Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.
Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.
Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.
Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?
Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sengaja Bertemu Lagi
Hari hari berikutnya berjalan dengan cukup tenang bagi Almeera. Ia mulai terbiasa dengan rutinitas barunya harian ini. Almeera tetap pergi kuliah seperti biasa. Namun setelah kelas selesai, dia sekarang lebih sering memilih langsung pulang ke rumah atau pergi ke perpustakaan kampus untuk menyelesaikan tugas.
Sesekali, dia juga masih menyempatkan diri datang ke acara kajian bersama Eliza. Perlahan lahan, pola kehidupannya mulai berubah menjadi lebih baik.
Tentu saja proses ini belum sempurna. Almeera jujur masih terkadang teringat pada sosok Kaizan. Namun, dia tidak mau lagi membiarkan ingatan masa lalu itu merusak dan menguasai seluruh harinya.
Pagi itu, Almeera dan Eliza berjalan berdampingan di koridor menuju ruang kelas mereka.
"Meera," panggil Eliza memecah keheningan.
"Hm? Ada apa?" jawab Almeera.
"Nanti setelah jam kuliah selesai, kamu ada kegiatan lain nggak?" tanya Eliza.
"Kayaknya nggak ada acara apa apa kok harian ini. Kenapa emangnya?" jawab Almeera balik.
"Temenin aku ke perpustakaan kampus dong," ucap Eliza meminta bantuan.
"Mau ngapain ke sana?" tanya Almeera.
"Aku mau mencari beberapa buku referensi buat tugas dosen nih," jawab Eliza.
Almeera langsung menganggukkan kepalanya santai. "Oh, boleh kok."
Eliza tersenyum lebar mendengar jawaban itu. "Wah, seriusan kamu mau nemenin?"
"Iya, serius," jawab Almeera.
"Untung banget ya, kamu yang sekarang jadi gampang diajak pergi," ucap Eliza senang.
Almeera menolehkan wajahnya heran. "Maksud kamu bagaimana?"
"Ya dulu kalau kamu sudah capek setelah selesai kuliah, kamu pasti paling malas kalau diajak ke mana mana," jawab Eliza mengingatkan kebiasaan lama sahabatnya itu.
Almeera tertawa kecil mendengar ucapan Eliza. "Ya sekarang kan aku juga lagi belajar buat jadi anak rajin."
"Amin, semoga sifat rajin kamu ini bisa bertahan lama ya," ucap Eliza jail.
"Doain aja yang terbaik," jawab Almeera sambil tersenyum.
Mereka berdua kemudian melangkah masuk ke dalam ruang kelas karena jam kuliah sudah mau dimulai.
Aktivitas perkuliahan harian itu berlangsung cukup padat hingga siang hari. Begitu dosen resmi menutup kelas terakhir, Almeera dan Eliza langsung merapikan tas mereka dan bergegas pergi menuju gedung perpustakaan.
Suasana di dalam perpustakaan kampus harian itu ternyata cukup ramai. Ada banyak mahasiswa dari berbagai jurusan yang sedang sibuk duduk mengetik tugas mereka. Eliza langsung berjalan cepat menuju ke arah barisan rak buku.
"Kamu mau mencari buku tentang apa dulu, Liz?" tanya Almeera hamba.
"Aku mau mencari buku yang membahas tentang penelitian sosial," jawab Eliza sambil matanya menyisir rak.
Almeera mengangguk angguk paham. "Oke, siap. Kalau begitu aku coba cari buku di sebelah sana ya."
"Iya, Meera," jawab Eliza.
Mereka berdua kemudian memutuskan untuk berpencar agar bisa mencari buku dengan lebih cepat. Almeera berjalan santai menyusuri beberapa barisan rak buku yang tinggi. Ia sempat mengambil satu buku tebal, lalu membalik balik beberapa halamannya sebentar.
Namun saat dia hendak bergeser untuk mencari buku lainnya, ada seorang lelaki yang tiba tiba berdiri di sisi rak yang sama dengannya. Awalnya, Almeera tidak terlalu memperhatikan wajah orang tersebut.
Sampai akhirnya, terdengar sebuah suara berat yang menyapa dari sampingnya.
"Kamu lagi?"
Almeera langsung menolehkan wajahnya dengan cepat. Matanya seketika membelalak terkejut saat melihat sosok di hadapannya.
