Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Kalau ia harus maju ke tengah ratusan tombak panjang dan panah, nyawanya pasti akan melayang dalam hitungan detik.

"Berapa lama perkiraan waktu perjalanan mereka dari Kota Kerajaan sampai ke desa kita ini Karta?" tanya Raka menatap Karta tajam.

"Jalanan gunung sangat terjal Tuan Dewa, mereka mungkin butuh waktu sekitar tiga hari jalan kaki untuk sampai kemari."

"Tiga hari ya? Itu waktu yang cukup lumayan untuk menyiapkan penyambutan besar-besaran."

Raka tersenyum miring lalu berdiri dari tempat duduknya dan membersihkan debu di celananya.

Melihat Raka tersenyum, Karta dan Lin merasa sedikit kebingungan bercampur lega.

"Apakah Tuan Dewa punya rencana sihir lain untuk mengusir pasukan raja yang jumlahnya ratusan itu?" tanya Karta penuh harap.

"Tentu saja punya, aku akan membawakan mainan yang bisa melubangi armor besi mereka dari jarak jauh."

Raka memikirkan tentang senjata api laras panjang yang ia tonton di film-film aksi.

Ia tidak bisa membeli senjata api asli di Indonesia semudah membeli bahan bangunan karena hukumnya sangat ketat.

Tapi Sasa adalah direktur grup farmasi raksasa yang pasti punya koneksi ke dunia gelap yang lebih dalam dari sekadar preman jalanan.

"Kalian tenang saja dan lanjutkan kegiatan seperti biasa di dalam benteng ini."

Raka menepuk pundak Karta untuk memberikan rasa aman pada pria tua yang malang tersebut.

"Biarkan mereka datang ke mari tiga hari lagi, aku berjanji desa ini akan menjadi kuburan massal bagi siapapun yang berani merobohkan tembokku."

"Kami percaya pada kekuatan Anda Tuan Dewa Raka, Anda adalah satu-satunya harapan kami," ucap Karta bersujud di kaki Raka.

Raka menyuruh Karta berdiri lalu ia melangkah menuju ke sudut alun-alun yang sepi untuk membuka gerbang pulangnya.

"Buka gerbang dunia."

Sring.

Celah cahaya vertikal kembali terbuka dan Raka langsung melompat masuk meninggalkan desa kuno tersebut.

Wush.

Raka kembali ke dalam gudang industrinya di Jakarta dengan segudang rencana baru di kepalanya.

Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponsel pintarnya untuk menelepon Sasa.

Tuut tuut.

"Halo Raka, tumben sekali kau meneleponku duluan, ada masalah apa lagi sekarang?" sapa Sasa dari seberang panggilan.

"Bos cantik, saya butuh bantuan koneksi gelap Anda sekarang juga, ini sangat mendesak."

"Koneksi gelap? Raka jangan bilang kau mau menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Kevin?" tegur Sasa dengan nada kaget.

"Bukan untuk anak manja itu Nona Sasa, saya butuh pasokan senjata laras panjang rakitan atau selundupan."

Hening sejenak di ujung telepon sana, Sasa sepertinya sedang memikirkan permintaan Raka yang sangat berisiko ini.

"Membeli senjata api ilegal itu kejahatan berat Raka, kau bisa dipenjara seumur hidup kalau ketahuan polisi."

"Saya tidak akan memakainya di Jakarta Nona Sasa, saya butuh benda itu untuk menjaga aset ginseng kita di luar sana," kilah Raka beralasan.

Sasa menghela nafas panjang menyadari bahwa ia tidak bisa menolak permintaan Raka kalau itu menyangkut sumber ginseng miliaran rupiahnya.

"Baiklah, aku punya satu kenalan pedagang pasar gelap di pelabuhan utara yang menjual barang-barang selundupan dari luar negeri."

"Tapi kau harus pergi menemuinya sendirian malam ini, aku tidak mau Grup Bintang terseret kalau ada penggerebekan."

"Tidak masalah bos, kirimkan saja alamatnya ke ponsel saya sekarang," jawab Raka menyetujui syarat tersebut.

"Hati-hati Raka, orang-orang di pasar gelap pelabuhan itu jauh lebih ganas dari anak buah Kevin," pesan Sasa sebelum mematikan teleponnya.

Ting.

Sebuah pesan singkat berisi alamat gudang peti kemas di pelabuhan utara masuk ke ponsel Raka.

Raka menyimpan ponselnya lalu berjalan masuk ke dalam mobil Range Rovernya bersiap untuk ekspedisi malamnya.

Ia harus mendapatkan senjata api itu malam ini juga karena waktu tiga hari di dunia kuno bisa berlalu sangat cepat.

Matahari mulai terbenam di langit Jakarta saat Raka melajukan mobilnya menuju kawasan pelabuhan yang kumuh dan bau laut.

Jalanan di sekitar pelabuhan sangat rusak dipenuhi lubang besar dan dilewati oleh truk-truk kontainer.

