Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KATA SaRI KATA HATI
Keesokan paginya, suasana kantor terasa berbeda dari biasanya. Laras datang dengan wajah yang tampak lelah, matanya sedikit bengkak menandakan kurang tidur semalaman. Beberapa rekan kerja memperhatikan perubahan itu, namun tidak ada yang berani bertanya lebih jauh mengingat suasana hati Laras yang jelas tidak sedang baik.
"Kamu baik-baik aja?" tanya salah satu rekan kerjanya, seorang wanita bernama Rina yang duduk di meja sebelah.
"Baik kok, cuma kurang tidur," jawab Laras singkat, mencoba tersenyum meski terasa dipaksakan.
Sepanjang pagi, Laras berusaha fokus pada pekerjaannya, meski pikirannya terus-menerus kembali pada konfrontasi semalam dengan Raka. Ada kelegaan tersendiri karena akhirnya berani mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan, namun juga ada kekecewaan mendalam karena Raka tetap memilih untuk menutup diri, tidak memberikan penjelasan atau permintaan maaf sedikit pun.
Menjelang siang, ponselnya bergetar—pesan dari Bagas.
"Laras, gimana kabarnya? Semalam kerjaannya lancar?"
Laras tersenyum kecil membaca pesan itu, sebuah kehangatan yang kontras dengan kedinginan yang selalu ia rasakan di kantor. "Lancar, Pak. Maaf lagi soal batal semalam."
"Nggak masalah, saya ngerti kok. Gimana kalau hari Sabtu ini kita coba lagi? Saya usahakan nggak ada gangguan kali ini."
"Boleh, Pak. Saya nggak ada acara Sabtu ini."
"Bagus. Saya jemput jam tujuh malam, ya?"
"Baik, Pak. Ditunggu."
Percakapan singkat itu berhasil sedikit mengangkat suasana hati Laras yang sempat terpuruk semalam. Ia menyimpan ponselnya dengan perasaan yang lebih ringan, mencoba fokus kembali pada tumpukan pekerjaan yang menanti.
Saat jam istirahat siang, Laras memutuskan untuk menelepon Sari, ingin berbagi cerita tentang kejadian semalam sekaligus rencana makan malamnya dengan Bagas akhir pekan ini.
"Laras! Gimana kabarnya?" sapa Sari begitu sambungan tersambung.
"Banyak yang terjadi, Sari. Aku nggak tau harus mulai dari mana."
"Cerita aja pelan-pelan."
Laras menceritakan semuanya—konfrontasinya dengan Raka semalam, keberaniannya untuk akhirnya bicara jujur tentang perlakuan yang ia terima, hingga respons dingin Raka yang membuatnya semakin yakin bahwa tidak ada gunanya berharap penjelasan atau permintaan maaf dari pria itu.
"Laras," Sari menghela napas panjang mendengar cerita itu, "kamu udah coba yang terbaik. Kamu udah berani ngomong jujur, itu langkah besar. Tapi kalau dia tetep aja nggak mau buka diri, mungkin memang bukan tanggung jawab kamu lagi buat terus-terusan berharap dia berubah."
"Aku tau, Sari. Makanya aku mikir, mungkin emang udah waktunya aku move on beneran. Bukan cuma di mulut, tapi di hati juga."
"Terus, gimana rencana kamu sama Pak Bagas?"
Wajah Laras merona sedikit mendengar pertanyaan itu, meski Sari tidak bisa melihatnya lewat telepon. "Kita ada rencana makan malam lagi hari Sabtu ini."
"Wah, serius nih? Gimana perasaan kamu soal dia?"
Laras terdiam sejenak, mencoba menyusun kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya. "Dia baik, Sari. Perhatian, sopan, dan yang paling penting, dia bikin aku ngerasa dihargai. Beda banget sama... " ia tidak melanjutkan kalimatnya, namun Sari sudah cukup mengerti maksud yang tersirat.
"Beda sama Raka, maksud kamu?"
"Iya," jawab Laras pelan. "Raka bikin aku capek, Sari. Capek fisik, capek emosi. Setiap hari aku harus siap-siap menghadapi kemarahan yang bahkan aku sendiri nggak sepenuhnya paham alasannya. Sementara Bagas... dia bikin aku ngerasa tenang. Nggak ada drama, nggak ada tekanan."