Ternyata orang itu adalah Rafael.
"Loh, kok kita bisa ketemu lagi di sini?" tanya Almeera benar benar tidak menyangka.
Rafael tersenyum kecil melihat ekspresi kaget Almeera. "Iya, nih. Kayaknya kita memang sering banget berpas pasan secara kebetulan ya."
Almeera spontan tertawa mendengar ucapan Rafael. "Ih, jangan jangan kamu sebenarnya sengaja ya sering nongkrong di tempat yang ada sayanya?" canda Almeera.
Rafael langsung menggelengkan kepalanya cepat sambil tersenyum. "Nggak, demi Allah nggak begitu kok. Tempat nongkrong saya sehari hari memang hobi di perpustakaan sini."
Almeera mengangguk angguk paham. "Oh, begitu ya."
Rafael kemudian melirik ke arah buku tebal yang sejak tadi dipegang oleh Almeera. "Lagi cari buku buat tugas kuliah ya?"
"Iya, betul," jawab Almeera jujur.
"Sudah berhasil dapat buku yang kamu cari?" tanya Rafael ramah.
Almeera menghela napasnya pendek. "Belum nih, dari tadi belum ketemu yang pas."
Rafael terdiam sebentar, lalu tangannya terulur menunjuk ke arah barisan rak di sebelahnya. "Kalau tema tugas yang kamu cari tentang topik itu, mungkin bukunya ada di barisan rak sebelah sana, Meera."
Almeera langsung mengikuti arah tunjukan tangan Rafael. "Oh iya, benar juga."
Ia melangkah berjalan menuju rak yang ditunjuk Rafael tadi. Tidak butuh waktu lama, Almeera akhirnya berhasil menemukan buku referensi yang dia butuhkan sejak tadi.
"Alhamdulillah, ketemu!" ucap Almeera senang sambil menunjukkan sampul bukunya.
Rafael ikut menganggukkan kepalanya ramah. "Bagus kalau begitu."
Almeera memaku pandangannya pada wajah Rafael harian ini. "Kamu emangnya tipe orang yang hobi sering membantu orang lain ya?" tanya Almeera penasaran.
Rafael kembali tersenyum tipis. "Nggak juga, kok."
"Terus kenapa kamu dari kemarin kelihatan baik banget mau membantu saya terus?" cecar Almeera lagi.
"Ya karena kebetulan aku tahu posisi bukunya aja, makanya saya kasih tahu," jawab Rafael dengan nada suara yang sangat tenang dan santai.
Almeera mengangguk angguk menerima alasan tersebut. "Iya sih, masuk akal juga."
Setelah obrolan singkat itu, Rafael kembali fokus mencari buku tugasnya sendiri di rak. Almeera juga melanjutkan pencarian bukunya yang lain. Suasana di antara mereka kembali hening tanpa ada percakapan tambahan lagi.
Beberapa menit kemudian, Eliza berjalan cepat datang menghampiri posisi Almeera. "Meera, aku sudah berhasil dapat bukunya nih," ucap Eliza memberi tahu.
Almeera langsung menoleh dan mengangguk tegak. "Oke, siap. Aku juga sudah dapat kok."
Pandangan mata Eliza harian ini mendadak beralih menatap ke arah sosok Rafael yang berdiri tidak jauh dari mereka. Eliza kemudian menyenggol lengan Almeera pelan sambil berbisik, "Meer... itu teman cowok kamu yang kemarin, kan?"
Almeera mengangguk pelan. "Iya, betul."
Sadar sedang diperhatikan, Rafael menoleh lalu menganggukkan kepalanya sopan ke arah Eliza. "Hai," sapa Rafael ramah.
"Eh, hai juga," jawab Eliza sedikit canggung karena kaget disapa duluan. Eliza kemudian buru buru menarik lengan Almeera pelan. "Meer, ayo kita langsung ke meja kosong di depan aja yuk buat mengerjakan tugasnya."
"Iya, ayo," jawab Almeera menyetujui.
Sebelum melangkah pergi dari lorong rak, Almeera sempat menolehkan kepalanya sebentar ke belakang. Di sana, Rafael tampak sudah kembali larut membaca isi bukunya dengan sangat fokus. Almeera pun berjalan beriringan bersama Eliza menuju deretan meja belajar yang masih kosong.
