When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Kecurigaan Sang Serigala
Asap tipis beraroma herbal pahit membumbung dari panci tembaga kecil yang bertengger di atas perapian.
Di dalam ruang perawatan khusus, pendar keemasan dari Bunga Frost-Blooded Amaryllis tampak makin benderang saat Dokter Tristan mencelupkan kelopak utamanya ke dalam cairan pemurni sihir.
Evelyn duduk bersandar di tepi ranjang.
Di dekat meja yang penuh dengan berkas kertas dan botol-botol ekstrak tanaman sihir, Cassian berdiri dengan lengan bersedekap di dada.
Rambut hitamnya yang agak basah jatuh berantakan di dahi, menambah kesan tajam pada sepasang mata hitamnya.
Sejak setengah jam lalu, saat Dokter Tristan sibuk meracik formula pemulihan, pandangan Cassian tak sekali pun lepas dari sosok Evelyn.
"Formula pemurnian ini butuh tiga tahap pengolahan, Nona Evelyn," kata Dokter Tristan seraya merapikan kacamata bundarnya. Pria paruh baya itu memindahkan ekstrak bunga berwarna merah menyala ke dalam botol kaca bening. "Tahap pertama untuk menetralkan racun mana dingin di paru-paru Anda. Tapi untuk tahap kedua dan ketiga... kita butuh mencampurkannya dengan formula penstabil zat alami yang hanya diproduksi secara rahasia oleh Perusahaan Asteria."
Dokter Tristan berpaling menatap Cassian dengan gestur sopan. "Dan di situlah masalahnya dimulai, Lord Duke. Asteria memegang paten monopoli penuh atas zat penstabil itu. Tanpa kesepakatan lisensi resmi dari Anda untuk mendistribusikan zat tersebut di wilayah Utara, kita tidak bisa mengolah obat ini secara massal untuk rakyat Anda yang terpapar krisis racun es."
Evelyn menyunggingkan senyum tipis, menyesap ramuannya. "Justru itu alasan saya berada di sini, Dokter. Kita tidak hanya bicara soal kesembuhan tubuh saya, tapi soal bisnis lisensi obat rahasia yang bakal mendatangkan keuntungan triliunan emas untuk wilayah Obsidian dan Asteria."
Cassian melangkah pelan mendekati meja. Pria itu menarik sebuah kursi kayu dan mendudukkan dirinya di seberang ranjang Evelyn.
"Lisensi obat rahasia..." desis Cassian, suara baritonnya merendah dengan nada skeptis. "Kamu menawarkan formula obat penawar racun es ini untuk diproduksi di pabrik-pabrik milik Obsidian. Kamu memberi kami hak edar eksklusif di seluruh wilayah Utara... dengan imbalan bagian deviden lima puluh persen untuk Asteria."
"Empat puluh lima persen buat Asteria, Cassian," ralat Evelyn manis, memiringkan kepalanya seraya mengedipkan mata. "Lima persennya saya alokasikan sebagai dana hibah kesehatan untuk anak-anak pekerja tambang di wilayahmu. Penawaran yang sangat dermawan, kan?"
"Penawaran yang terlalu sempurna sampai rasanya seperti racun bermadu," balasan Cassian meluncur dingin tanpa jeda.
Evelyn menghentikan gerakan tangannya. "Maksudmu apa, Cassian?" tanya Evelyn pelan, intonasi suaranya mendadak berubah serius.
Entah sejak kapan Evelyn mulai memanggil langsung nama Cassian, dan tampaknya Cassian tak memperdulikan hal itu.
Cassian memajukan badannya. Kedua lengannya bertumpu pada lututnya.
"Paten obat penstabil racun es dari Asteria itu..." kata Cassian. "...baru saja diajukan dokumen pendaftarannya ke asosiasi alchemist ibu kota lima hari yang lalu. Dokumen itu dibuat secara amat rahasia oleh sebuah tim peneliti independen yang dibiayai langsung oleh dana pribadi Rosenberg."
Cassian menyipitkan matanya. "Bagaimana mungkin sebuah perusahaan yang baru berdiri dua bulan lalu bisa menciptakan formula obat penawar racun es yang sempurna... untuk penyakit endemic yang hanya ada di tanah Utara?" lanjut Cassian. "Formula yang bahkan puluhan alchemist senior Obsidian butuh waktu bertahun-tahun untuk menelitinya tanpa hasil?"
Suasana di dalam kamar perawatan itu seketika berubah tegang. Dokter Tristan yang sedang memegang botol kaca sampai menghentikan gerakannya, memandang cemas ke arah dua orang yang saling menatap tajam di depannya.
Evelyn tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkirnya ke atas nampan.
"Anda mencurigai saya lagi," gumam Evelyn, suaranya mengalir datar tanpa ada rasa panik.
"Saya seorang penguasa wilayah, Evelyn," sahut Cassian tegas. "Tugas utama saya adalah melindungi rakyat dan tanah ini dari segala bentuk ancaman. Kemarin kamu datang membawa peta rahasia bawah tanah benteng ini. Hari ini kamu menyodorkan formula obat rahasia yang sengaja diciptakan khusus untuk mengatasi penyakit rakyat saya."
Cassian meremas jemarinya sendiri, memiringkan wajahnya.
"Kecuali kamu seorang peramal yang bisa melihat masa depan... hanya ada satu penjelasan logis untuk semua ketepatan ini," desis Cassian menusuk.
"Atau kamu adalah agen rahasia yang sudah disiapkan sejak lama oleh jaringan intelijen tingkat atas—mungkin Istana, atau mungkin fraksi gelap di luar kerajaan—yang sengaja memanfaatkan tubuh sakit-sakitanmu sebagai penyamaran paling sempurna untuk menyusup ke dalam lingkaran terdalam Obsidian Keep."
