Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Jalan Keluar

Alena memegang lengan yang melingkari pinggangnya. “Kalau begitu, jangan beri mereka itu. Kau sudah tahu ini jebakan.”

Raka terdiam lama. Lalu suaranya turun lebih rendah. “Aku tahu. Tapi setiap kali mendengar mereka menyentuh namamu… atau melihat Seana berulah… atau merasakan jembatan diganggu… aku ingin menghancurkan semuanya sekaligus.”

Alena berbalik dalam pelukan itu, menatap mata Raka yang sudah kembali menyala samar keemasan. “Kalau kau hancurkan semuanya sekarang, justru mereka yang menang,” katanya tegas. “Bertahanlah. Biarkan aku membantu. Kita hadapi pelan-pelan.”

Raka menatapnya lama, lalu menghela napas dan menempelkan dahi ke dahi Alena. “Baik. Aku coba.”

Tapi di kejauhan, dari Paviliun Utara, musuh sudah menerima laporan bahwa Raja pergi sendiri ke jembatan dan mulai memberi perintah lebih agresif. Dia tersenyum tipis di balik bayangan.

“Terpancing sedikit demi sedikit…” gumamnya. “Cukup. Lanjutkan tekanan. Jangan berhenti.”

Keesokan harinya, sementara Raka sibuk menahan tekanan dari dewan dan gangguan di jembatan, Alena memutuskan untuk mencari jawaban sendiri. Dia pergi ke Perpustakaan Istana—bangunan tua di sayap barat yang jarang dikunjungi orang. Debu beterbangan saat ia membuka pintu kayu berat. Rak-rak tinggi dipenuhi buku dan gulungan kuno yang baunya sudah bercampur dengan waktu.

Alena berjalan pelan di antara rak, jari-jarinya menyentuh punggung buku-buku berbahasa lama. Dia tidak tahu persis apa yang dicari. Hanya firasat dan denyutan cincin di jarinya yang membawanya terus maju hingga ke bagian paling dalam, area yang bahkan jarang dibersihkan. Di sudut gelap, di balik rak yang hampir ambruk, dia menemukan sebuah buku tebal bercover kulit hitam. Tidak ada judul di sampulnya. Hanya ukiran bulan sabit yang sudah pudar.

Saat jari Alena menyentuhnya, cincin di tangannya berdenyut kencang. Dia membuka buku itu di atas meja baca tua. Halaman-halamannya terbuat dari bahan yang tidak biasa—tipis, agak transparan, dengan tulisan tinta keemasan yang masih jelas meski usianya ratusan tahun. Judul di halaman pertama membuat napasnya tertahan. “Rahasia Jembatan Pembatas Waktu dan Darah yang Terpilih”

Alena membaca dengan cepat, mata semakin melebar. Buku itu menjelaskan secara rinci tentang jembatan dimensi yang menghubungkan Istana Bulan Emas dengan dunia manusia. Jembatan itu bukan sekadar jalur, melainkan segel hidup yang dijaga oleh darah kerajaan. Jika retakan semakin parah, dunia kedua belah pihak bisa saling menelan. Lalu, di bab tengah, tertulis cara menutup jembatan sepenuhnya.

“Hanya darah suci dari yang terpilih—darah yang pernah menyeberang dan kembali—yang mampu menutup jembatan secara permanen. Darah harus ditumpahkan di atas Batu Segel pada puncak bulan. Setelah ritual selesai, jembatan akan lenyap selamanya. Tidak ada jalan kembali. Tidak ada celah. Dua dunia akan terpisah abadi.”

Alena merasa darahnya dingin. Dia membalik halaman berikutnya. Tulisan itu semakin jelas. “Namun ketahuilah… jika yang terpilih menumpahkan darahnya demi menutup jembatan, dia tidak akan pernah bisa kembali ke dunia asalnya. Ikatan antara dirinya dan dunia manusia akan putus seutuhnya. Dia akan terikat abadi pada Istana Bulan Emas… atau lenyap bersama segel jika ritual gagal.”

Tangan Alena gemetar. Dia menutup buku itu pelan, napasnya memburu. Artinya… jika jembatan ditutup dengan darahnya, dia tidak akan pernah bisa kembali ke dunia manusia. Rumah, kehidupan yang pernah dia bangun, segalanya… akan hilang selamanya. Tapi jika tidak ditutup, retakan akan terus melebar. Raka akan terus bertarung. Istana dan dunia manusia sama-sama terancam.

