Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Investorku Mantan Suamiku

Beberapa menit setelah notifikasi proposal investasi itu muncul, Rania masih duduk di atas ranjang rumah sakit.

Matanya terus menatap layar ponsel.

Sebuah perusahaan investasi besar menawarkan kerja sama dengan PT. Herbalife, perusahaan teh herbal yang baru saja diwariskan kepadanya oleh Tuan Besar Barra.

Rania mengernyit.

Nilai investasi yang ditawarkan bukan jumlah kecil.

Bahkan terlalu besar untuk sebuah perusahaan yang baru saja berdiri.

Ia membuka proposal tersebut sekali lagi.

Modal pengembangan.

Jaringan distribusi.

Perluasan pasar.

Kerja sama jangka panjang.

Namun, ada satu hal yang membuat Rania semakin penasaran.

Investor tersebut tidak meminta hak untuk mengambil alih perusahaan.

Mereka hanya menginginkan posisi sebagai investor utama.

"Kenapa?" gumam Rania.

Jari Rania menggulir layar ponselnya perlahan.

Perusahaan itu terlihat sangat serius. Proposalnya bahkan sudah mencantumkan beberapa rancangan pengembangan produk PT. Herbalife yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya.

Rania menarik napas panjang. Ia memang membutuhkan modal.

Pabrik teh herbal itu adalah satu-satunya aset yang kini benar-benar ia miliki.

Dan jika ia ingin memenuhi amanah Tuan Besar Barra, ia harus membuat perusahaan tersebut berkembang.

Namun, Rania tidak ingin kembali bergantung kepada siapa pun.

Terutama kepada pria. Apalagi Daffa. Ia sudah terlalu lama membiarkan hidupnya ditentukan oleh orang lain.

Pertama Brian.

Kemudian Daffa.

Sekarang, ia ingin menentukan jalannya sendiri.

Rania mengusap perutnya yang masih datar. "Aku akan menjagamu," bisiknya kepada calon bayinya. "Dan aku juga akan menjaga apa yang Kakek berikan kepadaku."

Rania kemudian mengambil keputusan. Ia akan menerima pertemuan dengan investor tersebut.

Sore harinya, Rania akhirnya diperbolehkan meninggalkan rumah sakit, dan seperti yang dijanjikan, Daffa datang menjemputnya.

Pria itu berdiri di samping mobil hitamnya ketika Rania keluar dari pintu rumah sakit.

"Aku sudah bilang, kau seharusnya tidak terlalu banyak berpikir hari ini." Daffa langsung mengambil tas kecil milik Rania.

"Aku baik-baik saja," jawab Rania.

Daffa menatap wajahnya beberapa saat. "Benarkah?"

Rania mengangguk.

Kemudian ia teringat proposal yang diterimanya tadi. "Daffa."

"Ya?"

"Aku mendapatkan proposal investasi," ucap Rania.

Langkah Daffa berhenti. "Investasi?"

Rania mengangguk. "Untuk PT. Herbalife."

Tatapan Daffa berubah serius. "Secepat itu? Siapa investornya?"

Rania menggeleng. "Aku belum tahu."

"Tapi aku sudah memeriksa berkasnya, mereka terlihat sangat serius."

Daffa mengambil napas pelan. "Jangan terburu-buru menerimanya."

"Aku tidak terburu-buru." Rania menatapnya. "Aku sudah membacanya dengan teliti Daffa."

"Lalu?"

"Aku tertarik."

Daffa menghela napas. "Kalau begitu, biarkan aku ikut saat kau bertemu dengan mereka."

Rania terdiam. Ia tahu Daffa berniat membantu.

Namun kali ini ia tidak ingin dibantu. "Tidak perlu."

Daffa menatapnya. "Rania."

"Aku bisa mengurusnya sendiri." Suara Rania terdengar lembut, tetapi tegas.

Untuk beberapa saat Daffa hanya memandanginya.

Kemudian pria itu tersenyum tipis. "Baiklah."

Rania sedikit terkejut karena Daffa tidak memaksanya.

"Aku hanya ingin memastikan kau aman," ucap Daffa.

