Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 22: Tiga Puluh Hari Hampa dan Gerbang Menuju Dunia Kaca

l

​Waktu adalah penyembuh yang paling lambat bagi hati yang terluka, namun ia adalah pembunuh yang paling kejam bagi sebuah penantian.

​Satu bulan telah berlalu sejak fajar kelabu di mana Arga menghilang tanpa jejak dari rumah kontrakan berukuran tiga kali empat meter tersebut. Tiga puluh hari. Tujuh ratus dua puluh jam.

​Bagi dunia luar, putaran waktu itu tidak ada artinya. Namun bagi Senja Kirana, setiap detiknya terasa seperti merangkak di atas pecahan kaca.

​Hujan sore baru saja mereda, menyisakan genangan air di sepanjang gang sempit distrik selatan. Senja baru saja pulang dari Kedai Roti Harum Manis. Ia memutar kunci pada pintu kayu jati yang kokoh itu, mendorongnya terbuka, dan disambut oleh keheningan yang membekukan tulang.

​Senja melangkah masuk. Pandangannya secara otomatis tertuju pada sudut kasur busa, tempat di mana seorang pria bertubuh raksasa biasanya duduk bersandar sambil tersenyum menyambutnya pulang. Namun, sudut itu kosong. Hanya ada lipatan kemeja biru kotak-kotak yang sengaja Senja letakkan di sana, tak pernah ia pindahkan seolah benda itu adalah nisan dari kenangannya yang telah mati.

​Gadis itu meletakkan tasnya, menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah.

​Selama satu bulan ini, hidup Senja berputar layaknya mesin yang kehilangan jiwanya. Ia bangun, pergi bekerja di kedai, tersenyum pada pelanggan, pulang, lalu menangis dalam diam sebelum tertidur. Pak Yanto memperlakukannya dengan sangat luar biasa baik—gajinya dinaikkan, ia tidak pernah lagi disuruh melakukan pekerjaan kasar, dan bosnya itu selalu memastikan Senja pulang dengan membawa makanan enak.

​Kehidupan finansial Senja membaik perlahan. Ancaman rentenir Bang Jali benar-benar musnah layaknya debu yang tertiup angin (Senja mengira rentenir itu menyerah karena lelah, tanpa tahu bahwa Bang Jali masih terbaring cacat di rumah sakit berkat amukan Arga).

​Namun, perbaikan nasib itu tidak mampu menambal lubang menganga di dada Senja.

​"Kau ada di mana, Kak?" gumam Senja pelan, menyentuh permukaan kemeja biru itu dengan ujung jarinya. "Apakah kau sudah ingat siapa keluargamu? Apakah kau bahagia sekarang? Apakah... kau pernah sesekali mengingatku?"

​Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengambang di udara, tak pernah menemukan jawabannya. Senja telah berhenti berkeliling kota membagikan selebaran fotokopi sejak minggu kedua, setelah Pak Yanto menasihatinya bahwa orang yang sengaja pergi tidak akan pernah bisa ditemukan, sekeras apa pun kita mencari.

​Senja beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Malam ini, ia tidak boleh terlihat kacau. Ia memiliki pekerjaan penting yang harus diselesaikan.

​Dua hari yang lalu, Pak Yanto menawarkan sebuah pekerjaan sampingan kepadanya. Salah satu kenalan Pak Yanto yang memiliki perusahaan katering kelas atas, sedang kekurangan tenaga pelayan (waitress) untuk sebuah acara gala dinner super mewah di hotel bintang tujuh di pusat kota metropolitan. Bayaran untuk satu malam bekerja di sana setara dengan setengah bulan gaji Senja di kedai. Tentu saja, gadis yang selalu pekerja keras itu langsung menerimanya tanpa berpikir dua kali.

​Setelah mandi, Senja mengenakan seragam pinjaman dari perusahaan katering tersebut. Sebuah kemeja putih lengan panjang yang disetrika licin, rompi hitam yang pas di badan, celana bahan hitam panjang, dan sepatu pantofel datar. Rambut panjangnya ia gelung ke atas dengan sangat rapi, disematkan jepit rambut hitam invisible.

​Senja menatap pantulan dirinya di cermin retak. Meski tanpa riasan wajah mahal, kecantikan alami gadis itu justru semakin terpancar. Wajahnya yang pucat dan bersih, dipadukan dengan mata bulatnya yang jernih, membuatnya terlihat seperti bunga melati putih yang tumbuh di antara ilalang.

