Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Byur!

Air kolam renang yang sangat dingin langsung menusuk permukaan kulit Reyhan.

Ia menendang kakinya sekuat tenaga ke arah permukaan air sambil menarik kerah baju Alena.

Hah!

Reyhan memecah permukaan air dan mengambil napas dalam-dalam dengan sangat rakus.

Ia menyeret tubuh Alena ke pinggir kolam dan mengangkat detektif itu ke atas lantai beton yang basah.

"Alena! Bangun!"

Reyhan menepuk-nepuk pipi Alena dengan panik.

Uhuk! Uhuk!

Alena tiba-tiba memuntahkan banyak air dari mulutnya dan membuka matanya perlahan.

"Kita masih hidup?" tanya Alena dengan suara yang sangat parau.

"Sepertinya begitu, tapi kurasa tulang rusukku ada yang retak," keluh Reyhan sambil memegangi dadanya.

"Bisa berdiri tidak?"

"Bisa, tarik tanganku."

Reyhan menarik tangan Alena hingga wanita itu berhasil duduk, meski wajahnya terlihat sangat pucat.

Ngiung! Ngiung!

Suara sirene polisi dan pemadam kebakaran mulai terdengar mendekat ke arah hotel.

Kekacauan di dalam ballroom tadi pasti sudah memicu respons darurat skala besar.

Drrtt! Drrtt!

Ponsel Alena yang terbungkus plastik kedap air di saku celananya tiba-tiba bergetar keras.

Alena segera mengambil ponsel itu dan mengangkatnya.

"Detektif Alena di sini."

"Bu Detektif! Anda di mana? Kami mendapat laporan ledakan di atap hotel!"

Suara Bripka Anton dari seberang telepon terdengar sangat panik hingga Reyhan bisa mendengarnya.

"Aku di area kolam renang lantai lima, Anton."

"Kirim tim medis ke sini segera."

"Dan Anton, bagaimana kondisi Hakim Sudarsono sekarang?"

Keheningan sesaat terjadi di ujung telepon, membuat firasat Reyhan menjadi sangat buruk.

"Hakim Sudarsono tidak tertolong, Bu."

"Dokter forensik menyatakan beliau meninggal di tempat akibat racun akut berdosis tinggi."

Alena memejamkan matanya rapat-rapat sambil mengumpat pelan.

"Sialan, rencana kita gagal total."

"Dan ada hal lain yang jauh lebih buruk, Bu," lanjut Anton dengan nada ragu-ragu.

"Apa lagi sekarang?"

"Wartawan sudah mengerumuni lobi bawah hotel ini."

"Mereka entah dari mana mendapatkan rekaman video saat Reyhan menabrak sang hakim di ballroom."

Mata Reyhan langsung terbelalak lebar mendengar ucapan Anton.

"Beritanya sudah menyebar di internet dengan sangat liar, Bu."

"Sialan, dia sengaja merencanakan semua ini dari awal," geram Reyhan.

"Dia memotong bagian saat aku berteriak memperingatkan tentang jarum suntik, kan?"

Alena menatap Reyhan dengan pandangan kasihan.

"Ini framing yang sangat sempurna, Reyhan."

"Mereka tidak hanya membunuh hakim itu, tapi juga menghancurkan hidupmu sepenuhnya."

Tiba-tiba, suara mekanik yang familier berdengung di dalam kepala Reyhan.

[Ding! Misi Cabang Selesai.]

[Evaluasi: Penyelamatan berhasil, namun target utama tewas.]

[Hadiah didistribusikan: Detektif Alena selamat dari ledakan.]

[Petunjuk Tambahan: Periksa aliran dana crypto dari penguntit tempo hari.]

[Hukuman didistribusikan: Reputasi Host turun secara drastis.]

[Status 'Tersangka Utama' diperbarui menjadi 'Aktor Kematian'.]

Reyhan menghela napas panjang dengan rasa frustrasi yang luar biasa.

"Aktor Kematian? Julukan yang bagus sekali untuk karierku yang sudah hancur lebur," batin Reyhan getir.

"Kita harus segera pergi dari sini, Reyhan," ucap Alena sambil berusaha berdiri.

