Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 28 - Di Pangkuan Ethan
Ashlyn masih bergerak-gerak kecil di atas pangkuan Ethan, sama sekali tidak menyadari bahwa setiap gerakan kecilnya justru membuat Ethan semakin sulit mempertahankan ketenangan.
Bagi Ashlyn, pangkuan Ethan memang sudah menjadi tempat duduk favoritnya. Setelah beberapa jam belajar dan menghabiskan waktu bersama para guru, ia merasa nyaman berada sedekat mungkin dengan suaminya.
Karena itu Ashlyn sama sekali tidak merasa ada yang aneh ketika tubuhnya sedikit bergeser untuk mencari posisi yang lebih nyaman.
Namun beberapa detik kemudian, gerakannya tiba-tiba terhenti. Ashlyn mengerutkan kening, ada sesuatu yang terasa berbeda ketika ia bergerak tadi. Gadis itu kemudian menundukkan wajahnya, mencoba memahami apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Eh, tunggu dulu," ucap Ashlyn.
Ethan yang sejak tadi berusaha bersikap tenang langsung menegang.
"Apa?" tanya Ethan, meskipun suaranya terdengar sedikit lebih berat dari sebelumnya.
Ashlyn kembali bergerak sedikit, lalu menatap Ethan dengan wajah penuh kebingungan. "Ada yang terasa keras."
Darah Ethan seolah langsung mengalir lebih cepat. Ia menahan napas selama beberapa detik, kemudian segera menahan pinggang Ashlyn agar gadis ini tidak kembali bergerak sembarangan. Rahangnya mengeras, sementara pikirannya bekerja cepat mencari cara untuk mengalihkan perhatian Ashlyn sebelum gadis itu bertanya lebih jauh.
"Apa ini?" tanya Ashlyn polos.
Ethan menatap wajah Ashlyn, tidak ada sedikit pun maksud aneh dalam sorot matanya. Ashlyn benar-benar hanya bertanya karena tidak mengetahui apa yang terjadi.
Justru kepolosan itulah yang membuat Ethan semakin tidak berdaya. "Ashlyn."
"Iya, Suamiku?"
"Kamu harus kembali belajar."
Ashlyn berkedip beberapa kali. "Belajar?"
"Iya." Ethan berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin. "Guru masih menunggumu."
Mata Ashlyn seketika membulat. Ia seperti baru saja mengingat sesuatu yang sangat penting. "Oh iya!"
Ashlyn pun segera turun dari pangkuan Ethan dan berdiri di samping kursinya. Wajahnya kembali cerah karena mengingat bahwa dirinya memang sedang menjalani pelajaran.
"Guru bilang Ashlyn harus belajar sampai selesai."
Ethan mengangguk cepat. "Benar."
"Kalau begitu Ashlyn belajar lagi."
"Pergilah," balas Ethan.
Ashlyn berjalan menuju pintu dengan langkah riang. Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, ia kembali berbalik.
"Suamiku."
Ethan menatapnya. "Hm?"
"Nanti kalau Ashlyn sudah selesai belajar, boleh duduk di pangkuan suami lagi?"
Ethan terdiam, entah kenapa mendengar pertanyaan itu membuat kepalanya kembali terasa berat. Ethan memejamkan mata sebentar sebelum kembali menatapnya.
"Hm," balas Ethan singkat, sebab tak tahu harus menjawab apalagi.
"Baik!" balas Ashlyn sangat antusias, ia tersenyum lebar, kemudian membuka pintu dan keluar dari ruang kerja.
Pintu kembali tertutup.
Barulah Ethan membiarkan tubuhnya bersandar pada sandaran kursi. Napas panjang keluar dari mulutnya, baru saja Ethan terbebas dari sebuah tekanan yang sejak tadi ia tahan.
Ethan menatap pintu di hadapannya selama beberapa saat. "Aku benar-benar harus terbiasa dengan keadaan ini," gumam Ethan.
Ethan mengusap wajahnya perlahan. Terbiasa yang ia maksud adalah terbiasa dengan Ashlyn yang tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya. Terbiasa dengan Ashlyn yang memanggilnya suami setiap beberapa menit. Terbiasa dengan tangan kecil yang mencari tangannya ketika merasa takut. Terbiasa dengan senyum polosnya yang selalu muncul setiap kali Ethan memberikan sedikit perhatian.
Juga harus terbiasa dengan Ashlyn yang tiba-tiba duduk di atas pangkuannya tanpa merasa bahwa ada sesuatu yang aneh.
Ethan mengembuskan napas perlahan. "Entah sampai kapan kita akan seperti ini."
Tatapan Ethan kemudian beralih kepada gambar yang tadi ditinggalkan Ashlyn di atas meja.
Gambar itu memang jauh dari kata bagus. Bentuk manusia yang dibuat Ashlyn bahkan tidak proporsional, rumahnya terlalu besar, sementara bunga-bunganya terlihat seperti coretan acak. Tetapi bagi Ethan, gambar tersebut memiliki sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan dari laporan mana pun.
Ashlyn menggambar dirinya sendiri dan Ashlyn juga menggambar Ethan. Mereka berada di rumah yang sama. Ethan tidak tahu mengapa gambar sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.
Namun Ethan tahu satu hal, untuk sekarang Ashlyn akan tetap berada di sisinya sampai gadis itu benar-benar sembuh. Apa yang terjadi setelah itu, Ethan belum ingin memikirkannya.
Malam Hari.
Langit Kota Servo telah sepenuhnya berubah gelap ketika sebuah mobil memasuki kawasan mansion Ethan. Lampu-lampu taman sudah mulai menyala, menerangi jalan masuk yang dikelilingi pepohonan dan bunga-bunga yang tertata rapi.
