Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Demi Skripsi

Bab I

 

“Ini apa?” Ruby membaca email masuk, ternyata surat dari Universitas Jakarta. Ah, iya, apa kabar kuliahnya. Sudah lama juga tidak fokus dengan skripsi yang tertunda karena sibuk dengan pekerjaan. Menjadi model sejak masih semester awal dan semakin ditekuni saat tahun terakhir kuliah. Bukan hanya model, Ruby pun aktif sebagai influencer di media sosial.

“Peringatan akhir masa studi,” ucapnya membaca perihal surat terlampir di email. “Astaga. Sudah selama inikah aku vakum.” Menghitung kembali kapan ia masuk kuliah sampai dengan sekarang. Ternyata hampir tujuh tahun. Ruby menepuk keningnya, terlalu abai dan terlena dengan profesinya mengabaikan legalitas pendidikan. Padahal Mama dan Papa sering mengingatkan agar ia lanjut S2, tentu saja fokus dengan ilmu bisnis agar bisa meneruskan usaha keluarga.

“Iya ya, umur gue udah 25. Temen sekelas udah pada jadi apa, lah gue sidang juga belum. Astaga, Ruby.”

Membaca ulang batas waktu yang dia miliki, apalagi surat itu sudah berada di inbox emailnya sejak beberapa bulan lalu. Selama ini hanya fokus dengan email yang berhubungan dengan pekerjaan.

“Busyet, sebulan lagi. Bisa ngejar gak ya.”

Tidak sampai 2 jam, Ruby sudah berada di kampus. Membawa berkas skripsinya yang hampir menjadi fosil. Ia mendatangi ruang kerja sang dosen pembimbing. Barata Airlangga. Bukan hanya dosen, pria itu menjabat sebagai wakil rektor bidang perencanaan dan kerjasama. Nyatanya dospem itu tidak ada di tempat, hanya bertemu dengan asistennya di kampus.

“Pak Bara, sedang di luar kota. Sudah beberapa hari, beliau sedang penelitian.”

“Terus nasib saya, gimana?”

“Mana saya tahu, mbak. Sudah hubungi pak Bara, belum. Mungkin ada solusi.”

Ruby gegas mencari kontak Bara, beruntung masih tersimpan. Tiga tahun ini terlena dengan kesibukannya sebagai model dan influencer, mengabaikan legalitas pendidikan yang tinggal selangkah lagi. Mamanya pun sudah bosan mengingatkan.

“Selamat siang, pak. Saya Ruby, mahasiswa bimbingan bapak. Ada waktu pak, Saya mau bimbingan.”

Bukan jawaban, Ruby mendengar suara gemerisik dan putus-putus di ujung sana.

“Halo, Pak Bara.”

“Iya. Ini siapa?”

“Ruby pak, saya Ruby. Mau bimbingan skripsi, bisa kapan ya Pak? Waktunya mepet, ada waktu dua minggu lagi untuk daftar sidang.”

“Saya tidak ada di Jakarta.”

“Terus gimana pak?”

“Kamu ….” Kembali suara putus-putus.

“Halo, pak, saya harus gimana ini?”

Suara kembali terputus-putus dan “… saya tunggu!”

“Hah, nunggu gimana pak? Nunggu bapak balik ke Jakarta, tamatlah sudah pak. Waktu saya sempit, tolong pak.”

“Iya, tanya … mas Ardi, segera saya tunggu!”

Ruby berdecak karena suara di sana putus. “Mas Ardi? Maksudnya bapak nunggu di mana? Saya harus susul bapak gitu?”

“Ardi …. Tanya ke Ardi.”

Panggilan pun diakhiri. “Hah, halo pak. Pak Bara!”

“Gimana mbak, bisa?” tanya Ardi asisten Bara.

Ruby menoleh dan menggeleng. “Pak Bara minta segera dan tunggu di sana. Saya suruh tanya mas Ardi. Ck, saya harus susul ke sana gitu? Memang beliau di mana?” Mendengar lokasi di mana Bara berada, membuat gadis itu langsung tercengang. “Jadi saya harus nyusul ke sana?”

“Lah, tadi pak Bara kasih solusinya gimana?”

“Nggak jelas mas, intinya saya tunggu segera. Waktu saya tanya bapak nunggu di mana, beliau jawab tanya Mas Ardi.”

Ruby terdiam fokus dengan ponsel, mencari tahu lokasi dimana Bara berada. Perjalanan dengan pesawat hanya 2 jam, lalu perjalanan darat sekitar 1 jam. Ardi mengoceh kalau lokasi Bara ada di pelosok, ia harus menggunakan motor dari pusat kota.