​"Berhentilah bersedih, Senja. Kau harus bertahan hidup," ia menyemangati dirinya sendiri sambil menepuk kedua pipinya. Gadis itu menarik napas panjang, mengunci pintu rumahnya, dan berangkat menembus gemerlap ibu kota yang mulai menyala.

​Pukul tujuh malam. Hotel Grand Imperial, hotel termewah dan paling eksklusif di jantung kota.

​Begitu angkot yang ditumpangi Senja berhenti di seberang jalan, gadis itu terkesiap menatap bangunan raksasa di hadapannya. Fasad bangunannya berlapis kaca emas yang memantulkan cahaya lampu kota, pilar-pilar marmer menjulang tinggi bagaikan istana dewa mitologi Yunani. Puluhan mobil mewah sekelas Rolls-Royce, Bentley, Maybach, hingga Ferrari berjajar rapi di lobi, menurunkan penumpang-penumpang yang mengenakan gaun malam bertahtakan berlian dan setelan jas desainer yang harganya bisa membeli seluruh gang kontrakan Senja.

​Ini adalah dunia yang berbeda. Dunia di mana kemiskinan tidak diizinkan masuk walau hanya sebatas bayangannya saja.

​Senja menelan ludah. Rasa rendah diri seketika menyergapnya, namun ia menepisnya jauh-jauh. Ia melangkah menuju pintu masuk khusus karyawan di bagian samping hotel, melapor pada koordinator katering, dan langsung diarahkan menuju Grand Ballroom di lantai atas.

​Saat Senja melangkah masuk ke dalam ballroom melalui pintu pelayan, napasnya nyaris terhenti.

​Ruangan itu terlalu megah untuk digambarkan dengan kata-kata. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan romantis. Karpet tebal bermotif klasik meredam suara langkah kaki. Alunan musik orkestra klasik dimainkan secara langsung di sudut ruangan, menyatu dengan denting pelan gelas-gelas kristal yang saling bersulang.

​Wangi parfum dari merek-merek ternama dunia menguar di udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus mengintimidasi bagi gadis sederhana seperti Senja.

​"Hei, Anak Baru! Jangan bengong saja!" tegur seorang supervisor katering yang galak, menepuk bahu Senja hingga gadis itu tersentak. Supervisor itu menyodorkan sebuah nampan perak berisi belasan gelas kristal ramping yang telah diisi champagne berwarna keemasan.

​"Tugasmu hanya berkeliling, tawarkan minuman ini pada para tamu VIP. Jangan menunduk, jangan menatap mata mereka terlalu lama, dan kalau mereka tidak memanggilmu, jangan berani-berani mengajak bicara! Ini acara perayaan ulang tahun dan kesuksesan besar Danendra Group, orang-orang yang hadir di sini bisa menghancurkan hidupmu hanya dengan menjentikkan jari. Paham?!" ancam supervisor itu.

​"P-Paham, Pak," jawab Senja gugup. Ia menyeimbangkan nampan perak itu di sebelah tangannya, lalu mulai melangkah perlahan ke tengah lautan manusia-manusia elit tersebut.

​Senja menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menundukkan kepala dengan sopan setiap kali ada tamu yang mengambil gelas dari nampannya. Ia berusaha menjadi 'bayangan' yang tak terlihat.

​Namun, kecantikan polos dan aura murni yang dipancarkan Senja justru membuat beberapa mata lelaki hidung belang di acara itu meliriknya dengan penuh ketertarikan.

​Di sudut ruangan, sekelompok sosialita wanita yang mengenakan gaun sutra ketat sedang berkumpul sambil tertawa palsu. Senja melangkah mendekat dengan sopan, menyodorkan nampannya.

​Salah satu wanita, yang jemarinya dipenuhi cincin berlian mencolok, mengambil gelas champagne dengan gaya arogan. Namun, karena wanita itu sedang asyik menoleh ke arah temannya, tangannya tidak sengaja menyenggol pinggiran nampan Senja.

​Cling... Pyar!

​Satu gelas kristal jatuh dan pecah berkeping-keping di atas karpet tebal, isinya tumpah mengenai ujung gaun sutra wanita tersebut.

​"Astaga!!" jerit sosialita itu histeris, mundur dengan wajah penuh kemarahan. Ia menatap Senja dengan mata melotot. "Apa kau buta?! Kau tahu berapa harga gaun ini?! Gaun ini rancangan desainer Paris, harganya seratus juta! Dan kau mengotorinya dengan minuman murah ini?!"

