Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Permainan terus berjalan, hingga akhirnya seseorang berseru, "Sial! Aku kalah!"

Tawa meledak di sekeliling meja, sementara pemenang permainan, Andre, menatap korban mereka dengan penuh kemenangan. "Baiklah, Rastha," katanya dengan nada puas. "Sekarang, lakukan yang kami minta."

Semua menunggu dengan antisipasi. Leandro menyeringai. "Jadi, apa hukumannya kali ini?" tanyanya sambil mengocok gelas minumannya.

Andre mengetuk tumpukan kartu di meja, berpura-pura berpikir sebelum akhirnya berkata, "Rastha, kau harus berjalan di sepanjang kabin dengan hanya mengenakan jaket pria mana pun di sini."

Ledakan tawa kembali pecah. Kiera menepuk meja dengan antusias. "Oh, ini menarik! Aku yakin Rastha tidak akan mundur."

Rastha tersenyum menggoda. "Oh? Itu terlalu mudah." Dengan percaya diri, dia bangkit, melirik ke sekeliling, lalu dengan sengaja mengambil jaket Dreven dan menyampirkannya ke tubuhnya.

"Kau tidak keberatan, kan, Drev?" tanyanya dengan manja, matanya menantang.

Dreven hanya menatapnya datar tanpa ekspresi, sementara yang lain bersorak menikmati pertunjukan kecil itu. Ezra, pria dengan rambut cokelat berantakan, bersiul pelan. "Kalau Dreven tidak keberatan, kenapa kita harus protes?"

Rastha mulai berjalan melewati kabin dengan penuh gaya, membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian.

Leandro tertawa kecil. "Seharusnya kita buat tantangan yang lebih sulit."

"Tunggu permainan selanjutnya," Andre berkata sambil mengocok kartu dengan semangat baru. "Perjalanan masih panjang."

Leandro menyeringai dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Baiklah, permainan berikutnya harus lebih seru."

Kiera menyesap minumannya dan melirik ke arah Rastha yang kembali duduk setelah menyelesaikan hukumannya. "Kali ini aku yang akan menang," katanya penuh percaya diri.

Ezra tertawa kecil. "Kau bilang begitu di tiga ronde sebelumnya, Kiera."

Andre membagikan kartu ke setiap orang. "Oke, kita main Poker Rusia. Siapa yang kalah kali ini harus melakukan satu permintaan dari pemenang, tanpa pengecualian."

Leandro mengangkat alisnya, tertarik. "Tanpa pengecualian? Kau yakin, Drev?"

Andre hanya terkekeh. "Kita lihat saja siapa yang menang dulu."

Suasana di dalam kabin kembali dipenuhi tawa dan percakapan penuh intrik. Dreven tetap diam, hanya sesekali mengamati kartu di tangannya dengan ekspresi sulit ditebak. Sementara itu, permainan pun dimulai, dan ketegangan mulai terasa saat taruhan mereka semakin tinggi.

Kiera meledak dalam tawa kemenangan saat dia membuka kartu terakhirnya. "Royal Flush!" serunya dengan penuh semangat.

Ezra dan Leandro sama-sama mengerang kecewa, sementara Rastha hanya tersenyum geli. Andre menyandarkan tubuhnya dengan ekspresi puas. "Itu artinya pemenangnya adalah Kiera."

Namun, suasana semakin menarik ketika Dreven meletakkan kartunya dengan ekspresi datar. "Full House," katanya singkat.

Semua orang membeku sebelum tawa mereka pecah.

"Astaga! Dreven kalah!" teriak Leandro, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Kiera menyeringai penuh kemenangan. "Baiklah, Drev," katanya sambil melipat tangannya di dada. "Kau harus menuruti satu permintaanku."

Dreven menatapnya dengan tatapan tajam, namun Kiera tidak gentar. "Jadi, apa yang kau inginkan?" tanyanya dengan nada datar.

Kiera berpura-pura berpikir sejenak, lalu tersenyum nakal. "Cium aku," katanya tanpa ragu.

Suasana hening seketika. Semua mata tertuju pada Dreven, menunggu reaksinya. Namun, pria itu hanya mengangkat alis.

"Kau yakin?" tanyanya pelan, nada suaranya berbahaya.

Kiera tetap tersenyum. "Aturan permainan, kan? Tanpa pengecualian."

Leandro bersiul pelan. "Ini mulai menarik."

