Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesuatu yang Aku Lakukan Salah

Dimas duduk di sebelahku di perpustakaan kampus, laptop terbuka menampilkan halaman wiki fandom yang sedang kami perdebatkan validitasnya, dan aku baru sadar sudah jam empat sore padahal kami masuk ke ruangan ini sekitar jam satu.

"Enggak mungkin power scaling-nya segitu," katanya, menunjuk layar dengan pulpen yang dia pakai buat menunjuk, bukan buat menulis, karena catatan kuliahnya sendiri sudah dia tinggalkan terbuka di halaman yang sama sejak setengah jam lalu. "Kalau power level-nya beneran segitu, dia bakal ngalahin karakter final boss di season sebelumnya dengan gampang. Itu enggak konsisten sama power creep yang mereka bangun."

"Itu tergantung interpretasi kamu soal sistem energinya," jawabku. "Kalau kamu ambil versi manga, power scaling-nya beda dari versi anime. Manganya lebih eksplisit soal batasannya."

"Kamu punya manganya?"

"Volume delapan sampai dua belas. Sisanya belum kebeli."

"Pinjem dong."

"Nanti aku bawain."

Dimas seangkatan denganku, beda jurusan, Sistem Informasi, dan kami kenal karena kebetulan sama-sama datang ke acara pemutaran film anime yang diadakan UKM Seni Rupa dua minggu lalu, satu-satunya acara di kampus yang menurutku layak disebut "acara yang aku benar-benar mau datang" sejak semester dimulai. Dari situ, kami ternyata satu grup chat kecil isinya sekitar sepuluh orang, dibuat oleh salah satu senior yang jadi panitia acara itu, dan grup itu ternyata cukup aktif membahas hal-hal yang selama ini cuma bisa aku bahas sendirian atau lewat forum online dengan orang asing.

Ini pertama kalinya, sejak masuk kuliah, aku punya seseorang selain Cahaya yang bisa diajak ngobrol soal hal-hal seperti ini secara langsung, tatap muka, tanpa perlu menjelaskan konteks dari nol.

Bukan berarti obrolanku sama Cahaya soal anime jadi kurang. Cahaya tetap dengerin, tetap nanya, kadang malah lebih detail dari yang aku duga setelah insiden kotak kostum itu. Tapi ada beda antara ngobrol sama orang yang belajar demi ngerti duniamu, dengan ngobrol sama orang yang sudah lama tinggal di dunia yang sama.

Dimas itu yang kedua. Dan entah kenapa, itu terasa seperti sesuatu yang aku enggak sadar aku kangenin sampai akhirnya punya.

Masalahnya mulai terlihat sekitar minggu lalu, meski aku enggak langsung sadar itu masalah.

Awalnya cuma hal kecil. Kami biasanya makan siang bareng tiap hari di meja pojok, tapi Selasa minggu lalu aku bilang ke Cahaya lewat chat kalau aku enggak bisa ikut karena Dimas ngajak diskusi soal tugas kelompok mata kuliah yang kebetulan sama-sama kami ambil.

"Oh oke," balasnya, singkat, dengan satu emoji jempol.

Cuma itu. Enggak ada pertanyaan lanjutan, enggak ada candaan seperti biasanya kalau aku batalin rencana, misalnya dia biasanya bakal ngetik sesuatu kayak "dih milih Dimas daripada aku" dengan nada bercanda yang jelas, terus aku bakal balas dengan alasan logis kenapa itu enggak relevan, terus dia bakal ngirim stiker protes, dan begitu seterusnya sampai salah satu dari kami nyerah duluan.

Kali ini enggak ada apa-apa. Cuma "Oh oke" dan jempol.

Aku enggak terlalu mikirin itu waktu itu. Mungkin dia lagi sibuk, pikirku, dan aku lanjut makan siang bareng Dimas di kantin sayap kiri, jauh dari meja pojok, membahas teori konspirasi soal plot twist season depan sambil makan bakso yang menurut Dimas kuahnya kurang pedas dan menurutku pas.

