Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu yang Tertinggal dan Pengakuan Sang Es
Keheningan membentang panjang di lorong penthouse tersebut, terasa jauh lebih pekat dan mencekik daripada malam-malam sebelumnya. Reina menatap manik mata kelam Jino, mencari secercah bantahan atau penjelasan dari pria itu. Namun, yang ia dapati hanyalah kebisuan. Mulut pria yang biasanya begitu pandai merangkai kalimat sindiran tajam itu seolah terkunci rapat.
Bagi Reina, kebisuan itu adalah vonis paling kejam.
Gadis itu tersenyum getir. Setitik air mata pengkhianatan lolos begitu saja dari sudut matanya, meluncur turun membasahi pipinya yang mendadak terasa kebas.
"Tentu saja," bisik Reina dengan suara parau, mengangguk pelan seolah sedang mengejek kebodohannya sendiri. "Kenapa aku bisa lupa? Sejak awal, pernikahan ini hanyalah transaksi bisnis dan bentuk kepatuhan pada orang tua. Wajar jika Tuan Muda Jino West sudah memiliki tambatan hati lain di luar sana. Kehadiranku di sini... mungkin hanya sebatas pion catur untuk mengelabui publik."
"Reina, cukup. Pikiranmu sudah melantur terlalu jauh!" potong Jino cepat. Suaranya terdengar sedikit meninggi, menyiratkan kepanikan yang berusaha ia tutupi. Pria itu melangkah maju, mengulurkan tangannya untuk meraih lengan gadis itu. "Ini sama sekali tidak seperti yang kaupikirkan."
Namun, Reina dengan sigap menepis tangan itu sebelum jemari Jino berhasil menyentuh kulitnya. Tatapan gadis itu berubah menjadi sedingin es, membangun kembali benteng pertahanan raksasa yang sempat runtuh pagi tadi.
"Jangan sentuh aku," desis Reina tajam, meski suaranya bergetar hebat menahan isak tangis. "Simpan saja penjelasanmu untuk wanita bernama Elena itu. Aku tidak peduli, dan aku tidak berhak peduli!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun lagi, Reina memutar tubuhnya dan berlari kencang menyusuri lorong menuju kamarnya. Bunyi bantingan pintu yang sangat keras menggema ke seluruh penjuru penthouse, disusul oleh suara putaran kunci dari dalam. Klik.
Di depan pintu ruang kerjanya, Jino mematung. Pria itu mengacak rambut rapinya dengan kasar, mengumpat tertahan dalam bahasa asing. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena tidak segera menjelaskan situasi sebelum pikiran liar Reina mengambil alih. Selama dua puluh enam tahun hidupnya, Jino selalu memegang kendali atas segala situasi. Namun malam ini, melihat air mata yang jatuh dari pelupuk mata gadis itu, Jino merasa dunia sempurnanya baru saja runtuh.
Di dalam kamar, Reina melorot jatuh bersandar di balik pintu yang dingin. Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, menenggelamkan wajahnya di antara lipatan lengannya. Isak tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga.
Bodoh! Bodohnya kau, Reina Lunox! maki Reina pada dirinya sendiri di sela-sela tangisnya. Hanya karena dia merawatmu semalaman saat demam, kau langsung berpikir dia punya perasaan tulus padamu? Pria arogan itu tidak punya hati! Dia hanya sedang mempermainkanmu!
Rasa sakit yang meremas dadanya terasa jauh lebih menyiksa daripada demam tinggi yang menderanya dua hari lalu. Reina membenci kenyataan bahwa ia mulai berharap lebih pada perjodohan konyol ini. Ia benci karena hatinya sudah terlanjur jatuh pada pria es batu yang menyebalkan itu.
Sepuluh menit berlalu, ketukan pelan namun tegas terdengar dari luar pintu kamar Reina.
"Reina, buka pintunya," suara bariton Jino terdengar sedikit teredam dari balik kayu tebal. Tidak ada nada perintah absolut layaknya seorang CEO di sana; yang terdengar hanyalah permohonan tertahan. "Kita perlu bicara. Aku tidak akan pergi dari depan pintu ini sebelum kau membukanya."
Reina menggigit bibir bawahnya, menolak menjawab.
"Kucing liar," panggil Jino lagi, kali ini suaranya merendah, nyaris terdengar seperti bisikan frustrasi. "Kumohon... berikan aku waktu lima menit. Hanya lima menit untuk menjelaskan semuanya padamu. Setelah itu, jika kau masih ingin mengusirku, aku akan membiarkanmu sendiri."
Reina menghapus air matanya dengan punggung tangan secara kasar. Ia bimbang. Logikanya menyuruhnya untuk mengabaikan pria itu, namun hatinya yang rapuh masih mendambakan sebuah pembenaran bahwa tebakannya salah.
Dengan napas yang masih tersengal, Reina perlahan bangkit berdiri. Tangannya yang gemetar meraih gagang pintu dan memutar kuncinya. Klik.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Jino West yang berdiri di ambang pintu. Penampilan pria itu berantakan; jasnya sudah entah ke mana, dasinya dilonggarkan secara acak, dan beberapa kancing atas kemejanya terbuka. Wajah tampannya menampakkan raut kelelahan dan kecemasan yang belum pernah Reina lihat sebelumnya.
