Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Tamu yang Tidak Diundang
Tiga hari setelah kejadian kue, Nadira mulai berusaha melupakan semuanya.
Ia tidak ingin terus bertengkar dengan keluarga Arga.
Pagi itu, ia bahkan sengaja membuat sarapan kesukaan Bu Ratih.
Namun ketika Nadira membawa makanan ke meja, ia melihat seorang wanita duduk di samping Rani.
Wanita itu tersenyum ketika melihatnya.
“Nah, ini Nadira?”
Nadira berhenti.
Rani langsung menjawab,
“Iya, Tante.”
Bu Ratih keluar dari dapur.
“Nadira, kenalkan. Ini Tante Mila, saudara jauh Rani.”
Nadira tersenyum sopan.
“Salam kenal, Tante.”
Mila pun mengangguk.
“Kamu cantik.”
“Terima kasih.”
Nadira hendak duduk, tetapi Mila berkata,
“Kamu yang mengurus rumah ini?”
“Iya, Tante. Saya membantu Ibu.”
Mila tersenyum.
“Pantas.”
Nadira bingung.
“Pantas apa?”
“Rani bilang kamu sangat rajin.”
Nadira menoleh kepada Rani.
Rani tersenyum manis.
“Tentu saja aku bilang begitu.”
Nadira membalas senyum.
Namun entah kenapa, ada sesuatu yang terasa tidak nyaman.
Saat sarapan selesai, Nadira kembali ke dapur.
Rani mengikutinya.
“Kamu jangan salah paham.”
Nadira menoleh.
“Dengan apa?”
“Tante Mila.”
“Aku tidak salah paham.”
“Bagus.”
Rani tersenyum.
“Karena Tante Mila akan tinggal di sini beberapa hari.”
Nadira terdiam.
“Di sini?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Katanya ada urusan di kota.”
Nadira mengangguk.
“Baiklah.”
Rani tersenyum lebih lebar.
“Aku senang kamu bisa menerima.”
Namun malam harinya, Nadira baru tahu bahwa “beberapa hari” ternyata berarti dua minggu.
Dan kamar tamu yang biasanya kosong sudah diberikan kepada Tante Mila.
Nadira tidak mempermasalahkan.
Sampai keesokan paginya.
“Nadira!”
Suara Bu Ratih terdengar keras dari lantai bawah.
Nadira segera turun.
“Ada apa, Bu?”
“Kenapa kamar Tante Mila belum dibersihkan?”
“Saya sudah membersihkannya tadi pagi.”
“Seprai belum diganti.”
“Sudah, Bu.”
Bu Ratih terdiam.
Rani muncul dari belakang.
“Bu, tadi aku lihat Nadira memang masuk kamar Tante Mila.”
Nadira menatap Rani.
“Iya, karena aku membersihkannya.”
Rani mengangguk.
“Tapi mungkin dia lupa mengganti seprai.”
“Aku tidak lupa.”
Bu Ratih menghela napas.
“Sudahlah. Ganti lagi.”
Nadira menahan napas.
“Baik, Bu.”
Ia berbalik.
Namun kali ini Arga kebetulan berada di sana.
“Nadira.”
Nadira berhenti.
“Aku bantu.”
Bu Ratih langsung berkata,
“Tidak perlu, Arga. Kamu kan harus bekerja.”
Arga menatap ibunya.
“Tapi Nadira sudah mengerjakan semuanya.”
“Dia menantu. Wajar kalau membantu.”
Arga terdiam.
Nadira menatap suaminya.
Ia tahu Arga ingin membelanya.
Tetapi seperti biasa, Arga tidak ingin berdebat.
“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Nadira, kalau kamu butuh bantuan, bilang aku.”
Nadira tersenyum tipis.
“Iya.”
Siang harinya, Nadira sedang mengganti seprai ketika Tante Mila masuk.
“Tidak usah.”
Nadira menoleh.
“Kenapa, Tante?”
“Saya bisa sendiri.”
“Nggak apa-apa.”
Mila tersenyum.
“Kamu baik sekali.”
Nadira mengangguk.
Namun sebelum keluar, Mila berkata,
“Saya dengar kamu dan Rani sering berselisih.”
Nadira terdiam.
“Tidak sering.”
“Rani bilang kamu agak sulit menerima keluarga suamimu.”
Nadira terkejut.
“Rani bilang begitu?”
Mila mengangguk.
“Tapi saya tidak percaya begitu saja.”
Nadira menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena saya bisa melihat sendiri.”
Mila mendekat.
“Kamu sebenarnya hanya ingin dihargai, kan?”
Nadira terdiam.
Untuk pertama kalinya ada orang dari keluarga Arga yang mengatakan sesuatu seperti itu.
Namun sebelum Nadira sempat menjawab, Mila berkata,
“Tapi hati-hati.”
“Hati-hati dengan apa?”
Mila melirik ke arah pintu.
“Tidak semua orang di rumah ini ingin kamu bertahan.”
Jantung Nadira berdegup.
“Maksud Tante?”
Mila tersenyum tipis.
“Saya tidak mengatakan apa-apa.”
Ia berjalan pergi.
Nadira berdiri terpaku.
Malamnya, Nadira menceritakan semuanya kepada Arga.
Arga mendengarkan tanpa memotong.
“Kamu percaya aku?”
“Tentu.”
“Kalau begitu, aku ingin bertanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kenapa kamu selalu menghindari konflik dengan keluargamu?”
Arga terdiam cukup lama.
“Aku tidak ingin kehilangan mereka.”
Nadira menatapnya.
“Dan kalau kamu terus seperti ini?”
Arga tidak menjawab.
Nadira menunduk.
“Aku tidak meminta kamu meninggalkan keluargamu.”
Arga menggenggam tangannya.
“Aku tahu.”
“Aku hanya ingin kamu punya keberanian untuk mengatakan bahwa aku juga keluargamu.”
Arga menatap mata istrinya.
“Aku akan mencoba.”
Nadira tersenyum kecil.
Namun dari luar kamar…
Rani berdiri mendengarkan.
Wajahnya berubah ketika mendengar kalimat Arga.
“Aku akan mencoba.”
Untuk pertama kalinya, Rani merasa posisinya mulai terancam.
Dan malam itu, ia memutuskan kalau cara lama tidak berhasil membuat Nadira pergi,maka ia harus mencari cara yang lebih menyakitkan.