"Aku tahu," jawab Rania.

Daffa mengangguk. "Kalau begitu, aku tidak akan ikut."

Namun setelah Rania masuk ke dalam mobil, tatapan Daffa berubah, ada sesuatu yang mengganggunya.

Entah mengapa...

Daffa merasa investor misterius itu bukan sekadar seseorang yang ingin melakukan bisnis dengan Rania.

Sementara itu...

Di lantai tertinggi sebuah gedung perkantoran, Brian berdiri di depan jendela kaca.

Kota Laven terbentang luas di bawah sana.

Di belakangnya, Rio berdiri membawa sebuah tablet.

"Tuan."

Brian tidak menoleh. "Bagaimana?"

"Proposalnya sudah diterima."

Senyum tipis muncul di wajah Brian. "Dia setuju bertemu?"

"Besok pagi."

Brian akhirnya berbalik. "Bagus."

Rio menatap atasannya. "Tuan yakin ingin melakukan ini?"

Brian mengangkat alis. "Maksudmu?"

"Jika Nyonya mengetahui bahwa investor tersebut adalah Anda..." Rio tidak melanjutkan kalimatnya.

Brian berjalan menuju meja kerjanya. Di atas meja terdapat sebuah foto lama.

Foto Rania.

Brian mengambilnya, jemarinya menyentuh permukaan foto itu. "Aku tidak ingin dia menerima bantuanku karena aku adalah mantan suaminya."

Rio terdiam.

Brian menatap foto itu cukup lama. "Aku ingin dia memilih kerja sama ini karena dia percaya pada kemampuannya sendiri."

"Tapi Tuan..."

Brian tersenyum. "Dia akan tahu pada waktunya."

Rio menghela napas. "Jadi, kenapa identitas Tuan disembunyikan?"

Brian meletakkan foto itu kembali. "Karena aku ingin melihat seberapa jauh dia bisa berjalan tanpa menyadari bahwa aku berdiri di belakangnya."

Tatapan Brian berubah tajam. "Aku tidak akan memaksanya kembali kepadaku."

Rio terdiam.

"Setidaknya..." Brian menarik napas. Lalu ia memejamkan matanya sejenak, mengingat tautan mereka tadi malam, "dia masih menyimpan rasa untukku," lanjut Brian dalam hatinya.

Sore itu berlalu, dan keesokan paginya...

Rania tiba di gedung tempat pertemuan berlangsung. Ia mengenakan blazer sederhana dengan rambut panjangnya yang terurai rapi.

Pandangan matanya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi selalu jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rania datang ke sebuah pertemuan bisnis bukan sebagai istri seseorang.

Bukan sebagai mantan istri Brian.

Bukan sebagai tunangan Daffa.

Tetapi sebagai pemilik PT. Herbalife.

Rania menarik napas. "Aku bisa." Ia memasuki ruang meeting.

Seorang sekretaris menyambutnya. "Selamat pagi, Nona Rania."

"Selamat pagi."

"Silakan duduk. Bos kami akan segera datang."

Rania mengangguk. Ia kemudian duduk di salah satu kursi.

Beberapa menit berlalu.

Tidak ada siapa pun.

Sampai akhirnya...

Klik! Pintu terbuka.

Suara langkah sepatu terdengar.

Tak...

Tak...

Tak...

Entah mengapa jantung Rania langsung berdegup sedikit lebih cepat.

Langkah itu...

Suara itu...

Rania perlahan mengangkat wajahnya. Seorang pria berjalan masuk dengan setelan hitam. Tongkat hitam berada di tangan kanannya.

Rania membeku.

Pria itu berhenti beberapa langkah di hadapannya.

Untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Kemudian pria itu duduk di kursi tepat di hadapan Rania.

Tatapan mereka bertemu.

"Sudah lama, Rania."

Deg!

Rania membeku.

Suara itu.

Suara yang begitu dikenalnya, suara yang beberapa malam lalu hadir dalam mimpinya. Suara yang selama ini berusaha ia lupakan.

Bibir Rania terbuka sedikit. "Brian..."

