Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Siska lari mendekat dengan wajah pucat pasi, air matanya menetes keras saat melihat darah membasahi lantai dan Nadya yang terbaring lemas.
"Tim medis! Cepat masuk! Bawa Bu Nadya dan Pak Armand ke rumah sakit sekarang!" teriak Siska histeris ke arah pintu luar, memanggil ambulans dan dokter darurat yang memang sudah disiagakan di van komando.
Di tengah kepanikan dan raungan tangis Armand yang mendekapnya erat, Nadya perlahan membuka matanya.
Napasnya tersengal akibat hantaman energi peluru yang menghantam dadanya, namun ia memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya yang pucat.
Dengan sisa tenaganya, Nadya meraba dada bagian dalam mantel hitamnya, menunjukkan lapisan keras di balik bajunya.
"A-aku, tidak apa-apa, Mas..." ucap Nadya lirih, hampir tak terdengar di antara deru hujan di luar.
"Aku, memakai rompi tahan peluru."
Armand tertegun, tangisnya seketika tertahan saat mendengar bisikan istrinya.
Peluru Rian memang menembus mantelnya, namun tertahan penuh oleh rompi pelindung tingkat tinggi yang dikenakannya sebelum masuk.
Rasa sakit luar biasa yang dirasakan Nadya adalah murni akibat benturan keras kinetic impact peluru yang menekan dadanya hingga membuatnya sesak dan lemas.
Nadya menggenggam jemari Armand yang tak patah, menatap suaminya dengan mata berbinar penuh cinta dan kekhawatiran yang mendalam.
"Siska,.cepat bawa suamiku ke rumah sakit." bisik Nadya lagi, sorot matanya tertuju pada jemari tangan kanan Armand yang terkulai parah bersimbah darah.
"Tangan Mas Armand, harus segera ditangani."
"Dek. Astaga, Dek." Armand mengecup kening Nadya berkali-kali dengan linangan air mata syukur yang membuncah.
Duka yang semula mencengkeram dadanya berganti menjadi keharuan luar biasa.
Wanita di pangkuannya ini tidak hanya cerdas dan tangguh, tapi juga telah memperhitungkan segalanya demi menyelamatkan nyawa mereka berdua.
Tim medis berhamburan masuk membawa dua tandu darurat.
Sementara Rian dan Sarah diseret keluar oleh pihak kepolisian dalam kondisi terkunci dan terancam hukuman penjara seumur hidup,
Armand dan Nadya segera dilarikan menuju rumah sakit terbaik di kota untuk mendapatkan perawatan intensif.
Sirene ambulans membelah kegelapan malam, membawa Nadya dan Armand menembus guyuran hujan deras menuju Rumah Sakit Harapan Utama.
Pintu ruang gawat darurat (IGD) terbuka lebar saat tim medis yang dipimpin oleh dokter Hendra, seorang dokter spesialis bedah ortopedi senior, sudah siap siaga menanti kedatangan mereka.
Para perawat dengan sigap memindahkan Nadya dan Armand ke ranjang penanganan yang berbeda namun berdampingan di dalam ruangan bertirai steril.
Dengan ketelitian tinggi, perawat memotong lapisan mantel hitam Nadya dan perlahan melepas rompi anti-peluru berlapis kevlar tebal yang telah menyelamatkan nyawanya.
Meski peluru Rian tidak menembus kulit, hantaman energi kinetik yang sangat kuat meninggalkan memar kebiruan yang lumayan luas di area tulang dada (sternum) Nadya yang menyebabkan trauma tumpul dan rasa nyeri hebat yang membuatnya kesulitan bernapas lega.
Perawat segera memasangkan tabung oksigen, memasang infus, dan melakukan pemindaian sinar-X untuk memastikan tidak ada retakan pada tulang rusuknya.
Sementara itu, perhatian utama dr. Hendra tertuju pada Armand.
Kondisi fisik perancang busana muda itu sangat memprihatinkan.
Selain luka memar di wajah dan luka robek di sudut bibir, tangan kanan Armand—aset berharganya dalam merancang dan menjahit—terkulai lemas dengan pembengkakan hebat dan darah yang mengering di balik balutan darurat.
Setelah pemeriksaan awal dan hasil foto rontgen darurat selesai dicetak, dokter Hendra melangkah menuju ranjang Nadya.
Nadya, meski dadanya masih terasa nyeri dan dipasangi selang oksigen, memaksakan diri untuk duduk tegak.
Sorot matanya dipenuhi kecemasan yang mendalam, sama sekali tidak memikirkan rasa sakit pada tubuhnya sendiri.
"Dokter, bagaimana kondisi tangan suami saya?" tanya Nadya dengan suara serak, matanya berkaca-kaca menatap dokter Hendra.
Dokter Hendra menarik napas panjang, memasang raut wajah serius namun tetap tenang untuk menjaga kondusivitas suasana.
