Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 TES KEDUA

Nama Revan Daneswara tercetak jelas pada catatan pembayaran jasa hukum yang diajukan sehari sebelum permohonan kematian Kaluna diproses. Kaluna membacanya sekali lagi.

“Siapa dia?” tanyanya.

Naren masih berdiri di belakang kursi. “Asisten Bramasta.”

Staf keuangan yang membantu membuka data segera menundukkan wajah. Tangannya bergerak hendak menutup halaman di layar, tetapi Salindri menahannya.

“Jangan diubah dulu,” katanya. “Saya perlu salinan tampilan ini.”

“Saya tidak punya kewenangan memberikan salinan.”

“Kalau begitu, kami akan mencatat nomor transaksi, tanggal, kode unit, dan nama pengaju.”

Staf itu melirik pintu ruangan. “Saya hanya menjalankan permintaan akses yang sudah disetujui.”

“Kami tidak menuduh Anda melakukan apa pun.”

Nada Salindri tetap tenang. Staf itu justru semakin tidak nyaman. Nama Revan membuat Kaluna mengingat lelaki yang beberapa kali datang ke perusahaan bersama Bramasta. Revan jarang berbicara dan hampir selalu membawa map atau tablet. Kaluna tidak pernah memiliki urusan langsung dengannya.

“Apakah ini membuktikan Revan yang meminta aku dinyatakan meninggal?” tanya Kaluna setelah mereka keluar dari bagian keuangan.

“Belum,” jawab Salindri. “Namanya hanya tercatat sebagai orang yang memasukkan permintaan pembayaran.”

“Dia bekerja untuk Bramasta.”

“Itu juga belum cukup untuk menuduh Bramasta.”

Kaluna berhenti di lorong. “Kalau ada bukti pun, kamu selalu bilang belum cukup.”

“Saya cuma tidak mau kamu langsung menyimpulkan macam-macam.”

Naren memasukkan catatannya ke dalam saku. “Revan bisa saja hanya menjalankan perintah.”

“Perintah siapa?”

“Itu yang harus kita cari.”

Kaluna menoleh ke arah ruangan keuangan. Ia ingin mendatangi kantor Bramasta dan menanyakan langsung hubungan Revan dengan surat kematiannya. Kaluna yakin jawabannya akan sama seperti sebelumnya. Tenang, masuk akal, tetapi tetap tidak membuktikan apa pun.

Salindri memeriksa waktu di teleponnya. “Besok kita punya tes DNA kedua. Jangan mengubah fokus.”

“Seseorang mengambil sampel pertamaku.”

“Makanya tes kedua ini lebih penting. Setelah identitasmu terbukti, kita bisa bergerak lebih jauh.”

Kaluna masih sulit menerima kenyataan bahwa ia harus membuktikan siapa dirinya. Meski begitu, ia tahu Salindri benar. Nama Revan disimpan sebagai petunjuk. Untuk sementara, hanya itu yang mereka punya.

Keesokan harinya, pengambilan sampel dilakukan di sebuah laboratorium genetika lain. Tempatnya lebih kecil daripada laboratorium sebelumnya, tetapi pengamanannya jauh lebih ketat. Salindri meminta dua sampel dari Kaluna dan dua dari Elara. Masing-masing dimasukkan ke wadah berbeda. Satu akan diperiksa di laboratorium tersebut, sedangkan satu lagi dikirim ke laboratorium pembanding.

Seluruh proses direkam. Nomor segel dicatat oleh kedua pengacara. Sampel belum dibawa ke ruang penyimpanan sebelum semua pihak memastikan kode pada wadah sudah sesuai.

Kaluna tiba lebih awal bersama Naren dan Salindri.

“Setelah hasil keluar, apakah status kematianku langsung dibatalkan?” tanya Kaluna.

“Belum,” jawab Salindri. “Tes ini hanya membuktikan hubungan biologismu dengan Elara. Untuk memulihkan identitas hukum, kita tetap harus mengajukan permohonan.”

“Berapa lama?”

“Lebih cepat kalau tidak ada yang menolak.”

“Dan kalau ada yang menolak?”

Salindri merapikan berkas di tangannya. “Kita hadapi.”

Jawaban itu tidak memberikan kepastian, tetapi Kaluna sudah mulai terbiasa.

Pintu ruang tunggu terbuka. Arsen masuk lebih dahulu. Veyra berjalan di belakangnya sambil menggandeng Elara. Anak itu mengenakan celana panjang dan baju bergambar kelinci. Rambutnya dikepang satu, tidak seperti kemarin ketika dikuncir dua.

Pita kecil di ujung kepangnya mengingatkan Kaluna pada masa lalu. Dahulu ia sering menggunakan pita dengan bentuk serupa pada rambut Elara.

Elara memperhatikan Kaluna sebentar, lalu berbisik kepada Veyra.