Alena duduk di kursi kayu tua, memegang kepala. Cincin di jarinya berdenyut pelan, seolah ikut menimbang beban yang baru dia ketahui. Di satu sisi, dia ingin melindungi Raka dan kedua dunia. Di sisi lain… menutup jembatan berarti mengubur seluruh hidupnya di dunia manusia selamanya.

Alena menatap buku kuno itu lama. “Apakah… ini satu-satunya jalan?” bisiknya pada keheningan perpustakaan.

Tidak ada jawaban. Hanya debu yang beterbangan pelan di antara sinar matahari yang menembus jendela tinggi, dan denyutan cincin yang semakin dalam di jarinya. Alena masih duduk diam di perpustakaan lama setelah menutup buku itu. Jari-jarinya gemetar di atas cover kulit hitam. Kalimat-kalimat di dalamnya terus berputar di kepalanya.

Jika jembatan ditutup dengan darahnya, dia tidak akan pernah kembali ke dunia manusia. Berarti tidak ada rumah untuk kembali. Tidak ada kehidupan biasa yang pernah dia coba bangun. Tidak ada jalan pulang. Tapi jika dibiarkan terbuka… retakan akan terus memakan Raka, istana, dan mungkin dunia yang dulu dia tinggali.

Alena menggigit bibir. Dia tidak tahu harus merasa lega atau takut. Selama ini dia bertarung untuk bisa bertahan di sisi Raka. Sekarang, pilihan itu justru menuntut harga yang jauh lebih besar.

Cincin di jarinya berdenyut pelan, seolah menunggu keputusan. Langkah kaki tiba-tiba terdengar dari arah lorong perpustakaan. Alena cepat-cepat menyembunyikan buku itu ke dalam lipatan jubahnya. Dia berpura-pura memeriksa rak lain saat seorang pustakawan tua muncul di ujung lorong.

“Yang Mulia Ratu?” suara orang tua itu terkejut. “Jarang sekali ada yang datang ke bagian ini. Apakah Anda mencari sesuatu?”

Alena memaksakan senyum tipis. “Hanya… ingin membaca sejarah istana. Terima kasih, aku sudah selesai.”

Pustakawan itu menunduk hormat, lalu pergi dengan langkah pelan. Alena menunggu sampai suara itu benar-benar hilang sebelum menghela napas lega. Dia tidak bisa membiarkan siapa pun tahu tentang buku ini. Bukan sekarang.

Saat kembali ke kamar, Raka sudah ada di sana. Pria itu berdiri di balkon, masih mengenakan pakaian formal setelah rapat. Bahunya terlihat lebih tegang dari kemarin.

Alena masuk dan menutup pintu. Raka menoleh.

“Kau ke mana saja?” tanyanya. “Kael bilang kau pergi ke perpustakaan.”

Alena meletakkan jubahnya, mencoba terdengar biasa. “Hanya mencari bacaan. Istana ini terlalu ramai, aku butuh tempat sepi.”

Raka menatapnya lama. Matanya yang tajam seolah bisa membaca sesuatu yang disembunyikan. “Wajahmu pucat. Ada apa?”

Alena menggeleng. “Tidak apa-apa. Hanya lelah.”

Raka tidak langsung percaya, tapi tidak memaksa. Dia mendekat, menarik Alena ke dalam pelukannya, dan mengistirahatkan dagu di atas kepala gadis itu. “Aku mulai muak dengan semua tekanan ini,” gumamnya. “Isu, Seana, jembatan… rasanya mereka semua menunggu aku membuat satu kesalahan saja.”

Alena membeku dalam pelukan itu. Kata jembatan membuat dadanya sesak. Dia ingin sekali memberitahu Raka tentang isi buku itu. Tentang harga yang harus dibayar jika ingin menutupnya selamanya. Tapi jika Raka tahu… dia pasti akan melarang. Atau lebih buruk, dia akan mencari cara lain yang justru lebih berbahaya bagi dirinya sendiri.

Alena memejamkan mata, memeluk Raka lebih erat. “Jangan buat keputusan besar dulu,” bisiknya. “Kita hadapi pelan-pelan.”

Raka mengangguk di atas kepalanya. “Aku coba.”

Tapi Alena tahu, waktu tidak banyak. Retakan di jembatan semakin tidak stabil. Tekanan di istana semakin kuat. Dan buku kuno yang kini tersembunyi di bawah bantalnya… terasa semakin berat.

Malam itu, setelah Raka tertidur, Alena duduk sendirian di tepi tempat tidur. Dia mengeluarkan buku itu lagi, membuka halaman yang paling dia takuti, dan membaca ulang kalimat terakhir. “Dia akan terikat abadi pada Istana Bulan Emas… atau lenyap bersama segel jika ritual gagal.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!