Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab. 21

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 21 — Kakek yang Kembali

Suara tua dari halaman itu kembali terdengar.

“Clara…”

Hanya satu panggilan.

Namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Clara menegang.

“Cucuku.”

Clara berdiri di tengah ruang kerja dengan napas tertahan.

Matanya menatap jendela.

Di balik kaca, terlihat bayangan seorang pria tua berdiri di halaman.

Rambutnya sudah dipenuhi uban. Tubuhnya tidak lagi tegap seperti yang Clara bayangkan dari foto-foto lama keluarganya.

Namun tatapan matanya…

Tatapan itu membuat Clara merasa seolah sedang melihat seseorang yang telah lama ia kenal.

Padahal selama hidupnya, Clara selalu percaya bahwa kakeknya telah meninggal.

“Tidak mungkin…” bisik Clara.

Amara langsung menggenggam tangan putrinya.

“Clara, jangan keluar.”

“Dia benar-benar Kakek?”

Amara tidak menjawab.

Clara menatap ibunya.

“Mami?”

Amara menarik napas panjang.

“Sepertinya iya.”

Adrian berdiri di dekat meja dengan wajah pucat.

Raka langsung mengambil posisi di depan pintu.

Rafael juga bersiap.

Fedro mendekati Clara dan berdiri di sampingnya.

“Aku di sini.”

Clara menatap suaminya.

“Aku tidak tahu harus percaya siapa lagi.”

Fedro menggenggam tangannya.

“Kalau begitu jangan percaya siapa pun dulu.”

Clara mengangguk pelan.

“Kita cari tahu kebenarannya bersama.”

Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu depan.

Tok!

Tok!

Tok!

Suara ketukan itu terdengar begitu tenang.

Seolah orang di luar sama sekali tidak sedang datang ke rumah yang penuh ketegangan.

Adrian menatap Raka.

“Jangan buka.”

Namun sebelum Raka bergerak, terdengar suara dari luar.

“Adrian.”

Suara pria tua itu.

“Bukankah kau akan membiarkan ayahmu berdiri di luar rumah sendiri?”

Clara membeku.

Ayahmu.

Berarti pria itu benar-benar ayah Adrian.

Kakeknya.

Adrian mengepalkan tangan.

“Dia bukan orang yang sama seperti dulu.”

Clara menatap ayahnya.

“Papi mengenalnya selama ini?”

“Tidak.”

“Papi yakin dia masih hidup?”

Adrian terdiam.

Clara semakin bingung.

“Kalau Papi yakin dia sudah meninggal, kenapa sekarang Papi terlihat seperti orang yang sudah mengetahui kedatangannya?”

Adrian menutup mata sesaat.

“Karena selama bertahun-tahun Papi selalu takut hari ini akan datang.”

“Kenapa?”

Adrian menatap putrinya.

“Karena ayah Papi bukan pria yang kalian kenal dari foto keluarga.”

Clara menelan ludah.

“Lalu siapa dia?”

Adrian belum sempat menjawab.

Pintu depan terbuka.

Raka dan Rafael langsung bergerak.

Seorang pria tua masuk dengan langkah perlahan.

Ia mengenakan jas hitam sederhana.

Rambutnya putih.

Wajahnya penuh garis usia.

Namun sorot matanya tajam.

Sangat tajam.

Pria itu berhenti beberapa langkah dari Clara.

Kemudian tersenyum.

“Clara.”

Clara tidak menjawab.

Pria tua itu memandanginya lama.

“Terakhir kali Kakek melihatmu, kau masih bayi.”

Clara merasa dadanya sesak.

“Kakek?”

Pria itu mengangguk.

“Ya.”

Amara langsung maju.

“Jangan mendekati anakku.”

Pria tua itu menatap Amara.

“Amara.”

“Jangan panggil namaku.”

Senyum pria itu menghilang.

“Masih sama seperti dulu.”

Amara berdiri tegak.

“Aku tidak pernah berubah.”

“Tidak,” jawab pria itu. “Kau berubah sejak mengambil keputusan untuk membawa Clara pergi dari keluarga ini.”

Clara langsung menatap ibunya.

“Mami membawa aku pergi?”

Amara terdiam.

Adrian menatap ayahnya.

“Jangan seret Clara ke dalam urusan lama kita.”

Pria tua itu tertawa kecil.

“Urusan lama?”

