Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kampus impian

Bel istirahat baru saja berbunyi ketika ponsel butut Haruna bergetar di dalam tas. Ia meraihnya cepat, membaca pesan yang masuk dari salah satu pemilik warung langganan.

"Dek Haruna, peyeknya udah abis semua. Kemarin baru diantar, tapi laris manis. Ada yang bisa dianter lagi hari ini?"

Haruna mengernyit, sedikit terkejut. Baru kemarin sore ia mengantarkan stok baru ke warung itu, namun sudah ludes secepat itu. Ia tersenyum tipis, campuran antara lega dan sedikit kewalahan. Bisnis kecil warisan Nek Lasmi itu kini benar-benar berkembang jauh melampaui bayangannya.

"Kenapa, Har? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya teman sebangkunya penasaran.

"Nggak apa-apa, cuma pesanan peyek lagi rame," jawab Haruna singkat, kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas sambil menyusun rencana di kepalanya untuk sepulang sekolah nanti.

Begitu bel pulang berbunyi, Haruna tak langsung pulang ke rumah seperti biasa. Ia berjalan tertatih menuju pasar tradisional yang letaknya searah dengan jalan pulangnya, membeli tepung beras, kacang tanah, dan bumbu-bumbu yang sudah menipis di dapur mereka. Tangannya penuh menjinjing kantong belanjaan ketika akhirnya sampai di gubuk sederhana itu.

"Nek, Haruna pulang," serunya begitu masuk, meletakkan belanjaan di atas meja dapur.

"Kok belanja banyak sekali, Nak?" tanya Nek Lasmi dari ranjangnya, sedikit mengangkat kepala.

"Pesanan lagi banyak, Nek. Tadi ada yang minta dianter lagi hari ini juga," jawab Haruna sambil bergegas mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumah.

Setelah makan siang seadanya, Haruna langsung menuju dapur, menyalakan tungku kayu dan mulai mengulek bumbu dengan cekatan. Tangannya bergerak lincah, hasil dari bertahun-tahun terbiasa membantu Nek Lasmi sejak kecil. Adonan demi adonan mulai ia bentuk, digoreng hingga keemasan, aroma gurih memenuhi seisi gubuk.

Melihat cucunya bekerja sendirian sejak siang tanpa henti, hati Nek Lasmi tak tega. Dengan susah payah, ia mencoba bangkit dari ranjang, melangkah pelan menuju dapur sambil berpegangan pada dinding.

"Biar Nenek bantu aduk-aduk adonannya," ucap Nek Lasmi, tangannya terulur meraih baskom adonan.

Namun Haruna cepat-cepat mencegahnya, menggenggam tangan neneknya lembut namun tegas. "Nggak usah, Nek. Nenek istirahat aja di kamar. Haruna bisa kok kerjain sendiri."

"Tapi Nenek kasihan lihat Haruna kerja sendirian terus," Nek Lasmi bersikeras, meski suaranya sudah terdengar lelah.

"Nenek udah bantu Haruna banyak banget selama ini. Sekarang giliran Haruna yang kerja, Nenek tinggal istirahat aja," Haruna tersenyum lembut, menuntun neneknya kembali duduk di kursi dekat dapur. "Kalau Nenek mau bantu, cukup doain Haruna aja biar lancar semua. Itu udah lebih dari cukup buat Haruna."

Nek Lasmi terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca menatap kesungguhan di wajah cucunya. Sebelum akhirnya mengangguk pasrah, membiarkan Haruna melanjutkan pekerjaannya sambil ia duduk memperhatikan dari kejauhan.

Esok harinya bertepatan dengan akhir pekan. Ketika Haruna masih sibuk membungkus peyek yang baru matang, terdengar suara mobil berhenti di depan gubuk, disusul teriakan riang yang sangat familiar.

"Harunaaa! Kakak pulang!"

Haruna menoleh, wajahnya langsung berbinar melihat Kirana berlari kecil menghampirinya, langsung memeluknya erat. "Kak Kirana! Kapan pulangnya?"

"Baru tadi pagi! Kangen banget sama Haruna, jadi langsung mampir ke sini," jawab Kirana, melepaskan pelukannya lalu melirik tumpukan peyek yang memenuhi meja dapur. "Wih, banyak banget pesanannya sekarang. Sibuk banget kayaknya."

