Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

APARTEMEN MEWAH DAN SENYUM YANG ASING

Pemakaman Ayah berlangsung sangat sederhana jika tidak mau disebut mengenaskan.

Hanya ada aku, beberapa tetangga gang yang kasihan, serta gerimis tipis yang membasahi tanah pemakaman umum.

Ibu datang terlambat.

Wanita itu berdiri di sampingku dengan kacamata hitam besar yang menutupi separuh wajahnya, mengenakan gaun hitam polos yang potongan kainnya terlalu rapi untuk ukuran orang yang baru saja kehilangan tempat tinggal.

Tidak ada air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.

Hanya desahan napas bosan seolah prosesi penguburan pria yang pernah memanjakannya itu hanyalah formalitas yang membuang waktu.

Tepat tiga hari setelah tanah kuburan Ayah masih basah, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di mulut gang sempit kontrakan kami.

Kedatangannya menjadi tontonan warga sekitar yang terperangah melihat kendaraan seharga miliaran rupiah masuk ke pemukiman kumuh.

"Kemas barang-barangmu yang penting saja, Rissa.

Baju-baju lusuhmu itu buang saja semua," ucap Ibu dingin tanpa memandangku.

Jarinya yang lentik dengan kuku berpoles nail art mahal sibuk menggeser layar ponsel keluaran terbaru.

Aku menatap Ibu dengan kening berkerut dalam.

Tanganku yang sedang memeluk foto Ayah berbingkai kayu sederhana makin mempererat cengkeramannya.

"Kita mau ke mana, Bu?

Uang dari mana Ibu bisa naik mobil seperti ini?"

"Jangan banyak tanya.

Ikut saja kalau kamu masih mau makan," potong Ibu tajam, memutar tumitnya dan melangkah anggun menuju mobil.

Mobil itu membawa kami menembus kemacetan Jakarta menuju salah satu kawasan termahal di pusat kota.

Kendaraan berhenti di pelataran parkir sebuah gedung pencakar langit gedung apartemen eksklusif yang penjagaannya sangat ketat.

Seorang bellboy berseragam rapi menyambut kami dengan senyuman membungkuk, membawakan koper-koper kecil kami menuju lift khusus yang membutuhkan akses kartu emas.

Ketika pintu unit apartemen di lantai 35 itu terbuka, aku terpaku di ambang pintu.

Ruangan itu luar biasa luas.

Lantai marmer putih mengkilap memantulkan cahaya lampu kristal yang menggantung elegan di langit-langit.

Dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan panoramik gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

Perabotan di dalamnya serba baru, berkelas, dan memancarkan aroma kemewahan yang sangat familiar aroma yang pernah melingkupi hidupku sebelum kebangkrutan menghancurkan segalanya.

"Ini... apartemen siapa, Bu?" tanyaku, suaraku bergema kaku di dalam ruangan yang luas itu.

Hati nuraniku menolak percaya.

Bagaimana mungkin seorang wanita yang beberapa hari lalu mengeluh tidak punya uang untuk membeli makan dan krim wajah, tiba-tiba memiliki akses ke hunian mewah bernilai puluhan miliar?

Ibu meletakkan tas tangannya yang berlogo merek Prancis ternama ke atas meja kaca.

Ia berbalik, menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.

"Mulai hari ini, ini rumah kita," jawab Ibu santai, menuangkan air mineral dari botol kaca impor.

"Kamu tidak perlu lagi memikirkan uang kontrakan, makan makanan sisa, atau berdiri di pinggir jalanan berdebu yang menjijikkan itu."

"Ibu dapat uang dari mana?!" suaraku naik satu oktav.

Dada rasa sesak memikirkan Ayah.

"Ayah baru meninggal tiga hari yang lalu, Bu!

Ayah mati di pangkuanku sambil menahan sakit karena kita tidak punya uang untuk ke rumah sakit!

Sementara Ibu... Ibu punya tempat seperti ini?!"

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi kiriku.

Kepalaku tertoleh ke samping, rasa panas menyengat seketika.

"Jaga mulutmu, Clarissa!" bentak Ibu dengan mata menyala murka.

"Aku melakukan semua ini demi kamu!

Demi masa depan kita!

Kamu pikir siapa yang membiayai pemakaman ayahmu kemarin?

