Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumuman yang mengejutkan
Beberapa minggu setelah rangkaian tekanan yang mulai menghantui hubungan Gilang dan Nindi, Om Hensa memutuskan bahwa sudah waktunya untuk mempercepat rencana besarnya secara lebih formal. Dia mengatur sebuah pertemuan keluarga yang lebih resmi, mengundang seluruh anggota keluarga inti Prameswari beserta keluarga Wicaksana, dengan agenda yang disamarkan sebagai perayaan ulang tahun pernikahan bisnis kedua keluarga tersebut.
"Broto, aku rasa sudah waktunya kita umumkan rencana pertunangan Nindi dan Rafael secara resmi. Ini akan memperkuat posisi bisnis kita menjelang merger besar tahun depan," ujar Om Hensa kepada Broto beberapa hari sebelum acara tersebut, menyampaikan usulan yang terdengar begitu masuk akal dari sudut pandang bisnis semata.
Broto, yang selama ini terlalu percaya pada penilaian adik iparnya tersebut, menyetujui usulan itu tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu perasaan putrinya sendiri. "Baiklah, kalau menurutmu itu yang terbaik untuk bisnis keluarga, aku setuju."
Ketika Nindi menerima undangan resmi mengenai acara tersebut, yang ternyata bertujuan untuk mengumumkan pertunangannya dengan Rafael, dia merasa dunia seakan runtuh di hadapannya. Dia segera menghubungi ayahnya untuk mengklarifikasi kebenaran kabar yang begitu mengejutkan tersebut.
"Pa, ini benar acara buat umumin pertunangan aku sama Rafael? Kenapa aku nggak pernah diajak diskusi soal ini?" tanya Nindi dengan nada yang menunjukkan kemarahan dan kekecewaan yang mendalam.
"Nindi, ini demi kebaikan bisnis keluarga kita. Rafael itu pilihan yang tepat, dan Om Hensa sudah memikirkan semuanya dengan matang," jawab Broto dengan nada yang lebih menekankan kepentingan bisnis dibandingkan perasaan putrinya sendiri, sebuah sikap yang semakin menunjukkan betapa jauhnya hubungan mereka sebagai ayah dan anak selama bertahun-tahun terakhir ini.
"Tapi Pa, aku nggak pernah bilang setuju sama pernikahan ini! Ini hidup aku, kenapa aku nggak pernah dikasih kesempatan buat milih sendiri?" protes Nindi dengan suara yang mulai meninggi, mengungkapkan kemarahan yang selama ini terpendam akibat berbagai keputusan besar dalam hidupnya yang selalu diambil tanpa melibatkan pendapatnya sendiri.
Broto terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan reaksi keras putrinya tersebut, namun tetap bersikukuh pada keputusan yang telah dia sepakati dengan Om Hensa. "Nindi, Papa tahu ini berat, tapi kamu harus mengerti, keluarga kita punya tanggung jawab besar. Acara itu akan tetap berlangsung sesuai rencana."
Percakapan tersebut berakhir dengan Nindi yang menangis dalam kamarnya, merasa begitu tidak berdaya menghadapi keputusan yang telah diambil tanpa melibatkan dirinya sama sekali. Dia segera menghubungi Karin, mencari dukungan dari satu-satunya orang yang selama ini benar-benar memahami perasaannya.
"Rin, Papa udah putusin buat umumin pertunangan aku sama Rafael minggu depan. Aku nggak tau harus gimana," ujar Nindi dengan suara yang bergetar menahan tangis, menceritakan kejadian mengejutkan yang baru saja dia alami tersebut.
"Astaga, Nin. Ini serius banget. Kamu udah cerita ke Gilang belum?" tanya Karin dengan nada khawatir, menyadari betapa rumitnya situasi yang harus dihadapi sahabatnya tersebut.
"Belum, Rin. Aku takut banget gimana reaksinya nanti," jawab Nindi, merasa semakin tertekan memikirkan bagaimana harus menyampaikan kabar tersebut kepada Gilang, seseorang yang telah memberikan begitu banyak kehangatan dan ketulusan dalam hidupnya belakangan ini.
"Kamu harus tetep tegas, Nin. Ini hidup kamu, bukan hidup Om Hensa atau Papa kamu. Kamu berhak nentuin sendiri sama siapa kamu mau ngabisin hidup," ujar Karin dengan penuh semangat, mencoba menguatkan sahabatnya yang sedang berada dalam titik terendah tersebut.
Malam itu, dengan hati yang berat, Nindi akhirnya memutuskan untuk menghubungi Gilang, menyadari bahwa dia tidak bisa terus menyembunyikan kenyataan pahit tersebut dari seseorang yang telah menjadi begitu penting dalam hidupnya. Jari-jarinya gemetar mengetik pesan tersebut, berkali-kali dihapus dan ditulis ulang sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengirimkannya.
"Mas Gilang, aku perlu ngomong sesuatu yang penting. Bisa telepon sekarang?" tulis Nindi, tidak sanggup menyampaikan kabar seberat itu hanya melalui pesan teks.
Beberapa menit kemudian, telepon Nindi berdering, menampilkan nama Gilang di layarnya. Dengan suara yang bergetar, Nindi mulai menceritakan seluruh kejadian yang baru saja menimpa hidupnya, sebuah percakapan yang akan menjadi awal dari serangkaian konflik besar yang akan menguji seberapa kuat perasaan yang telah mereka bangun bersama selama berbulan-bulan terakhir, sebuah ujian yang akan memaksa keduanya untuk memutuskan seberapa jauh mereka bersedia berjuang demi mempertahankan cinta yang tulus di tengah berbagai kepentingan licik yang mengelilingi kehidupan mereka.
"Mbak Nindi, tenang dulu. Coba ceritain pelan-pelan, ada apa sebenarnya?" ujar Gilang dengan suara setenang mungkin, meski jantungnya sendiri mulai berdebar mendengar nada bicara Nindi yang begitu panik dan sedih.
Nindi menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali kata-katanya yang sempat berantakan akibat tangisan. "Papa mau umumin pertunangan aku sama Rafael minggu depan, Mas. Semuanya udah diatur tanpa nanya pendapat aku sama sekali."
Mendengar kabar tersebut, Gilang terdiam sejenak, merasakan campuran antara kemarahan dan keputusasaan yang begitu mendalam. Dia menyadari, hubungan yang telah mereka bangun dengan begitu hati-hati selama berbulan-bulan terakhir kini menghadapi ancaman nyata yang jauh lebih besar dari sekadar gosip atau tawaran kerja mencurigakan biasa.
"Mbak Nindi, apa yang sebenernya Mbak Nindi mau? Bukan apa yang keluarga Mbak Nindi mau," tanya Gilang dengan suara yang penuh ketulusan, memberikan pertanyaan yang selama ini jarang sekali diajukan kepada Nindi oleh siapa pun di sekitarnya.
Pertanyaan sederhana tersebut membuat Nindi terdiam, menyadari bahwa untuk pertama kalinya, ada seseorang yang benar-benar peduli dengan apa yang dia inginkan, bukan sekadar apa yang menguntungkan bagi kepentingan orang lain. "Aku mau sama kamu, Mas. Cuma itu yang aku mau."