Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Secangkir Earl Grey

Pagi menyelimuti kota metropolis dengan kabut tipis sisa badai semalam. Di layar kaca setiap stasiun televisi lokal, berita utama didominasi oleh ledakan dahsyat di Pelabuhan Kargo Utara. Pihak kepolisian yang telah dikondisikan oleh Silas Mercer mengumumkan bahwa insiden tersebut murni merupakan bentrokan bersenjata antar geng penyelundup yang berebut sisa-sisa aset dari mendiang keluarga Thorne.

Dunia bawah tanah kota ini sedang terguncang hebat. Hilangnya Yayasan Thorne dalam semalam menciptakan kekosongan kekuasaan yang sangat besar. Ibarat bangkai paus di tengah lautan, kekosongan itu kini mulai memancing hiu-hiu kelaparan yang jauh lebih besar dan lebih buas.

Di dalam ruang kerja barunya di Fakultas Seni Universitas St. Jude, Arthur Summers berdiri menatap ke luar jendela. Ia mengenakan kemeja biru muda yang lengannya digulung rapi, memancarkan aura seorang akademisi yang tenang. Tidak ada yang menyangka bahwa pria yang tengah menyeduh kopi instan ini adalah sang dewa kematian yang baru saja meratakan puluhan pasukan Spetsnaz dan menewaskan seorang Jenderal musuh belasan jam yang lalu.

Pintu ruangannya diketuk perlahan. Maya Lin masuk dengan membawa setumpuk buku tebal, menyamarkan kunjungannya sebagai sesi bimbingan mahasiswa.

"Selamat pagi, Profesor," sapa Maya, menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Begitu blinds jendela diturunkan, nada suara mahasiswi itu berubah serius. "Bos, pembersihan pelabuhan sudah selesai. Tapi kita punya masalah baru di kampus."

Arthur duduk di kursi kerjanya. "Bicaralah."

Maya meletakkan sebuah tablet di atas meja. Layarnya menampilkan diagram lima logo perusahaan raksasa.

"Dengan hancurnya Julian dan Yayasan Thorne, aset-aset kampus ini dilelang secara rahasia. Paman Drake memang menguasai hutang mereka, tetapi 'Lima Keluarga Besar' kota ini mulai bergerak," jelas Maya. "Salah satunya adalah Keluarga Sterling, konglomerat yang menguasai industri farmasi medis. Pagi ini, mereka secara agresif mengambil alih gedung laboratorium terbengkalai di sayap barat kampus."

Arthur menyipitkan matanya. "Farmasi? Untuk apa keluarga konglomerat medis repot-repot mengambil alih laboratorium tua di kampus seni dan sejarah?"

"Itulah yang mencurigakan," jawab Maya, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu jurnalistik. "Saya meretas daftar kargo mereka. Mereka membawa masuk berton-ton bahan kimia prekursor tingkat tinggi dengan kedok 'donasi alat peraga'. Saya curiga laboratorium itu digunakan sebagai pabrik obat-obatan ilegal atau eksperimen gelap."

"Awasi pergerakan mereka, Maya. Tapi jangan bertindak gegabah. Keluarga Sterling bukan preman jalanan seperti Julian; mereka memiliki pasukan bayaran profesional," perintah Arthur.

"Siap, Bos." Maya mengangguk, lalu menatap wajah Arthur sejenak. Ada sedikit lingkar hitam di bawah mata sang Jenderal. Gadis itu tahu apa yang terjadi pada Elena semalam, walau ia tidak menanyakannya. "Bos, kelas Anda baru mulai pukul dua siang. Anda sebaiknya mencari udara segar. Anda terlihat... butuh istirahat."

Arthur tersenyum tipis mendengarnya. Ia mengambil jasnya dan berjalan keluar.