“Kita ambil yang pakai kapas lagi?”

“Iya,” jawab Veyra. “Tidak sakit.”

“Terus kenapa harus dua kali?”

Veyra diam sebentar sebelum menjawab.

Kaluna berdiri dari kursinya. “Karena punyaku hilang kemarin.”

Elara mengangkat wajah. “Jadi kamu yang bikin hilang?”

Ucapan itu membuat Naren menahan senyum, sementara Salindri tetap sibuk membaca berkas.

Kaluna mengangguk. “Benar. Kali ini aku akan melihat sampai tempatnya ditutup.”

“Jangan sampai hilang lagi.”

“Tidak akan.”

Elara tidak bertanya lagi setelah mendengar jawaban itu. Arsen menghampiri Salindri dan menyerahkan beberapa dokumen dari pengacaranya. Ia tidak banyak bicara. Sejak tiba, pandangannya beberapa kali jatuh kepada Kaluna, lalu segera berpindah.

Veyra duduk di kursi dekat pintu. Elara duduk di sampingnya. Kaluna memilih tidak mendekat terlalu jauh. Ia tidak ingin setiap pertemuan dengan Elara terasa seperti usaha merebut anak itu dari sisi Veyra.

Beberapa menit kemudian, Elara mulai bosan. Kakinya diayun pelan dan tangannya memainkan ujung tali tas kecil.

“Berapa lama lagi?” tanyanya.

“Sebentar,” jawab Veyra.

“Kemarin juga bilang sebentar.”

“Karena memang sebentar.”

“Sebentarnya orang dewasa itu lama.”

Naren menoleh ke arah jendela untuk menyembunyikan senyum.

Kaluna duduk di kursi seberang Elara. “Kamu membawa apa di dalam tas?”

Elara langsung memegang tasnya. “Rahasia.”

“Oh.”

“Kamu tidak boleh lihat.”

“Aku tidak minta melihat.”

Elara tampak bingung karena Kaluna tidak terus bertanya. Beberapa saat kemudian, anak itu membuka tasnya sendiri dan mengeluarkan boneka kelinci kecil. Telinga sebelah kanannya terlipat, sedangkan bagian lehernya dihiasi pita kuning.

Kaluna menahan napas.

Itu bukan boneka yang sama seperti tiga tahun lalu. Boneka lama Elara berwarna putih dan ukurannya lebih besar. Tetapi Elara masih menyukai kelinci.

“Namanya Momo,” kata Elara.

“Nama yang bagus.”

“Mama Veyra yang belikan.”

Kaluna mengangguk. “Kamu merawatnya dengan baik.”

Elara memeriksa telinga boneka tersebut. “Telinganya rusak karena masuk mesin cuci.”

“Jadi dia ikut mandi?”

Elara tersenyum kecil. “Boneka tidak bisa mandi sendiri.”

“Berarti dia beruntung bisa keluar.”

Veyra memandang Kaluna. Tidak ada senyum di wajahnya, tetapi juga tidak ada penolakan.

Kaluna tidak meneruskan percakapan. Senyum kecil itu sudah cukup.

Nama mereka kemudian dipanggil.

Pengambilan sampel dilakukan di ruangan yang cukup luas agar seluruh pihak bisa menyaksikan. Petugas menjelaskan prosedur, lalu meminta Elara duduk terlebih dahulu.

“Aku dulu?” Elara terdengar tidak senang.

“Biar cepat selesai,” kata Veyra.

Elara naik ke kursi. Petugas membuka alat usap baru dan menunjukkan bahwa kemasannya masih tertutup. Ketika alat itu mendekati mulutnya, Elara memalingkan wajah.

“Aku tidak suka.”

“Tidak sakit,” ujar Arsen.

“Papa tidak duduk di sini.”

Kaluna mengangkat kepala ke arah lampu-lampu kecil di langit-langit.

“Elara,” panggilnya.

Anak itu menoleh.

“Bisa bantu aku menghitung lampu?”

Elara ikut melihat ke atas. “Kenapa?”

“Aku tidak yakin jumlahnya.”

“Ada enam.”

“Kamu belum menghitung.”

Elara mulai menunjuk satu per satu. “Satu, dua, tiga, empat...”

Petugas memasukkan alat usap ke bagian dalam pipinya. Elara tetap menghitung sampai enam.

“Sudah,” kata petugas.

Elara menutup mulutnya, lalu memandang Kaluna. “Aku benar.”

“Iya. Ada enam.”

“Kamu tidak bisa hitung?”

“Ya, aku mau memastikan saja.”

Elara turun dari kursi sambil membawa Momo.

Veyra mengusap kepalanya. “Pintar.”

Kaluna mendapat giliran berikutnya. Dua sampel diambil dan langsung dimasukkan ke tabung yang sudah diberi nomor. Setelah semua selesai, tabung diletakkan di meja. Salindri memeriksa label. Pengacara Arsen juga mencatat nomor segel.