Rabu, aku ajak Cahaya nonton bareng seperti biasa, malam Rabu adalah slot tetap kami buat nonton anime musim ini bareng-bareng, kebiasaan yang udah jalan dari sebelum kuliah dimulai. Dia bilang bisa, jam delapan, di rumahku seperti biasa karena TV di kamarnya lebih kecil.

Dia datang jam delapan lebih sepuluh menit, yang bukan hal aneh karena Cahaya emang jarang tepat waktu banget kalau soal janji santai kayak gini, tapi malam itu dia lebih diam dari biasanya. Duduk di karpet depan TV, nonton dengan fokus yang lebih ke arah "menonton karena memang harus menonton" ketimbang antusiasme biasa yang biasanya dia tunjukkan lewat komentar-komentar receh sepanjang episode.

"Kamu kenapa?" tanyaku, di jeda iklan sebelum episode lanjut.

"Enggak kenapa-kenapa."

"Kamu diem terus dari tadi."

"Capek doang. Tadi ada tugas kelompok, orangnya susah diajak kerja bareng."

Aku menerima jawaban itu karena terdengar masuk akal, dan enggak ada alasan buat aku curiga lebih jauh. Kami lanjut nonton, dan di beberapa bagian dia masih ketawa di momen yang lucu, jadi aku pikir mungkin memang cuma capek biasa.

Tapi dia pulang lebih cepat dari biasanya, sekitar jam sepuluh, padahal biasanya kami lanjut ngobrol sampai jam sebelas atau lebih, membahas episode yang baru ditonton atau apa pun yang random.

"Kamu enggak mau lanjut ngobrol?" tanyaku, waktu dia sudah berdiri di depan pintu.

"Besok kelas pagi," jawabnya, memakai sandal. "Aku pulang duluan ya."

Dia pergi, dan aku berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya yang menjauh di gang yang sudah gelap, dengan perasaan yang belum bisa aku beri nama tapi jelas ada, semacam ketidaknyamanan kecil yang menempel di dada, seperti tahu ada sesuatu yang enggak pas tapi enggak tahu di mana persisnya.

Aku ingat-ingat semua interaksi kami minggu itu, satu per satu, mencoba mencari titik di mana aku mungkin melakukan sesuatu yang salah.

Senin, kami jalan bareng ke kampus seperti biasa, enggak ada yang aneh. Selasa, aku batalin makan siang karena Dimas. Rabu, nonton bareng tapi dia pulang cepat. Kamis, chat malam kami lebih pendek dari biasa, cuma bertukar beberapa kalimat soal tugas sebelum dia bilang mau tidur duluan, padahal biasanya percakapan kami bisa panjang sampai berbagai topik random.

Aku enggak nemu titik pasti di mana semuanya mulai berubah. Yang aku tahu cuma, sejak Selasa itu, ada sesuatu yang berbeda, dan aku enggak bisa nunjuk apa persisnya.

Yang paling masuk akal buatku, setelah mikir cukup lama sambil rebahan di kasur Kamis malam itu, adalah bahwa aku terlalu sering ninggalin dia demi Dimas minggu ini. Bukan cuma Selasa. Rabu siang aku juga sempat ke perpustakaan bareng Dimas, dan Kamis siang kami ketemu lagi di kantin sayap kiri, bukan meja pojok, karena Dimas enggak terlalu suka area sayap kanan yang menurutnya terlalu ramai.

Aku enggak sadar sudah tiga hari berturut-turut aku enggak makan siang di meja pojok bareng Cahaya, sampai aku menghitungnya sendiri malam itu.

Rasa bersalah muncul cukup cepat setelah aku sadar itu.

Aku memikirkan bagaimana rasanya kalau posisinya kebalik. Kalau Cahaya tiba-tiba punya teman baru yang sama-sama suka hal yang dia suka, dan mulai lebih sering ngobrol sama orang itu, dan meja pojok kosong dari salah satu dari kami tiga hari berturut-turut. Aku enggak yakin gimana rasanya, tapi aku curiga enggak akan senyaman yang aku pikir.