Mobil tersebut berhenti tepat di depan teras utama.
Pintu belakang terbuka dan Mommy Aluna turun dengan langkahnya yang anggun. Malam ini akhirnya mom Ivana datang sendirian karena Daddy Davion mendadak memiliki urusan yang tidak bisa ditinggalkan.
Sebenarnya Mom Aluna sempat mempertimbangkan untuk menunda kunjungannya, tetapi setelah mendengar perkataan Nadine mengenai kondisi Ethan, rasa khawatir sebagai seorang ibu membuatnya tidak bisa tenang.
Mom Aluna benar-benar ingin melihat putranya dengan mata kepalanya sendiri.
Begitu Aluna memasuki teras, seorang pelayan segera mengenalinya dan buru-buru datang menyambut. "Nyonya Aluna."
Aluna tersenyum ramah. "Halo."
Pelayan itu menundukkan kepala dengan hormat. "Selamat datang di mansion, Nyonya."
"Terima kasih."
"Saya akan menyampaikan kedatangan Anda pada Jenderal Ethan."
"Jangan."
Pelayan itu sontak berhenti, sementara Aluna malah tersenyum kecil, matanya menunjukkan keinginan untuk membuat kejutan kepada putranya. "Jangan panggil Ethan. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku datang."
"Tapi Nyonya_"
"Aku ingin menemui anakku secara langsung. Anggap saja kedatanganku malam ini sebagai kejutan."
Pelayan tersebut akhirnya mengangguk. "Baik, Nyonya."
Aluna kemudian melepas sarung tangan tipis yang dikenakannya sambil melihat ke dalam mansion. "Dimana Ethan sekarang?"
Pelayan tersebut terdiam sejenak. "Jenderal..."
"Di mana?" sahut mom Aluna karena pelayan tersebut tampak berpikir saat hendak menjawab.
"Jenderal sedang berada di taman samping, Nyonya."
Langkah Aluna yang baru saja hendak masuk langsung terhenti. "Taman?"
"Benar, Nyonya."
Mom Aluna mengerutkan kening. Sejak kapan Ethan menghabiskan waktu di taman?
Ia bahkan hampir tidak pernah melihat putranya bersantai. Sejak kecil, Ethan lebih suka menghabiskan waktunya membaca atau berlatih. Setelah dewasa, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk pekerjaan.
Kalau berada di mansion, ruang kerja hampir selalu menjadi tempat yang paling mudah ditemukan.
"Taman yang di samping mansion?" tanya mom Aluna ingin memastikan sekali lagi.
"Iya, Nyonya."
Aluna menatap pelayan itu dengan penuh keheranan. "Dia sedang melakukan apa di sana?"
Pelayan tersebut langsung merasa gugup. Ia tahu jawaban sebenarnya, bahwa Jenderal Ethan memang berada di taman tetapi tidak sendirian.
Ada nona Ashlyn di sana.
Namun dari cara Aluna bertanya, jelas sekali wanita itu tidak mengetahui keberadaan Ashlyn. Pelayan tersebut tidak ingin menjadi orang yang membocorkan rahasia yang bahkan Ethan sendiri belum ceritakan kepada ibunya.
"Jenderal hanya sedang menghabiskan waktu di taman, Nyonya."
Aluna semakin bingung. "Hanya menghabiskan waktu?"
"Benar."
Aluna memicingkan mata, kemudian tersenyum kecil. "Anakku sepertinya berubah."
Pelayan tersebut hanya bisa tersenyum kaku.
Aluna kemudian mengangguk. "Baiklah. Aku akan menemui Ethan sendiri."
"Baik, Nyonya."
Aluna mulai berjalan menuju bagian samping mansion. Semakin dekat dengan taman, semakin jelas terdengar suara percakapan dari arah luar.
Kemudian terdengar suara tawa, tapi sayangnya bukan suara tawa Ethan melainkan suara suara seorang wanita.
Langkah Aluna melambat, keningnya berkerut semakin jelas. "Suara siapa itu?"
Mom Aluna menatap ke arah pintu kaca yang menjadi akses menuju taman. Rasa penasaran perlahan menggantikan kekhawatiran yang sebelumnya memenuhi pikirannya.
Ethan sedang berada di taman dan sekarang ada seorang wanita yang tertawa bersamanya.
Aluna berdiri beberapa detik di depan pintu tersebut sebelum akhirnya mengulurkan tangan dan membukanya perlahan.
Begitu pintu terbuka, pandangan Aluna langsung tertuju ke tengah taman. Dan saat itulah ia melihat sosok yang selama ini sama sekali tidak pernah ia ketahui keberadaannya.
Seorang gadis cantik sedang duduk di pangkuan Ethan.
DI PANGKUAN ETHAN.
Rambut panjangnya tergerai, wajahnya terlihat begitu polos, dan senyum yang menghiasi wajahnya begitu cerah.
Sementara Ethan, putranya yang biasanya dingin, serius, dan hampir tidak pernah menunjukkan sisi lembut kepada siapa pun, justru sedang memeluk pinggang gadis tersebut.
Mom Aluna membeku.
Tatapannya berpindah dari gadis itu kepada Ethan. "Ethan," panggil mom Aluna.
Rasakan ya permainan baru saja dimulai ... ini masih awal untuk selanjutnya pasti akan lebih mengejutkan lagi ...
kira kira begitulah yang dirasakan Ethan pada Ashlyn saat perubahan itu ada pada Ashlyn....
aslyn ga kenal anda yah
jadi jangan coba2 mendekati aslyn