Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Tamat
Popularitas:511.1k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.

Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.

Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.

Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?

_____________

"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMOR KEMATIAN

Kaisar Zane menepuk pundak Luis pelan, tapi cengkeraman tangannya di bahu putranya itu terasa sangat kuat hingga membuat Luis menahan napas.

"Semoga saja dugaannya benar," bisik Kaisar Zane tepat di samping telinga Luis, suaranya begitu dingin dan mengintimidasi.

"Karena kalau sampai terbukti ada campur tanganmu di balik hilangnya putri tunggal Duke Daren, aku sendiri yang akan mencabut status pangeranmu dan melempar mu ke penjara bawah tanah," lanjut Kaisar Zane, dingin.

Deg

Tubuh Luis mendadak membeku kaku di tempatnya, bibirnya yang tadinya pandai bersilat kata kini terkatup rapat karena rasa takut yang mendadak menyeruak.

"A-apa Kaisar mengetahui sesuatu? Tidak, tidak mungkin," batin Luis, tiba-tiba cemas.

Kaisar Zane melepaskan cengkeramannya dari bahu Luis, lalu berjalan kembali ke belakang mejanya.

"Sekarang keluar, persiapkan dirimu untuk pesta dua hari lagi, dan jangan buat malu namaku lagi di depan para bangsawan," perintah Kaisar Zane tegas tanpa mau menatap Luis lagi.

"B-baik... Yang Mulia. Saya permisi dulu," jawab Luis dengan suara yang agak bergetar.

Luis berdiri dengan kaki yang terasa agak lemas, lalu membungkuk hormat sebelum melangkah terburu-buru keluar dari ruang kerja Kaisar.

Ceklekk

Setelah pintu tertutup rapat, Nico mendekati meja kerja Kaisar Zane.

"Luar biasa, Pangeran Luis benar-benar pandai berbohong di hadapan Anda, Yang Mulia," ucap Nico sembari menggelengkan kepalanya heran.

Kaisar Zane mengambil kembali cangkir kopinya yang sudah dingin, menyunggingkan senyum miringnya yang penuh ancaman.

"Biarkan dia berpuas diri dengan kebohongannya sekarang," bisik Kaisar Zane dingin.

"Dua hari lagi di acara ulang tahunku, aku ingin melihat bagaimana wajah sok sucinya itu hancur saat semua kebohongannya terbongkar," lanjut Kaisar, Zane.

Sementara itu, di sebuah kedai teh yang cukup ramai di sudut ibu kota, beberapa bangsawan kelas menengah dan warga biasa tampak sedang asyik berkumpul.

Pembahasan mereka pagi ini cuma satu, yaitu soal kabar mengejutkan yang baru saja menyebar cepat ke seluruh pelosok kerajaan.

"Kalian sudah dengar kabar terbaru belum? Lady Aura dari kediaman Duke Luminar dikabarkan mati tenggelam di Danau!" ucap salah seorang wanita bangsawan sembari mengipas wajahnya ragu.

"Benarkah?! Astaga, bagaimana bisa?" ucap teman di sebelahnya dengan mata membelalak kaget.

"Katanya sih dia bunuh diri karena stres menanggung beban sebagai calon permaisuri Pangeran Luis," jawab seorang pria di meja sebelah, menyela percakapan.

Pria itu lalu tertawa remeh sembari menggelengkan kepalanya.

"Cih, dasar gadis bodoh dan lemah! Sudah bagus dapat posisi calon istri Pangeran Mahkota, malah nekat mengakhiri hidup cuma gara-gara tidak kuat menanggung tekanan," lanjut pria itu sinis.

"Sstt! Jangan bicara sembarangan!" tegur seorang wanita paruh baya dengan raut wajah prihatin.

"Lady Aura itu gadis yang sangat baik dan ramah, beliau sering membagikan makanan untuk rakyat kecil di pinggiran kota. Kasihan sekali dia, masa mudanya harus berakhir seperti ini," sambung wanita paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca.

"Tapi tetap saja tindakan bunuh diri itu sangat konyol!" celetuk pria tadi tidak mau kalah.

"Pangeran Luis yang tampan dan berwibawa itu pasti sangat terpukul sekarang punya calon istri se konyol dia," lanjut nya, berdecih sinis.

Gossip dan rumor liar itu terus menyebar dari mulut ke mulut di seluruh penjuru ibu kota, kerajaan Caliber.

Ada yang mencemooh, ada yang prihatin, dan tidak sedikit pula yang mengutuk nasib malang sang putri Duke.

Di saat yang sama, di dalam sebuah kamar yang cukup mewah, di kediaman Velis, Elisabeth sedang duduk anggun di depan cermin besarnya, senyuman lebar dan penuh kemenangan terpancar jelas dari wajah cantiknya.

"Nona Elisabeth, rumor tentang bunuh dirinya Lady Aura sudah menyebar luas di seluruh ibu kota seperti yang Pangeran Luis rencanakan," lapor pelayan pribadinya sembari merapikan rambut Elisabeth.

Elisabeth tertawa pelan, suaranya terdengar sangat puas dan gembira.

"Bagus! Biarkan semua orang makin percaya kalau si bodoh Aura itu memang mati konyol karena bunuh diri!" ucap Elisabeth penuh nada penghinaan.

"Tapi Nona, apakah pihak kediaman Duke Luminar tidak akan melakukan penyelidikan lebih lanjut?" tanya pelayannya agak ragu.

