Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Di Bawah Tatapan
Ekaterina
2 Bulan Kemudian
Hari ini aku bangun dengan kabar baik.
Adik Bu Severina, Gine, mendapatkan pekerjaan untukku.
Hari ini.
Matahari bahkan belum terbit ketika aku bangun. Kamar masih gelap, keheningan terasa berat... tapi, untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, dadaku tak begitu sesak.
"Pergilah dengan tenang," kata Bu Severina sambil membetulkan kerudung di kepalanya. "Begitu Lisbela bangun, akan kubawa dia ke rumahku."
Aku mengangguk, penuh syukur.
Aku tak punya banyak pilihan.
Tapi ada orang-orang baik di jalanku.
Kutatap Lis... masih tertidur, mungil, meringkuk di ranjang. Rambut pirangnya berhamburan di bantal yang sudah lusuh.
Hatiku mencelos.
Kubetulkan blusku.
Bagian perutnya sudah mulai terasa sempit, tapi inilah yang terbaik yang kupunya.
"Makan dulu sebelum berangkat," Bu Severina mendesak.
"Setidaknya minum susu."
Aku memaksakan senyum.
"Aku tak lapar."
Bohong.
Aku sangat lapar.
Tapi yang ada di sana...
untuk Lis.
Setengah botol susu. Sedikit sereal. Sebungkus mi.
Semuanya terhitung.
Semuanya terukur.
Dengan uang hari ini... aku bisa membeli lebih banyak.
Aku harus membeli.
Aku membungkuk dan mencium kening Lis hati-hati, tanpa membangunkannya.
"Aku segera kembali, sayang..."
Kuucapkan terima kasih sekali lagi pada Bu Severina, lalu berangkat.
Udara pagi terasa dingin.
Jalan menuju halte bus terasa lebih panjang dari seharusnya.
Perutku berbunyi.
Kubawa tangan ke perutku, menekan pelan.
"Maaf, ya..." bisikku.
Pada bayiku.
Dia juga tak bersalah.
Kutatap langit yang cerah, memohon kekuatan dalam diam.
Karena aku harus menemukan jalan.
Demi kami berdua.
Demi adikku...
dan demi anakku.
Bus datang, aku naik, menempuh perjalanan sambil berusaha tak terlalu banyak berpikir. Menit-menit berlalu secepat kilat.
Ketika aku turun...
kulihat tempat itu masih jauh.
Tapi aku tetap pergi.
Berjalan kaki.
Lalu...
semuanya berubah.
Jalanan jadi lebih bersih.
Rumah-rumah lebih besar.
Lalu... megah.
Mewah.
Yang satu lebih indah dari yang lain.
Ini dunia yang lain.
Sama sekali berbeda dari tempat asalku.
Kutatap sekelilingku, setengah bingung... setengah terpukau.
Dan, untuk sesaat...
aku merasakannya.
Bahwa mungkin...
pekerjaan ini bukan sekadar satu hari.
Mungkin ini sebuah kesempatan.
Meski kecil.
Meski sulit.
Tapi tetap saja...
sebuah kesempatan.
Setelah berjalan cukup jauh... akhirnya kulihat.
Alamat itu.
Dan jantungku nyaris berhenti.
Sebuah rumah mewah... di puncak bukit.
Gerbang tingginya terbuka. Seluruh bangunan berdinding kaca memantulkan cahaya fajar. Pemandangannya... terlalu indah untuk jadi nyata.
Sesaat aku mengira aku salah tempat.
Tapi tidak.
Di sinilah tempatnya.
Aku menarik napas dalam-dalam dan masuk, berusaha tak tampak seasing yang kurasakan.
"Pak Alexei?" tanyaku sambil menatap sekeliling.
Seorang pria muncul.
Dia meneliti aku dari kepala sampai kaki.
Tanpa berpura-pura.
Matanya berhenti di perutku.
Lalu kembali ke wajahku.
"Sudah kuduga... seorang perempuan hamil."
Aku menelan ludah.
"Aku sanggup," jawabku cepat, sebelum dia menyuruhku pergi.
Dia mengamatiku sedetik lagi... menilai.
"Pekerjaannya berat. Kau bakal tahan?"
"Tahan."
Aku tak bisa menjawab lain.
Dia memberi isyarat dengan kepalanya.
"Ikuti aku."
Aku mengikuti.
Dan mulai bekerja.
Tapi aku bisa merasakannya.