Jino melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu di belakangnya dengan pelan, mengunci mereka berdua dari dunia luar. Manik mata kelam Jino menatap wajah Reina yang sembap dan hidung yang memerah akibat menangis. Pemandangan itu seolah menorehkan luka kasatmata di dada sang Tuan Muda.
"Elena Vance," Jino membuka suara lebih dulu, memecah keheningan yang mencekik. Ia tidak berani mendekat, membiarkan jarak satu meter tetap membentang di antara mereka demi memberikan ruang bagi Reina. "Dia adalah putri dari mantan mitra bisnis keluargaku saat aku masih mengurus cabang perusahaan di Amerika empat tahun lalu."
Reina hanya diam, menatap Jino dengan kewaspadaan penuh.
"Kami sempat bertunangan selama enam bulan," lanjut Jino jujur, meski kata-kata itu meluncur dengan berat dari bibirnya. "Itu murni kesepakatan bisnis antara dua keluarga, sama persis seperti awal mula perjodohan kita. Namun bedanya... Elena adalah wanita yang terlalu ambisius. Di belakangku, dia menjual data rahasia perusahaan West kepada pihak kompetitor demi melipatgandakan aset pribadi keluarganya."
Mata Reina sedikit melebar mendengar fakta tersebut. Kemarahan di dadanya perlahan memudar, berganti dengan rasa terkejut yang tertahan.
"Aku membatalkan pertunangan itu secara sepihak dan memutus seluruh kontrak kerja sama dengan keluarga Vance. Itu adalah skandal besar di lingkaran bisnis sana," desah Jino lelah. "Sejak saat itu, aku menutup diri dari yang namanya pernikahan atau komitmen. Aku menganggap semua wanita yang disodorkan padaku hanya memiliki satu tujuan: kekuasaan."
Jino akhirnya melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka. Kali ini, Reina tidak mundur. Gadis itu mendongak, terpaku pada sorot mata kelam Jino yang kini memancarkan kerentanan luar biasa.
"Lalu... kenapa dia meneleponmu tadi?" cicit Reina pelan, suaranya masih serak.
"Berita tentang pertunangan kita diumumkan secara publik ke berbagai relasi bisnis internasional, termasuk Amerika. Elena mendengar kabar itu. Dia menelepon untuk merusak rencanaku, mengatakan bahwa aku mengambil langkah bodoh dengan menikahi 'gadis desa' yang tidak mengerti apa-apa soal bisnis." Jino tersenyum miris, mengulurkan kedua tangannya untuk menangkup lembut wajah Reina. Jemari besarnya mengusap sisa air mata di pipi gadis itu. "Dia tidak tahu, bahwa 'gadis desa' inilah yang justru membuatku kembali merasa hidup."
Reina menelan ludahnya susah payah. Hatinya kembali bergemuruh, namun kali ini bukan karena amarah.
"Kenapa kau tidak langsung memberitahuku?" tuntut Reina dengan bibir sedikit bergetar. "Kenapa kau diam saja saat aku bertanya di depan ruang kerja tadi?"
"Karena aku takut," jawab Jino tanpa ragu, meruntuhkan seluruh ego dan arogansi yang selama ini menjadi tamengnya. Jarak wajah mereka kini begitu dekat hingga dahi mereka nyaris bersentuhan. "Aku takut jika aku menyebut nama masa laluku, kau akan berpikir aku belum selesai dengan hidup lamaku. Aku takut kau akan menggunakan alasan itu untuk lari dariku... tepat di saat aku baru saja menyadari bahwa aku tidak bisa lagi bernapas dengan benar tanpa keberadaanmu di sekitarku."
Kalimat itu meluncur begitu saja, menjadi pengakuan paling jujur dan paling telanjang dari seorang Jino West. Tuan Muda Angkuh itu akhirnya bertekuk lutut di hadapan perasaannya sendiri.
Reina mematung. Jantungnya berdetak gila-gilaan, seolah siap melompat keluar dari rongga dadanya. "Jino..."
"Jangan pernah berpikir bahwa kau hanyalah pion, Reina," bisik Jino tepat di depan bibir Reina, suaranya rendah dan menghipnotis. "Kau adalah ratuku. Satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan dinding esku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Elena, merusak apa yang kita miliki sekarang."
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Jino menundukkan wajahnya, memangkas habis sisa jarak di antara mereka. Bibir pria itu menyapu bibir Reina dengan kelembutan yang memabukkan—bukan ciuman menuntut atau arogan, melainkan sebuah sapuan lembut yang penuh dengan permohonan maaf, kerinduan, dan penyerahan diri yang absolut.
Reina tersentak kecil, namun pertahanannya seketika lebur. Alih-alih mendorong pria itu menjauh, kedua lengan Reina justru terangkat dengan sendirinya, melingkar perlahan di leher kokoh Jino. Ia membalas ciuman itu, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang ditawarkan oleh sang pemuda.
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar dan sisa-sisa isak tangis yang menguap di udara, sebuah sumpah yang jauh lebih suci dari sekadar kontrak perjodohan akhirnya terucap tanpa kata. Reina Lunox dan Jino West menyadari satu hal yang pasti: mereka telah jatuh terlalu dalam, dan tidak ada lagi jalan untuk kembali selain menghadapi masa depan bersama.