Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 : Persiapan untuk makan malam.
Matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai jendela kamar utama kediaman Matteo dan Valentina, menyebarkan cahaya hangat ke ruangan yang luas dan tertata rapi. Udara pagi yang sejuk menyapu pelan, membawa aroma kopi yang baru diseduh dari lantai bawah.
Matteo berdiri di tepi tempat tidur, kemeja sudah terpakai rapi, wajahnya tampak tenang namun di balik tatapannya yang lembut tersembunyi perhitungan yang tak pernah berhenti berputar. Valentina baru saja selesai merapikan rambutnya di depan cermin meja rias, lalu berbalik menatap suaminya yang sedari tadi tampak memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya pelan, berjalan mendekat dan menyentuh lengan suaminya. "Kau tampak gelisah sejak bangun tadi."
Matteo menghela napas pelan, lalu menatap istrinya lekat-lekat.
"Kak Damian mengundang kita makan malam di Mansion malam ini," ucapnya pelan, namun jelas. "Perkenalan resmi istrinya."
Mata Valentina seketika membelalak.
"Perkenalan resmi?" ulangnya, suaranya sedikit meninggi bercampur tak percaya. "Jadi... Kakak benar-benar serius dengan wanita itu?"
"Begitulah." Matteo mengangguk pelan, tangannya beralih menyentuh pipi istrinya dengan lembut, seolah menenangkan badai yang baru saja mulai berkecamuk di hati wanita itu. "Kita harus datang, Valen. Itu permintaan Kakak sendiri. Dan kita tidak boleh menolak."
Belum sempat Valentina menjawab, pintu kamar terbuka lebar. Leon berlari kecil masuk, wajahnya berseri-seri, rambutnya sedikit berantakan namun matanya berbinar cerah.
"Mom! Dad!" seru anak itu riang, melompat mendekati mereka. "Tadi aku dengar Dad bilang mau ke rumah Om Don?! Aku ikut ya! Aku mau main sama Om Don! Aku mau di ajarin nembak dor! dor! dor! Boleh ya, Dad?!"
Matteo berlutut perlahan di depan putranya, menyetarakan pandangan mereka. Wajahnya penuh senyum lembut, tangannya mengusap kepala kecil itu dengan penuh kasih sayang.
"Leon sayang..." ucapnya pelan dan lembut, namun tegas. "Malam ini Om Don dan Daddy sama Mommy ada acara penting. Makan malam orang dewasa. Nanti bosan kalau Leon ikut, tidak ada yang bisa main sama Leon sepuas hati."
Leon mengerutkan bibirnya, wajahnya seketika cemberut. "Tapi aku mau ketemu Om Don..."
Matteo tersenyum lebih lembut, lalu mendekap bahu kecil putranya.
"Kita janji ya, malam ini Leon tidur lebih awal, biar besok pagi bangunnya segar dan ceria. Nanti kalau sekolah Leon libur, Daddy yang antar langsung ke rumah Om Don. Tapi malam ini... biarkan Daddy sama Mommy yang pergi dulu."
Leon menatap wajah ayahnya, mencari tanda-tanda kalau ayahnya sedang bercanda. Melihat tatapan yang tulus dan penuh kasih sayang itu, akhirnya anak itu mengangguk pelan, meski masih tampak kecewa.
"Janji ya, Dad? Kalau libur sekolah, kita ke rumah Om Don?"
"Janji." Matteo mengangguk mantap, lalu mencium kening putranya. "Dad tidak akan ingkar janji sama Leon."
Valentina tertawa kecil, lalu mengusap pipi putranya. "Daddy benar, Sayang. Malam ini Leon tidur sama Tata Sofia ya? Nanti Tata bacain cerita Ksatria dan Naga. Mommy pulang nanti bawa kue cokelat kesukaan Leon."
Leon langsung bersorak gembira, matanya berbinar cerah seketika. "Yey! Ksatria! Ada pedangnya gak Tata?!"
Tata Sofia berjalan masuk dengan senyum lembut yang tak pernah lepas dari wajahnya, lalu meletakkan kedua tangannya di pundak mungil anak itu. "Ada, tesoro. Yang paling besar dan paling tajam, khusus untuk pahlawan kecil seperti kamu."
"Nah, sekarang kita sarapan dulu yuk!" ajak Valentina lembut, mengusap punggung putranya. "Tata sudah siapkan sereal dingin sama susu cokelat kesukaan Leon."
Leon langsung menarik tangan Tata Sofia, berlari kecil keluar kamar dengan riang, meninggalkan aroma kebahagiaan yang sejenak mengisi ruangan itu.
Saat pintu tertutup dan suara langkah kaki mereka perlahan menjauh, senyum lembut di wajah Matteo perlahan lenyap. Ia berbalik perlahan, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman depan. Cahaya pagi yang cerah tak mampu menyinari sorot matanya yang kini kembali gelap dan penuh perhitungan.
Valentina memperhatikannya dari belakang, sedikit bingung dengan perubahan suasana yang tiba-tiba itu. "Ada apa, Amore? Kau tiba-tiba diam."
Matteo berbalik perlahan, dan saat ia menatap istrinya kembali, wajahnya sudah kembali tenang, seolah tak ada apa-apa yang berubah. Namun nada suaranya kini lebih rendah, lebih serius.
