri tegak dengan postur yang sangat tenang. Sudut bibir Rania terangkat perlahan, membentuk sebuah senyuman tipis yang menyayat—senyuman penuh kemenangan mental yang membuat Resti mengerutkan keningnya tidak suka.
Rania memandang sekeliling ruangan yang berantakan itu, lalu kembali menatap mata Resti lekat-lekat tanpa rasa gentar sedikit pun.
Dengan suara yang tenang, lembut, namun memiliki daya tusuk yang luar biasa tajam, Rania membuka suaranya.
"Kupikir, tangan pelayan rumah jauh lebih pantas untuk membereskan barang-barang ini, Kak Resti," ucap Rania pelan, namun setiap katanya terdengar sangat jelas. "Lagi pula... bukankah kakak yang meninggalkan Mas Rangga di altar suci demi ambisi konyol pergi ke Paris? Demi mengejar mimpi bodoh menjadi model internasional yang nyatanya berujung pada kegagalan dan kepulangan penuh rasa malu?"
Deg!
Kalimat itu meluncur begitu mulus, menghujam tepat di titik paling rapuh dan memalukan dalam hidup Resti. Selama ini, pelarian Resti ke Prancis adalah luka batin terbesar sekaligus rahasia memalukan yang berusaha ia kubur rapat-rapat di balik alasan dramatisnya. Mendengar fakta itu diungkit secara blak-blakan oleh Rania—gadis yang dulu selalu diam tertindas—membuat darah Resti mendidih seketika.
Belum sempat Resti menyela, Rania melanjutkan kalimatnya dengan tatapan mata yang semakin dingin.
"Jadi, jangan perlakukan aku seolah-olah aku adalah pesuruhmu di rumah ini," lanjut Rania dengan nada datar. "Statusku di sini jelas. Dan jika kakak lupa siapa yang sebenarnya tidak tahu malu... kaca besar di ujung koridor itu bisa mengingatkanmu."
Setelah melontarkan kalimat telak tersebut, Rania tidak menunggu Reaksi Resti lebih lama lagi. Ia memutar tubuhnya dengan tenang, melangkah anggun meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya sendiri, menutup pintu di belakangnya rapat-rapat tanpa menghiraukan jeritan kemarahan yang mulai membahana di luar sana.
Di ruang tengah, Resti tertegun bagaikan disambar petir di siang bolong. Wajahnya yang tadinya angkuh mendadak memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak hingga ke ubun-ubun. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.
"Rania! Kurang ajar sekali kau!" teriak Resti histeris, menendang salah satu kotak kardus di dekatnya hingga berantakan.
Rencana awal Resti untuk merendahkan mental Rania dan membuatnya menangis tersedu-sedu justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Alih-alih berhasil memancing emosi Rania, Resti justru dibuat frustrasi, kesal setengah mati, dan terbakar oleh emosinya sendiri karena menyadari bahwa Rania yang sekarang bukanlah Rania yang penakut di masa lalu. Wanita itu telah berubah menjadi sosok yang dingin, kebal, dan tidak tersentuh oleh hinaannya.
Menjelang malam hari, ketika jarum jam menunjuk angka delapan malam, pintu utama penthouse terbuka. Rangga melangkah masuk ke dalam ruangan dengan wajah lelah, melonggarkan dasi di lehernya setelah seharian berkutat dengan rapat dewan direksi yang melelahkan.
Belum sempat Rangga meletakkan tas kerjanya di atas konsol meja, sosok Resti tiba-tiba berlari menghampirinya dengan isak tangis yang dibuat-buat sedramatis mungkin. Wajah Resti tampak sembab, matanya merah, dan ia langsung mencengkeram lengan jas Rangga erat-erat seolah-olah ia baru saja mengalami penganiayaan yang luar biasa kejam.
"Rangga! Oh, Tuhan... syukurlah kau sudah pulang!" rintih Resti dengan suara bergetar penuh kepedihan palsu, menyandarkan kepalanya di lengan Rangga.
Rangga terkejut, mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Ia menatap Resti dengan rasa heran bercampur risih yang mulai merayap di dadanya. Akhir-akhir ini, rengekan dan drama Resti mulai terasa jauh lebih melelahkan daripada tumpukan dokumen kantor.