Satu set sampel dimasukkan ke wadah logam milik laboratorium. Set lainnya dimasukkan ke kotak pengiriman yang akan dibawa oleh kurir khusus.

Kali ini, Kaluna melihat sendiri kedua wadah ditutup.

“Sekarang tidak hilang?” tanya Elara.

Petugas laboratorium tersenyum. “Tidak. Semuanya sudah dikunci.”

Elara memandang Kaluna seolah meminta kepastian.

Kaluna mengangguk. “Sudah aman.”

Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, Elara kembali duduk di samping Veyra. Kali ini ia tidak terus menghindari Kaluna.

“Kamu dulu juga hitung lampu sama aku?” tanyanya tiba-tiba.

Kaluna diam beberapa detik.

“Iya.”

“Kapan?”

“Waktu kamu masih kecil dan harus disuntik.”

“Aku tidak ingat.”

“Tidak apa-apa.”

“Terus aku menangis?”

“Sedikit.”

Elara mengerutkan hidung. “Aku tidak cengeng.”

“Kamu bukan cengeng. Kamu cuma tidak suka jarum.”

Elara menoleh kepada Veyra. “Mama juga tahu aku tidak suka jarum.”

Veyra mengangguk. “Karena kamu selalu menutup mata kalau lihat dokter.”

Kaluna tersenyum tipis. “Berarti kamu masih sama soal itu.”

Elara tidak membalas senyumnya. Setidaknya, kali ini ia tidak menjauh.

Arsen berdiri dari kursi. “Kapan hasilnya keluar?”

“Laporan akhir paling cepat dua hari,” jawab petugas laboratorium. “Hasil pemeriksaan awal bisa diketahui besok pagi.”

“Hubungi kedua pengacara,” kata Salindri.

Petugas mengangguk.

Mereka meninggalkan laboratorium secara terpisah. Arsen, Veyra, dan Elara pergi lebih dahulu. Sebelum masuk mobil, Elara melambaikan tangan kecil kepada petugas yang tadi mengambil sampelnya. Elara sempat memandang Kaluna.

Anak itu tidak melambaikan tangan kepadanya. Walau begitu, Elara juga tidak langsung masuk ke mobil.

“Kamu besok datang lagi?” tanyanya.

Kaluna mendekat satu langkah, tetapi tetap menjaga jarak. “Kalau diperlukan.”

“Untuk lihat hasil?”

“Iya.”

Elara mengangguk, kemudian masuk ke mobil bersama Veyra.

Kaluna memperhatikan mobil itu sampai meninggalkan halaman.

“Perkembangan kecil,” kata Naren dari belakangnya.

“Apa?”

“Dia bertanya apakah kau akan datang lagi.”

Kaluna memasukkan tangannya ke saku. “Mungkin dia cuma ingin tahu.”

“Ya, setidaknya sekarang dia tahu kamu bakal datang kalau ada hasil.”

Kaluna tidak menanggapi. Ia tidak ingin berharap terlalu cepat.

Pagi berikutnya, Kaluna sedang berada di kamar hotel ketika Salindri menelepon. Ia baru selesai mandi dan belum sempat menyentuh sarapan yang dikirim ke kamar.

“Ada hasil awal,” kata Salindri.

Kaluna langsung duduk di tepi tempat tidur. “Bagaimana?”

“Laboratorium sudah memeriksa beberapa penanda utama. Laporan lengkap belum selesai.”

“Salindri.”

Perempuan itu terdiam sebentar. “Hasil awal menunjukkan kecocokan biologis sangat tinggi.”

Jemari Kaluna mencengkeram telepon.

“Seberapa tinggi?”

“Lebih dari sembilan puluh sembilan persen berdasarkan penanda yang sudah diperiksa.”

Kaluna menutup mata.

Ia tidak pernah meragukan bahwa Elara adalah anaknya. Ia tidak membutuhkan hasil pemeriksaan untuk meyakini hal itu. Bagi dunia yang sudah menganggapnya mati, hasil pemeriksaan, kertas, dan segel masih lebih penting daripada ingatannya sendiri.

“Apakah Arsen sudah tahu?”

“Pengacaranya menerima pemberitahuan yang sama.”

Kaluna membuka mata.

Hampir pada saat yang sama, teleponnya menerima pesan dari nomor yang belum disimpan. Isinya hanya foto layar hasil pemeriksaan awal.

Di bawah tabel penanda genetik terdapat satu kalimat:

Kaluna Adiswara tidak dapat dikecualikan sebagai ibu biologis Elara Mahardika.

Lalu pesan kedua masuk.

Pengirimnya Arsen.

Besok datanglah ke rumah. Elara harus mengetahui siapa dirimu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!