Cahaya udah bertahun-tahun jadi orang yang selalu dengerin ceritaku soal anime, meski dia enggak selalu ngerti detailnya. Sekarang, begitu aku dapat teman yang beneran ngerti, aku malah lebih sering ngabisin waktu sama orang itu daripada sama dia.

Itu enggak adil. Itu kayak aku pakai dia buat nunggu sampai akhirnya nemu orang yang "lebih cocok" buat topik ini, terus ninggalin dia begitu aja.

Aku enggak bermaksud kayak gitu. Tapi maksud enggak selalu penting kalau dampaknya tetap kerasa.

Jumat pagi, aku bangun lebih awal dari biasa dengan satu keputusan: aku harus minta maaf.

Aku enggak tahu persis harus minta maaf soal apa, karena aku enggak pernah dapat konfirmasi langsung bahwa dia memang kesal soal ini, tapi feeling-ku cukup kuat buat aku memutuskan lebih baik ngomong duluan daripada nunggu situasinya makin enggak enak.

Di persimpangan jam enam empat puluh lima, dia udah nunggu seperti biasa, tapi enggak bawa roti bakar kayak biasanya, cuma botol minum.

"Pagi," kataku.

"Pagi." Dia mulai jalan, dan aku menyesuaikan langkah, dan untuk beberapa saat kami jalan dalam diam yang terasa lebih berat dari diam-diam kami yang biasa.

"Cahaya," kataku akhirnya, setelah kami lewat warung Bu Marni. "Aku mau ngomong sesuatu."

"Apa?"

"Soal minggu ini. Aku ninggalin makan siang tiga hari berturut-turut, terus kemarin malem kamu pulang cepet, dan aku enggak tau apa aku ngelakuin sesuatu yang salah, tapi kalau iya, aku minta maaf."

Cahaya berhenti jalan sebentar, menatapku dengan ekspresi yang susah aku baca, campuran antara kaget dan sesuatu yang lain.

"Kamu mikir kamu ngelakuin sesuatu yang salah?"

"Aku enggak tau persis apa. Tapi kamu keliatan beda minggu ini, dan aku sadar aku emang lebih sering sama Dimas belakangan ini, jadi aku pikir mungkin itu penyebabnya."

Dia diam sebentar, menatap ke arah lain, ke arah selokan kecil di bawah jembatan yang selalu bau kalau musim kemarau. "Kamu enggak ngelakuin apa-apa yang salah, Ren."

"Tapi kamu keliatan kesel."

"Aku enggak kesel."

"Cahaya."

"Aku beneran enggak kesel." Suaranya sedikit lebih keras dari yang perlu, dan begitu dia sadar itu, dia menurunkan volumenya lagi. "Aku cuma... capek aja minggu ini. Tugas numpuk. Enggak ada hubungannya sama kamu sama Dimas."

Aku enggak sepenuhnya percaya itu, tapi aku juga enggak punya bukti kuat buat membantahnya, jadi aku memutuskan untuk enggak mendesak lebih jauh, meski rasa enggak nyaman di dadaku enggak sepenuhnya hilang.

"Kalau kamu butuh aku lebih sering di meja pojok, bilang aja," kataku. "Aku bisa atur waktu."

"Kamu enggak perlu atur apa-apa buat aku, Ren. Kamu boleh kok temenan sama Dimas. Dia keliatan asik."

"Aku tau aku boleh. Tapi kalau itu bikin kamu enggak nyaman—"

"Aku bilang aku enggak apa-apa." Dia mulai jalan lagi, lebih cepat dari biasa, dan aku menyusul, dan percakapan itu berakhir di situ, enggak terselesaikan dengan cara yang bikin aku puas, tapi juga enggak ada ruang buat melanjutkannya karena Cahaya udah jelas enggak mau bahas lebih jauh.

