Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14 Satu Setengah Milyar

"Rana, astaga!" Vanessa panik, setengah menarik Kirana menjauh dari staf butik.

"Kamu nggak lihat harganya?! Gaun itu delapan puluh juta! Dan satu tas yang barusan kamu tunjuk itu... itu harganya nyaris lima ratus juta, Rana!"

Kirana malah terkekeh, seolah angka ratusan juta itu hanyalah recehan. Ia mencubit pelan hidung sahabatnya yang sedang jantungan itu.

"Lebay kamu, Van. Ingat prinsip kita hari ini? Belanja itu harus dinikmati."

"Tapi ini bukan belanja namanya, Kirana! Ini namanya memborong seisi toko!" Vanessa merasa hampir pingsan melihat staf butik mengangkut kotak-kotak oranye besar ke meja kasir. Total belanjaan mereka terus bertambah gila-gilaan.

Dan kegilaan itu tidak berhenti di butik pertama. Selesai dari sana, Kirana langsung menarik Vanessa masuk ke toko perhiasan ternama di lantai yang sama.

Gelang berlian murni. Anting zamrud. Jam tangan bertatahkan safir. Kalung emas putih. Semuanya ditunjuk dan dipilih oleh Kirana tanpa ragu sedikit pun.

"Baik, Nona. Total sementara untuk seluruh perhiasan ini adalah..." Kasir berjas rapi itu tersenyum profesional sambil menyebutkan angka yang membuat kaki Vanessa seketika lemas hingga ia harus bersandar pada etalase kaca.

"Ya Tuhan, Rana. Angka segitu udah bisa buat beli rumah mewah cash beserta kolam renangnya di pinggiran kota!" Vanessa memegang dadanya yang berdebar kencang.

Mengabaikan kepanikan sahabatnya, Kirana hanya membuka dompetnya dengan sangat tenang. Ia mengeluarkan kartu kredit hitam metalik berukir nama Ardy dari sana dan meletakkannya di atas mesin EDC.

"Gesek!"

Kasir itu tersenyum sangat ramah. "Baik, Nona. Ditunggu sebentar."

Tak lama kertas struk panjang pun keluar dari mesin. Transaksi berhasil tanpa penolakan.

Di waktu yang sama, di sebuah gedung perkantoran elit, Ardy sedang duduk di kursi kebesarannya. Ruang rapat itu diisi oleh belasan manajer divisi yang sedang serius mempresentasikan laporan keuangan kuartal ketiga.

Tiba-tiba, ponsel pintar Ardy yang tergeletak di atas meja bergetar singkat.

Ia melirik layar yang menyala sebentar. Awalnya, ia mengira itu hanyalah notifikasi email biasa atau pesan dari Siska. Namun, saat matanya menangkap logo bank dan membaca nominal transaksi yang tertera di pop-up layar, wajah Ardy langsung berubah kaku.

Transaksi berhasil, Rp487.500.000 di Butik V.

"Apa?!" pekik Ardy tanpa sadar.

Ia refleks berdiri dari kursinya dengan kasar. Suara gesekan kaki kursi yang menderit di lantai membuat seluruh peserta rapat langsung berhenti bicara dan menoleh ke arahnya.

"Pak Ardy? Apa masalah dengan datanya?" tanya manajer keuangan.

Ardy tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar ponsel. Belum sempat otaknya memproses apa yang baru saja terjadi, notifikasi kedua kembali masuk.

Transaksi berhasil, Rp326.000.000 di C Jewelry.

Napas Ardy tertahan di tenggorokan. Lalu notifikasi ketiga menyusul.

Keempat dan selanjutnya. Tidak ada jeda untuk dirinya bernapas sama sekali.

Mata Ardy membelalak hingga nyaris keluar dari sarangnya melihat nominal yang tertera. Rahangnya pun seketika mengeras.

"Apa-apaan ini?!" Amarah Ardy pun akhirnya meledak.

Para manajer saling berpandangan dengan kebingungan total, tak ada satu pun yang berani bernapas terlalu keras.