​Meskipun jelas-jelas wanita itu yang menyenggol nampannya, Senja tahu posisinya. Di dunia ini, orang miskin selalu salah.

​Senja langsung menundukkan tubuhnya hingga membungkuk sembilan puluh derajat. Tubuhnya bergetar. "M-Maafkan saya, Nyonya... Saya sungguh tidak sengaja. Maafkan saya..."

​"Maaf?! Kau pikir kata maafmu bisa mencuci noda ini?!" bentak wanita itu, menarik perhatian beberapa tamu di sekitarnya. "Dasar pelayan ceroboh! Panggil manajermu sekarang juga! Aku akan menuntut ganti rugi agar gajimu dipotong seumur hidup!"

​Senja memejamkan mata, air mata mulai menggenang di pelupuknya. Perlakuan merendahkan ini sangat menyakitkan. Di tengah gemerlap lampu kristal dan musik klasik yang indah, Senja merasa dirinya kembali diinjak-injak layaknya serangga yang tak berguna.

​Kak Arga... nama itu kembali terlintas di benak Senja. Di saat-saat ia merasa sangat lemah dan diintimidasi seperti ini, bayangan punggung lebar pria itu selalu muncul sebagai pelindung imajinernya. Namun pria itu tidak ada di sini. Senja harus menghadapinya sendirian.

​Supervisor katering yang melihat keributan itu bergegas datang, ikut membungkuk dan meminta maaf berkali-kali pada sosialita arogan tersebut, lalu menarik lengan Senja dengan kasar untuk menjauh dari area itu.

​"Kau ini bodoh atau apa?! Menyingkir dari lantai utama! Berdiri saja di sudut dekat pilar sana, jangan melayani tamu VIP lagi sebelum kau membuat kita semua dipecat!" maki supervisor itu, mengambil nampan Senja dan meninggalkannya sendirian di sudut ruangan yang sedikit gelap.

​Senja menghela napas panjang, menelan ludah kepahitannya. Ia bersandar di balik pilar marmer besar yang dingin, menyembunyikan dirinya dari tatapan merendahkan orang-orang di sekitarnya. Ia menatap lantai karpet dengan pandangan kosong.

​Berapa lama lagi acara ini akan selesai? Ia ingin segera pulang. Ia ingin kembali ke rumah kontrakannya yang sempit namun aman. Ia merindukan kehangatan dari satu mangkuk mi instan yang dibagi dua.

​[Pesan Author:]

(Pertanyaan terbesar yang sering menghantui kita saat kita kehilangan seseorang adalah: Apakah kita yang akan menemukannya, ataukah dia yang akan menemukan kita? Apakah takdir yang kita miliki akan selamanya berjalan dalam garis lurus yang menyedihkan, ataukah roda nasib itu bisa berbalik dalam satu malam?

​Ketahuilah, takdir alam semesta bekerja layaknya sebuah konstelasi bintang. Ketika dua jiwa telah saling terikat oleh benang merah yang murni, sekeras apa pun mereka mencoba berlari menjauh, sejauh apa pun perbedaan kasta dan dunia yang memisahkan mereka... semesta akan melengkungkan ruang dan waktu untuk membuat mereka saling bertabrakan kembali.

​Senja mengira bahwa dengan menjadi pelayan di pesta elit ini, nasibnya semakin tenggelam dalam penderitaan dan kemiskinan yang merendahkan. Di sisi lain, Arga mengira bahwa dengan berada di puncak kekuasaannya, ia butuh waktu bertahun-tahun untuk menyingkirkan musuhnya sebelum bisa menjemput Senja. Keduanya salah. Mereka tidak tahu bahwa malam ini, pintu takdir sedang terbuka lebar. Senja tidak sedang mencari Arga, dan Arga tidak sedang menjemput Senja. Malam ini, takdir itu sendirilah yang akan menyeret mereka dengan paksa, membenturkan dua dunia yang berbeda itu dalam sebuah pertemuan yang akan mengguncangkan sejarah ibu kota.)

​Waktu menunjukkan pukul delapan malam tepat.

​Alunan musik orkestra klasik yang lembut tiba-tiba berhenti. Sebagai gantinya, terdengar denting piano tunggal yang sangat agung dan mendominasi. Seluruh lampu di Grand Ballroom meredup secara serentak, menyisakan lampu-lampu sorot (spotlight) yang menyilaukan dan fokus pada panggung utama di ujung ruangan.