"Kalau para wartawan itu melihatmu bersamaku, situasinya akan menjadi tidak terkendali."

"Aku tidak mungkin keluar lewat lobi depan, Alena."

"Anton, kau jemput kami di pintu servis bawah tanah sekarang juga," perintah Alena ke teleponnya.

"Siap, Bu! Saya segera ke sana."

Mereka berdua berjalan tertatih-tatih menyusuri lorong servis yang gelap dan sepi.

Kekacauan di area atas hotel benar-benar mengalihkan perhatian semua staf dan petugas keamanan.

Di ruang bawah tanah, sebuah mobil polisi tanpa sirene menyala sudah menunggu mereka.

Anton langsung membukakan pintu belakang untuk Alena dan pintu depan untuk Reyhan.

Di dalam mobil, suasana terasa sangat mencekam dan dingin.

"Bu Detektif, beritanya semakin liar di media sosial," lapor Anton sambil menyodorkan sebuah tablet dari kursi kemudi.

Reyhan melirik layar tablet itu dengan jantung berdebar.

Banyak sekali judul berita dengan huruf kapital merah yang menyudutkannya.

"Tragedi Lelang Amal: Hakim Sudarsono Tewas Diracun!"

"Aktor Figuran Kembali Berulah? Video Menunjukkan Reyhan Mahardika Menabrak Sang Hakim!"

"Polisi Kecolongan Lagi: Aktor Kematian Beraksi di Tengah Keramaian!"

Video saat Reyhan pura-pura tersandung dan menabrak sang hakim diputar berulang-ulang di berbagai stasiun TV.

Narator di berita itu menggiring opini publik bahwa Reyhan sengaja melakukannya untuk memberikan kesempatan pada pelaku utama.

Bahkan ada beberapa netizen yang berkomentar bahwa Reyhan sendirilah yang menaruh racun di minuman hakim itu.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Bu?" tanya Anton dengan wajah sangat cemas.

"Tekanan dari atasan di Mabes Polri pasti akan sangat besar mulai besok pagi."

"Mereka pasti akan memaksa kita untuk segera menangkap Reyhan."

Alena menatap Reyhan yang sedang duduk diam dengan handuk melilit tubuhnya yang menggigil.

Pria figuran ini baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkannya dari ledakan bom di atap.

"Kita tidak akan menangkapnya, Anton," putus Alena dengan nada sangat tegas.

"Tapi Bu, itu melanggar perintah langsung!"

"Aku bilang tidak, ya tidak!" bentak Alena memotong ucapan bawahan tepercayanya itu.

"Kalau kita menangkap Reyhan sekarang, kita hanya akan mengikuti skenario yang dibuat oleh pembunuh gila itu."

"Aku tahu Reyhan tidak bersalah, dia menyelamatkan nyawaku malam ini."

Reyhan menoleh ke arah bangku belakang dan menatap Alena.

Sedikit kehangatan mengalir di dadanya yang kedinginan.

Setidaknya, masih ada satu orang polisi berpangkat yang mempercayainya di dunia ini.

"Lalu ke mana saya harus membawa dia, Bu?" keluh Anton.

"Antarkan Reyhan ke safe house," perintah Alena mantap.

"Gunakan apartemen kosong milik adikku di daerah pinggiran kota."

"Jangan sampai ada satu orang pun yang tahu tentang ini, termasuk atasan kita."

"Anda sadar sedang menyembunyikan tersangka utama pembunuhan berantai, Bu?"

"Ini tindakan ilegal yang bisa membuat Anda dipecat dan dipenjara!" Anton terus mengingatkan.

"Aku tidak peduli dengan aturan sialan itu," jawab Alena dingin.

"Kasus ini sudah tidak bisa diselesaikan dengan prosedur standar kepolisian."

"Pembunuh ini bermain di luar aturan, maka kita juga harus melanggar aturan untuk bisa menangkapnya."

"Reyhan."

"Ya?"

"Mulai detik ini, kau adalah informan rahasiaku."

"Kita berdua akan bekerja sama menuntaskan kasus ini dari balik bayang-bayang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!