"Siapa yang berani memakai kartu ini sampai limitnya jebol begini?!" rutuk Ardy panik, jari-jarinya bergetar saat membuka aplikasi perbankan.

Hening sejenak. Lalu, bagai disambar petir di siang bolong, memori Ardy terputar kembali.

"Kirana," gumamnya.

Pagi tadi sebelum ia berangkat ke kantor dan memakan roti gosong buatan Siska, ia sendiri yang memberikan black card eksklusif itu kepada istrinya. Niatnya murni hanya untuk membungkam mulut Kirana agar wanita itu tidak meributkan soal pernikahannya dengan Siska. Ardy mengira Kirana paling hanya akan menggunakannya untuk membeli tas murahan atau skincare senilai beberapa juta.

Tapi nyatanya, dalam waktu kurang dari dua jam, wanita yang selalu ia anggap lemah dan penurut itu telah membakar uangnya lebih dari 1,5 miliar rupiah!

"Astaga, dia benar-benar perempuan gila!" Ardy menjatuhkan dirinya kembali ke kursi, mengusap wajahnya yang mendadak memerah amarah yang meledak-ledak. Tangannya meremas ponselnya dengan kuat. Hari ini, ia benar-benar salah mencari gara-gara dengan Kirana.

*

*

"Van, kamu bisa bayangin nggak gimana merahnya wajah mas Ardy sekarang?" Kirana menoleh, mengangkat beberapa kantong belanja dari butik ternama di kedua tangannya.

"Entahlah. Paling ngamuk."

Kirana tak kuasa menahan tawa membayangkan kepanikan suaminya.

"Apalagi pagi ini dia bilang ada meeting direksi. Pasti dia jantungan di ruang rapat."

"Kamu benar-benar udah nggak waras, Rana. Gila. Aku aja yang lihat totalnya sampai gemetar." Vanessa mengibaskan kertas struk panjang di tangannya. "Satu miliar lima ratus juta lebih! Ya Tuhan, Rana, itu uang loh, bukan daun."

Kirana hanya tersenyum tipis. Namun, senyum kebanggaan itu perlahan memudar ketika tatapannya tak sengaja jatuh pada sebuah toko perlengkapan bayi di lantai seberang. Beberapa pasang sepatu rajut mungil terpajang manis di balik kaca etalase. Seketika, dadanya kembali terasa sesak.

"Ini belum seberapa, Van." Suara Kirana berubah lirih dan bergetar. Tangannya perlahan turun, tanpa sadar mengusap perut ratanya.

"Satu miliar ini, masih sangat jauh dibanding rasa sakit ku kehilangan bayiku. Bayi yang bahkan belum sempat melihat dunia."

Vanessa langsung terdiam. Senyum cerianya ikut menghilang. Ia maju dan menggenggam erat tangan sahabatnya.

"Aku tahu, Ran. Kamu harus kuat," hibur Vanessa lembut.

"Nggak, Van." Kirana menggeleng pelan, menahan isak. "Kamu nggak akan pernah benar-benar tahu rasanya. Setiap kali aku lihat sepatu bayi, setiap dengar anak kecil ketawa dari jauh, aku selalu ingat rasa sakit itu. Seharusnya anakku juga bisa seperti mereka saat ini."

Air matanya mulai menggenang. Tiga tahun lamanya Kirana mengabdikan hidupnya untuk Ardy dan keluarganya. Ia rela dihina, diremehkan, diperlakukan layaknya pembantu. Namun balasan yang ia terima hanyalah pengkhianatan dan hilangnya buah hati yang sangat dinantikannya.

Vanessa langsung memeluk bahu Kirana. "Mulai sekarang, fokus sama diri kamu sendiri, Rana. Jangan pernah lagi hidup buat seseorang yang nggak pernah menghargai kamu."

Kirana menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Iya." Ia mengusap sudut matanya, dan senyum dinginnya kembali muncul. "Tapi sebelum aku pergi, aku mau bikin suamiku itu lebih sakit kepala dulu."