Ia menatap Adrian.

“Semua yang terjadi sekarang adalah akibat dari keputusanmu lima belas tahun lalu.”

“Aku menyelamatkan keluargaku.”

“Kau menghancurkannya.”

Adrian mengepalkan tangan.

Clara menatap mereka bergantian.

“Cukup!”

Semua langsung diam.

Clara maju satu langkah.

“Aku ingin tahu kebenarannya.”

Pria tua itu menatapnya.

“Bagus.”

“Apa hubungan Kakek dengan Damian?”

Senyum pria itu kembali muncul.

“Pertanyaan yang bagus.”

“Jawab.”

“Kakek tidak pernah memerintah Damian secara langsung.”

Rafael langsung menyela.

“Jadi kau mengaku mengenalnya?”

“Tentu.”

“Dan kau tahu tentang E-17?”

Pria tua itu menatap Rafael.

“Lebih banyak daripada kalian semua.”

Clara semakin curiga.

“Kalau begitu kenapa Kakek membiarkan keluarga kami dihancurkan?”

Pria tua itu terdiam beberapa saat.

Kemudian ia menjawab,

“Karena aku tidak menghancurkan keluarga ini.”

Ia menatap Adrian.

“Dia yang melakukannya.”

Clara menoleh kepada ayahnya.

“Papi?”

Adrian tidak menjawab.

Pria tua itu mengeluarkan sebuah benda dari sakunya.

Sebuah kunci kecil berwarna perak.

Ia meletakkannya di atas meja.

“Ini milikmu.”

Clara menatap benda itu.

“Apa itu?”

“Bagian dari E-17.”

Raka langsung mengambilnya.

Namun pria tua itu berkata,

“Jangan.”

Raka berhenti.

“Kenapa?”

“Karena kunci itu hanya bisa digunakan oleh darah Evellyn.”

Clara menatap benda tersebut.

“Bagaimana Kakek mendapatkannya?”

“Karena aku adalah kepala keluarga Evellyn sebelum ayahmu.”

Adrian langsung berkata,

“Dan kau menggunakan kekuasaan itu untuk menjalankan proyek E-17.”

Pria tua itu menatap anaknya.

“Papi menjalankan proyek itu untuk menyelamatkan keluarga.”

“Tidak!”

Adrian membentak.

“E-17 hampir membunuh semua orang!”

Clara tersentak.

Ia baru pertama kali melihat ayahnya kehilangan kendali seperti itu.

Pria tua itu tetap tenang.

“Kalau kau ingin tahu siapa pengkhianat sebenarnya, jangan hanya melihat orang yang berdiri di depanmu.”

Ia menunjuk ke arah dokumen di meja.

“Bacalah semuanya.”

Clara mengambil dokumen itu.

“Dokumen apa?”

“Dokumen kelahiranmu.”

Clara membuka lembar berikutnya.

Matanya bergerak membaca tulisan demi tulisan.

Kemudian wajahnya berubah.

“Ini…”

Fedro segera mendekat.

“Apa?”

Clara menyerahkan dokumen itu kepada Fedro.

Fedro membacanya.

Alisnya langsung berkerut.

“Clara…”

“Apa isinya?”

Fedro menatap Adrian.

“Nama ayah biologis Clara…”

Ia berhenti.

Clara langsung merebut kembali dokumen itu.

“Siapa?”

Fedro menatapnya.

“Nama Adrian Evellyn.”

Clara mengerutkan kening.

“Tentu saja. Papi adalah ayahku.”

Adrian terlihat semakin pucat.

“Bukan itu masalahnya.”

Clara menatapnya.

“Lalu?”

Adrian mengambil dokumen tersebut.

Ia menunjuk bagian bawah.

“Ada tanda tangan lain.”

Clara membaca.

Di sana tertulis nama:

Leonard Evellyn.

Clara membeku.

“Paman Leonard?”

Adrian mengangguk pelan.

“Dia yang menjadi saksi kelahiranmu.”

Clara menatap kakeknya.

“Kenapa Paman Leonard menjadi saksi?”

Tidak ada jawaban.

Pria tua itu justru berkata,

“Karena saat kau lahir, Leonard adalah orang pertama yang mengetahui rahasia tentangmu.”

“Rahasia apa?”

Pria tua itu menatap Adrian.

“Papi-mu belum memberitahumu?”