Aku cerita ke Bimo soal ini waktu istirahat kelas siang itu, karena aku butuh perspektif dari orang lain yang mungkin bisa lihat sesuatu yang aku enggak lihat.

"Menurut kamu, kenapa dia bisa keliatan kesel padahal bilangnya enggak?" tanyaku, sambil makan roti isi yang aku beli dari kantin karena hari itu aku enggak sempat ke meja pojok lagi, kali ini bukan karena Dimas tapi karena aku sengaja menghindar dulu sampai suasana lebih enak.

Bimo mengunyah pelan, mikir. "Ren, kamu tau enggak, kadang orang bilang 'enggak apa-apa' itu justru artinya ada apa-apa."

"Itu enggak logis. Kalau ada apa-apa, kenapa enggak bilang langsung ada apa-apa?"

"Karena enggak semua orang nyaman langsung ngomong apa yang mereka rasain, terutama kalau perasaannya sendiri belum jelas atau kedengerannya... enggak masuk akal buat diomongin."

"Perasaan kayak apa yang enggak masuk akal buat diomongin?"

Bimo menatapku lama, dengan ekspresi yang aku enggak sepenuhnya paham maksudnya, semacam ekspresi orang yang tahu sesuatu tapi mikir dua kali sebelum bilang.

"Enggak tau," katanya akhirnya, memilih untuk enggak melanjutkan. "Aku cuma nebak-nebak doang. Kamu mungkin lebih tau situasinya daripada aku."

Aku enggak yakin itu benar, tapi aku juga enggak punya cara buat membantahnya, jadi aku lanjut makan roti isiku dalam diam, sambil masih mikirin kemungkinan-kemungkinan yang mungkin aku lewatin.

Sasa aku temui sore itu, sengaja, di depan gedung Komunikasi setelah kelasnya selesai, karena aku butuh jawaban yang lebih jelas dari yang bisa aku dapat dari Cahaya sendiri.

"Ren?" Dia kaget lihat aku berdiri di sana, karena aku jarang banget nunggu di depan gedung yang bukan gedungku. "Ada apa?"

"Aku mau nanya soal Cahaya."

Ekspresi Sasa langsung berubah, dari kaget jadi lebih waspada, kayak dia udah nyiapin diri buat sesuatu. "Nanya apa?"

"Dia kenapa sih minggu ini? Dia bilang enggak apa-apa, tapi keliatan jelas ada yang beda."

Sasa menghela napas panjang, menggeser tas di bahunya, dan menatapku dengan ekspresi yang campuran antara gemas dan capek, ekspresi yang biasanya muncul kalau dia lagi mikir gimana caranya jelasin sesuatu ke orang yang menurutnya lambat nangkep.

"Ren, kamu beneran enggak sadar?"

"Sadar apa? Makanya aku nanya."

"Kamu tiga hari berturut-turut ninggalin dia buat sama Dimas."

"Aku tau itu. Makanya aku udah minta maaf tadi pagi, dan dia bilang enggak apa-apa."

"Terus kamu percaya aja gitu?"

"Aku enggak tau harus gimana lagi kalau dia bilang enggak apa-apa tapi aku enggak percaya."

Sasa menatapku lama, dan aku bisa lihat dia lagi nahan sesuatu, semacam kalimat yang pengen banget dia ucapin tapi dia tahan-tahan.

"Ren," katanya akhirnya, pelan. "Kamu pikir kenapa dia bisa kelihatan beda cuma gara-gara kamu lebih sering sama temen baru?"

"Makanya aku mikir aku ngelakuin sesuatu yang salah. Kayak aku ninggalin dia, atau bikin dia ngerasa enggak penting lagi."

Sasa memejamkan mata sebentar, kayak lagi berdoa minta kesabaran, lalu membukanya lagi. "Itu bukan soal kamu ninggalin dia, Ren. Ini soal—" Dia berhenti, menggigit bibir, memutuskan sesuatu. "Ah, enggak. Bukan hakku buat cerita ini. Kamu tanya sendiri aja langsung ke dia, tapi tanya yang bener, jangan cuma 'kamu kenapa' terus dijawab 'enggak apa-apa' terus kamu berhenti nanya."

