Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Gang yang Gelap
Warung kecil itu berdiri di pinggir jalan utama, setengah terbuka dengan lampu kuning dan empat meja plastik.
Nadia memesan minuman sebelum Laras sempat duduk. Rayhan mengambil soda botol untuk dirinya sendiri.
"Lo nggak minum?" tanya Nadia.
"Nggak."
"Takut dimarahin sekolah?"
"Takut nanti nggak ada yang bisa bawa kalian pulang."
Laras mendengus. "Gaya banget. Warungnya lima menit dari rumah."
"Lima menit juga bisa nyasar kalau mabuk."
Nadia mengangkat gelas. "Malam ini gue mau nyasar sedikit."
Gelas pertama diminum untuk kepulangan Nadia. Gelas kedua untuk mengutuk pekerjaan Bima. Setelah itu alasan tidak lagi penting.
Laras bukan peminum kuat, tetapi suasana hatinya buruk setelah bertengkar dengan Galih. Ia terus menerima gelas yang dituangkan Nadia sampai kata-katanya mulai melambat.
"Gue nggak buang jepitnya," katanya untuk ketiga kali.
"Gue tahu," jawab Nadia.
"Dia nggak percaya."
"Berarti dia bego."
"Rayhan juga nyebelin."
Rayhan yang duduk di seberang mengangkat kepala. "Aku dengar."
"Memang buat lo dengar."
"Kalau marah, marah besok. Sekarang minum air dulu."
Ia mendorong botol air ke depan Laras dan menukar gelasnya tanpa meminta izin. Laras hendak protes, tetapi Nadia tertawa dan menarik botol itu lebih dulu.
"Kalian kayak pasangan sudah nikah," katanya. "Satu cerewet, satu pura-pura galak."
"Bukan," jawab Laras cepat.
Rayhan tidak berkata apa-apa. Ia membuka tutup botol baru dan menaruhnya dekat tangan Laras.
Ponsel Nadia menyala. Bima menelepon.
Nadia menatap nama itu cukup lama, lalu menolak panggilan.
"Tadi nungguin, sekarang ditolak," kata Laras.
"Biar dia tahu rasanya."
Panggilan masuk lagi. Kali ini Nadia mematikan suara ponsel dan menuangkan minuman.
"Nad, sudah," kata Rayhan. "Kita pulang."
"Lo siapa nyuruh-nyuruh gue?"
"Orang yang masih sadar."
Nadia menatapnya, lalu tertawa pendek. "Santai. Gue cuma mau duduk sebentar."
"Besok ketemu Bima, ngomong waktu sadar," kata Rayhan. "Kalau sekarang telepon, kalian cuma saling nyakitin."
"Anak SMA ngajarin hubungan orang?"
"Aku ngajarin pulang selamat."
Nadia hendak membalas, tetapi ponselnya kembali bergetar. Kali ini pesan dari Bima masuk: ia meminta lokasi dan berkata mungkin bisa menyusul setelah pekerjaannya selesai.
Nadia membaca pesan itu, lalu menghapus notifikasi tanpa menjawab.
"Dia selalu datang setelah gue selesai butuh," katanya. "Pas gue berantakan, semua orang bilang tunggu."
Laras meraih tangannya. "Gue di sini."
"Lo juga lagi berantakan gara-gara Galih."
"Berarti kita pulang dan berantakan di rumah."
Untuk sesaat Nadia hampir menurut. Ia mengambil tas dan mencoba berdiri, tetapi kemudian duduk lagi saat Bima menelepon untuk ketiga kalinya.
"Gue jawab sendiri," katanya. "Kalian jangan dengar."
Rayhan menawarkan menunggu beberapa meja jauhnya sampai telepon selesai. Nadia menolak dan berjanji tetap bersama pemilik warung. Karena Laras sudah tidak mampu berjalan, Rayhan harus memilih membawa satu orang pulang lebih dulu.
Laras mencoba berdiri dan hampir menjatuhkan kursi. Rayhan langsung menangkap sandaran kursi, bukan tubuhnya.
"Kita pulang sekarang," katanya.
Pemilik warung ikut menyarankan mereka pergi karena jalan mulai sepi. Rayhan membayar, lalu menelepon Pak Darto. Tidak ada jawaban. Mungkin ponselnya tertinggal di kamar.
"Aku bawa Laras dulu," kata Rayhan kepada Nadia. "Habis itu aku balik jemput Kak Nadia. Jangan pergi dari warung."
"Gue bisa pulang sendiri."
"Nggak. Tunggu di sini."
