Indonesia
NovelToon NovelToon
Dinikahi Calon Ipar

Dinikahi Calon Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32.9k
Nilai: 5
Nama Author: REZ Zha

Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.

Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.

Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.

Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Durhaka

"Ssshhh...."

Bisikan lirih Ririn, guru IPS yang meja kerjanya persis di sebelah Kanaya terdengar, membuat Kanaya menoleh. Rekan kerjanya itu tampak mengusap perutnya yang sudah membuncit karena kehamilan.

"Kenapa, Bu? Lagi aktif banget ya debay-nya?" tanya Kanaya lembut, menggeser sedikit kursi rodanya agar lebih dekat.

"Iya, nih, Bu Yaya. Nendang terus dari tadi. Kayaknya dia tahu ibunya habis makan bakso pedas," sahut Ririn sambil tertawa kecil, jemarinya masih berputar di atas permukaan perutnya.

"Wah, sudah pinter protes ya," Kanaya ikut tersenyum. Memandangi perut buncit Ririn. "Rencana HPL-nya kapan, Bu?"

Kanaya mencondongkan tubuhnya dengan tangan terulur, menempelkannya ke atas perut Ririn yang terasa mengencang.

"Kalau semua lancar, Insya Allah tiga minggu lagi, Bu. Doakan, ya."

Tepat setelah Ririn menyelesaikan kalimatnya, sebuah tendangan kecil menyundul telapak tangan Kanaya. Detik itu juga, ada getaran yang menyengat dada Kanaya.

"Masya Allah... kok pinter banget sih, Dek? Ini lagi nyapa Tante, ya?" bisik Kanaya, matanya berbinar saat gerakan di dalam sana kembali terasa, seolah membalas usapan tangannya.

Ririn memperhatikan binar mata Kanaya dengan tersenyum. "Bu Yaya sendiri sudah ada isi belum, nih?"

Pertanyaan itu seketika membuat pipi Kanaya menghangat. Ia buru-buru menarik tangannya, menegakkan posisi duduk, lalu menggeleng canggung dengan tersipu.

"Belum tahu, Bu. Belum ada tanda-tandanya."

Setelah menikah, Kanaya belum pernah merasakan mual hebat di pagi hari, tidak ada pusing mendadak, atau mendadak ngidam hal-hal aneh seperti drama kehamilan wanita pada umumnya. Jadi, dia belum sempat berencana membeli testpack atau pergi ke dokter kandungan.

"Udah sebulan belum sih dari nikah, Bu?"

"Iya, hampir sebulan, Bu," jawab Kanaya pelan.

"Saran saya, coba iseng periksa aja, Bu. Soalnya, nggak semua wanita hamil itu mengalami mual atau ngidam. Hormon orang kan beda-beda."

Ririn menjeda kalimatnya, mengingat pengalamannya sendiri. "Waktu hamil anak kedua dulu, saya juga nggak ada mual sama sekali. Tahu-tahu sudah telat dua bulan, pas di-testpack langsung garis dua jelas banget. Makanya mending dicek lebih awal, biar Bu Yaya bisa langsung jaga pola makan dan minum vitamin." Ririn memberi saran mengingat usia Kanaya saat ini termasuk riskan untuk hamil apalagi untuk hamil anak pertama.

"Iseng aja beli testpack dulu di apotek. Nanti ceknya pas bangun tidur pagi hari, biar hasilnya lebih akurat," tambah Ririn lagi, memberi tips.

"Iya, Bu. Nanti saya coba beli," jawab Kanaya,

Klik.

Suara notif ponsel Kanaya di atas meja memotong obrolan mereka. Kanaya meraih benda pipih itu. Dahinya agak berkerut saat melihat nama yang tertera di layar kunci.

Mama Rima.

Kanaya bergegas membuka pesan itu.

“Assalamualaikum, Kanaya. Sedang sibuk nggak?”

Dengan cepat jemarinya mengetikkan balasan dengan sopan.

“Waalaikumsalam Nggak kok, Ma. Kebetulan ini lagi jam istirahat. Ada apa, ya, Ma?”

Tidak sampai satu menit, ponselnya kembali bergetar.

“Mama mau telepon sebentar, bisa, Nay?”

Membaca pesan itu, Kanaya memilih untuk tidak membalas lewat teks lagi. Ia langsung menekan tombol ikon telepon, mendekatkan ponsel itu ke telinganya, menunggu panggilannya terhubung.

"Halo, Assalamualaikum, Ma. Apa kabar?" sapa Kanaya lebih dulu. Terakhir mereka bertemu saat acara makan malam ulang tahunnya beberapa waktu lalu.

"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, Mama baik, Nay. Kamu sendiri bagaimana? Sehat?"

"Alhamdulillah sehat juga, Ma," jawab Kanaya hangat. Ia menarik napas pendek sebelum bertanya langsung pada intinya. "Ada apa, Ma?"

Meski bertanya, Kanaya sudah bisa menebak arah pembicaraan akan ke mana. Pasti ini ada hubungannya dengan rencana keberangkatan ke Bali untuk menghadiri pernikahan Yogi.

