Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Elang

Tiga hari setelah percakapannya dengan Alena, Luki masih belum menemukan cara untuk memulai pembicaraan yang ia tahu harus segera terjadi. Setiap malam ia duduk di tepi ranjang Indra, membaca dongeng seperti biasa, dan setiap malam kalimat-kalimat yang sudah ia susun di kepalanya sepanjang hari menguap begitu saja saat melihat wajah damai anaknya yang tertidur.

Ia tidak tahu bahwa waktunya sudah habis jauh lebih cepat dari yang ia kira.

Malam itu, setelah memastikan ayahnya sudah masuk ke ruang kerja dan pintu kamarnya sendiri tertutup rapat, Indra kembali duduk bersila di lantai dengan laptop kecilnya menyala. Ia sudah tiga kali gagal membuka folder "Operasi Elang" minggu lalu, tapi malam ini ia punya strategi baru — sesuatu yang ia pelajari dari video tutorial keamanan siber yang ditontonnya diam-diam di YouTube saat "belajar coding" yang sebenarnya diizinkan ayahnya.

Jarinya bergerak cepat di atas keyboard, mencoba kombinasi kata sandi yang sudah ia susun berdasarkan pola-pola yang ia amati dari kebiasaan ayahnya — tanggal lahir kakeknya, nama jalan tempat rumah lama keluarga mereka, kombinasi angka yang sering muncul di dokumen-dokumen bisnis yang pernah tak sengaja ia lihat tergeletak di meja.

Pada percobaan ketujuh, layar berkedip, lalu terbuka.

Indra menahan napas.

Folder itu berisi puluhan dokumen dengan nama-nama kode yang tidak ia pahami — "Manifest_Utara_Q3", "Distribusi_Pelabuhan_Tiga", "Daftar_Wilayah_2024" — tapi ada satu file yang menarik perhatiannya lebih dari yang lain: sebuah video, diberi label sederhana "Rapat_12Maret".

Ia mengklik play, volume diturunkan hampir nol, headphone kecil terpasang di telinganya.

Video itu menunjukkan sebuah ruangan yang ia kenali — ruangan yang sama dengan yang pernah ia lihat sekilas lewat pintu yang lupa tertutup rapat suatu malam, ruangan dengan meja mahoni panjang yang selama ini ia kira hanya digunakan untuk "rapat bisnis biasa" ayahnya.

Di layar, ayahnya duduk di ujung meja, wajahnya yang biasa ia lihat penuh senyum saat membacakan dongeng kini berubah menjadi sesuatu yang asing — dingin, tegas, tanpa emosi sama sekali, saat memberi perintah kepada orang-orang di sekelilingnya dengan nada yang membuat bulu kuduk Indra berdiri meski ia hanya menontonnya lewat layar laptop.

Ia tidak mendengar seluruh percakapan itu — suaranya terlalu pelan, dan ia terlalu terguncang untuk benar-benar fokus mendengarkan kata per kata. Tapi ia melihat cukup: ekspresi ketakutan di wajah seorang pria yang berlutut di depan ayahnya, cara ayahnya berbicara seolah memegang kendali penuh atas hidup dan mati orang itu, dan — yang paling mengganggu — betapa tenangnya ayahnya melakukan semua itu, seolah ini bukan hal baru baginya sama sekali.

Indra menutup laptop dengan tangan gemetar, jantungnya berdebar begitu keras hingga ia bisa mendengarnya sendiri di keheningan kamar.

Ayah bukan cuma pengusaha ekspor-impor.

Pikiran itu berputar di kepalanya, bertabrakan dengan setiap ingatan yang ia miliki tentang ayahnya — pelukan hangat setiap malam, suara lembut saat membaca dongeng, tangan besar yang selalu menggenggam tangannya dengan hati-hati setiap kali menyeberang jalan. Bagaimana dua sosok itu bisa menjadi orang yang sama?

Ia tidak menangis. Anak-anak seusianya mungkin akan menangis, tapi otak Indra bekerja dengan cara yang berbeda — ia mulai menyusun teori, menghubungkan titik-titik yang selama ini terasa aneh namun tak pernah bisa ia jelaskan: para pria berjas hitam yang selalu berjaga, pintu-pintu yang selalu terkunci ganda, kebiasaan ayahnya memeriksa ponselnya berkali-kali dengan wajah tegang sebelum akhirnya bisa rileks saat bersamanya.

Ayah punya musuh. Ayah takut sesuatu terjadi padaku.

Kesimpulan itu muncul begitu saja, logis, tersusun rapi seperti hasil perhitungan matematika — dan entah kenapa, alih-alih membuatnya semakin takut pada ayahnya, kesimpulan itu justru membuatnya merasa sesuatu yang lain: rasa bersalah, karena selama ini ia terlalu sibuk mengagumi kepintarannya sendiri untuk menyadari betapa besar beban yang dipikul ayahnya sendirian.

Keesokan paginya, Indra lebih pendiam dari biasanya saat sarapan. Luki, yang sudah hafal betul setiap perubahan sekecil apa pun dalam perilaku anaknya, langsung menyadarinya.

"Ada apa, Bintang Kecil?" tanyanya, menurunkan cangkir kopinya.

Indra menatap sereal di mangkuknya lama sebelum akhirnya mengangkat kepala, matanya yang biasanya penuh rasa ingin tahu kini dipenuhi sesuatu yang lebih berat — sesuatu yang membuat Luki merasakan firasat buruk sebelum kata-kata itu benar-benar keluar.

"Ayah," kata Indra pelan, "kenapa ada video Ayah di ruangan yang isinya ada orang nangis dan minta ampun?"

Sendok yang dipegang Luki jatuh ke meja dengan suara berdenting.

pria yang bisa tetap tenang di tengah negosiasi paling berbahaya sekalipun, pria yang wajahnya tidak pernah berubah bahkan saat memerintahkan hal-hal paling kejam — merasa dunianya benar-benar runtuh dalam satu kalimat sederhana dari mulut anaknya sendiri.

"Indra," suaranya bergetar, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya, "dari mana kamu—"

"Aku buka folder di laptop Ayah," jawab Indra, jujur, tanpa berusaha menyembunyikan apa pun, karena baginya kejujuran selalu menjadi satu-satunya cara yang ia pahami untuk berhubungan dengan dunia. "Aku tahu itu nggak boleh. Tapi aku ingin tahu kenapa Ayah beda kalau di luar rumah."

Luki menatap anaknya lama, pikirannya berperang antara panik dan sesuatu yang lebih dalam — sebuah kesadaran pahit bahwa momen yang selama ini ia takutkan, yang selama ini ia coba tunda dengan segala cara, akhirnya datang bukan karena pilihannya sendiri, melainkan karena rasa ingin tahu anaknya yang tak pernah bisa ia bendung.

"Kita perlu bicara," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, hampir seperti bisikan. "Bukan sekarang. Malam ini, setelah Ayah pulang. Kamu, Ayah, dan Kak Alena. Kita akan bicara soal semuanya."

Indra mengangguk pelan, matanya masih menyimpan ribuan pertanyaan yang belum berani ia ucapkan semuanya sekaligus.

"Ayah masih sayang aku, kan?" tanyanya akhirnya, suara kecilnya nyaris pecah.

Luki bangkit dari kursinya, memeluk anaknya erat-erat, seolah pelukan itu bisa menjawab semua ketakutan yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata.

"Selamanya," bisiknya. "Apa pun yang kamu pikirkan tentang Ayah setelah malam ini, itu tidak akan pernah berubah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!