"Ibu Nadya, saya akan menjelaskan kondisi Pak Armand secara mendetail," ujar dokter Hendra seraya memperlihatkan lembaran foto rontgen di atas papan penerang.
"Hantaman benda tumpul pada tangan kanan Pak Armand menyebabkan fraktur komunitif yang cukup kompleks pada tulang falangs dan metakarpal—artinya, beberapa tulang di jemari dan telapak tangan kanannya tidak hanya patah, tetapi juga retak menjadi beberapa fragmen kecil. Selain itu, yang paling mengkhawatirkan kami adalah adanya benturan hebat yang merusak sebagian jaringan lunak, ligamen, serta saraf perifer yang mengatur sensasi perabaan dan mobilitas halus pada jarinya."
Dokter Hendra melanjutkan penjelasannya dengan nada hati-hati.
"Tangan kanan beliau mengalami trauma berat. Jika tidak ditangani dengan operasi rekonstruksi mikro-bedah (microsurgery) tingkat tinggi secara secepatnya, ada risiko penurunan fungsi motorik halus yang signifikan. Artinya, fleksibilitas jemari beliau untuk menggenggam pensil pola, menggunting kain dengan presisi, atau mengendalikan mesin jahit bisa terganggu permanen."
Mendengar penjelasan panjang lebar dari dokter, dada Nadya serasa dihantam gelombang kesedihan yang tak tertahankan.
Ia tahu betapa Armand mencintai dunianya, betapa jemari itu adalah jiwa dari setiap karya indahnya.
Kehilangan fungsi tangan kanan sama saja dengan mencabut impian terbesarnya.
Nadya memegang erat lengan baju dr. Hendra. Air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya yang pucat.
"Dokter, saya mohon." potong Nadya dengan suara gemetar penuh ketegasan yang mendalam.
"Lakukan apa saja! Gunakan metode medis terbaik, panggil tim dokter spesialis terbaik di negara ini atau bahkan dari luar negeri jika diperlukan. Jangan khawatirkan soal biaya sedikit pun. Saya ingin tangan suami saya sembuh total dan bisa berkarya lagi seperti semula. Lakukan apa saja untuk penyembuhan tangan suaminya!"
Dokter Hendra tersentuh melihat ketulusan dan keteguhan cinta Nadya. Ia mengangguk mantap.
"Baik, Bu Nadya. Kami akan segera menyiapkan ruang operasi steril dan mengerahkan tim dokter bedah rekonstruksi terbaik. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan dan mengembalikan fungsi tangan Pak Armand."
Dari ranjang sebelah, Armand yang masih dalam pengaruh rasa sakit luar biasa menatap istrinya dengan tatapan haru yang tak terhingga.
Di tengah erangan sakitnya, Armand tahu bahwa tidak ada benteng yang lebih kokoh di dunia ini selain kasih sayang dan perjuangan Nadya untuk dirinya.
Nadya melepas selang oksigennya perlahan dan memaksakan diri turun dari ranjang.
Rasa nyeri di dadanya akibat hantaman peluru masih terasa menyengat, namun kakinya melangkah mantap mendekati brankar Armand.
Ia menggenggam erat tangan kiri suaminya—tangan yang tidak terluka—lalu mengecup punggung tangan itu dengan penuh kehangatan.
Armand mendongak lemas. Manik matanya yang redup menatap wajah cantik istrinya yang bersimbah air mata.
"Dek," bisik Armand parau, suaranya bergetar menahan cemas dan rasa sakit yang membakar tangan kanannya.
"Mas, jangan takut. Aku di sini," bisik Nadya lembut namun sarat akan keteguhan.
Ia mengusap pelipis Armand, menyalurkan seluruh kekuatan dan keyakinan yang ia miliki.
"Mas pasti sembuh. Tangan Mas akan kembali merancang karya-karya hebat. Aku akan menunggu Mas di luar sampai operasi ini selesai."
Armand meresapi setiap detik kehangatan dari sentuhan Nadya.
Rasa takut akan kehilangan masa depannya sebagai perancang busana perlahan terkikis, berganti dengan kedamaian yang melingkupi dadanya.
Ia tahu, selama Nadya berdiri di sampingnya, tidak ada badai yang tidak bisa mereka lewati bersama.
Armand menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis yang tulus.
"Terima kasih, Sayang."
Pintu ruang tindakan terbuka. Dua orang perawat berseragam hijau sigap mengambil alih kemudi brankar.
"Ibu Nadya, mohon menunggu di ruang perawatan. Kami akan memulai proses operasinya sekarang," ujar salah satu perawat dengan ramah namun sigap.
Nadya melepaskan genggaman tangannya perlahan saat perawat mulai mendorong brankar Armand menuju lorong steril berlampu terang.
Sorot mata Nadya tak pernah lepas mengiringi langkah suaminya hingga pintu ganda berlabel
Ruang Operasi itu tertutup rapat, menyisakan lampu merah di atas pintu yang menyala tanda tindakan medis dimulai.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,