"Aku udah coba, tapi dia enggak mau lanjut."

"Coba lagi. Dengan cara yang beda." Sasa menepuk bahuku sekali, gestur yang enggak biasa dia lakukan, dan itu bikin aku sadar dia beneran serius soal ini. "Dan Ren, satu hal lagi."

"Apa?"

"Ini bukan salah kamu buat temenan sama orang baru. Kamu boleh punya temen lain. Cuma... coba pikirin lagi, kenapa hal itu bisa bikin dia keliatan sesedih itu."

Dia pergi setelah itu, enggak ngasih penjelasan lebih lanjut, dan aku berdiri di depan gedung Komunikasi dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, mencoba mencerna kalimat terakhirnya yang entah kenapa terasa seperti petunjuk penting yang aku belum bisa pecahkan.

Malam itu, aku enggak ngajak Cahaya nonton atau ngobrol soal apa pun yang biasa. Aku cuma kirim satu pesan simpel, jam delapan malam seperti biasa.

"Aku enggak akan ke perpus sama Dimas besok. Mau makan siang di meja pojok?"

Balasannya datang setelah beberapa menit.

"Kamu enggak perlu ngatur jadwal kamu buat aku."

"Aku enggak ngatur buat kamu. Aku emang kangen makan siang di meja pojok aja."

Jeda cukup lama sebelum balasan berikutnya.

"Ya udah. Meja pojok besok."

"Oke."

Aku enggak tahu apakah itu cukup buat memperbaiki apa pun yang sedang terjadi, karena aku bahkan masih enggak sepenuhnya tahu apa yang sedang terjadi. Tapi setidaknya itu langkah kecil, dan langkah kecil terasa lebih baik daripada enggak ngapa-ngapain sama sekali.

Aku merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit, memutar ulang kalimat Sasa tadi sore di kepalaku.

Coba pikirin lagi, kenapa hal itu bisa bikin dia keliatan sesedih itu.

Aku mikir keras, mencoba nyari jawaban yang masuk akal. Mungkin dia ngerasa ditinggalin. Mungkin dia ngerasa dunia yang udah dia coba masuki susah payah, dunia anime dan segala printilannya, sekarang jadi kerasa enggak perlu lagi karena aku udah punya Dimas yang lebih "kompeten" buat diajak diskusi soal itu. Mungkin dia mikir usahanya bikin kostum, riset lore, nonton serial diam-diam demi bisa nyambung sama aku, sekarang jadi kerasa sia-sia karena ada orang lain yang bisa kasih itu semua tanpa perlu usaha sebesar itu.

Kalau itu benar, maka ini emang salahku, dan aku harus lebih hati-hati soal gimana aku bagi waktu antara Dimas dan Cahaya ke depannya.

Aku enggak kepikiran sama sekali kemungkinan lain, kemungkinan yang jauh lebih sederhana tapi juga jauh lebih besar, karena kerangka pikirku malam itu cuma berputar di sekitar satu premis: aku pasti udah bikin kesalahan, dan tugasku sekarang cuma memperbaikinya dengan cara jadi teman yang lebih baik, lebih perhatian, lebih enggak lalai.

Sabtu paginya, aku pergi ke toko buku bekas langganan, sendirian, tanpa Dimas, khusus buat nyari volume manga yang aku janjiin ke Cahaya bulan lalu tapi belum sempat aku beliin, cerita ringan tentang dua sahabat yang jalan-jalan keliling Jepang, yang menurutku bakal dia suka karena settingnya lebih santai dari yang biasa aku baca.

Aku beli tiga volume pertama, dan sore itu aku ke rumahnya, ngasih langsung tanpa alasan khusus selain "aku inget kamu pernah bilang pengen baca yang ringan-ringan."

Dia buka pintu, kaget lihat aku bawa kantong plastik toko buku. "Ini apa?"