"Ada apa, Resti? Kenapa kau menangis seperti ini? Siapa yang membuatmu sedih?" tanya Rangga dengan nada suara yang berusaha ia sabar-sabarkan, meskipun terdengar kaku.
Resti mendongak, menatap Rangga dengan tatapan memelas yang dipenuhi air mata tiruan. Ia mulai melancarkan akting terbaiknya, melebih-lebihkan setiap kejadian demi memutarbalikkan fakta yang sebenarnya terjadi di siang hari tadi.
"Rania, Rangga... Rania bersikap sangat kasar kepadaku!" adu Resti dengan suara isak tangis yang dilebih-lebihkan. "Tadi siang, aku hanya meminta tolong padanya dengan baik-baik untuk merapikan sedikit barangku di ruang tengah karena aku baru saja kelelahan habis dari salon. Tapi... tapi dia tiba-tiba memaki-makiku dengan kata-kata yang sangat keji! Dia menghina masa laluku di Paris, mengatakan bahwa aku wanita tidak tahu malu, dan meneriakiku dengan sangat kasar di rumah ini!"
Resti sengaja membalikkan cerita, menempatkan dirinya sebagai korban yang teraniaya dan menuduh Rania sebagai pelaku intimidasi yang kejam. Ia berharap Rangga akan murka, membentak Rania, dan memberikan pelajaran telak kepada istri sahnya itu.
Namun, di luar dugaan Resti, reaksi yang ditunjukkan oleh Rangga sangat jauh dari apa yang ia bayangkan.
Rangga tidak berteriak. Rangga tidak mengepalkan tangan karena marah besar. Pria itu justru terdiam kaku di tempatnya, menatap kosong ke arah Resti sambil mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari bibir wanita tersebut.
Di dalam lubuk hati Rangga yang paling dalam, akal sehatnya langsung memberontak menolak cerita itu mentah-mentah. Selama berbulan-bulan tinggal satu atap dengan Rania, Rangga mengenal betul karakter dan watak istrinya. Rania adalah wanita yang tenang, sabar, pendiam, bahkan cenderung menelan segala kepedihan dan hinaan seorang diri tanpa pernah membalas dengan kata-kata kasar atau menciptakan keributan. Rania tidak mungkin melakukan tindakan histeris dan menghina orang lain tanpa alasan yang sangat mendasar—terutama menyerang secara verbal tanpa provokasi.
Rangga teringat bagaimana Rania menatapnya dengan dingin di pagi hari, bagaimana wanita itu mengabaikannya, dan bagaimana sikap acuh tak acuh itu kini merasuki setiap inci rumah mereka.
Melihat Rangga hanya diam terpaku tanpa menunjukkan kemarahan seperti yang ia harapkan, Resti merasa panik. Ia mengguncang-guncang lengan Rangga lebih kuat. "Rangga! Kau dengar tidak apa kataku? Dia sudah berani mengusir dan menghinaku di rumahmu sendiri! Kau harus menegurnya! Kau harus menceraikannya sekarang juga!"
Rangga perlahan melepaskan cengkeraman tangan Resti dari lengannya dengan gerakan yang halus namun tegas. Pria itu menarik napas panjang, menatap wajah Resti yang tampak gelisah di balik air mata palsunya.
"Sudahlah, Resti," ucap Rangga dengan nada suara yang datar, dingin, dan tidak menyiratkan keberpihakan sama sekali. "Sudah malam. Masuklah ke kamarmu dan beristirahatlah. Soal masalah tadi... aku akan memikirkannya nanti."
Setelah mengucapkan kalimat singkat itu, Rangga melangkah melewati Resti begitu saja tanpa menoleh lagi, berjalan meninggalkan wanita itu yang berdiri terpaku dengan mulut ternganga karena terkejut.
Di dalam kamarnya sendiri, Rangga menjatuhkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang terasa basah oleh keringat dingin. Di dalam kepalanya, kebingungan dan rasa bersalah bergolak hebat. Ia tahu persis ada sesuatu yang retak, sesuatu yang salah dalam rumah tangga ini. Dan yang paling menakutkan bagi Rangga adalah kenyataan bahwa bayangan Rania—wanita yang kini memilih bungkam dan mengabaikannya—kini jauh lebih mendominasi pikirannya daripada drama kekanak-kanakan yang dibawa oleh Resti.
•
•
•
•
Jangan lupa like ya😉