Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar kediaman mewah keluarga Raharja.
Sudah tiga puluh hari terakhir Raisa di kurung di dalam kamar ini, tanpa ada siklus kehidupan antara fajar dan malam.
Kamar ini seolah seperti sangkar emas yang di bangun oleh Dion, kini kamar ini sudah menjadi penjara yang sempurna baginya.
Di kamar Raisa hanya di tinggalkan ponsel tanpa ada nomer telepon yang bisa di hubungi, dan di ponselnya ada sistem pemantau yang di masukan Dion.
Kamar ini hanya menampilkan sebuah pemandangan taman, lewat jendela besar yang menjadi bagian dari kamarnya.
Sore dengan cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui jendela, di atas sofa beludru Raisa duduk meringkuk dengan sangat rapuh.
Hari ini mengenakan gaun berwarna pink nude, lengan pendek sampai lututnya---Rambutnya yang biasanya tertata kini nampak berantakan.
Gaun yang membalut tubuhnya yang semakin hari semakin kurus, karena permasalahan pada suaminya---hubungan badan setiap malam dengan kasar.
Bahkan menggunakan alat-alat yang menyakiti tubuhnya, bisa di bilang Dion selain gila juga hyper.
Semenjak hubungan dengan Raisa, secara pribadi Dion sudah tak pernah menyentuh tiga wanita LC yang menjadi langganannya dan Leon.
Tiga wanita LC ini memang dijadikan Dion dan Leon sebagai simpanan, namun dengan syarat ketiganya harus menurut perintah dua pengacara ini.
Raisa duduk di sofa beludru itu dengan menekuk kakinya, wajahnya pucat dan tubuhnya kian kurus setiap hari.
Bukan tak di beri Dion makan, namun karena beban pikirannya---memikirkan Nyonya Raharja di rumah sakit.
"Ya allah hamba tak bisa menemani mertua hamba, disaat terakhir orangtua hamba...hamba tak ada di samping mereka."
Raisa bicara dengan tangannya terlihat menggenggam sebuah bingkai foto.
Bingkai foto yang menjadi satu-satunya harta untuknya, sebelum Dion mengurungnya---Bingkai foto gambar orangtuanya yang sedang tersenyum.
"Mama... Papa... kalian sudah tiada, aku sekarang sendirian," bisik Raisa menatap bingkai foto itu, suaranya parau dan hampir hilang.
Mata Raisa terlihat sembab karena tangisnya yang tak kunjung berhenti.
Hatinya begitu tulus, sampai terus memikirkan mertuanya---hanya saja sang suami yang sudah terlanjur membencinya, sama sekali tak mempedulikan perasaannya.
Dion yang sudah terobsesi akan kebencian dan terobsesi akan tubuh Raisa, kini memilih menyiksa Raisa dengan mengurungnya di dalam kamar.
Bingkai foto di pelukannya, air mata Raisa jatuh membasahi bingkai foto itu.
Tubuhnya bergetar hebat saat bingkai foto itu di pelukannya, merasa seperti anak kecil yang tengah tersesat di tengah hutan rimba tanpa pelindung.
Raisa memejamkan matanya, pikirannya melayang pada kekejaman yang dilakukan Dion selama sebulan ini.
Dion memang sangat membencinya, karena dulu Raisa telah membullynya---bahkan sampai membuat Dion pindah sekolah.
Kini dirinya menjadi istri Dion, dan suaminya hanya menjadikannya Sundal pribadi---bahkan Raisa tak segan di cambuk jika dirinya tak menurut perintah Dion.
Padahal Raisa sendiri bercita-cita menjadi designer baju, namun Dion malah menghalangi cita-citanya itu.
Tubuh Raisa menampilkan bekas memar di lengan dan pahanya, karena permainan ranjang yang dibuat oleh Dion.
Namun, luka batinnya terus menganga lebar, momen yang seharusnya menjadi ibadah ranjang terasa seperti penyiksaan baginya.
Dion selalu melakukan kekasaran ini, seolah pria itu menikmati penderitaan yang terpancar dari Raisa.
Bagi Dion setiap suara desah kesakitan dari bibir Raisa adalah kebahagian dan kepuasannya.
Tiba-tiba, suara pintu kamar di buka---Dion masuk kamar, karena Dion memiliki kunci atas kamar ini.
Jantung Raisa seolah berhenti berdetak.
Benar saja, suaminya masuk dengan aura mendominasi. Penampilannya sangat forma jauh dari kesan pria kejam.
Dion mengenakan kemeja abu-abu dengan dasi merah yang masih terikat di lehernya. Tak lupa dengan jas hitamnya tersampir di tangan kirinya.
Dion baru pulang setelah selesai mengurus urusan kantor hukumnya.
Dion berjalan mendekati Raisa yang terduduk di sofa beludru dengan mata yang sembab, Raisa mundur dan wajahnya ketakutan---seperti memendam trauma yang mendalam.
Raisa nampak was-was saat Dion sudah ada di hadapannya.
Raisa mendongak dan menyeka air matanya, namun Dion tak berkata kasar atau meninggikan suaranya.
Suaminya justru berhenti di depan Raisa sambil membungkukkan tubuhnya yang tegap.
Dion mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh dagu istrinya dengan lembut, lalu mendaratkan ciuman di bibir istrinya.
Hal yang tak pernah dilakukan Dion selama pernikahan mereka, kecuali saat melakukan hubungan badan.
Raisa hanya bisa mematung, tak berani membalas, menjawab ataupun menolak.
"Bersiaplah, besok kita akan tampil di acara kenegaraan!" ujar Dion dengan nada yang datar namun tidak menerima bantahan.
Raisa tertegun sejenak.
Acara kenegaraan? itu berarti selama sebulan di kurung besok dirinya mulai bisa menghirup udara segar, entah mengapa hatinya terasa damai.
Ada secerca harapan yang muncul, namun segera padam karena tatapan Dion yang tajam.
Raisa bahagia, namun tak berani tersenyum---karena dirinya sangat takut akan dominasi suaminya.
Raisa tahu meski ini bukan kebebasan yang mutlak, namun ini akan menjadi peran barunya sebagai Istri Dion.
Istri dari sang Pengacara terkenal.
Dion membutuhkan seorang istri untuk mendampinginya besok, dan benar apa kata Chelsea.
Raisa hanyalah istri 'pajangan'.
Namun, Chelsea tak tahu jika Raisa sudah berhubungan dengan Dion.
Dion hanya berusaha memastikan, jika rumah tangganya baik-baik saja---lalu memiliki istri yang penurut.
"Kamu harus tampil sempurna besok, akan ada MUA dan hairstyle yang akan ke rumah." Dion melanjutkan kalimatnya sambil menegakan tubuhnya.
"Dan kamu tak boleh keluar kamar sebelum saya perintahkan, ngerti kamu?" tanyanya lagi.
Raisa hanya menjawab dengan anggukan, tanpa membalas dengan suara.
"Tunjukkan pada dunia bahwa kita adalah pasangan paling bahagia di negeri ini. Jangan ada satu tetes air mata pun, jangan ada satu raut sedih pun. Kamu mengerti, Raisa?" tanya Dion lagi, berusaha menegaskan dominansinya.
Selai lagi Raisa hanya menjawab dengan anggukan, tanpa membalas dengan suara.
Dion tersenyum menepuk pipi Raisa, lalu membungkukan tubuhnya---lalu mencium bibir istrinya.
Cahaya senja yang menembus dari balik jendela, Dion dan Raisa saling bercumbu di saksikan cahaya senja sore ini.
*
*
*
*