"Kalau gitu, kenapa nggak kamu kasih kesempatan buat perasaan itu berkembang? Kamu udah cukup lama terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, Laras. Mungkin ini saatnya kamu mulai buka hati buat sesuatu yang baru, yang lebih sehat."
Kata-kata Sari membekas dalam di hati Laras. Ia menatap keluar jendela kantor, memandangi lalu lalang orang-orang di jalanan Jakarta yang sibuk, merenungkan setiap kata yang baru saja diucapkan sahabatnya itu.
"Aku rasa kamu benar, Sari," katanya akhirnya, suaranya terdengar lebih mantap. "Aku udah cukup lama nunggu penjelasan atau permintaan maaf dari Raka yang mungkin nggak akan pernah datang. Mungkin udah waktunya aku berhenti nunggu, dan mulai jalan ke depan."
"Itu baru sahabatku," Sari tertawa kecil, nada suaranya penuh dukungan. "Semangat ya, Laras. Kamu pantas dapat kebahagiaan yang sebenarnya."
Percakapan itu berakhir dengan Laras yang merasa jauh lebih tenang dan yakin dengan langkah yang akan ia ambil ke depannya. Ia memutuskan untuk mulai membuka hati bagi kemungkinan baru bersama Bagas, melepaskan sedikit demi sedikit beban emosional yang selama ini terus mengikatnya pada masa lalu bersama Raka.
Sore harinya, ketika Laras sedang merapikan mejanya sebelum pulang, Raka melewati area kerja divisi pemasaran dalam perjalanan menuju ruang rapat. Matanya secara tidak sengaja bertemu dengan mata Laras untuk sesaat, namun kali ini, alih-alih menunduk atau mengalihkan pandangan seperti biasa, Laras justru menatap balik dengan tatapan yang jauh lebih tenang, hampir seperti tidak lagi terpengaruh oleh kehadiran pria itu.
Perubahan kecil itu tidak luput dari perhatian Raka. Ia berhenti sejenak, sedikit terkejut dengan sikap Laras yang tiba-tiba berbeda, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat dengan pikiran yang kembali dipenuhi kegelisahan.
Kenapa dia keliatan lebih tenang sekarang? pikirnya, mencoba mencari jawaban yang masuk akal. Apa karena rencana makan malam sama Bagas itu?
Pemikiran itu membuat dadanya kembali terasa sesak, sebuah pengingat pahit bahwa waktu terus berjalan, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya mungkin semakin menipis seiring dengan semakin dekatnya hubungan antara Laras dan Bagas.
Malam itu, sepulang kerja, Raka duduk sendirian di apartemennya yang luas namun terasa kosong, menatap kota Jakarta yang berkelap-kelip dari balkon lantai atas. Ia teringat kembali pada kata-kata ibunya bertahun-tahun lalu, tentang bagaimana cinta yang tidak sepadan hanya akan membawa penderitaan—kata-kata yang selama ini menjadi fondasi bagi kemarahan dan kepahitan yang ia pelihara terhadap Laras.
Namun kini, duduk sendirian dalam kesunyian, ia mulai mempertanyakan kembali keyakinan itu. Jika benar cinta itu rapuh dan tidak akan bertahan menghadapi tekanan, mengapa selama lima tahun ini ia tidak pernah benar-benar bisa melupakan Laras, meski telah berusaha keras menghapus setiap kenangan dan foto yang mengingatkannya pada gadis itu?
Mungkin, pikirnya perlahan, sebuah kesadaran baru mulai tumbuh di benaknya, masalahnya bukan pada cinta yang rapuh. Tapi pada aku yang terlalu takut buat cari tau kebenaran yang sebenarnya.
Pemikiran itu membuka celah kecil dalam pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah—celah yang, jika ia berani menelusurinya lebih jauh, mungkin akan membawanya pada kebenaran yang selama lima tahun terakhir sengaja ia hindari, kebenaran yang bisa jadi akan mengubah segalanya, meski mungkin sudah terlalu terlambat untuk memperbaiki apa yang telah rusak di antara mereka berdua.