Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: JALAN KELUAR DI TENGAH KOTA

​Keesokan harinya, Sabtu pagi disambut dengan semburat sinar matahari cerah yang menyapu pelataran rumah. Di ruang makan lantai bawah, Ayah Danu dan Ibu terlihat sibuk merapikan beberapa tas pakaian dan dokumen penting.

​"Devan, Aluna," panggil Ayah Danu saat melihat kedua anaknya melangkah turun dari lantai atas. "Hari ini Ayah sama Ibu harus ke luar kota sampai besok sore untuk melihat lokasi proyek baru di Bandung. Kalian berdua di rumah baik-baik ya."

​Ibu menatap Devan dan Aluna bergantian. Meski tatapannya tak lagi mengintimidasi seperti kemarin, garis-garis ragu di keningnya masih menyisakan sisa kecurigaan. "Kalau bosan di rumah, kalian boleh keluar sebentar untuk cari makan siang. Tapi ingat, pintu pagar jangan lupa dikunci kalau pergi."

​"Siap, Bu. Biar Devan yang jaga rumah dan ajak Aluna makan di luar nanti," jawab Devan lancar dengan nada santun seperti biasa.

​Begitu mobil Ayah Danu dan Ibu meluncur keluar dari pelataran dan deru mesinnya menghilang di ujung jalan kompleks, udara di dalam rumah mendadak berubah lapang. Beban pengawasan ketat yang selama seminggu ini menghimpit dada Aluna seolah menguap seketika.

​"Kita keluar," ujar Devan singkat, memecah keheningan di ruang tengah.

​Aluna menoleh kaget. "Keluar? Ke mana, Kak?"

​"Ke mana saja asal kita tidak terus-terusan mengurung diri di rumah ini," balas Devan seraya menjangkau kunci mobilnya di atas meja. Devan menatap Aluna dengan binar cokelat gelapnya yang intens. "Aku mau menghabiskan waktu seharian sama kamu tanpa perlu khawatir ada yang mengawasi."

​Siang harinya, Devan membawa mobilnya menyusuri jalanan kota menuju sebuah mall besar di pusat kota. Di tengah keramaian pusat perbelanjaan yang dipenuhi pengunjung akhir pekan, Devan dan Aluna berjalan bersisian.

​Bagi dunia luar, mereka tampak seperti pasangan muda yang serasi—Devan dengan kaus polos bertumpuk kemeja santai dan celana kain yang menawan, serta Aluna dengan gaun kasual pastel yang mempercantik paras ayunya. Namun di balik penampilan itu, tiap sentuhan kecil saat Devan menggenggam erat jemari Aluna saat menyeberang jalan atau saat lengan Devan merengkuh pinggangnya di dalam eskalator yang padat menyalurkan gelombang kehangatan yang amat nyata.

​Setelah makan siang di sebuah restoran di lantai atas, Devan mengajak Aluna masuk ke dalam bioskop untuk menonton film di studio yang cukup sepi.

​Di dalam studio yang remang-remang dan berpendingin udara dingin, Devan sengaja memilih barisan kursi paling belakang yang berada di sudut sepi. Begitu lampu studio memudar dan layar besar mulai memutar tayangan, Devan menarik pembatas lengan kursi di antara mereka.

​Tanpa membuang waktu, Devan merangkul bahu Aluna, menarik tubuh mungil adiknya menyandar rapat di dadanya yang tegap.

​"Kak... ini di dalam bioskop..." bisik Aluna pelan dengan pipi merona hangat, melirik cemas ke arah barisan depan yang menyisa beberapa penonton.

​Devan tak menghiraukan bisikan itu. Pria itu menunduk, mendaratkan kecupan lembut di pelipis dan garis rahang Aluna, sebelum akhirnya menyambar bibir merona adiknya dengan ciuman yang mendalam dan hangat.

​Di balik pendar temaram layar bioskop dan deru suara film yang membahana di dalam ruangan, mereka menikmati detik demi detik keintiman terlarang itu tanpa perlu merasa dikejar rasa takut akan intaian Ibu. Devan mengunci Aluna dalam dekapannya, menegaskan bahwa di mana pun mereka berada, Aluna adalah satu-satunya tempat ia berlabuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!