“Gimana, jadi nyusul?”

Ruby menarik nafas lalu mengangguk. Tidak ada pilihan lain, ia harus menemui Bara. Meski tidak langsung acc, mungkin 1 atau 2 kali pertemuan lagi acc itu bisa dia dapatkan. Hari ini bertemu, lalu revisi besok temui lagi, begitu pikirnya.

“Serius mbak?”

“Nggak mas, saya bercanda. Ya serius dong. Saya nggak mau disebut mahasiswa abadi.”

“Mahasiswa abadi yang hampir di DO,” sahut Ardi. “Semoga lancar ya, mbak.”

***

Perkiraan 4 jam akan tiba di lokasi, nyatanya meleset. Selain jadwal penerbangan sempat pending karena cuaca, agak sulit mendapatkan ojek ke lokasi setelah menggunakan taksi online dari bandara ke pinggiran kota. Minta diantar sampai ke lokasi, tapi supir itu menolak. Alasannya karena sudah sore, agak sulit mendapatkan penumpang untuk arah kembali ke kota. Padahal Ruby sudah menawarkan akan membayar lebih.

Mengenakan blouse dengan bawahan celana jeans dilapis dengan cardigan dan flatshoes. Lengkap dengan sling bag dan koper kecil berisi dua stel pakaian ganti, berkas skripsi dan laptopnya. Motor berhenti di depan balai desa tujuannya.

“Ini tempatnya pak?” tanya Ruby.

“Iya, sesuai alamat.”

“Gimana kalau ternyata alamat palsu,” gumam Ruby lalu turun dari motor, melepas helm dan menyerahkan pada pengemudi ojek yang menurunkan kopernya. Sempat menatap sekitar, sudah mulai sepi karena sudah sore menjelang maghrib. Harus segera menemukan dosennya, sebelum makin larut. Tidak ada penginapan di perkampungan itu, sempat melewati hotel berbintang dan hotel melati itupun di pusat kota.

Balai desa yang dia tuju tentu saja sudah tutup. Penduduk sekitar sudah berada di rumah masing-masing, beberapa pria dengan sarung dan baju koko serta berpeci terlihat mendatangi mushola terdekat.

Langkah Ruby menuju warung yang berada di seberang balai desa, menumpang duduk dan menunggu sampai Bara bisa dihubungi.

“Ck, gak ada sinyal,” keluh Ruby mencoba menghubungi Bara.

Sempat berbincang dengan pemilik warung kalau dia menunggu dosennya dari Jakarta.

“Dosen dari Jakarta?”

“Iya, bu. Dosen saya sedang ada tugas di sini, katanya sudah beberapa hari.”

“Tamu dari Jakarta adanya guru bukan dosen,” seru ibu pemilik warung sambil membereskan dagangan yang digantung. Sepertinya warung itu akan tutup, wajar saja sudah lewat maghrib.  

“Ah, iya, itu bu. Dosen dan Guru hampir sama. Ibu tahu dengan guru saya? Namanya Pak Barata.” Ruby sudah berdiri di samping ibu pemilik warung bahkan membantu wanita itu memasukan barang dagangannya.

“Tahu, saya, dua kali lewat ke Balai Desa. Dia tinggal di kampung Mejati, tidak jauh dari rumah pak kades. Ada kontrakan kosong punya pak kades, katanya beliau sementara tinggal di sana.”

“Kampung Mejati itu di mana bu?”

“Lumayan, jalan kaki ada sepuluh menit.”

Ruby mengangguk dan mencoba peruntungannya dengan menghubungi Barata. Beruntung kali ini terdengar nada tunggu dan akhirnya terdengar suara pria itu di ujung sana.

“Halo, pak Bara, saya Ruby pak. Ini sudah udah sampai, bapak di mana?”

“Sudah sampai? Sampai mana maksudmu?”

“Sampai sini pak. Balai desa Mage, kota ….”

“Siapa yang suruh kamu datang kemari?” sela Bara di ujung sana.

“Lah!” 

Terpopuler

Comments

Felycia Fernandez

Felycia Fernandez

Tanya ayu Ting tong kalau gtu 😆😆

2026-09-03

1

novel destiny

novel destiny

lah lah.. ini salah siapa jadinya? 🫠

2026-09-04

0

Shee_👚

Shee_👚

wah kayanya seru ini, aku mampir kak.🤗

2026-09-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!