"Manga. Yang aku janjiin bulan lalu."

Dia ambil kantong itu, buka, lihat tiga volume di dalamnya, dan ekspresinya berubah jadi sesuatu yang lebih lembut dari ekspresi dia sepanjang minggu ini.

"Kamu masih inget?"

"Aku emang inget dari awal, cuma belum sempat beli."

Cahaya menatap sampul manga itu cukup lama, jarinya menyentuh gambar dua karakter di kover, dan waktu dia mendongak lagi ke arahku, matanya sedikit berkaca, meski dia buru-buru mengerjap seolah itu enggak terjadi.

"Makasih, Ren."

"Sama-sama."

"Kamu enggak perlu ngelakuin ini."

"Aku mau ngelakuin ini."

Dia diam sebentar, menggenggam kantong plastik itu di depan dadanya, dan ada momen di mana aku merasa dia mau ngomong sesuatu yang lebih dari sekadar terima kasih, tapi kemudian dia cuma tersenyum, senyum yang lebih ringan dari senyumnya sepanjang minggu ini.

"Mau masuk? Aku bikin es teh."

"Boleh."

Sore itu kami habiskan di ruang tamunya, dia mulai baca volume pertama sementara aku duduk di sebelahnya dengan laptop, ngerjain tugas yang deadline-nya Senin, dan meski enggak ada percakapan besar yang menyelesaikan apa pun secara eksplisit, suasana di antara kami terasa lebih dekat ke normal dibanding sepanjang minggu ini.

Aku enggak tahu apakah masalah yang sebenarnya, apa pun itu, udah beneran selesai, atau cuma tertutupi sementara oleh tiga volume manga dan satu sore yang tenang. Tapi setidaknya, untuk sore itu, kami kembali terasa seperti kami yang biasa.

Minggu malam, sebelum tidur, aku dapat chat dari Dimas, ngajak ketemu lagi Senin buat lanjut diskusi teori yang kemarin belum selesai.

Aku mikir sebentar sebelum balas.

"Senin aku makan siang sama Cahaya kayak biasa. Kamu mau join? Aku pengen kenalin kalian."

Balasan Dimas datang cepat.

"Boleh banget. Siapa Cahaya?"

"Temen dari kecil. Sering aku sebut."

"Oh, yang bikin kostum cosplay yang kamu ceritain waktu itu?"

"Iya, itu."

"Wah, boleh tuh. Aku juga penasaran."

Aku menutup chat itu dengan perasaan yang lebih ringan dari sebelumnya, semacam solusi yang aku pikir cukup masuk akal: kalau masalahnya soal aku terlalu banyak bagi waktu terpisah antara dua dunia, mungkin jawabannya bukan mengurangi salah satu, tapi menyatukan keduanya, biar enggak ada lagi rasa harus milih.

Aku enggak sepenuhnya yakin ini solusi yang tepat. Tapi itu solusi terbaik yang bisa aku pikirkan malam itu, dengan segala keterbatasan pemahamanku soal apa yang sebenarnya terjadi minggu ini.

Aku meletakkan ponsel, menatap langit-langit kamar yang gelap, dan memikirkan lagi kalimat Sasa yang masih menempel di kepalaku.

Coba pikirin lagi, kenapa hal itu bisa bikin dia keliatan sesedih itu.

Aku masih enggak sepenuhnya nemu jawaban yang memuaskan. Tapi untuk malam itu, aku memutuskan untuk percaya bahwa langkah-langkah kecil yang udah aku ambil, minta maaf, beliin manga, ngajak Dimas ketemu Cahaya biar dunianya enggak lagi kerasa terpisah dari duniaku, cukup buat memperbaiki apa pun yang sempat retak minggu ini.

Aku enggak tahu bahwa langkah terakhir itu, mengenalkan Dimas ke Cahaya, mungkin bukan solusi yang dia butuhkan sama sekali.

Tapi itu, sekali lagi, urusan Senin nanti.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!