"Tak ada apa-apa, Valen." ucapnya pelan, berjalan mendekat dan menangkup kedua pipi istrinya dengan lembut. "Aku hanya... berpikir tentang malam ini. Tentang wanita yang dinikahi Kak Damian."
Valentina menghela napas panjang, seketika bayangan kecemasan kembali menyelimuti hatinya. "Aku juga masih tidak percaya, Matteo. Dia menikahinya hanya karena Oma terus mendesaknya untuk menikah. Padahal aku bisa mencarikan wanita yang jauh lebih segalanya dari wanita itu."
Matteo tersenyum tipis, namun senyum itu tak sampai ke matanya. "Kau jangan terlalu emosi, Valen. Kita lihat seberapa berharga wanita itu di mata Kak Damian. Dan seberapa mudah dia bisa digoyahkan."
Valentina mengerutkan kening, belum sepenuhnya paham. "Maksudmu?"
Matteo mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya berbisik pelan namun penuh keyakinan yang menakutkan.
"Jika dia menikahinya karena kasihan... atau karena ada kebutuhan tertentu... maka dia bisa ditawar, Valen. Semua orang punya harga diri. Dan wanita biasa seperti dia pasti bisa kita tawarkan sesuatu yang lebih baik dari sekedar nama besar Salvatore."
Ia mencium kening istrinya untuk menenangkan, "Bersiaplah, Sayang. Malam ini kita akan buktikan siapa yang benar-benar berhak berdiri di sana dan menyandang sebagai Nyonya Salvatore."
-
-
-
Suasana di lantai utama Mansion Salvatore terasa megah namun hangat. Tangga marmer yang luas berpendar lembut di bawah cahaya lampu gantung kristal. Celine melangkah perlahan menuruni anak tangga, gaun tidurnya yang sederhana bergerak pelan mengikuti setiap langkahnya.
Di bawah, tepat di kaki tangga, Madam Rosa sudah berdiri menunggu bersama beberapa pelayan yang berdiri rapi di kedua sisinya. Wanita paruh baya itu mengenakan pakaian rumah berwarna gelap yang rapi dan anggun, wajahnya tampak tegas namun menyambut begitu melihat Celine.
"Selamat pagi, Nyonya," sapanya lembut namun jelas, sedikit menunduk hormat. "Semoga istirahat Nyonya cukup nyenyak."
Celine tersenyum tulus. "Selamat pagi, Madam Rosa. Iya, terima kasih." Ia menoleh sekeliling, mencari sosok yang biasa ia cari. "Eh... Damian dimana? Aku tidak melihatnya sejak bangun tadi."
Madam Rosa tersenyum tipis, namun lembut. "Tuan Damian sudah pergi sejak pagi buta, Nyonya. Urusan penting yang tak bisa ditunda. Tapi beliau berpesan, agar Nyonya bersiap untuk malam ini."
Celine mengangguk pelan, meski sedikit kecewa karena tak sempat melihatnya sebelum pergi. "Begitu ya..."
Tanpa banyak bicara lagi, Madam Rosa mengangkat kedua tangannya dan menepuk pelan dua kali — prok, prok.
Seketika itu juga, pintu ruang sebelah terbuka. Empat orang pelayan berjalan masuk dengan langkah tegap dan rapi. Dua orang mendorong troli kayu yang panjang, di atasnya deretan gaun-gaun indah tergantung rapi — kain sutra, renda halus, beludru berkilau, berwarna-warni namun elegan. Sementara dua pelayan lainnya berjalan di belakang, masing-masing membawa nampan beludru berwarna merah tua yang tertutup kain sutra tipis.
"Untuk makan malam perkenalan resmi nanti malam," ucap Madam Rosa pelan namun penuh wibawa, matanya menyapu deretan gaun itu dengan bangga. "Tuan Damian sudah berpesan, istrinya harus tampil cantik. Ini semua pilihan beliau, Nyonya. Silakan Nyonya pilih mana yang paling disukai."
Celine melangkah mendekat, matanya tak lepas dari deretan gaun dan perhiasan yang begitu mewah, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa ia impikan. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, tapi karena terharu. Damian mempersiapkan semuanya, bahkan tanpa sepengetahuannya.
"Ini... semua untukku?" gumamnya pelan, tak percaya.
"Semua untuk Nyonya," jawab Madam Rosa.
Celine menatap deretan gaun itu dengan napas tertahan. Ujung jarinya menyentuh lembut kain beludru berwarna merah anggur yang berkilau samar di bawah cahaya lampu — lembut, dingin, dan begitu mewah hingga ia tak berani menekannya lebih kuat.
"Kau... kau yakin semua ini untukku?" tanyanya pelan, matanya beralih ke Madam Rosa yang menatapnya dengan senyum hangat dan penuh hormat. "Aku... aku belum pernah memakai barang semahal ini seumur hidupku."
"Justru karena itu Tuan menyiapkannya, Nyonya." Madam Rosa melangkah maju sedikit, suaranya lembut namun tegas. "Beliau ingin Nyonya merasa berharga. Silakan pilih yang Nyonya suka."
Celine menatap gaun-gaun itu tanpa berkedip. Bahkan Jason belum pernah memberikan hal seindah ini untuknya. Tapi Damian... dia... berbeda.
-
-
-
Bersambung...