Baru saja kalimat itu terucap, ponsel di tasnya bergetar. Nama Ardy muncul di layar.

"Rana, itu mas Ardy. Kamu mau angkat?!"

"Hmm." Kirana menggeser tombol hijau dengan santai, lalu mendekatkan ponsel ke telinganya. "Ya, Mas Ardy sayang?"

"Dimana kamu!" seru Ardy.

Kirana malah tersenyum manis. "Santai sedikit, Mas. Kan tadi pagi aku sudah bilang, aku mau belanja skincare. Atau kamu kangen—"

"Aku tidak peduli! Kirim alamat kamu sekarang!" Ardy memotong ucapan istrinya dengan napas memburu.

"Sabar, Mas."

"Sekarang, Rana!"

Belum sempat Kirana menyahut, sambungan telepon sudah diputuskan secara sepihak. Kirana menatap layar ponselnya, bukannya panik, ia malah terkekeh pelan.

Vanessa mengangkat sebelah alisnya. "Kamu mau kirim lokasi ke dia?"

"Tentu." Kirana memasukkan kembali ponselnya ke tas. "Tapi nggak sekarang. Nggak seru dong kalau dia langsung datang, permainan seru ini akan cepat selesai."

"Berarti kita lanjut belanja ke lantai atas?"

Kirana mengangkat kartu kredit hitam milik Ardy, memutarnya di sela jemarinya. "Tentu saja. Selama limitnya belum habis, aku belum berniat pulang."

Sementara itu, Ardy berdiri mematung di ruang rapat, menggenggam ponselnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

"Kenapa dia belum mengirim lokasinya?!" geramnya tertahan.

1
Ayla Anindiyafarisa
aku sudah menebak sih kalau Tristan ini anak orang kaya
Ayla Anindiyafarisa
oala masih belum sadar juga tu emak
Risa Ristiani
ya kalo ngomongnya sama Ardi yg di bicarain siapa lagi ya Kirana lah 😆 oon semua😄
Ayla Anindiyafarisa
manusia manusia aneh pengen kaya tapi g mau kerja pengennya ngerampok harta orang
Ummee
uang tok pikiran mu mak lampir
Ummee
admin keuangan? haha siap² digerogoti
Ummee
selingkuhan nya siska ini pasti dan ayah dari anak yg dikandung siska ini kek nya
Anonim
mantap💞
rahmah
ceritanya bagus Kirana bukan berubah jadi bar² tapi memang seharusnya dari awal bersikap seperti itu biar tidak dihina terus²an sebelum menikahkan tau keluarga calon suaminya seperti apa apalagi mertuanya yg gak suka sama dia tapi dasarnya Kirana baik dan penurut terbuktikan 3 tahun dia mengabdi sampai anak yg dikandung jadi korban suaminya mana pernah perduli dan lebih percaya sama selingkuhannya dan setelah berubah dan berpisah dg suaminya Kirana justru mendapat kebahagiaan berkali lipat apalagi bertemu dg Tristan yg selalu setia bersamanya hingga bersatu membangun keluarga kecilnya tapi bagaimana nasib bu Sarah ya setelah dioperasi kirain meninggal aja..🤭
Nunuy Aja
good Kirana
Ayla Anindiyafarisa
kalau kirana kaya kenapa selama ini mau aja di hina dan di rendahakan
Thix
hasilnya tidak memuaskan krn mereka adopsi anak pelakor😒
Anonim
dak sadar diri🤣
Dewa Nara
ogah ah baca novel yg perempuannya lemah
𝓢𝓮𝓷𝓲 𝓢𝓮𝓿𝓲𝔂𝓸𝓻𝓾𝓶: baru bab 2 lho, blm selanjutnya
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
keeekk 🤣🤣🤣
Mujiono Año
gitu dong jadi perempuan.balas jika dihina
Deera__
memang /Proud/
Deera__
ngimpi /Hammer//Sly/
Deera__
diihh naif dan gengsi.. bilang aja kau suka dan cinta nonamu itu 🤣🤣🤣🤣🤣🤣/Tongue//Tongue//Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!