Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bentrokan Dua Predator di Bawah Terik Matahari

Suhu di area parkir kampus yang tadinya biasa saja mendadak terasa merosot drastis, seolah seluruh oksigen di sekitar sana tersedot habis oleh kehadiran sosok yang baru saja keluar dari mobil.

Jino West melangkah dengan langkah lebar yang penuh amarah tertahan. Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak berkibar pelan diterpa angin sore, sementara rahangnya mengeras hingga garis wajahnya terlihat begitu tajam dan menakutkan. Manik mata kelamnya menyorot tajam, menatap lurus ke arah Nathaniel Arcturus yang masih berdiri dengan senyuman miring penuh tantangan.

Reina, yang berada di antara kedua pengawalnya, merasakan debaran jantungnya meningkat drastis. Ia tahu betul apa yang mampu dilakukan oleh seorang Jino West jika batas kesabarannya sudah habis.

"Nathaniel," suara Jino meluncur rendah, berat, dan begitu mematikan. Kalimat itu diucapkan tanpa nada tinggi, namun sukses membuat siapa pun yang mendengarnya merinding ketakutan.

Nathaniel menoleh perlahan. Alih-alih menunjukkan rasa gentar, pria itu justru menyunggingkan senyuman sinis yang semakin lebar, menikmati setiap detik ketegangan yang ia ciptakan. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Jino dengan sorot mata meremehkan.

"Wah, wah... lihat siapa yang datang tepat waktu," sapa Nathaniel dengan nada santai yang dibuat-buat. "Pahlawan kesiangan kita, Tuan Muda Jino West. Tenang saja, kawan. Aku hanya sedang berniat baik menemani calon istrimu minum kopi sore. Tidak perlu memasang wajah semenakutkan itu."

Sebelum kalimat Nathaniel tuntas sepenuhnya, Jino sudah melesat maju dengan kecepatan luar biasa.

Bugh!

Satu pukulan telak mendarat sempurna di rahang Nathaniel. Tenaga besar yang dikerahkan Jino membuat tubuh Nathaniel terdorong mundur beberapa langkah hingga nyaris menabrak bodi mobil sport miliknya sendiri. Suasana parkiran mendadak riuh rendah oleh pekikan kaget dari beberapa mahasiswa yang masih berada di sekitar lokasi.

Nathaniel meringis pelan, menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah dengan punggung tangan. Alih-alih marah atau menyerang balik secara fisik, Nathaniel justru tertawa kecil, mencicipi sedikit darah di jarinya lalu menatap Jino dengan kilat mata penuh ambisi.

"Pukulan yang bagus, Jino," geram Nathaniel, menegakkan tubuhnya kembali. "Tapi kekerasan fisik tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa kerajaannya cepat atau lambat akan runtuh, termasuk wanita di belakangmu ini!"

Jino kembali melangkah maju, siap melayangkan pukulan kedua yang jauh lebih brutal, namun sebuah tangan kecil tiba-tiba mencengkeram erat pergelangan tangannya dari samping.

Jino menghentikan gerakannya. Ia menoleh kaku, mendapati Reina berdiri di sisinya dengan manik mata cokelat yang menatapnya penuh permohonan. Tidak ada rasa takut di mata gadis itu, yang ada hanyalah ketenangan dan ketegasan yang mampu meredam amarah membara sang Tuan Muda.

"Jangan kotori tanganmu untuk sampah seperti dia, Jino," bisik Reina lembut namun cukup jelas terdengar. "Dia hanya mencari perhatian dan memancing emosimu."

Jino menatap wajah Reina lekat-lekat. Tarikan napas pria itu masih berat, namun sentuhan tangan Reina di pergelangan tangannya berhasil menariknya kembali dari jurang emosi. Jino mengangguk pelan, lalu menurunkan kepalan tangannya.

Ia beralih menatap Nathaniel kembali dengan sorot mata dingin tanpa ampun.

"Dengar baik-baik, Nathaniel," suara Jino mendesis tajam, mengancam sampai ke tulang sumsum. "Sentuh dia lagi, atau berani bernapas di radius satu kilometer darinya, maka detik itu juga aku akan memastikan seluruh aset Arcturus Group dibekukan dan keluargamu jatuh miskin di jalanan. Pergi dari hadapanku sekarang!"

Tekanan psikologis dan aura dominasi mutlak yang dipancarkan oleh Jino membuat tawa di wajah Nathaniel perlahan memudar. Pria itu menyadari bahwa Jino tidak sedang gertak sambal. Dengan tatapan penuh kebencian yang disembunyikan di balik seringai tipisnya, Nathaniel masuk kembali ke dalam mobil sport miliknya.

"Permainan ini baru permulaan, Jino. Kita lihat saja nanti," ucap Nathaniel dingin sebelum akhirnya menancap gas mobilnya, meninggalkan area parkir dengan deru suara mesin yang memekakkan telinga.

Sore itu, suasana di dalam kabin mobil mewah Jino terasa begitu hening. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara selama perjalanan pulang menuju penthouse. Jino fokus menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari Reina di konsol tengah tanpa mau melepaskannya sedetik pun.

Begitu mereka tiba di dalam penthouse lantai empat puluh, Jino langsung menarik Reina ke dalam pelukan eratnya di ruang tengah. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Reina, membiarkan aroma vanila gadis itu menenangkan saraf-sarafnya yang sempat tegang.

"Kau bodoh sekali tadi," omel Jino dengan suara serak, masih memeluk Reina erat. "Kenapa kau nekat maju begitu? Bagaimana kalau dia berniat melukaimu?"

Reina mendengus pelan, balas melingkarkan lengannya di punggung Jino. "Justru kalau aku diam saja, kau bakal mukulin dia sampai babak belur dan masuk berita kriminal halaman utama besok pagi. Mau ditaruh di mana muka calon nyonya besar kalau suaminya masuk kantor polisi?"

Mendengar jawaban konyol itu, tawa kecil akhirnya lolos dari bibir Jino. Pria itu melonggarkan pelukannya, menatap wajah Reina dengan sorot mata yang dipenuhi rasa cinta sekaligus kekaguman yang teramat dalam.

"Kau benar-benar tidak ada takutnya ya, gadis desa?" gumam Jino lembut, lalu mendaratkan ciuman penuh rasa syukur di kening Reina.

Namun, di balik kelegaan sesaat itu, keduanya tahu bahwa ancaman Nathaniel Arcturus bukanlah ancaman kosong. Pria licik itu pasti sedang menyusun rencana yang jauh lebih berbahaya di balik layar.

Malam harinya, sementara Jino kembali disibukkan dengan panggilan telepon darurat bersama tim hukum perusahaannya di ruang kerja, Reina duduk di sofa ruang tengah sambil membuka laptopnya. Jemarinya kembali menari di atas papan ketik, menuliskan kelanjutan bab novel wuxianya. Di dalam cerita itu, sang tokoh utama wanita tidak pernah menyerah pada intrik musuh, melainkan berdiri tegak di samping pangerannya untuk menghadapi segala badai.

Reina menoleh sejenak ke arah pintu ruang kerja Jino yang terbuka setengah. Ia tersenyum tipis. Tidak peduli seberapa banyak musuh atau intrik licik yang mencoba merusak kebahagiaan mereka, Reina bertekad untuk berdiri di sisi Jino sebagai pendamping yang kuat, bukan sebagai gadis lemah yang harus terus dilindungi.

Dan lembaran-lembaran babak baru kehidupan mereka pun terus berlanjut, membuktikan bahwa cinta sejati selalu menemukan jalannya untuk menang di atas segala kebencian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!