Jalanan di distrik elit kota tampak lengang menjelang siang. Langkah Arthur membawanya ke sebuah kafe eksklusif bergaya klasik Eropa bernama L'Aura, yang terletak tak jauh dari pusat bisnis. Kafe ini sangat tertutup, hanya melayani keanggotaan VIP, dan merupakan salah satu properti yang bernaung di bawah bisnis Keluarga Zimmer.

Lonceng kecil berbunyi saat Arthur mendorong pintu kayu jati kafe tersebut. Aroma biji kopi panggang dan pastry mentega langsung menyambutnya. Di dalam, hanya ada beberapa tamu pebisnis yang berbicara dengan suara rendah.

"Selamat datang di—" Suara manajer kafe terhenti saat melihat siapa yang datang. Manajer itu segera menunduk hormat, tahu betul siapa pria di hadapannya dari instruksi pemilik kafe. "Tuan Summers. Sebuah kehormatan. Silakan, meja di teras kaca belakang sudah disiapkan khusus."

Arthur mengangguk pelan dan melangkah menuju area teras belakang yang dikelilingi oleh taman rimbun. Tempat itu sangat tenang, seolah terisolasi dari hiruk-pikuk kota.

Namun, ia tidak sendirian. Di salah satu kursi rotan, duduk seorang wanita anggun yang tengah membaca dokumen. Mia Zimmer, sang pewaris tunggal Keluarga Zimmer yang beberapa hari lalu menjemputnya di landasan pacu helikopter, tampak sangat memukau dengan balutan gaun kasual berwarna krem. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, diterpa angin musim gugur yang lembut.

Mendengar langkah kaki, Mia mendongak. Matanya seketika berbinar, namun ia segera berdiri dan menundukkan kepalanya dengan hormat.

"Tuan Summers. Saya tidak menyangka Anda akan berkunjung ke mari hari ini," sapa Mia lembut.

"Duduklah, Mia. Aku sudah bilang saat kau menjemputku dulu, di luar urusan Phantom Vanguard, panggil saja aku Arthur," balas Arthur sambil menarik kursi di hadapan gadis itu.

Mia tersenyum tipis, rona merah samar menghiasi pipinya. "Baik... Arthur. Apa yang ingin Anda pesan? Manajer kami baru saja membawa daun teh Earl Grey terbaik dari London pagi ini."

"Aku ikut pilihanmu saja," jawab Arthur, menyandarkan tubuhnya dengan rileks.

Mia segera memberi isyarat kepada pelayan. Beberapa menit kemudian, sepoci teh hangat dan beberapa kudapan manis tersaji di atas meja. Selama proses itu, Mia menuangkan teh untuk Arthur dengan sangat telaten. Gerakannya anggun dan tulus.

Berbeda dengan Elena yang selalu menuntut perhatian dan kemewahan, Mia memancarkan ketenangan. Meskipun Mia lahir di tengah keluarga miliarder, ia tidak memiliki arogansi. Gadis itu memperhatikan buku-buku jari Arthur yang masih menyisakan sedikit memar kemerahan akibat pertarungan di pelabuhan semalam.

Mia tidak bertanya siapa yang Arthur bunuh, atau mengapa tangannya terluka. Sebagai putri dari sekutu dunia bawah, ia tahu ada hal-hal yang tidak perlu dipertanyakan.

"Anda terlihat sangat lelah, Arthur," ucap Mia pelan, menyorongkan cangkir teh ke dekat tangan pria itu. Suaranya terdengar menenangkan, layaknya melodi piano yang mengalun di latar belakang. "Saya mendengar kabar tentang pelabuhan semalam. Saya juga mendengar tentang... Nona Elena."

Tangan Arthur yang baru saja akan meraih cangkir teh terhenti sejenak.

"Keluarga Zimmer telah memastikan media tidak akan mengendus keterkaitan Anda dengan insiden tersebut," lanjut Mia dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan pria itu. "Saya hanya ingin mengatakan... jika Anda butuh tempat untuk menjauh dari hiruk-pikuk ini, mansion keluarga kami di pegunungan selalu terbuka untuk Anda. Tidak sebagai komandan, tapi sebagai... seorang teman."