Brian menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Ya."

Rania menatapnya tidak percaya. "Kau..."

Brian mengangkat satu alis. "Aku investor yang mengirim proposal itu."

Rania mengepalkan tangannya di atas meja. "Kenapa?"

Brian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wanita di hadapannya.

Wanita yang dulu pernah menjadi istrinya. Wanita yang kini sedang mengandung darah dagingnya.

Dan wanita yang sedang berusaha membangun kehidupannya tanpa dirinya.

"Aku ingin melihat perusahaanmu berkembang," jawab Brian.

Rania tertawa kecil, tetapi terdengar hambar. "Jangan berpura-pura."

"Aku tidak berpura-pura," jawab Brian.

"Kau melakukan ini karena aku," ucap Rania.

Brian menatap matanya. "Benar."

Jawaban itu membuat Rania terdiam.

Namun Brian melanjutkan. "Tapi bukan karena aku ingin membeli kembali hidupmu."

Rania mengerutkan kening. "Lalu?"

"Aku tahu kau mampu menjalankan perusahaan itu." Brian meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Aku hanya ingin menjadi orang pertama yang percaya pada kemampuanmu."

Rania terdiam.

Kalimat itu terdengar begitu berbeda dari Brian yang ia kenal.

Dulu pria itu selalu meremehkan dirinya, yang hanya cuma memiliki kemampuan pijat refleksi dan mempunyai keahlian dalam meracik teh herbal berkhasiat dan berkualitas.

Tapi sekarang pria itu justru datang membawa investasi.

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu," jawab Rania.

"Aku tahu," ucap Brian.

"Lalu kenapa kau tetap melakukannya?" tanya Rania.

Brian tersenyum tipis. "Karena kau tidak membutuhkan bantuanku."

Rania semakin bingung.

"Namun perusahaanmu membutuhkan modal," ucap Brian.

Rania terdiam.

Brian benar.

Ia memang membutuhkan modal dan itulah yang membuat keadaan semakin rumit.

Brian membuka sebuah dokumen. "Semua persyaratan sudah tertulis di sini."

Rania mengambilnya, ia membaca setiap poin dengan hati-hati.

Tidak ada pengambil alihan.

Tidak ada campur tangan dalam manajemen.

Tidak ada kewajiban pribadi.

Semuanya terlihat profesional.

Sangat profesional.

"Ada satu syarat." Suara Brian membuat Rania mengangkat kembali pandangannya. "Apa?" tanya Rania.

Brian menatapnya lurus. "Aku ingin kau sendiri yang menjalankan PT. Herbalife."

Rania terdiam.

"Tanpa Daffa," ucap Brian.

Tatapan Rania berubah.

Brian melanjutkan dengan tenang. "Tanpa keluargamu, tanpa orang lain, kau yang mengambil keputusan."

Rania menatap pria itu dalam-dalam.

Brian tersenyum tipis. "Anggap saja aku ingin melihat apakah Rania Almira yang sekarang benar-benar berbeda dari wanita yang dulu menjadi istriku."

Jantung Rania kembali berdegup. Ia tidak suka cara pria itu berbicara. Seolah-olah Brian sedang menantangnya.

Namun justru karena itulah...

Rania semakin ingin membuktikan dirinya. Ia mengambil pena. Tangannya hampir menyentuh dokumen.

Namun sebelum menandatanganinya...

"Rania."

Wanita itu berhenti.

Brian menatap jemari Rania, tatapannya kemudian naik menuju wajahnya. "Ada satu hal lagi yang harus kau ketahui," ucap Brian.

Rania menatapnya. "Apa?"

Brian menyandarkan tubuhnya. Senyumnya tipis. "Aku tidak pernah menganggap pernikahan kita selesai."

Rania membeku.

Tangannya perlahan turun dari atas dokumen.

Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi.

Dan untuk pertama kalinya, Rania menyadari...

Investor misterius yang ia kira akan menjadi jalan keluar bagi kehidupannya ternyata justru adalah pria yang paling ingin ia tinggalkan.

Brian Aristama.

Mantan suaminya sendiri.

Bersambung.

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!