Begitu mereka berdua duduk, Eliza langsung membuka laptopnya di atas meja. Namun belum sempat mengetik, Eliza langsung mencondongkan tubuhnya ke depan menatap wajah Almeera.
"Meera," panggil Eliza lirih.
"Kenapa emangnya, Liz?" tanya Almeera bingung.
"Cowok yang tadi itu dia emangnya sering banget ya nongkrong di perpustakaan sini?" tanya Eliza menyelidik.
"Kayaknya sih begitu," jawab Almeera santai.
"Kok kamu bisa tahu pasti kalau dia sering ke sini?" tanya Eliza lagi semakin penasaran.
"Ya karena aku sudah beberapa kali nggak sengaja ketemu harian ini sama dia di sini," jawab Almeera menjelaskan dengan jujur.
Lengkungan senyum kecil yang jail langsung terbit di bibir Eliza. "Wah... berarti kalian berdua ini sebenarnya sudah sering banget ketemu dong ya."
Almeera langsung menggelengkan kepalanya cepat karena tidak mau sahabatnya salah paham. "Sering ketemu di kampus itu hal yang wajar, Liz. Bukan berarti status kita berdua itu dekat."
Eliza terkekeh pelan melihat kepanikan Almeera. "Iya, iya, bener kata kamu."
Almeera bergerak membuka buku tugasnya dengan cepat untuk mengalihkan pembicaraan. "Sudah ah, jangan membahas soal itu terus. Ayo kita langsung kerjakan tugas dosennya sekarang."
Eliza kembali tertawa puas. "Oke, siap Bos!" Mereka berdua pun mulai fokus mengerjakan tugas kuliah masing masing.
Waktu berjalan cukup lama tanpa terasa. Almeera dan Eliza sibuk berkutat dengan laptop dan buku mereka selama beberapa jam. Sampai akhirnya, tenggorokan Almeera mulai terasa kering dan haus.
"Liz, aku mau keluar sebentar ya ke kantin depan, mau beli minuman dingin karena haus banget," izin Almeera.
"Eh, aku ikut dong, capek juga nih mengetik terus," sahut Eliza sambil merenggangkan otot tangannya.
Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan perpustakaan. Namun saat mereka berdua baru saja melangkah melewati lorong luar, Almeera tanpa sengaja kembali melihat sosok Rafael yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan.
Rafael tampak ikut menghentikan langkah kakinya saat melihat keberadaan mereka berdua. "Kalian mau pergi ke mana?" tanya Rafael membuka obrolan harian ini.
"Ini, kita berdua mau keluar sebentar ke kantin buat beli minuman dingin harian ini," jawab Almeera ramah.
Rafael menganggukkan kepalanya paham. "Oh, begitu. Oke."
Eliza harian ini tiba tiba memberanikan diri untuk ikut bertanya kepada Rafael. "Kamu sendiri nggak mau ikut sekalian ke kantin depan?"
Rafael langsung menggelengkan kepalanya dengan sopan. "Nggak dulu deh, terima kasih ya. Tugas akhir saya hari ini masih banyak banget yang belum selesai diketik."
Almeera mengangguk mengerti kesibukan kakak tingkatnya itu. "Oh, ya sudah kalau begitu."
"Hati hati di jalan ya, kalian berdua," pesan Rafael ramah sebelum berpisah.
"Iya, kamu juga semangat ya mengerjakan tugasnya," sahut Almeera. Mereka pun kembali berpisah jalan harian ini.
Setelah posisi mereka sudah berjalan cukup jauh dari jangkauan Rafael, Eliza kembali menoleh menatap wajah Almeera. "Meer, dipikir pikir kamu sama si Rafael itu kok frekuensi ketemunya sering banget ya belakangan ini."
Almeera menghela napasnya panjang sambil tersenyum pasrah. "Iya, betul. Aku sendiri juga nggak tahu kenapa takdir bisa sesering ini mempertemukan kita."
Eliza tersenyum tulus. "Mungkin semua ini memang murni kebetulan takdir aja, Meer."
"Iya, mungkin aja begitu," jawab Almeera santai. Mereka berdua pun membeli minuman dingin di kantin lalu bergegas kembali ke dalam perpustakaan untuk melanjutkan tugas.