"Gue mau telepon Bima. Privasi sedikit bisa?"
Nadia menunjuk kursi seolah berjanji tetap duduk. Pemilik warung mengangguk kepada Rayhan dan berkata akan mengawasi.
Gang Mawar memang hanya beberapa menit berjalan kaki. Namun Laras tidak bisa melangkah lurus. Rayhan akhirnya berjongkok dan meminta Laras naik ke punggungnya.
"Gue berat," gumam Laras.
"Aku tahu."
"Kurang ajar."
"Pegang bahuku. Jangan leher."
Ia membawa Laras perlahan melewati mulut gang. Tidak ada kehangatan yang ia izinkan berubah menjadi hal lain. Laras sedang mabuk dan bergantung padanya untuk pulang dengan aman. Itu saja.
Di depan rumah, Pak Darto belum bangun meski Rayhan mengetuk. Ia menggunakan kunci cadangan dari bawah pot bunga, lalu membangunkan Mbah Surti.
"Ya Allah, kalian minum apa?" Mbah mengomel sambil membantu membuka pintu kamar Laras.
"Laras kebanyakan. Aku balik jemput Kak Nadia."
Mereka membaringkan Laras di atas kasur. Rayhan melepas sepatunya tanpa menyentuh bagian lain, meletakkan ember dekat ranjang, dan menarik selimut sampai bahu. Ketika Laras meraih ujung bajunya dalam keadaan setengah sadar, Rayhan membeku.
"Jangan pergi," gumam Laras.
Ada bagian dalam dirinya yang ingin duduk dekat, memegang tangannya, dan menganggap kalimat mabuk itu sebagai sesuatu yang berarti. Namun Laras tidak sedang mampu memilih dengan jernih.
Rayhan melepaskan jari Laras satu per satu dari kain bajunya.
"Aku jemput Nadia dulu," katanya pelan. "Mbah di sini."
Ia berlari kembali ke warung.
Kursi Nadia kosong.
Pemilik warung sedang menumpuk meja. "Temannya pulang barusan. Katanya dijemput."
"Dijemput siapa?"
"Nggak lihat. Dia jalan ke arah tikungan sambil telepon."
Rayhan menelepon Nadia. Ponselnya aktif, tetapi tidak diangkat. Ia mencoba Bima.
"Nadia sama lo?" tanya Bima begitu menjawab.
"Tadi di warung. Sekarang hilang."
"Hilang gimana?"
"Katanya dijemput. Lo nggak datang?"
"Gue masih di tempat kerja. Kirim lokasi sekarang."
Rayhan menyusuri jalan dari warung ke Gang Mawar sambil memeriksa tiap tikungan. Ia bertanya kepada penjaga minimarket, pengemudi ojol yang mangkal, dan penjual gorengan yang sedang berkemas. Seorang pengemudi melihat perempuan dengan dress cokelat berjalan ke arah jalan kecil, tetapi tidak tahu dengan siapa.
Ia memeriksa riwayat pemesanan ojol dari ponsel Nadia melalui akun yang pernah tersambung di ponsel Laras, tetapi tidak ada perjalanan baru. Ia tidak membuka pesan pribadi; ia hanya mencari tanda bahwa kendaraan benar-benar dipesan.
Pemilik warung mengingat Nadia sempat berbicara dengan seseorang di telepon, lalu berjalan keluar dari jangkauan lampu. Tidak ada yang melihat mobil berhenti. Informasi itu membuat rasa bersalah Rayhan berubah menjadi ketakutan yang dingin.
"Harusnya aku tunggu," katanya ketika Pak Darto menyusul.
"Kamu bawa Laras yang juga nggak sadar," jawab Pak Darto. "Sekarang jangan habiskan waktu menyalahkan diri. Cari."
Mereka memeriksa jalan menuju rumah Bu Yayuk, halte, musala, dan gang kecil di belakang pasar. Pak Darto meminta satpam kompleks sebelah melihat rekaman kamera arah gerbang, tetapi sudutnya tidak menjangkau warung.
Bima terus menelepon selama perjalanan dari tempat kerja. Suaranya berubah makin panik.
"Cari dekat jalan utama. Gue ke sana."
"Gue sudah cari."
"Jangan berhenti."
Rayhan tidak berhenti sampai lewat tengah malam. Pak Darto akhirnya terbangun dan ikut mencari dengan motor. Mbah Surti menjaga Laras di rumah. Mereka mendatangi warung, halte, dan jalan menuju terminal.
Nadia tidak ditemukan.