Dia tak menyukaiku.
Tak percaya.
Dan kesalahan sekecil apa pun... bisa cukup untuk menendangku dari sana.
Jam demi jam berlalu lambat.
Tubuhku lelah.
Rasa lapar kembali.
Lebih kuat.
Lebih memaksa.
Tapi aku terus bekerja.
Karena aku harus.
Aku sedang mengangkat beberapa kotak ketika kudengar...
sebuah nama keluarga.
Ivanok.
Tubuhku bereaksi seketika.
Seolah tersengat listrik.
Tidak.
Tak mungkin.
Napasku tertahan sesaat.
Pikiranku berpacu.
Pesta itu...
Para pria itu...
Bar itu...
"Tidak..." bisikku, nyaris tanpa suara.
Lalu...
seakan takdir sedang menertawakan wajahku—
aku melihatnya.
Salah satu dari mereka.
Datang mendekat.
Jantungku berpacu.
Tanpa berpikir, aku bersembunyi.
Di balik tumpukan kotak.
Menahan napas.
Berusaha lenyap.
"Sial betul..." gumamku pada diri sendiri.
Karena sekarang...
ini bukan lagi soal bekerja.
Ini soal tak terlihat.
"Mana perempuan itu!" suara pengawas memecah keheningan.
Jantungku berpacu.
Aku tak punya pilihan.
Aku keluar dari balik kotak-kotak... dan langsung berhadapan dengannya, menabraknya.
Pria itu.
Yang di bar itu.
Sesaat, dunia berhenti.
Aku bahkan tak ingat namanya.
Aku hanya ingat bahayanya.
Kesalahan itu.
Masa lalu yang tak boleh kubiarkan kembali.
Aku langsung menundukkan wajah dan melewatinya cepat-cepat, nyaris berlari ke arah si pengawas.
"Aku di sini," kataku, berusaha menjaga suaraku tetap tegas.
"Ke mana saja tadi?" gerutunya, tak sabar. "Ayo, ambil kotak-kotak yang di sana itu."
Dia menunjuk.
Aku bahkan tak menjawab.
Aku hanya menurut.
Kuangkat kotak-kotak itu, meski tubuhku masih tegang, napasku masih kacau.
Tanganku gemetar.
Tapi aku terus bekerja.
Karena berhenti... lebih buruk.
Aku baru benar-benar bernapas ketika aku memberanikan diri melirik ke samping
dan dia tak lagi ada di sana.
Lenyap dari pandanganku.
Kelegaan datang cepat.
Tapi tak bertahan lama.
Karena lalu...
aku merasakannya.
Tatapan lain.
Perlahan aku mengangkat mata.
Dan bertemu dengan seorang wanita.
Pirang.
Anggun.
Berbeda dari semua orang di sana.
Matanya lembut...
tapi terlalu jeli.
Terlalu mengamati.
Seolah dia sedang berusaha memahamiku.
Seolah dia sudah menangkap sesuatu.
Perutku bergolak.
Aku langsung mengalihkan pandangan.
Aku tak boleh menarik perhatian.
Tak boleh.
Kotak-kotak itu terasa makin berat.
Lebih berat dari seharusnya.
Lebih berat dari yang bisa kutanggung.
Tapi aku tak boleh berhenti.
Aku butuh uang ini.
Aku harus membeli makanan... aku harus merawat Lis... aku harus merawat bayiku.
Maka aku terus melangkah.
Meski pandanganku mulai menggelap di tepiannya.
Meski tubuhku memohon istirahat.
Meski lapar mencengkeram seperti simpul.
Satu lagi saja.
Satu kotak lagi saja...
Tapi tubuhku tak menurut.
Tiba-tiba, semuanya berputar.
Dan aku merasakan hantaman lantai
sebelum semuanya gelap.
Ketika aku terbangun...
rasanya berbeda.
Lembut.
Sunyi.
Aman.
Aku membuka mata perlahan... masih bingung.
Lalu kulihat.
Tiga wanita.
Menatapku.
Wanita pirang itu bertatapan jeli, tapi lembut. Dia mengatakan sesuatu pada yang lain... si tuan rumah pesta... yang sedang hamil... memintanya membawakan sesuatu untuk kumakan.
Wanita itu keluar.
Aku langsung berusaha bangkit.
"Aku... aku akan kembali bekerja..." kataku, tergesa. "Pengawas itu pasti sedang mencariku..."