Elisabeth mengibaskan tangannya santai, tidak peduli.

"Penyelidikan apa? Mau selidik sampai mana pun, jasad Aura pasti sudah membusuk di dasar danau itu," jawab Elisabeth tersenyum miring.

Dia berdiri dari kursinya, meraba gaun mewah berwarna merah menyala yang baru saja dipesannya khusus untuk acara besar dua hari lagi.

"Dua hari lagi di pesta ulang tahun Yang Mulia Kaisar, aku akan hadir mendampingi Pangeran Luis," gumam Elisabeth dengan mata berbinar penuh ambisi.

"Semua orang akan melihat, bahwa akulah wanita yang paling pantas memimpin kekaisaran ini menggantikan si bodoh Aura!" lanjut Elisabeth, menatap bayangannya di cermin dengan senyum licik.

Sementara itu, di dalam kamar pribadinya yang mewah, Aura sedang duduk santai di depan meja rias nya, dia mendengarkan setiap laporan yang disampaikan oleh Sora dengan wajah yang sangat tenang, seolah rumor kematian yang menghebohkan ibu kota itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

"Nona, orang-orang di luar sana benar-benar kejam!" ucap Sora emosi, tangannya mengepal erat di samping gaunnya.

"Masa mereka bilang Nona mati bunuh diri karena stres dan tidak punya harga diri?! Saya rasanya ingin mendatangi mereka satu per satu dan menampar mulut mereka!" lanjut Sora dengan napas memburu karena kesal.

Aura yang sedang menyesap teh hangatnya hanya tersenyum tipis, menatap pelayannya dari pantulan cermin.

"Biarkan saja, Sora, jangan buang-buang energimu untuk merespons mulut mereka," ucap Aura tenang, suaranya terdengar sangat santai.

"Tapi Nona! Pangeran Luis dan Lady Elisabeth pasti sekarang sedang tertawa puas mendengar rumor ini!" protes Sora lagi, masih tidak terima majikannya difitnah.

Aura meletakkan cangkir tehnya kembali ke tatakan dengan gerakan yang amat anggun, lalu memutarkan tubuhnya menatap Sora lurus.

"Justru itu yang aku mau," ucap Aura, bibirnya melengkungkan senyum miring yang amat dingin dan berbahaya.

"Maksud Nona bagaimana?" tanya Sora mengerutkan keningnya tidak paham.

"Makin tinggi mereka terbang karena merasa menang, makin hancur tubuh mereka saat aku hempaskan ke tanah dua hari lagi," jawab Aura pelan namun penuh penekanan.

Sora tertegun melihat kilatan mata majikannya yang begitu tajam, rasa merinding mendadak menjalar di punggung pelayan muda itu.

"Sora, bagaimana dengan gaun yang kukirim secara rahasia ke penjahit terbaik kemarin?" tanya Aura mengalihkan pembicaraan.

"S-sudah hampir selesai, Nona!" jawab Sora sigap, berusaha menguasai dirinya kembali.

"Penjahit itu berjanji gaunnya akan dikirim secara diam-diam besok malam sesuai perintah Anda," lanjut Sora, kembali bersemangat.

"Bagus," bisik Aura puas sembari berdiri dan berjalan mendekati jendela kamarnya yang tertutup tirai tipis.

1
Dwi Wahyu
harusnya dibunuh saja dari batu
Erna Masliana
terus kenapa gak bertindak tol**
Erna Masliana
ya karena kalian para pejabat dan para orang tua tolol yang gampang dibodohi... Raja terdahulu juga termasuk tolol
Erna Masliana
lah kamu sendiri pelayan rendahan yang ngimpi naik tahta
Erna Masliana
rencana yang gampang kebaca sebenarnya
Erna Masliana
meningkatkan keamanan saja tidak cukup kalo dalangnya dibiarkan hidup
Erna Masliana
ya iyalah... kamu lelet ngatasi musuh ya musuh bertindak duluan lah
Erna Masliana
langsung ajalah.. gak usah ngasih celah musuh
Erna Masliana
lah karena bukan anaknya
Erna Masliana
nah ini salah satu kelemahan Zein tidak menumpas tuntas ibu Luis dan Luis sendiri.. sekuat apa sih mereka hingga Zein tidak berkutik kalah dg wanita rendahan yg jebak dg ngaku ngaku doang
Erna Masliana
iya itu padahal jalan terbaik... apalagi Kaisar gak ada selir gak ada teman masa kecil atau maen ke rumah bordil
Erna Masliana
tapi tidak berbuat apapun sampe Luis dewasa...bikin skenario di racun atau dibunuh bandit pun tidak.. bukankah itu terlihat lemah.. mengatasi hal seperti ini saja mengandalkan Aura jiwa masa depan yang bertindak dulu
Erna Masliana
belum
Erna Masliana
harusnya di racun ye
Tika
baru gabung Thor 🤭
Omah Tien
kirain benaran g adu aku sampai sedih ya gmn anak nya kan ms kecil
Omah Tien
salah nya musuh g di matinin
Omah Tien
sy sk anak kembar ada jg ya
Omah Tien
kalau crt kerajaan ky nya g pernah ada anak kembar ya tau ada g
Omah Tien
kadang bc lihat aura sok sobong nya selagit tua nanti jg jd suami kamu jg dsr sbg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!