Menjelang dini hari, Laras terbangun dengan kepala berat. Begitu tahu Nadia belum pulang, rasa mabuknya seperti dipukul keluar dari tubuh.
"Kenapa lo tinggalin dia?" tanyanya.
Pertanyaan itu membuat wajah Rayhan pucat.
"Dia bilang tunggu. Pemilik warung juga lihat. Aku cuma bawa kamu pulang, terus langsung balik."
Laras menutup mata. Ia ingin menyalahkan seseorang, tetapi ingatannya sendiri terpotong-potong. Nadia menolak telepon Bima. Nadia meminta privasi. Nadia duduk saat mereka pergi.
"Kita cari lagi," katanya.
Mbah Surti mencoba menahan Laras karena langkahnya masih goyah. Laras membasuh wajah, mengganti pakaian, lalu minum dua gelas air sebelum keluar.
"Kalau kamu pusing, bilang," kata Pak Darto. "Jangan malah jadi orang kedua yang dicari."
Laras mengangguk. Ia membawa jaket Nadia yang tertinggal di rumah serta sebotol air. Rayhan mengambil pengisi daya portabel agar ponsel mereka tidak mati. Mereka juga mengirim foto pakaian Nadia malam itu kepada Bima dan dua penjaga malam, tanpa menyebarkannya ke grup tetangga yang bisa memicu gosip.
Setiap menit terasa seperti kesalahan baru.
Pak Darto membawa senter. Mereka membagi jalan, tetapi tetap menjaga jarak agar bisa saling memanggil. Bima belum tiba karena kendaraan dari tempat kerjanya bermasalah di jalan.
Saat langit mulai berubah abu-abu, seorang pemulung berteriak dari lorong sempit di belakang deretan kios tutup.
"Ada orang di sini!"
Laras berlari lebih dulu.
Nadia meringkuk di dekat dinding, sebagian terlindung tumpukan kardus. Dress cokelatnya kotor dan robek di beberapa bagian. Ada lebam di wajah dan lengannya, tetapi Laras memaksa matanya tidak menghitung luka.
Yang paling mengerikan adalah tatapan Nadia. Terbuka, tetapi seperti tidak mengenali siapa pun.
"Nad. Ini gue. Laras."
Nadia tersentak keras ketika Laras hendak mendekat.
"Jangan sentuh," bisiknya.
Laras langsung berhenti. Ia melepas jaket dan meletakkannya di tanah dalam jangkauan, tidak memaksa memasangkan.
"Oke. Gue nggak sentuh. Lo aman sekarang."
Rayhan tiba di belakangnya lalu berbalik, memberi ruang dan menahan orang-orang yang mulai mendekat. Pak Darto meminta pemulung memanggil bantuan.
Nadia menggigil meski udara pagi tidak terlalu dingin. Ketika Laras akhirnya mendapat izin menyentuh punggung tangannya, panas tubuh Nadia membuatnya terkejut.
"Gue mau kasih jaket. Boleh?" tanyanya.
Nadia tidak menjawab, hanya mengangguk sangat kecil. Laras tidak memasangkan jaket itu. Ia menyerahkannya pelan dan membiarkan Nadia menutup tubuhnya sendiri.
Ketika Pak Darto mendekat, Nadia mundur sampai punggungnya menyentuh dinding. Pak Darto langsung berhenti dan meletakkan kunci mobil di tanah agar kedua tangannya terlihat.
"Bapak di sini saja," katanya. "Laras yang temani."
"Kita ke rumah sakit," kata Laras.
Nadia menggeleng cepat. Bibirnya bergerak tanpa suara, lalu hanya satu kata yang keluar.
"Malu."
Laras merasa seluruh gang berputar. Ia tidak bertanya apa yang terjadi. Cara Nadia melindungi tubuhnya dan ketakutan pada setiap langkah laki-laki sudah memberi jawaban yang tidak sanggup ia ucapkan.
"Nggak ada yang salah dari lo," kata Laras, suaranya pecah. "Dengar gue. Ini bukan salah lo."
Nadia menutup wajah dengan jaket.
Pak Darto berlari mengambil mobil pelanggan yang diizinkan untuk keadaan darurat. Laras berlutut pada jarak yang Nadia izinkan, sementara Rayhan berdiri membelakangi mereka agar tidak menambah rasa takutnya.
Begitu lampu mobil muncul di ujung lorong, Laras berdiri dan berteriak.
"Rayhan, buka jalan! Pak, mobilnya dekatkan! Kita ke rumah sakit sekarang!"