"Iya, Kak, lagi banyak pesanan," jawab Haruna sambil kembali fokus membungkus, meski sesekali mencuri pandang ke arah sahabatnya yang sudah lama tak ia temui.

Tanpa diminta, Kirana langsung menggulung lengan bajunya, duduk di samping Haruna dan mulai membantu membungkus peyek dengan cekatan.

"Kak, nggak usah, capek abis perjalanan," Haruna mencoba mencegah.

"Udahlah, diem aja. Kakak kan udah lama nggak bantuin Haruna, masa sekarang malah dilarang," balas Kirana cepat, tak memberi kesempatan Haruna untuk membantah lebih jauh.

Haruna akhirnya menyerah. Tersenyum kalah menghadapi sahabatnya yang memang selalu pandai berargumen. Mereka pun bekerja berdampingan, sesekali diselingi obrolan ringan dan tawa kecil yang mengisi sore itu.

"Har, Kakak lihat pesanan kamu makin banyak aja tiap bulan. Kapan-kapan kamu harus mulai cari orang buat bantu bikin peyek, deh. Nggak mungkin kamu kerjain sendiri terus, apalagi sambil sekolah," saran Kirana sambil terus melipat plastik kemasan.

Haruna menghela napas, mengangguk pelan. "Sebenernya Haruna juga udah kepikiran gitu, Kak. Tapi Haruna bingung, takut nggak ada yang mau bantu. Soalnya Haruna belum bisa gaji besar."

"Kalau soal itu, Kakak ada rekomendasi, deh," Kirana tiba-tiba teringat sesuatu. "Ada Bu Marni, janda beranak empat, tetangga deket rumah Kakak. Dulu dia sempat minta tolong Mama Kakak buat dicariin kerjaan. Soalnya susah banget cari nafkah sendirian buat anak-anaknya. Orangnya rajin, kok, Kakak yakin banget."

Mata Haruna berbinar mendengar solusi itu. "Beneran, Kak? Kalau gitu, boleh deh Haruna coba tawarin kerja sama beliau."

"Nanti biar Kakak yang omongin ke Mama, biar diinfoin ke Bu Marni," janji Kirana, tersenyum senang bisa membantu sahabatnya.

Mereka melanjutkan pekerjaan itu hingga senja tiba, seluruh pesanan akhirnya berhasil dibungkus rapi. "Besok kita anter bareng, yuk. Kakak pinjem mobil Ayah," ajak Kirana sambil merapikan rambutnya yang berantakan. "Habis anter, kita jalan-jalan berdua, ya. Udah lama banget kita nggak jalan bareng."

"Boleh banget, Kak!" jawab Haruna antusias.

Keesokan paginya, sesuai janji, Kirana sudah menunggu di depan gubuk dengan mobil ayahnya. Mereka berkeliling mengantarkan pesanan ke beberapa warung dan pelanggan pribadi, menyelesaikan semuanya sebelum matahari terlalu tinggi.

"Nah, sekarang saatnya kita jalan-jalan," ucap Kirana penuh semangat setelah pesanan terakhir selesai diantar. "Kakak mau ajak Haruna ke kota, deh. Ke mall gede di ibukota."

Mata Haruna membelalak kaget bercampur senang. "Beneran, Kak? Haruna belum pernah ke kota sama sekali!"

"Makanya, ini saatnya! Ayo!" Kirana tertawa, langsung menginjak gas menuju arah kota yang jaraknya cukup jauh dari desa mereka.

Sesampainya di sana, Haruna dibuat terpukau oleh gedung-gedung tinggi menjulang, lalu lintas ramai, serta suasana kota yang jauh berbeda dari ketenangan desanya. Kirana dengan senang hati mengajaknya berkeliling, menunjukkan berbagai tempat menarik, mulai dari pusat perbelanjaan hingga taman kota yang asri.

Di tengah perjalanan, mobil mereka melewati sebuah gedung megah dengan gerbang besar bertuliskan nama sebuah universitas ternama. Kirana secara refleks memperlambat laju mobilnya.

"Nah, ini dia, Har. Universitas paling top di negara kita. Banyak banget tokoh-tokoh besar yang lulusan dari sini," jelas Kirana, menghentikan mobil sejenak di pinggir jalan agar Haruna bisa melihat lebih jelas.