Suaraku tersendat.
Tapi aku memaksakannya.
Wanita berambut gelap mendekat.
Tegas.
"Aku yang akan bicara padanya."
Dan dia keluar sebelum aku sempat berkata apa pun.
Kutatap tanganku.
Masih gemetar.
Tanpa bisa kukendalikan.
Itu membuatku malu.
Membuatku merasa lemah.
Pintu terbuka lagi.
Si tuan rumah pesta kembali... membawa nampan.
Sebuah roti isi.
Jus.
Buah.
Hal-hal sederhana.
Tapi bagiku...
tampak seperti jamuan mewah.
"Makanlah," katanya, hati-hati.
Aku menurut.
Mula-mula perlahan.
Berusaha mempertahankan sedikit martabat.
Tapi rasa lapar mencengkeram.
Dan aku kehilangan kendali.
Aku mulai makan lebih cepat... tanpa bisa kutahan.
Seakan siapa pun bisa merenggut makanan itu dariku kapan saja.
Seakan ini santapan terakhirku.
Wanita berambut gelap kembali.
"Sudah beres," katanya. "Kau dipindah ke tim lain. Sekarang tugasmu menyajikan makanan. Lebih ringan. Ada waktu untukmu pulih."
Aku hanya mengangguk.
Aku tak punya kata-kata.
Aku bahkan tak tahu bagaimana harus berterima kasih.
Wanita pirang itu mendekat sedikit lagi.
"Siapa namamu?"
Aku ragu.
Kutundukkan kepala.
Karena bahkan itu pun... terasa sulit.
"Ekaterina."
Suaraku keluar pelan.
Nyaris berbisik.
Dan, di saat itu...
aku merasakannya.
Bahwa mereka bukan sekadar menolongku.
Mereka melihatku.
Sungguh-sungguh.
Dan itu...
lebih menakutkan daripada apa pun.
Sisa pagi itu berjalan lebih tenang.
Di tim jamuan, setidaknya, tak ada yang berteriak-teriak. Pekerjaannya lebih ringan. Menyajikan, menata, berkeliling di antara meja-meja...
Aku bisa bernapas.
Bisa berpikir.
Atau setidaknya mencobanya.
Tapi ketenangan itu tak bertahan lama.
Berakhir tepat di saat aku melihatnya.
Viktor Morozov.
Namanya bergema di benakku bagai peringatan.
Dan wajah itu...
takkan pernah kulupakan.
Tak akan pernah.
Ayah dari bayiku.
Tubuhku bereaksi lebih dulu sebelum pikiranku. Jantungku berpacu, telapak tanganku berkeringat, dan segalanya dalam diriku berteriak menyuruhku lari.
Dan itulah yang kulakukan.
Aku menghindar.
Menyingkir.
Kusembunyikan diri di antara orang-orang, memakai nampan sebagai dalih, mengubah arah setiap kali kurasakan dia di dekatku.
Menyajikan.
Selalu bergerak.
Selalu menjauh.
Tapi ini sulit.
Dia ada di mana-mana.
Dan aku merasa...
seakan kapan saja dia bisa melihatku.
Saat pengungkapan tiba, semua mata tertuju ke panggung.
Termasuk mataku.
Aku terhenti.
Sesaat.
Melupakan segalanya.
Panggung itu.
Hitungan mundur.
Senyum-senyum itu.
Lalu...
asap membubung.
Biru.
Kembang api meledak di langit, terlalu indah, terlalu tinggi... aku berdiri di sana, menatap, terpukau.
Untuk sesaat, aku lupa pada kenyataanku.
Tapi itulah kesalahanku.
Berhenti.
Karena ketika aku sadar kembali
dia sudah ada di depanku.
Viktor.
Begitu dekat sampai tubuhku membeku.
Nampan itu terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai dengan bunyi kering.
"Tidak..." bisikku, tanpa suara.
Tapi sudah terlambat.
Dia mencengkeram lenganku.
Kuat.
Tanpa memberiku pilihan.
Lalu menyeretku.
Keluar dari pesta.
Jantungku berpacu, ketakutan menjalar naik ke tenggorokanku.
"Lepaskan aku!" aku mencoba, tapi suaraku tersendat.
Orang-orang di sekeliling menatap, tapi tak ada yang campur tangan.
Karena ini dia.
Dan aku...
aku hanya bisa memikirkan satu hal.
Tamat sudah.
Dia sudah tahu...