Waktu sore hari mulai turun dan langit di luar jendela mulai berubah warna saat tugas kuliah mereka akhirnya resmi selesai dikerjakan. Almeera memasukkan laptop dan buku catatannya dengan aman ke dalam tas ranselnya.
"Alhamdulillah, akhirnya beres juga semua tugas harian ini," ucap Almeera mengembuskan napas lega.
Eliza ikut mengangguk tegak dari kursinya. "Iya, bener banget. Tapi ingat ya, besok pagi kita harus lanjut mengerjakan tugas kelompok yang lain lagi."
Mendengar kalimat Eliza, Almeera langsung membelalakkan matanya lemas. "Hah? Besok lagi? Yang bener aja kamu."
"Iya, beneran. Deadlinenya minggu depan tahu," jawab Eliza tegas.
Almeera menghela napasnya pasrah sambil merosot di kursi. "Aduh, capek banget rasanya."
Eliza langsung tertawa lepas melihat ekspresi penderitaan sahabatnya itu. "Loh, kemarin katanya ada orang yang bilang kalau dia lagi berkomitmen belajar berubah jadi anak rajin?" sindir Eliza menggoda.
Almeera ikut tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pasrah. "Iya sih bener, aku memang mau berubah jadi rajin. Tapi tolong jangan langsung semuanya dikasih sekaligus begini dong, Liz. Kasihan otakku."
Mereka berdua kembali tertawa bersama, lalu bergegas melangkah berjalan keluar dari gedung perpustakaan kampus.
Begitu sampai di halaman depan kampus yang luas, Almeera mendadak menghentikan langkah kakinya sebentar. Ia menengadahkan wajahnya ke atas, memandangi keindahan langit sore harian ini dengan perasaan yang damai.
Ia tersadar, ada sesuatu hal yang terasa sangat berbeda di dalam lingkaran hidupnya selama beberapa minggu belakangan ini.
Dulu, isi pikiran di kepala Almeera hampir setiap detik selalu dipenuhi oleh bayang bayang Kaizan. Namun sore ini, hal itu tidak terjadi lagi. Perubahan ini terjadi murni bukan karena ada sosok cowok baru yang datang untuk menggantikan posisi Kaizan di hatinya.
Melainkan, perubahan ini terjadi karena Almeera sudah mulai pintar untuk mengisi hari hari barunya dengan hal hal positif yang jauh lebih bermanfaat dan berarti bagi masa depannya. Kini, dia mulai memahami satu ilmu hidup yang penting; bahwa luasnya dunia dan kehidupannya ternyata tidak boleh hanya berputar pada urusan sebuah hubungan asmara semata.
"Meera!" panggil Eliza membuyarkan lamunan sahabatnya.
Almeera refleks menolehkan wajahnya cepat. "Eh, iya? Kenapa, Liz?"
"Jadi pulang sekarang nggak nih? Keburu angkotnya penuh," tanya Eliza mengingatkan waktu.
"Iya, jadi kok. Ayo," jawab Almeera tersenyum ramah. Mereka berdua pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka berjalan menuju ke area parkiran angkutan umum.
Almeera harian ini sama sekali belum tahu, bahwa takdir pertemuannya dengan sosok bernama Rafael ke depannya justru akan berjalan dengan semakin sering terjadi di kampus.
Namun untuk saat harian ini, status hubungan di antara mereka berdua masih berjalan dengan sangat sederhana. Tidak ada perasaan cinta yang harus terburu buru diberi sebuah nama. Tidak ada juga sebuah komitmen hubungan baru yang harus segera dimulai harian ini.
Mereka berdua murni hanyalah dua orang mahasiswa biasa yang kebetulan beberapa kali berpas pasan jalan di tempat yang sama karena situasi keadaan kampus.
Dan mungkin, tanpa pernah disadari sedikit pun oleh Almeera maupun Rafael harian ini, kebetulan kebetulan kecil yang tidak sengaja lewat di hidup mereka belakangan ini sebenarnya sedang bekerja sama perlahan lahan mulai merajut baris demi baris lembaran cerita takdir baru untuk masa depan mereka. Sebuah cerita baru yang indah, yang harian ini belum waktunya untuk bisa mereka pahami arti dan tujuannya.