Arthur menatap mata Mia. Ada ketulusan yang murni di sana. Hati Arthur yang sempat membeku perlahan merasakan sedikit kehangatan. Wanita di hadapannya ini memiliki segalanya, namun yang ia tawarkan hanyalah sebuah telinga untuk mendengar dan ruang untuk bernapas.

"Terima kasih, Mia," jawab Arthur, suaranya melembut. Ia meraih cangkir tehnya dan menyesapnya. "Teh ini... sangat enak. Tepat seperti yang kubutuhkan."

Senyum manis mengembang di wajah Mia. Percakapan mereka pun mengalir dengan santai. Mereka tidak membicarakan perang, darah, atau konspirasi. Mereka berbicara tentang sejarah kota, arsitektur kafe, dan buku-buku lama. Untuk pertama kalinya sejak ia kembali dari perbatasan, Arthur merasa benar-benar menjadi manusia biasa.

Namun, kedamaian di kota ini tidak pernah bertahan lama.

Brak!

Pintu teras kaca tiba-tiba didorong dengan kasar dari luar. Suasana tenang seketika pecah. Tiga orang pria berjas mahal dengan pengawal pribadi di belakang mereka melangkah masuk tanpa diundang.

Di posisi terdepan adalah Kaelen Sterling, putra kedua dari Keluarga Sterling yang saat ini sedang naik daun. Wajahnya arogan, memancarkan kesombongan pewaris keluarga konglomerat yang merasa di atas angin setelah jatuhnya keluarga Thorne.

"Mia Zimmer!" seru Kaelen dengan nada keras yang mengganggu para tamu lain di dalam kafe. Ia melangkah mendekati meja Mia dengan senyum meremehkan. "Kudengar Keluarga Zimmer menolak tawaran akuisisi lahan kami untuk proyek farmasi yang baru. Apa ayahmu sudah pikun? Keluarga Sterling sekarang yang memegang kendali di distrik ini!"

Mia meletakkan cangkir tehnya dengan anggun. Wajahnya yang tadi lembut dan penuh senyum saat menatap Arthur, kini seketika berubah dingin dan berwibawa layaknya seorang ratu bisnis.

"Ini adalah kafe pribadi, Tuan Sterling. Anda tidak memiliki akses untuk masuk ke mari," ucap Mia tajam. "Dan jawaban Keluarga Zimmer tetap sama. Kami tidak akan menjual lahan kami kepada keluarga yang menggunakan cara-cara kotor."

Kaelen mendengus sinis. Matanya kemudian melirik ke arah Arthur yang duduk santai membelakanginya, masih menikmati tehnya tanpa menoleh sedikit pun.

"Dan siapa pria ini? Gigolo baru yang kau sewa?" ejek Kaelen sambil menepuk pundak Arthur dengan kasar. "Hei, pecundang. Minggir. Aku sedang bicara dengan wanita ini."

Seketika itu juga, udara di teras kaca tersebut seolah membeku.

Tangan Kaelen yang bertengger di pundak Arthur mendadak terasa dingin. Arthur meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia baru saja menikmati secangkir teh dan sebuah percakapan hangat yang jarang ia dapatkan. Dan pria ini berani mengusiknya?

Melihat gangguan yang lancang tersebut, wajah Arthur seketika berubah menjadi sangat gelap.

Mia menahan napasnya, bukan karena takut pada Kaelen, melainkan karena ia tahu bahwa Kaelen Sterling baru saja meletakkan tangannya di atas pundak sang dewa kematian.

Arthur memutar kepalanya sedikit, menatap Kaelen dari sudut matanya dengan kilatan predator yang mematikan.

"Singkirkan tanganmu," bisik Arthur dengan suara bariton yang teramat berat, "sebelum aku mencabutnya dari tubuhmu."

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!