Clara berbalik.

“Papi?”

Adrian menundukkan kepala.

“Ada alasan kenapa Papi tidak pernah membicarakan masa sebelum kelahiranmu.”

“Alasan apa?”

“Karena…”

Adrian berhenti.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan kecil dari luar.

DUAR!

Semua orang tersentak.

Lampu rumah langsung mati.

“Serangan!” teriak Raka.

Suasana berubah kacau.

Rafael berlari menuju jendela.

“Beberapa mobil berhenti di depan!”

Fedro segera menarik Clara ke belakangnya.

“Jangan keluar.”

Amara memegang tangan putrinya.

Adrian menatap ayahnya.

“Kau membawa mereka ke sini?”

Pria tua itu menggeleng.

“Bukan.”

“Siapa?”

Pria tua itu berjalan menuju jendela.

Ia melihat ke luar.

Wajahnya berubah serius.

“Damian.”

Raka langsung mengambil senjatanya.

“Berapa banyak?”

“Tidak sedikit.”

Rafael melihat dari sisi lain.

“Mereka mengepung rumah.”

Clara menatap kakeknya.

“Kenapa Damian datang?”

Pria tua itu menjawab,

“Karena mereka tahu aku datang ke sini.”

Clara mengerutkan kening.

“Jadi Kakek sengaja datang untuk memancing mereka?”

“Tidak.”

Ia menatap Clara.

“Aku datang untuk menyelamatkanmu.”

Clara terdiam.

Tiba-tiba terdengar suara Damian dari pengeras suara mobil.

“Adrian!”

Semua orang membeku.

“Serahkan Clara!”

Fedro langsung mengepalkan tangan.

Damian kembali berteriak.

“Kalau tidak, rumah ini akan menjadi kuburan keluarga Evellyn!”

Clara menatap ayahnya.

“Papi…”

Adrian menggeleng.

“Tidak.”

“Kita harus keluar.”

“Tidak.”

Adrian berdiri di depan putrinya.

“Papi tidak akan menyerahkanmu.”

Kakek Clara menatap Adrian.

“Sekarang kau mengerti.”

Adrian menoleh.

“Mengerti apa?”

“Kenapa aku melakukan semua ini.”

Pria tua itu mengambil kunci perak dari meja.

Kemudian ia menyerahkannya kepada Clara.

“Bawa ini.”

Clara menerimanya.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Pergilah ke ruang bawah tanah.”

Adrian langsung menatap ayahnya.

“Tidak!”

“Sudah waktunya.”

“Papi tidak boleh melakukan ini!”

Kakek Clara menatap cucunya.

“Di bawah rumah ini ada ruangan yang selama lima belas tahun tidak pernah dibuka.”

Clara menatap kunci di tangannya.

“Ruangan E-17?”

Pria tua itu mengangguk.

“Di sana kau akan menemukan jawaban tentang kelahiranmu.”

Clara menelan ludah.

“Dan siapa anak pertama dalam keluarga kami?”

Pria tua itu diam.

Clara semakin mendesak.

“Jawab, Kakek.”

Pria itu akhirnya berkata,

“Anak pertama keluarga Evellyn tidak pernah mati.”

Clara membeku.

“Siapa?”

“Dia masih hidup.”

“Di mana?”

Pria tua itu menatap Adrian.

“Dekat denganmu.”

Clara langsung teringat kata-kata Alena.

Orang yang paling dekat denganmu bukan pengkhianat.

Namun jika anak pertama keluarga Evellyn masih hidup…

Siapa sebenarnya orang itu?

Tiba-tiba pintu belakang rumah terdengar dihantam.

BRAK!

Raka berteriak,

“Mereka masuk!”

Semua orang bersiap.

Fedro menarik Clara.

“Kita harus pergi sekarang.”

Clara mengangguk.

Namun sebelum mereka bergerak, terdengar suara tembakan.

BAM!

Kaca jendela pecah.

Amara berteriak.

Adrian segera menarik istrinya ke bawah.

Raka dan Rafael membalas dari balik perlindungan.

“Kakek!” teriak Clara.

Pria tua itu masih berdiri.

Ia sama sekali tidak terlihat panik.

Malah ia tersenyum tipis.

“Clara.”

“Apa?”

“Jangan mencari anak pertama itu.”

Clara menatapnya bingung.

“Kenapa?”

