"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Kepanikan berlebihan dan Kepedulian Tanpa Batas
Suasana di dalam ruang rapat utama Ruella Creative terasa begitu tegang dan mencekam. Berkas-berkas dokumen berserakan di atas meja kaca panjang, sementara layar proyektor menampilkan potongan bukti tuduhan plagiarisme yang dilayangkan oleh pihak Vogue&Co.
Nadira memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Sejak pukul sepuluh pagi, ia tak menghentikan diskusi dengan tim hukum dan tim kreatifnya. Ponsel pintarnya yang tergeletak di ujung meja bergetar berulang kali dalam mode silent, menampilkan puluhan panggilan tak terjawab serta rentetan pesan singkat yang terabaikan sepenuhnya. Semua nama yang tertera di sana hanya satu: Askara Pradipta.
"Mbak Nadira, pihak Arabelle Skincare minta kepastian sore ini juga," ucap salah satu staf hukum dengan raut wajah panik. "Kalau kita gak bisa memberikan klarifikasi publik dan bukti autentik draf pertama, mereka mengancam bakal memutus kontrak kerja sama kita!"
"Gak ada pemutusan kontrak!" tegas Nadira dengan nada suara yang mulai serak. Matanya memerah menahan pusing yang makin mendera. "Odelia, cari semua berkas draf kasar tahun lalu di cloud storage. Kita bakal buktikan kalau konsep itu murni buatan tim kita sebelum Rebecca dan Adiguna Group bikin cerita karangan ini!"
"Siap, Mbak!" sahut Odelia gesit.
Pikiran Nadira benar-benar terfokus pada penyelamatan reputasi agensinya. Rasa lapar dan haus yang melilit perutnya sejak siang tadi ia abaikan begitu saja. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore, dan Nadira bahkan belum menyentuh setetes air pun.
...****************...
Sementara itu, di lantai paling atas gedung Pradipta Group, suasana ruang rapat direksi tak kalah tegangnya. Para pemegang saham dan jajaran direksi sedang memaparkan rencana investasi proyek Dubai.
Namun, Askara sama sekali tak fokus. Pria itu terus melirik ponselnya yang berada di samping papan ketik. Sepuluh panggilan... dua puluh panggilan... hingga tiga puluh panggilan ke nomor Nadira, tak satu pun yang diangkat. Bahkan pesan singkatnya hanya menampilkan tanda centang satu.
Insting protektif Askara mendadak menyala liar. Kepalanya dipenuhi berbagai spekulasi buruk. Apakah Sagara bertindak nekat? Atau apakah orang-orang suruhan Jaster Adiguna sudah mulai bergerak menyentuh istrinya?
"Pak Askara, untuk alokasi dana tahap pertama ini, apakah Bapak setuju jika—"
Brak!
Askara berdiri mendadak dari kursi utamanya, menggeser kursi tersebut hingga menimbulkan suara decitan nyaring yang mengejutkan seluruh peserta rapat.
"Rapat hari ini ditunda sampai besok pagi," pangkas Askara dingin tanpa ragu sedikit pun.
"Tapi Pak Askara, ini rapat penting mengenai investor Dubai!" protes salah seorang komisaris senior dengan raut tidak percaya.
"Gak ada yang lebih penting dari istri gue," tegas Askara dengan tatapan mata yang begitu tajam mengintimidasi, membuat seluruh ruangan mendadak bungkam seribu bahasa. Askara menoleh ke arah asistennya. "Bimo, siapkan mobil sekarang. Kita ke kantor Ruella Creative."
...****************...
Di ruang rapat Ruella Creative, kondisi Nadira makin memburuk. Pandangannya perlahan mulai mengabur dan berkunang-kunang. Keringat dingin menetes di pelipisnya, sementara rasa melilit yang teramat tajam mendadak menyerang bagian ulu hatinya.
"Nadira? Kamu gak apa-apa?" tanya Odelia cemas saat melihat wajah bosnya mendadak pucat pasi bak mayat.
"G-gue... perut gue sakit banget, Del..." cicit Nadira pelan. Tangan kanannya meremas bagian perutnya, sementara tangan kirinya mencoba bertumpu pada tepi meja.
Namun, rasa nyeri yang menusuk tajam itu membuat daya tahan tubuh Nadira runtuh. Lututnya melemas seketika, dan tubuh rampingnya mulai jatuh terkulai ke arah lantai.
"NADIRA!" jerit Odelia histeris.
Brak!
Pintu ruang rapat didorong paksa dari luar hingga membentur dinding. Askara—dengan kemeja putih yang lengan bajunya sudah tergulung acak-acakan dan raut wajah penuh kepanikan liar—menerobos masuk persis di detik saat tubuh Nadira hampir menyentuh lantai marmer.