"Begini, Nay... Mama baru saja dengar dari Yudha, katanya kamu mau ikut pergi ke Bali, ya?"

Tebakan Kanaya ternyata benar, memang kepergian ke Bali yang dibahas. "Iya, benar, Ma. Insya Allah aku ikut. Mama juga berangkat ke sana, kan?"

"Iya, Mama ikut," suara Rima terdengar sedikit berubah, ada nada lega yang terdengar. "Mama senang sekali waktu Yudha bilang kamu mau ikut, jadi Mama ada temannya nanti di sana. Makasih banyak ya, Nay... Kamu sudah berbesar hati mau menemani Yudha datang ke pernikahan kakaknya."

Kanaya bisa menangkap getaran rasa haru dari ucapkan mama mertuanya.

"Mama nggak perlu berterima kasih," ucap Kanaya tulus, bibirnya mengulas senyum tipis. "Sudah jadi tugas aku untuk mendampingi suami, Ma."

Rima menghela napas panjang lalu berucap, "Mama doakan rumah tangga kamu dan Yudha selalu dilimpahi kebahagiaan ya, Nay. Semoga kalian selalu dijauhkan dari segala hal buruk."

Hati Kanaya menghangat mendengar ketulusan mama mertuanya. "Aamiin ya Allah. Makasih banyak untuk doanya, Ma."

"Ya sudah kalau begitu, Nay. Mama tutup dulu teleponnya, ya? Takutnya mengganggu waktu istirahat kamu. Assalamualaikum."

"Iya, Ma. Sama-sama. Waalaikumsalam..."

Kanaya menurunkan ponselnya setelah sambungan terputus dan meletakkan kembali di atas meja.

***

Yudha menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, Sepasang matanya sedari tadi tidak lepas dari Kanaya. Istrinya itu sedang sibuk memilah-milah pakaian di depan koper besar yang terbuka di tepi tempat tidur.

Rencananya lusa, bertepatan hari Sabtu pagi mereka baru akan terbang ke Bali, mengingat acara pernikahan Yogi baru digelar hari Minggu pagi.

Kanaya hanya mengenakan celana piyama pendek di atas lutut. Setiap kali Kanaya bergerak, paha putih mulusnya terekspos begitu saja. Puncaknya adalah ketika Kanaya membungkuk cukup lama untuk menata baju di dasar koper. Sudut bibir Yudha tertarik ke atas, membentuk seringai tipis.

Keisengannya kembali muncul. Dia bangkit dari sofa tanpa suara. Langkah kakinya mendekat pada istrinya. Begitu posisinya sudah tepat di belakang Kanaya, tangan Yudha melayang dengan usil ke bo kong Kanaya.

Plakk!

"Astaga, Yudha!" Kanaya tersentak kaget. Tubuhnya langsung berputar. Matanya melotot tajam menatap sang suami, sementara tangannya refleks mengusap area yang baru saja menjadi korban tepukan Yudha. "Usil banget sih jadi orang!" gerutu Kanaya kesal,

Alih-alih minta maaf, Yudha malah terkekeh tanpa dosa. "Lagian kamu ngapain nungging-nungging gitu di depan aku? Sengaja banget mancing-mancing, ya?" tuduh Yudha, memutarbalikkan fakta, justru menyalahkan Kanaya.

"Dasar otak mesum!" umpat Kanaya lagi.

"Siapa yang mesum?" goda Yudha. Sebelum Kanaya sempat membalas, Yudha menyusupkan tangannya di pinggang Kanaya, lalu mengangkat tubuh istrinya itu dalam satu gerakan mudah.

"Yudha! Astagfirullahaladzim! Aku lagi packing!" Kanaya berontak, minta diturunkan.

"Yank, gimana kalau kita berangkatnya dimajukan? Jumat sore aja. Kebetulan hari Senin juga kan tanggal merah, jadi lumayan panjang, kita bisa sekalian nikmati honeymoon," cetus Yudha ingin mengubah jadwal kepergian mereka. Dia ingin menikmati waktu berdua dengan Kanaya, jauh dari hiruk-pikuk rutinitas, layaknya pasangan baru yang sedang hangat-hangatnya dilanda asmara.

"Jadi enak minta izin ke Papa Danur kalau kita mau berlibur ke Bali. Papa juga nggak curiga. Gimana? Setuju, nggak?" rayu Yudha .

Kanaya diam sejenak, menimbang-nimbang ide suaminya yang muncul tiba-tiba itu. Sifat impulsif Yudha kadang bikin pusing, tapi liburan lebih lama di Bali terdengar sangat menggoda. "Ya udah, iya. Tapi, kamu udah booking tiket belum? Ini kan mendadak banget, Yud," sahut Kanaya, akhirnya pasrah.

Senyum Yudha langsung melebar mendengar jawaban setuju dari istrinya.

"Gampang, urusan kecil. Aku pesan sekarang juga." Yudha perlahan menurunkan Kanaya ke lantai, memberikan satu kecupan singkat di kening istrinya sebelum berbalik mengambil ponsel. untuk memesan tiket mereka bertiga.