“Karena dia sudah menemukanmu lebih dulu.”

Clara merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Apa maksud Kakek?”

Namun pria tua itu sudah berbalik.

Ia berjalan menuju lorong gelap.

“Kakek!”

Clara hendak mengejarnya.

Fedro menahannya.

“Jangan!”

“Kita tidak bisa membiarkannya pergi!”

Pria tua itu berhenti sebentar.

Tanpa menoleh, ia berkata,

“Percayalah pada suamimu.”

Clara membeku.

Kemudian pria itu menghilang di balik lorong.

Clara menatap Fedro.

“Dia tahu sesuatu tentangmu.”

Fedro menggeleng.

“Aku juga tidak tahu apa-apa.”

Tiba-tiba ponsel Clara bergetar.

Satu pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Clara membukanya.

Hanya ada satu kalimat.

Aku sudah menunggumu selama dua puluh lima tahun, Adikku.

Clara membeku.

Tangannya gemetar.

“Fedro…”

“Apa?”

Clara menyerahkan ponselnya.

Fedro membaca pesan itu.

Wajahnya langsung berubah.

Rafael ikut melihat.

Raka mendekat.

“Siapa yang mengirim?”

Clara menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Namun sebelum siapa pun sempat berbicara, pesan kedua masuk.

Sebuah foto.

Foto seorang wanita muda.

Wajahnya sangat mirip Clara.

Bahkan bentuk mata, hidung, dan senyumnya hampir sama.

Di bawah foto itu tertulis:

Namaku Aria Evellyn.

Clara terdiam.

“Aria?”

Rafael langsung mengambil ponselnya.

“Tidak mungkin.”

Clara menatapnya.

“Kenapa?”

Rafael mengangkat wajah.

“Karena Aria selama ini mengatakan dia adalah bagian dari keluarga Evellyn.”

Clara mengerutkan kening.

“Bukankah dia salah satu saudara kita?”

Rafael mengangguk.

“Ya.”

“Lalu apa masalahnya?”

Rafael menatap foto itu.

“Masalahnya…”

Ia menarik napas.

“Aria selama ini mengaku sebagai anak ketiga.”

Clara membeku.

“Kalau begitu…”

Rafael menatap Clara.

“Berarti ada seseorang yang selama ini menyembunyikan identitas sebenarnya.”

Clara menatap pesan di layar.

Aku sudah menunggumu selama dua puluh lima tahun, Adikku.

Tiba-tiba suara langkah terdengar dari lorong.

Semua orang menoleh.

Seorang wanita muncul dari balik kegelapan.

Rambut panjang.

Wajahnya sangat mirip dengan Clara.

Wanita itu menatap Clara.

Lalu tersenyum.

“Adikku.”

Clara mundur selangkah.

“Siapa kamu?”

Wanita itu menjawab dengan tenang.

“Aku anak pertama keluarga Evellyn.”

Clara membeku.

Wanita itu melangkah mendekat.

“Dan namaku bukan Aria.”

Ia berhenti tepat di depan Clara.

“Namaku…”

Wanita itu tersenyum.

“Alena.”

Clara membelalak.

Alena yang selama ini ia kira diculik ternyata berdiri tepat di hadapannya.

Namun sebelum Clara sempat berkata apa pun, Alena berbisik,

“Dan orang yang selama ini mengkhianati keluarga kita…”

Tatapannya beralih kepada Adrian.

“…bukan Leonard.”

Adrian langsung pucat.

Alena melanjutkan,

“Pengkhianat sebenarnya adalah orang yang selama ini paling kalian percaya.”

Ruangan kembali sunyi.

Clara menatap ayahnya.

Kemudian menatap ibunya.

Lalu Fedro.

Satu per satu.

Jantungnya berdetak semakin keras.

Siapa yang sebenarnya telah mengkhianati keluarga Evellyn?

Dan mengapa Alena menyebut dirinya sebagai anak pertama?

Sementara dari luar rumah, suara Damian kembali terdengar.

“Clara!”

“Waktumu tinggal sedikit.”

Clara menggenggam kunci E-17 semakin erat.

Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa semua rahasia yang selama ini terkubur bukan sekadar tentang keluarganya.

Melainkan tentang dirinya sendiri.

Dan malam itu…

Clara akhirnya siap membuka pintu menuju masa lalu yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan darinya.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!