Tuk.
Cassian meletakkan selembar berkas laporan intelijen militer yang baru saja ia ambil dari saku kemejanya ke atas ranjang, tepat di dekat kaki Evelyn.
"Dua minggu lalu, ada pergerakan kurir rahasia yang membawa dokumen berstempel bunga Aster keluar dari wilayah perbatasan menuju kediaman Pangeran Pertama di ibu kota," kata Cassian, matanya tertuju pada raut wajah Evelyn. "Jelaskan pada saya, Putri Rosenberg... kenapa perusahaan milikmu yang katanya mau bersekutu dengan saya, malah mengirimkan surat rahasia ke tangan musuh bebuyutan keluarga Obsidian?"
Evelyn menatap berkas laporan di atas selimutnya sejenak. Raut kebingungan sempat melintas di wajahnya, namun otak Kirana dengan cepat memproses alur informasi tersebut.
Evelyn menghela napas panjang yang halus, lalu tertawa pendek. "Cassian, Cassian..." bisik Evelyn seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Jemarinya meraih berkas laporan itu, lalu tanpa ragu melemparkannya kembali ke pangkuan Cassian. "Otak ksatria milikmu itu kadang-kadang terlalu rumit buat memproses taktik bisnis yang sederhana."
Cassian mengernyitkan dahi, tidak menyukai nada santai yang ditunjukkan gadis di depannya. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Evelyn. Berikan saya alasan kenapa saya tidak boleh menahanmu di benteng ini atas tuduhan mata-mata!"
"Alasannya simpel," sahut Evelyn manis, memajukan badannya sedikit dan menatap lurus mata Cassian. "Surat berstempel bunga Aster yang dikirim ke Pangeran Pertama itu... adalah umpan yang sengaja saya sebar buat mengacaukan alokasi dana mata-mata Istana!"
Cassian tersentak kecil. "Umpan?"
"Pangeran Pertama itu pria yang sangat jahil, rakus, dan gampang panik kalau melihat ada perusahaan baru yang memegang cadangan kristal murni," terang Evelyn.
"Surat itu berisi penawaran palsu tentang investasi tambang di wilayah Barat. Saya sengaja menjual informasi itu ke Pangeran Pertama seharga lima ratus ribu koin emas!"
Evelyn menepuk dadanya sendiri dengan bangga.
"Uang lima ratus ribu koin emas dari kantong Pangeran Pertama itu... yang saya pakai buat membiayai penelitian laboratorium alchemist Asteria untuk menciptakan formula obat penawar racun es ini!" lanjut Evelyn riang seraya menunjuk botol obat di tangan Dokter Tristan. "Saya menggunakan uang musuhmu untuk menciptakan obat yang bakal menyelamatkan rakyatmu! Dan kamu di sini malah menuduh saya sebagai mata-mata mereka?!"
Cassian terpaku membisu. Wajah tampannya yang kaku menunjukkan ekspresi terkejut yang teramat sangat.
Pria itu memproses setiap kata yang baru saja keluar dari bibir Evelyn, membandingkannya dengan laporan aliran dana rahasia ibu kota yang ia terima beberapa hari lalu... dan semuanya cocok secara sempurna!
"Kamu... kamu memeras Pangeran Pertama buat membiayai penelitian ini?" tanya Cassian, benar-benar shock oleh taktik gila gadis di depannya.
"Bukan memeras, tapi memanfaatkan kebodohan orang kaya yang haus kekuasaan," ralat Evelyn manis seraya mengibaskan tangannya santai. "Dan soal kenapa formula ini bisa tercipta begitu cepat... itu karena alchemist utama Asteria yang saya rekrut adalah Master Galen—mantan peneliti Istana yang sepuluh tahun lalu dipecat secara tidak hormat karena menolak menjual formula obat ini kepada bangsawan ibu kota."
Dokter Tristan di sudut ruangan mengangguk cepat mengonfirmasi. "Itu benar, Lord Duke! Master Galen memang sudah meneliti racun es ini selama puluhan tahun, tapi beliau tidak punya dana dan bahan Bunga Frost-Blooded Amaryllis untuk menyempurnakannya. Nona Evelyn yang membantu Master Galen!"
Keheningan melingkupi kamar perawatan itu sekali lagi.
Cassian menundukkan kepalanya, menatap berkas laporan di pangkuannya seraya memijat pelipisnya yang mendadak terasa pusing.
Pria tinggi besar itu menghela napas panjang.
"Saya..." Cassian mendongak, menatap Evelyn dengan pandangan mata yang dipenuhi penyesalan. "...saya minta maaf, Evelyn. Kecurigaan saya sudah keterlaluan."
Evelyn menyunggingkan senyum hangat yang sangat memesona.
"Kecurigaanmu itu wajar, Cassian," bisik Evelyn halus. "Seorang penguasa yang tidak punya rasa curiga adalah penguasa yang hanya menunggu waktu buat dihancurkan dari dalam. Tapi sekarang... kamu sudah tahu kan kalau saya berada seratus persen di pihakmu?"
Cassian menatap Evelyn. "Saya percaya padamu, Evelyn," kata Cassian mantap.
"Bagus kalau begitu," kekeh Evelyn renyah, mengedipkan sebelah matanya. "Sekarang, panggil pengacaramu. Kita tanda tangani dokumen lisensi bisnis obat rahasia ini."
Cassian terkekeh pelan.
Pria itu berdiri dari kursinya. "Marsha! Panggil Sir Alex dan siapkan pena tinta emas terbaik!" seru Cassian ke arah pintu.
semangat nulisnya 💪