Dreven yang mendengar itu hanya menatap datar, lalu dia akhirnya sadar jika Elara tak ada di sekitarnya.

"Aku cari Elara dulu," katanya santai.

"Hei, kau tak lari dari permainan bukan?" tanya Andre.

Dreven menoleh sekilas, ekspresinya tetap dingin. "Aku tidak pernah lari dari apa pun."

Leandro terkekeh. "Tapi kau lari dari hukuman."

Dreven tak peduli, "Akan aku lakukan di depan istriku langsung," katanya dengan datar lalu menggerakkan kursi rodanya pergi.

Mereka yang mendengar itu bersorak, menyambut kegilaan Dreven berikutnya.

Dreven tak menghiraukan temannya lagi bahkan saat mereka mulai berteriak kegirangan. Dia langsung pergi ke arah pramugari yang ada di kabin.

"Dimana istriku?"

Pramugari itu sedikit terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari Dreven, tapi segera menguasai dirinya dan menjawab dengan sopan.

"Nyonya sedang beristirahat di ruang pribadi, Tuan."

Dreven mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi, lalu menggerakkan kursi rodanya menuju ruang tersebut. Dia membuka pintu tanpa mengetuk, menemukan Elara yang sedang duduk di sofa dengan mata tertutup, seolah mencoba menikmati ketenangan di tengah hiruk-pikuk pesta di luar.

Tanpa ragu, Dreven masuk dan menutup pintu di belakangnya. "Kau meninggalkan kesenangan di luar," katanya, suaranya tenang tapi mengandung sesuatu yang sulit ditebak.

Elara membuka matanya perlahan, menatap Dreven dengan ekspresi datar. "Karena aku tidak tertarik."

Dreven menggerakkan kursi rodanya mendekat, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. "Sayang sekali. Karena aku baru saja kalah dalam permainan, dan aku harus menjalankan hukumannya."

Elara menaikkan alisnya sedikit, tidak menunjukkan ketertarikan. "Dan apa hubungannya denganku?"

Dreven menyeringai kecil, lalu tanpa peringatan, dia mendekatkan kursi rodanya hingga berada tepat di hadapannya. "Karena hukumannya adalah... mencium istriku di depan semua orang."

Elara menaikkan alisnya, "Jangan bawa-bawa aku dengan permainan tak jelasmu."

Namun Dreven terkekeh, "Ayo keluar," ucapnya sambil meraih tangan wanita itu.

Elara menahan langkahnya, enggan mengikuti pria itu begitu saja. "Aku bilang tidak ya tidak," katanya tegas, matanya menatap tajam Dreven.

Namun, Dreven hanya menghela napas, lalu menatapnya dengan ekspresi santai. "Elara, ini hanya permainan."

Elara menyilangkan tangan di dadanya. "Permainan untukmu, bukan untukku."

Dreven menyeringai kecil, lalu mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa inci. "Kau lebih memilih aku menciummu di sini, tanpa ada yang melihat?" bisiknya dengan nada menggoda.

Elara mendengus, lalu menarik tangannya dari genggaman Dreven. "Aku lebih memilih tidak ada ciuman sama sekali."

"Drev, kau tak kabur dari permainan bukan?" Suara Andre terdengar di depan pintu.

Dreven menoleh ke belakang, "istriku pemalu, kalian saja yang ke sini."

Mendengar hal itu Elara terkejut, apa yang dilakukan pria ini?!

Tak berapa lama ruang privat itu dipenuhi oleh teman-teman Dreven dan ada satu wanita yang berdiri lebih dekat dengan mereka.

"Kau yakin akan melakukannya di depan istrimu?" tanya Kiera pada Dreven.

"Tentu saja, istriku sudah siap. Benarkan, sayang?"

Elara menatap Dreven dengan tajam, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Namun, pria itu hanya tersenyum santai, seolah menikmati permainan yang dia buat sendiri.

"Kau benar-benar menyebalkan," gumam Elara pelan, tapi cukup keras untuk didengar Dreven.

Kiera menyilangkan tangan, menatap keduanya dengan penuh antisipasi. "Ayo, kita tak punya banyak waktu. Buktikan kalau kau memang pria yang menepati janji."

Sorakan kecil terdengar dari Andre, mereka jelas menikmati momen ini.

Dreven tersenyum miring, menatap ke arah Kiera dengan tatapan dalam namun tangannya masih mencengkeram Elara.