Raka memarkirkan mobilnya agak jauh dari titik pertemuan agar tidak menarik perhatian para preman pelabuhan.

Ia memakai kacamata hitamnya dan berjalan kaki memasuki labirin tumpukan peti kemas besi yang berkarat.

Srek srek.

Langkah kaki Raka memecah keheningan malam di antara celah peti kemas yang gelap gulita tersebut.

"Berhenti di sana anak muda, atau kepalamu akan berlubang sekarang juga."

Sebuah suara serak dan berat terdengar dari atas sebuah peti kemas di sebelah kiri Raka.

Raka mendongak dan melihat seorang pria berbadan kurus menodongkan senapan angin modifikasi tepat ke arah kepalanya.

"Saya datang membawa pesan dari Nona Clarissa, saya mau mencari Tuan Marko," panggil Raka dengan suara tenang tanpa panik.

Mendengar nama Clarissa disebut, pria di atas peti kemas itu menurunkan senjatanya sedikit.

"Jalan lurus sampai ujung lorong ini, bos Marko ada di dalam peti kemas warna merah," perintah pria kurus itu.

Raka mengangguk pelan lalu melanjutkan langkahnya menyusuri lorong gelap tersebut hingga menemukan peti kemas merah yang dimaksud.

Pintu peti kemas itu sedikit terbuka dan memancarkan cahaya lampu neon kuning dari dalamnya.

Ceklek.

Raka membuka pintu besi berat itu dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang ternyata disulap menjadi gudang senjata mini.

Dinding peti kemas itu dipenuhi oleh berbagai macam jenis pistol, senapan serbu, dan kotak peluru amunisi.

Seorang pria botak berbadan gempal dengan bekas luka bakar di lehernya sedang duduk membersihkan sebuah senapan laras panjang.

"Jadi kau pesuruh baru Sasa ya? Apa yang membuat anak emas farmasi itu butuh barang mainanku?" tanya pria botak itu tanpa menatap Raka.

"Saya bukan pesuruhnya Bang Marko, saya rekan bisnisnya yang butuh perlengkapan perlindungan skala besar," koreksi Raka melangkah mendekat.

Marko meletakkan senapannya di atas meja lalu mengangkat wajahnya menatap Raka dengan pandangan meremehkan.

"Perlindungan skala besar? Kau pikir beli senjata di sini gampang kayak beli kacang goreng di pasar?"

"Saya butuh sepuluh pucuk senapan laras panjang otomatis lengkap dengan ribuan amunisinya malam ini juga."

Mendengar permintaan gila Raka, Marko langsung tertawa terbahak-bahak hingga perut buncitnya berguncang hebat.

Hahaha.

"Sepuluh senapan otomatis? Bocah, kau mau mengkudeta negara atau mau tawuran antar kampung hah?" ejek Marko mengusap air matanya yang keluar karena tertawa.

Raka tidak ikut tertawa sama sekali, ia hanya menatap pria botak itu dengan pandangan dingin dan mematikan.

"Saya bawa uang tunai, sebutkan saja berapa harganya Bang Marko."

Raka merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan lima tumpuk uang pecahan seratus ribu yang masih disegel bank.

Brak.

Lima ratus juta rupiah tergeletak manis di atas meja besi berkarat itu membungkam tawa Marko seketika.

Mata Marko langsung berbinar serakah melihat tumpukan uang tunai yang sangat banyak di depan matanya.

"Wah wah, uang tunai tanpa seri pelacakan ya? Sasa benar-benar dermawan sekali hari ini," jilat Marko memegang tumpukan uang itu.

"Itu baru uang mukanya saja, saya akan tambah lima ratus juta lagi kalau senjatanya ada di mobil saya dalam waktu satu jam."

Marko langsung berdiri dari kursinya dengan semangat menggebu-gebu melupakan sikap sok jagoannya tadi.

"Kau tenang saja Tuan Raka, gudangku ini punya stok AK-47 selundupan dari Rusia yang masih mulus belum pernah dipakai."

"Bagus, siapkan barangnya sekarang dan masukkan ke dalam tas ransel tebal biar tidak mencolok," perintah Raka bersandar di dinding peti kemas.

Sementara Marko sibuk mengemasi senjata mematikan itu, Raka tersenyum tipis membayangkan kehancuran pasukan kerajaan di dunia kuno nanti.

Prajurit berarmor besi mungkin kebal terhadap panah kayu atau tebasan pedang karatan.

Tapi mereka tidak akan pernah siap menghadapi hujan peluru tajam yang melesat secepat kilat menembus dada mereka.

"Tunggu saja kedatanganku jenderal kerajaan yang bodoh, dewa petir kalian akan segera berevolusi menjadi dewa perang."

1
Astiana 💕
🤣🤣Astaga, aku ngakak di bagian ini
kiyoe: hehehe 🙏👍
total 1 replies
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!