Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Kabut ungu tebal bergulung pelan di antara celah tebing batu terjal yang membentuk gerbang masuk Lembah Naga Jatuh.
Aroma mineral giok basah dan hawa energi spiritual bumi menguar pekat di udara pagi. Di dasar lembah raksasa berbentuk kawah melingkar, sebuah arena pertarungan berbahan batu obsidian hitam terbentang megah.
Puluhan ribu penonton dari berbagai sekte, perguruan silat, dan klan bangsawan Domain Selatan telah memadati tribun batu bertingkat yang menjulang di sekeliling lembah.
Gemuruh suara obrolan mendadak mereda saat empat Kuda Naga Sisik Perak berderap masuk melewati gapura ngarai, menarik kereta naga bertingkat dua berbahan kayu cendana wangi.
Song Ming duduk tegak di kursi kusir depan, mengendalikan kuda-kuda naga dengan keahlian anggun yang memukau para penonton.
Kereta naga itu meluncur mulus melintasi karpet merah di pelataran peserta, lalu berhenti tepat di depan anak tangga panggung persiapan.
Di panggung kehormatan tertinggi yang menggantung di atas tebing utara, tiga figur terkuat di Domain Selatan duduk berdampingan di kursi kayu cendana berlapis emas.
Di sisi kiri, Master Yan Wuji dari Paviliun Giok Ilahi duduk santai sambil mengibaskan kipas bulu bangau putihnya. Jubah sutra giok hijaunya memancarkan pendar energi yang tenang namun menusuk.
Di tengah, Nenek Gui Hua dari Sekte Racun Seribu Lembah bersandar pada tongkat kayu berkepala ular kobra hitam hidup yang sesekali mendesis menjulurkan lidah bercabang. Wajah keriputnya yang keunguan dihiasi seringai dingin penuh racun.
Di sisi kanan, Zhao Badao dari Sekte Guntur Pengguncang Bumi duduk memangku gada petir hitam seberat lima ribu kati di atas pahanya yang berotot kekar bagai batang pohon tua.
“Rombongan Sekte Pedang Langit akhirnya tiba,” bisik Yan Wuji seraya melirik ke arah kereta naga di bawah. “Song Pojun tidak terlihat di dalam rombongan. Kakek tua itu pasti benar-benar sekarat di guanya.”
Nenek Gui Hua tertawa kecil dengan suara melengking serak. “Bagus. Bocah berambut putih yang mereka bawa itu akan menjadi mayat pertama yang membusuk di atas panggung obsidian.”
Zhao Badao mendengus kasar seraya meremas gagang gadanya. “Begitu bocah itu mati di dalam kubah dimensi, kita ratakan Pegunungan Pedang Tunggal dan kita bagi tiga tambang gioknya.”
Di bawah panggung tebing, Song Ming melompat turun dari kursi kusir, lalu membuka pintu kabin kereta dengan kedua tangan membungkuk hormat.
Sesosok pemuda kurus berambut putih melangkah turun menuruni anak tangga kayu kereta.
Gu Ran mengenakan jubah sutra putih longgar dengan kancing dada terbuka santai. Sepasang sandal jerami menempel di kakinya, sementara tangan kanannya mengibaskan kipas bambu murah perlahan-lahan untuk menghalau sisa kabut pagi.
Sorot matanya yang kelabu tampak tenang tanpa gairah hidup, bagai seseorang yang baru saja terbangun dari tidur siang yang panjang.
Seluruh arena mendadak sunyi saat puluhan ribu pasang mata tertuju pada pemuda yang namanya tertulis dengan tinta darah di urutan pertama daftar tantangan.
Gu Ran mengangkat wajahnya, menyipitkan mata malasnya ke arah panggung kehormatan VIP tertinggi tempat Yan Wuji, Nenek Gui Hua, dan Zhao Badao duduk memandangnya dengan tatapan membunuh.
TINGGG!
Denting lonceng sistem yang jernih bergaung di kedalaman benak Gu Ran.
Sebuah antarmuka transparan abu-abu keemasan membentang di depan retina matanya, mengunci koordinat aura ketiga penguasa di atas tebing:
[Pindai Area Selesai. Mendeteksi Tiga Entitas Alam Transformasi Jiwa (Yan Wuji, Gui Hua, Zhao Badao). Niat Membunuh Terhadap Pengguna: Terverifikasi 100%. Tiga Slot Sandera Baru Siap Ditautkan.]
Gu Ran menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.
“Tiga dompet tebal sudah duduk rapi di barisan depan,” gumam Gu Ran santai seraya melangkah menuju tenda peserta. “Mari kita lihat berapa lama mereka sanggup bertahan.”