"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil aneh
Jumat sore, kantor mulai sepi lebih cepat dari biasanya. Sebagian besar tim udah pada cabut begitu jam pulang tiba, tapi Rain masih di mejanya, nunggu approval terakhir dari divisi Finance sebelum proyek besar itu resmi jalan minggu depan.
"Udah dikirim tadi siang," kata Rain ke Pandu lewat telepon, sambil sesekali refresh email.
"Tinggal nunggu tanda tangan Kenzo doang."
"Sabar, mungkin dia lagi rapat," jawab Pandu di seberang telepon.
"Kamu duluan aja pulang, biar aku yang follow up Senin."
"Nggak apa-apa, aku tunggu di sini." Rain menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi.
"Lagian kalau ditinggal, nanti Senin ada aja revisian baru dari dia." Pandu tertawa kecil di ujung telepon.
"Kamu benci banget, ya, sama dia." Rain terdiam sebentar.
"Nggak benci, sih. Cuma... capek aja. Rasanya nggak pernah cukup di matanya."
"Kamu udah lebih dari cukup, kok," kata Pandu, suaranya melembut.
"Buat aku, kamu selalu lebih dari cukup." Ada jeda sebentar di telepon.
Rain merasa pipinya sedikit menghangat, tapi sebelum dia sempat bilang apa-apa, Pandu buru-buru nyambung, "Ya udah, aku duluan, ya. Ada meeting lagi soalnya." Telepon ditutup.
Rain menatap layar ponselnya sebentar, separuh berharap Pandu bakal nerusin kalimat tadi jadi sesuatu yang lebih jelas. Tapi seperti biasa, Pandu berhenti tepat di ujung sesuatu yang penting, lalu mundur lagi. ---
Setengah jam kemudian, email approval akhirnya masuk. Rain buru-buru beres-beres, lega proyeknya bisa lanjut sesuai jadwal. Begitu keluar dari lobi kantor, dia baru sadar hujan turun cukup deras, sementara payungnya ketinggalan di meja.
"Tumben masih di sini jam segini." Rain menoleh. Kenzo berdiri di dekat pintu kaca lobi, tangannya memegang kunci mobil, seolah baru mau berangkat pulang.
"Nunggu approval kamu," jawab Rain, agak ketus.
"Makasih udah tanda tangan, akhirnya." Kenzo cuma mengangguk pelan, matanya melirik ke luar, ke hujan yang makin deras.
"Nggak bawa payung?"
"Ketinggalan," gumam Rain, agak malas mengakuinya. Tanpa banyak kata, Kenzo berjalan ke arah parkiran, lalu beberapa menit kemudian muncul lagi membawa mobil sedan hitam mengilap yang jelas-jelas bukan tipe mobil kantoran biasa. Logo di depannya aja Rain belum pernah lihat langsung, biasanya cuma di majalah otomotif yang sesekali dia baca iseng.
"Naik," kata Kenzo, membuka kaca jendela sedikit.
"Rumahmu searah kantor pusat, kan? Aku lewat situ." Rain ragu sebentar.
"Nggak usah, aku bisa naik taksi online"
"Hujan deras, susah cari taksi jam segini," potong Kenzo.
"Naik aja." Dengan agak canggung, Rain akhirnya masuk ke kursi penumpang. Interior mobilnya rapi, wangi parfum yang samar, dan yang paling bikin Rain diam-diam kaget: dashboard mobil itu penuh detail yang jelas-jelas bukan harga mobil biasa.
Sepanjang perjalanan, mereka nggak banyak ngobrol. Radio menyala pelan, suara hujan di luar jadi satu-satunya latar suara yang mengisi keheningan.
"Mobil kamu bagus," Rain akhirnya buka suara, lebih karena nggak tahan sama diam yang canggung.
P"Punya orang tua," jawab Kenzo singkat, mata tetap fokus ke jalan.
"Oh." Rain mengangguk pelan, meski dalam hati mulai mikir macam-macam. Orang tua yang bisa kasih anaknya mobil semewah ini pasti bukan orang biasa.
Tiba-tiba semua sikap keras Kenzo di rapat, standar tingginya, caranya ngomong seenaknya soal budget besar semua itu jadi masuk akal. Gampang aja buat orang yang nggak pernah kekurangan buat nuntut orang lain kerja lebih efisien.
"Kamu lagi mikir aku anak manja, kan?" tanya Kenzo tiba-tiba, seolah bisa baca pikiran Rain. Rain tersentak.
"Nggak"
"Nggak apa-apa," potong Kenzo, nada suaranya datar seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini sedikit lelah, mungkin.
"Semua orang juga mikir gitu." Rain diam, nggak tahu harus jawab apa. Mobil berhenti di depan gang menuju rumah kontrakan Rain.
"Makasih, ya," kata Rain akhirnya, tangan udah di gagang pintu.
"Rain." Rain menoleh.
"Senin, tolong kirim ulang breakdown biayanya," kata Kenzo, kembali ke nada kerja seperti biasa.
"Ada bagian yang masih bisa dipangkas." Rain menghela napas panjang, senyum kecut.
"Selalu ada aja, ya." Untuk pertama kalinya, Kenzo hampir tersenyum hampir.
"Kalau nggak ada yang perlu diperbaiki, ngapain aku ada di sini." Mobil itu melaju pergi begitu Rain turun. Rain berdiri sebentar di depan gang, menatap hujan yang masih rintik-rintik, pikirannya campur aduk antara kesal, penasaran, dan satu perasaan lain yang belum bisa dia namai.
Kalau bisa, tadi mau membanting pintu mobilnya. Berteriak di depannya dan bilang "KAMU NYEBELIN!"
Sayangnya pikiran itu cuma angan angannya aja. Segala sesuatu harus kembali ke realita. Hujan dan bad mood. Pantes awet kelamnya.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...