Dengan refleks kilat yang luar biasa, Askara berhamburan maju dan menangkap tubuh Nadira ke dalam pelukan dada bidangnya sebelum wanita itu terhempas.
"Nadira! Nadira, bangun, Sayang!" panggil Askara dengan suara bergetar hebat. Pria itu berlutut di lantai, memangku kepala Nadira yang sudah setengah sadar dengan mata terpejam rapat. "Nad! Buka mata lo! Bimo, panggil ambulans atau siapkan mobil sekarang!"
"As-Aska..." gumam Nadira sangat lirih, mencoba membuka sedikit kelopak matanya yang terasa amat berat.
Melihat wajah istrinya yang pucat pasi dan merintih kesakitan sambil memegangi perutnya, pikiran Askara mendadak mengalami short circuit. Ketakutan yang amat sangat melumpuhkan logika berpikir pria jenius itu seketika.
"Sakit di perut... pucat... pingsan..." gumam Askara gagap dengan mata membelalak lebar, mengelus pipi dingin Nadira dengan tangan gemetaran. "Nad... lo... lo hamil ya, Nad?! Anak kita kenapa, Sayang?! Apa karena pergulatan kita kemarin malam?! Ya Tuhan, gue keterlaluan! Gue yang bikin lo kayak gini!"
Odelia dan Bimo yang berdiri di ambang pintu seketika melongo mendengar celetukan bos besar Pradipta Group tersebut.
Nadira yang dalam kondisi lemas dan menahan nyeri ulu hati, mendadak ingin tertawa mendengar kepanikan konyol suaminya. Rasa geli menyelusup di dadanya.
"Aska... lo gila ya..." ringis Nadira pelan, suaranya terputus-putus namun ada nada geli di sana. "Kita... kita baru menikah beberapa hari... mana bisa langsung hamil..."
"Bisa aja, Nad! Gak ada yang gak mungkin!" cerocos Askara panik bukan main, benar-benar kehilangan wibawa direkturnya. "Pokoknya lo gak boleh kenapa-kenapa! Anak kita juga gak boleh kenapa-kenapa!"
"Gue... gue gak hamil, Askara..." pangkas Nadira menepuk pelan dada Askara dengan sisa tenaganya. "Gue... gue belum makan siang dari tadi... asam lambung gue naik..."
Askara membeku seketika. Kepanikan heboh di wajah tampannya mendadak berganti menjadi gabungan antara rasa lega yang membuncah dan rasa kesal yang memuncak.
"Gak makan siang?!" bentak Askara protektif, walau matanya berkaca-kaca menahan rasa khawatir yang teramat sangat. "Nadira! Udah berapa kali gue bilangin, jangan pernah abaikan jam makan lo! Kenapa telepon dari gue gak ada yang diangkat satu pun?!"
"Ponsel gue... ke-silent..." cicit Nadira memajukan bibirnya polos.
Tanpa membuang waktu lagi untuk mengomel di sana, Askara langsung menyusupkan tangannya ke bawah lipatan lutut dan punggung Nadira, merengkuh tubuh istrinya dengan sangat erat ke dalam dekapan dadanya, lalu berdiri tegap.
"Bimo, batalin semua acara malam ini. Kita ke rumah sakit sekarang juga," perintah Askara tegas sambil melangkah lebar-lebar keluar dari ruang rapat, mengabaikan pandangan kaget dari seluruh staf Ruella Creative.
Di dalam dekapannya, Nadira menyandarkan kepalanya di leher hangat Askara. Memasrahkan seluruh tubuhnya yang lemas pada pria yang amat mencintainya itu.
Meski dalam kondisi perut yang masih melilit dan pusing yang melanda, ada rasa hangat nan dalam yang memenuhi rongga dada Nadira. Melihat bagaimana Askara meninggalkan rapat pentingnya, berlari ketakutan hanya karena dirinya tak memberikan kabar, hingga omelan protektif yang tak pernah berubah sedikit pun dari dulu—Nadira sadar betapa beruntungnya ia memiliki Askara.
"Aska..." bisik Nadira pelan di leher suaminya.
"Apa lagi?" sahut Askara galak namun jemarinya makin mempererat pelukan pada tubuh istrinya. "Gak usah minta makan aneh-aneh dulu sebelum dokter periksa perut lo."
Nadira menyunggingkan senyuman manis di balik leher Askara. "Makasih ya, Suamiku. Makasih udah selalu ada buat gue."
Askara menghentikan langkah kakinya sejenak di depan pintu lift, menunduk dan mendaratkan kecupan panjang nan tulus di kening pucat Nadira.
"Gue bakal selalu ada buat lo, Nadira. Apapun yang terjadi," bisik Askara rendah dan dalam.
andre yang sudah jumawa menggantikan posisi askara langsung syok....mati berdiri melihat orang yang sudah meninggal hidup lagi...
semangat terus thor...
/Heart/