Elara yang melihat itu tak mengerti, sebenarnya apa taruhan mereka? Kenapa malah sepertinya Dreven akan mencium wanita itu?

Kiera tersenyum semakin lebar, yakin bahwa Dreven akan menepati hukumannya. Dia sedikit mengangkat dagunya, menunggu ciuman itu datang.

Namun, tepat di detik terakhir—saat jarak di antara mereka tinggal beberapa senti—Dreven dengan cepat meraih pergelangan tangan Elara dan menariknya mendekat.

Elara tersentak, dan sebelum sempat melawan, bibir Dreven sudah menempel di bibirnya.

Sorakan langsung meledak dari teman-temannya. Andre tertawa puas, sementara Kiera yang awalnya penuh percaya diri kini menegang, jelas tak menyangka Dreven akan melakukan hal itu.

Elara membelalakkan mata, berusaha menarik diri, tapi Dreven memperdalam ciumannya, seolah menegaskan sesuatu. Baru setelah beberapa detik, dia akhirnya melepaskannya dengan ekspresi puas.

Elara terengah, menatap Dreven dengan tatapan marah. "Bajingan."

Dreven hanya menyeringai, lalu melirik Kiera dengan santai. "Aku menepati janji, kan? Aku mencium seorang wanita di depan istriku."

Leandro tertawa keras. "Astaga, kau benar-benar licik!"

Kiera mendengus, menyembunyikan kekecewaannya dengan tawa tipis. "Aku harus mengakui, kau tahu cara bermain dengan aturanmu sendiri."

Elara mendengus kesal, lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Dreven hanya mengawasinya dengan senyum miring, matanya berbinar penuh minat.

Andre menepuk pundaknya sambil tertawa. "Kau akan punya malam yang panjang setelah ini."

Dreven hanya tertawa pelan. "Aku menantikannya."

Bersambung

1
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Siapa yang wanita ini maksudkan? Elara?🤔
🦋Little Butterfly🦋
sadis banget...
Arni Arlinawati Pratiwi💃
iya tau kok emak.. dia lagi cemburu, hanya saja dia sendiri pun gak sadar sama perasaan nya, ego nya aja yang di duluin.. kan ngenes, makin mnedihkan aja lu drev! udah lum*** juga!!! coy.. coy.. takut kualat emak, 🗿😭
naws
bodo amat. elara juga cuma manfaatin lu biar lepas dari keluarga palsunya kok /Smug/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
cembukur nih pasti perkara elara sama leo.. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyari penyakit lu drev.. 🗿
Alia Chans
😭😭😭 Elara bisa yok
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Dreven kayaknya udah mulai nyaman dengan Elara, tapi gengsi untuk mengakui🤭
Alia Chans: yakin nyaman doang kk🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
pasti dia tidak Terima saat dia di bilang lemah, egonya pasti sangat tersenggol🤣
Alia Chans: kalo gak ego tinggi gak cowok namanya🤣🤣🤣
total 1 replies
Mingyu gf😘
di keluarga dastan kamu seperti ratu ya
Mingyu gf😘
dihh modus lu😆
Miranda.
kritik sedikit ya thor. mungkin bisa sedikit membantu dan membangun.

karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/
Alia Chans: emang dia beneran lumpuh kk🤭🤭
total 1 replies
Miranda.
cara menasehatinya nusuk banget yaa/Frown/
My_Lucia
Edeh... deh... apa dia penganut sex menyimpang 🤣
Alia Chans: eitss belum pasti ye👑🔥
total 1 replies
My_Lucia
what?? serem amadt🫣
Miranda.
bapak mertua mulai berharap pada elara nih yee🤭🤭
Miranda.
ehm... logikanya ini gimana thor? menggandeng? mungkin lebih tepatnya "meletakkan tangan elara ke dorongan kursi roda untuk membantunya bergegas"/Slight/
Alia Chans: kan tinggi Elara gak setinggi menara Eiffel juga kk😭😭
dimana " cowok kan, you know lah☺
total 1 replies
Miranda.
eughhh alasan yang tidak begitu logis
naws
punya kekurangan gini, sombongnya masih selangit
Alia Chans: 😭😭😭 masa harus merendah mulu, kan gak Dreven dong🤣🤣
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
emang boleh/Slight/
Alia Chans: boleh "🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!