Kamu pikir siapa yang membayar hutang-hutang sisa kontrakan?

Aku!"

Aku memegang pipiku yang berdenyut panas, menatap wanita di depanku dengan tatapan tak percaya.

Air mata kemarahan menetes melintasi pipiku.

"Ibu bohong...

Ayah berjualan snack di atas kursi roda sampai tangannya kapalan hanya untuk memberi Ibu uang!

Tapi Ibu malah..."

"Cukup!" potong Ibu keras.

Ia maju satu langkah, mencengkeram bahuku erat.

"Dengar baik-baik, Rissa.

Masa lalu sudah mati bersama ayahmu yang tidak berguna itu.

Sekarang, kamu fokus pada hidupmu.

Bulan depan kamu harus masuk kuliah."

"Kuliah?

Aku tidak mau kuliah, Bu.

Aku mau kerja," batasku cepat.

"Kamu harus kuliah!" tegas Ibu tanpa bisa dibantah.

"Aku sudah mendaftarkanmu di Universitas Nusantara, jurusan Manajemen Bisnis.

Jangan bikin aku malu.

Dengan wajah dan tubuhmu yang seperti ini, kamu harus berada di lingkungan orang-orang berkelas.

Kamu harus jadi wanita terpandang!"

Aku mengepalkan tangan di samping tubuh.

Universitas Nusantara adalah kampus swasta paling prestisius di Jakarta, tempat berkumpulnya anak-anak konglomerat, pejabat, dan selebriti.

Biaya masuknya tidak main-main.

Dari mana Ibu mendapatkan uang ratusan juta untuk biaya pendaftaranku?

Malam harinya, aku duduk di tepi tempat tidur empuk berukuran king size di kamar baruku.

Kamar ini luar biasa indah, lengkap dengan balkon pribadi yang menghadap kerlip lampu kota.

Namun bagiku, tempat ini terasa lebih dingin dan asing daripada kontrakan sempit beratap seng kemarin.

Aku membuka dompet lusuhku, mengeluarkan sebuah foto kecil yang sedikit terlipat di ujungnya.

Foto Ayah sedang tersenyum bangga sambil merangkulku saat aku menjuarai lomba debat di sekolah dua tahun lalu.

Saat itu, Ayah masih gagah, masih menjadi raja dalam keluarga kami.

"Ayah..." bisikku lirik, meraba wajah Ayah di foto itu.

Air mataku menetes membasahi permukaan kertas foto.

"Ibu dapat semua ini dari mana?

Apa yang sebenarnya Ibu sembunyikan dari kita selama Ayah sakit?"

Suara bisikan Ayah sebelum hembusan napas terakhirnya kembali terngiang di telingaku:

'Rissa... maafkan Ayah... Ibumu... dia...'

Potongan puzzle yang ganjil mulai menyatu di kepalaku.

Pertengkaran malam hari, alasan Ibu yang selalu pulang larut malam untuk 'mencari nafkah', sikap dingin Ibu pada penderitaan Ayah, dan sekarang... kemewahan mendadak yang seolah jatuh dari langit.

Dada rasa dihantam batu besar.

Sebuah kecurigaan yang sangat mengerikan mulai merayap di benakku.

Kecurigaan bahwa di saat Ayah mandi keringat dan menahan sakit luar biasa di tepi jalan raya demi mengumpulkan lembaran ribuan lusuh, Ibu justru sedang menikmati kemewahan di tempat lain bersama pria lain.

Aku berjalan menuju jendela kaca besar, menatap bayangan diriku sendiri pada pantulan kaca.

Di sana berdiri seorang gadis berusia 19 tahun—dengan rambut hitam panjang bergelombang, kulit putih bersih, mata bulat yang tajam, serta proporsi tubuh tinggi dengan lekuk tegas yang terbingkai sempurna.

Paras cantik yang dulu selalu dibanggakan Ayah.

"Kalau benar Ibu mengkhianati Ayah..." bisikku dingin pada bayanganku sendiri di kaca, jemariku mengepal hingga buku-buku jariku memutih.

"...aku bersumpah, Bu.

Aku tidak akan pernah membiarkan Ibu hidup tenang di atas penderitaan Ayah."

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!