Haruna terdiam, matanya menatap lekat-lekat gedung megah itu, kagum dengan arsitekturnya yang begitu megah, mahasiswa yang berlalu lalang dengan penuh kepercayaan diri. "Kak... Haruna pengen banget bisa masuk kampus ini," ucapnya pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.

Kirana menoleh, tersenyum mendengar keinginan itu. "Kenapa pengen banget masuk sini?"

"Soalnya Haruna sering denger, kampus ini emang paling bagus. Banyak tokoh terkenal, orang-orang sukses, yang dulunya kuliah di sini," jawab Haruna, matanya masih tak berpaling dari gedung itu.

"Kalau menurut Kakak, sih, Haruna pasti bisa masuk sini. Prestasi kamu kan luar biasa dari SD sampai sekarang, selalu juara satu terus," ucap Kirana meyakinkan, meski ada sedikit nada getir yang menyelip di suaranya. "Kakak juga dulu sempat pengen banget kuliah di sini, lho. Tapi Kakak nggak lolos, kalah saing sama yang lain, mungkin emang Kakaknya kurang pintar."

Haruna menoleh cepat, terkejut mendengar pengakuan itu. "Kak Kirana pinter, kok. Jangan gitu."

Kirana tertawa kecil, menepuk pelan bahu sahabatnya. "Nggak apa-apa, kok, Har. Rezeki orang kan beda-beda. Yang penting sekarang, giliran Haruna yang harus berjuang buat masuk sini. Kakak yakin banget Haruna pasti bisa."

Haruna kembali menatap gedung universitas itu, dadanya dipenuhi tekad yang membara. Dalam hati, ia bersumpah pada dirinya sendiri...apa pun yang terjadi, ia harus bisa menembus gerbang kampus itu. Bukan hanya demi dirinya sendiri, tetapi juga demi mewujudkan mimpi yang telah lama ia bawa sejak kecil, sejak pertama kali melihat sosok wanita kaya yang begitu dihormati di depan sekolahnya dulu.

1
Ilfa Yarni
akhirnya ank kandung dan ank pungutnya bagas bertemu gmn kelanjutannya ya
Iffanaya 😽
nah kan ternyata anak angkat bahkan istri nya sendiri gk tau, kyk nya setelah buang Hanura ngangkat anak buat gantiin Hanura
Ilfa Yarni
akhirnya ank pungutnya satu universitas dgn haruna aku ingin lihat gmn reaksi bagas klo ketemu haruna apakah dia sadar klo itu ank yg dia buang
Muft Smoker
apa reynand ank yg di ambil Bagas setelah buang haruna ,, buat gantiin haruna???
Iffanaya 😽
apa setelah buang haruna, Larasati hamil lg tp umur nya 18 thn seumuran haruna 🤔
Ilfa Yarni
nah lo wmang enk ank kandung dibuang itu sireynan km pungut dmn
Iffanaya 😽
duuuh jd nangis aku Thor bacanya 😭😭 sedih bgt semangat haruna
Ilfa Yarni
aaa aku Baca ini nagis trus semangat ya haruna km bisa bumtikan pd dunia bahwa ketidaksempurnaan tubuhmu tidak akan menghalangi kesuksesanmu
Muft Smoker
semangat trus haruna ,,
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
Ilfa Yarni
aaaa sedih bamget aku sampe nangis bacanya aku benci sama kedua orangtua aruna yg tega membuangnya krn kakinya ga normal
Ilfa Yarni
huhuhu. sedih bamget
Muft Smoker
terkadang emnk kondisi seseorang yg di bilang parah ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,

semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
Muft Smoker
km bnr haruna ,, mimpi bisa menunggu tp nenek mu entah sampai Kpn bisa nunggu ,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
Muft Smoker
semangat haruna ,, di balik ini semua pasti ada kejutan besar buat dirimu ,,
Ilfa Yarni
knp tib2 begitu kan jadi pecah konsentrasi haruna
Ilfa Yarni
km sangat pintar haruna km pasti bisa mask universitas itu
Muft Smoker
semangat haruna ,, km pasti bisa sukses ,,
Ilfa Yarni
km pasti sukses haruna aku yakin itu
Muft Smoker
semangat haruna ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,
Ilfa Yarni
Ayo hatina tunjukkan klo km itu pintar biar mrk yg jahat pdmu melongo krn syok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!