"Terus Mama gimana?" tanya Kanaya.

"Mama tinggal nurut aja sama kita, kalau Mama nggak mau, tinggal kita pulangin aja ke Jakarta sendirian," kelakar Yudha sambil tertawa lepas.

"Anak durhaka!" umpat Kanaya seraya menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya itu.

❤️❤️❤️

Bersambung...

1
Ernalita Sitompul
senangnya jadi Kanaya
sryharty
co cwiit kalian ini
Naya Yuda bener2 terbaik
Rika Fitriana
ajak kanaya main k'rmh mmh yudha biar wulan tambah iri melihat perhatian yudha k'kanaya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Oalah Wulan, Wulan... semoga kelak aku ngga punya menantu kayak Wulan 🥺🥺
Juwitae
Wulan nih penyakit hati di piara.. bahagia selalu Naya dan Yudha
sunaryati jarum
Up rutin lagi, Thoor
sunaryati jarum
Wulan perasaan irimu terhadap perhatian mertuamu kepada Kanaya itu berlebihan.Kamu tidak bekerja kamu bisa memberi perhatian pada dirimu sendiri.Kamu itu di tempat mertua segala kebutuhan rumah tangga tercukupi kamu dan suami hanya mengeluarkan untuk kebutuhan pribadi.Sedsngksn Yudha dan Naya sejak awal perkawinan menanggung semua kebutuhan rumah tangga sendiri, masalah Mbak Atin dipindah karena Naya belum mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga,saat ini bau mengalami morning sicknes.Wulan itu sok- Sokan mengancam pulang ke Bali, memanggil orang tuamu mampu mencukur kebutuhan harian seperti mertuamu.Sudah hidup enak masih kurang.Yogi sekarang terbuka ya sifat asli istrimu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
disana Wulan selalu diliputi rasa resah gelisah merasa kurang di perhatikan,merasa diabaikan padahal hatinya sendiri yang gak menerima keadaan.sedang Kanaya begitu menikmati masa2 kehamilannya,suami yang perhatian dan pengertian.
Yogi kurang perhatian sama Wulan,sibuk kerja sampai lupa kalau istrinya juga butuh dukungan.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
baru ketahuan kan sisi lain Wulan yang suka iri.
Septi
tahan dulu Yud... sabar🤭
Septi
akhirnya. selamat
ρυтяσ kang'typo✨
Atin g sabar buat cerita masalah tentang Wulan, sampe keceplosan pas di ajak ngobrol sama Kanaya🤭🤭🤭
ρυтяσ kang'typo✨
Wulan lagi hamil tapi pikiran'y selalu negatif, awas loh nanti bahaya g buat kesehatan mu 😌😌
nuraeinieni
jgn di bikin jahat dong thor peran wulannya,,,kasian,di bikin sabar biar wulan nyaman tinggal di rumah mertua.
sunaryati jarum
Dobel up Thoor
sunaryati jarum
Wulan kamu harus tahu diri dan bersabar,juga hilangkan sikapmu yang sombong dan sok berkuasa mentang- mentang menantu dari majikan para ART.Ingat yang membayar gaji ART mertuamu buka Yogi atau kamu.Seharusnya kamu malu Yudha yang muda mandiri kamu masih menumpang,tapi tidak masalah,toh mertuamu juga suka,tapi kehamilan kamu jangan kau jadikan alat untuk mendapatkan kasih sayang seperti yang diterima Kanaya.Asal sifat iri, sombong,sok berkuasa kau hilangkan mertua dan ART respect sama kamu.Ingat kau hamil pikiran ,hati,dan perilaku harus bersih nanti berdampak pada fisik dan aura bayimu.Jika hatimu bersih bayimu juga ceria dan bersinar.Namun jika hatimu penuh dengan iri ,dengki dan sombong, jangan harap bayimu beraura bersinar.Efek jadi menantu kaya jangan untuk sombong,tiru perlakuan ibu mertuamu saat minta ART mengerjakan sesuatu.Tuh Atin di rumah Naya sangat karena terbebas dari sifat arogan dan sombongmu
Ernalita Sitompul
wulan,kamu harus extra sabar,semua itu terjadi bukan niat mertuamu membedakan kalian tp semata mata krn proses awal yang jauh dari biasanya saat pernikahan diantara kalian,mertuamu lebih cemas pd rumahtangga Yudha krn insiden dr Yogi..yakinlah jika wulan tenang dan sabar,perlahan ibu mertuamu akan menyesali tindakannya..
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
lama2 Wulan stres karena terlalu mengharap perhatian lebih.kasihan bayinya kalau ibunya banyak memendam pikiran karena ingin perhatian lebih.nanti jadi iri dengki.jalani sajalah hidupmu,buat dirimu sendiri bahagia tanpa iri melihat orang lain.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Akhirnya sifat asli Wulan lama-lama jadi ketahuan deh 😁
sunaryati jarum: Benar
total 1 replies
Selin Tari
di tahan dulu y papa Yudha 🤭🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!