​Kerumunan tamu VIP yang tadinya sibuk berbincang dan memamerkan kekayaan, seketika terdiam. Mereka semua berbalik menghadap ke arah panggung dengan sikap penuh hormat dan ketegangan yang tak bisa disembunyikan.

​Senja yang berdiri di balik pilar marmer, mau tak mau ikut mengangkat wajahnya, mengintip dari celah bayangan karena penasaran dengan keheningan yang mendadak ini.

​Di atas panggung, seorang pembawa acara atau Master of Ceremony (MC) yang mengenakan jas tuxedo putih melangkah ke depan mikrofon.

​"Tuan dan Nyonya, para tamu kehormatan, para kolega, dan rekan bisnis sekalian..." suara MC itu menggelegar, berwibawa, dan membelah kesunyian ruangan.

​"Malam ini adalah malam yang bersejarah. Setelah melewati badai pasar yang mencoba mengguncang fondasi kita, Danendra Group tidak hanya berhasil bertahan, tetapi kita bangkit lebih kuat, lebih besar, dan tak tertandingi, membuktikan siapa pemegang takhta sesungguhnya di negeri ini!"

​Tepuk tangan riuh dan penuh jilatan menggema di seluruh penjuru ballroom.

​"Oleh karena itu, tanpa membuang waktu lebih lama lagi... mari kita sambut dengan rasa hormat yang setinggi-tingginya. Pria yang visi dan kekuatannya telah menaklukkan setiap rintangan. Sang Pendiri, Sang Penguasa, dan CEO kita tercinta..."

​Lampu spotlight bergerak cepat, menyorot tajam ke arah pintu ganda raksasa berwarna emas di sisi kanan panggung. Pintu itu terbuka perlahan oleh dua orang pengawal berbadan tegap.

​Udara di dalam ruangan itu terasa seolah disedot habis. Para petinggi perusahaan, konglomerat, dan sosialita menahan napas mereka, membungkukkan badan sedikit sebagai tanda tunduk pada sang predator puncak yang baru saja tiba.

​"...Bapak Arga Danendra!" seru sang MC.

​Jleb.

​Di sudut ruangan yang gelap, di balik pilar marmer itu, nama yang baru saja diteriakkan oleh MC menghantam dada Senja layaknya sambaran petir berkekuatan jutaan volt.

​Arga... Danendra?

​Senja membeku. Tubuhnya mendadak kaku, darahnya berdesir dingin. Bukankah Arga adalah nama pria amnesianya? Tidak, itu pasti hanya kebetulan. Nama Arga adalah nama yang umum. Pasti ada banyak pria bernama Arga di kota ini. Tidak mungkin pria miskin yang berbagi telur rebus dengannya memiliki nama yang sama dengan miliarder penguasa pesta ini.

​Namun, rasa penasaran yang luar biasa memaksa Senja untuk melangkah sedikit keluar dari balik pilar. Ia menjinjitkan kakinya, mengabaikan larangan supervisor, dan menatap lurus ke arah panggung utama.

​Dari balik pintu emas yang terbuka itu, melangkahlah sesosok pria.

​Langkah kakinya menggema, tenang namun penuh dengan dominasi absolut. Pria itu mengenakan setelan jas bespoke tiga potong berwarna midnight blue (biru malam gelap) yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna, harganya tak kurang dari miliaran rupiah. Kemeja putihnya tak memiliki kerutan sedikit pun. Sepatu kulit pantofelnya mengilap memantulkan cahaya lampu sorot.

​Di belakangnya, menyusul Raka Narendra yang mengenakan jas Armani, berjalan satu langkah di belakang sang Raja sebagai tangan kanan setianya. Serta puluhan pengawal elit berseragam hitam yang membentuk barikade tak tertembus.

​Saat pria itu berjalan menaiki tangga panggung, wajahnya akhirnya tersorot oleh lampu utama dengan sangat jelas. Rahang tegas yang sekeras baja, hidung mancung yang aristokrat, alis tebal yang menukik tajam, dan sepasang mata elang hitam legam yang menatap dingin ke seluruh penjuru ruangan.

​Di sudut pilar, nampan perak yang dipegang Senja terlepas dari tangannya.

​CLANG!

​Nampan itu jatuh membentur lantai marmer di dekat karpet, menciptakan suara bising yang sempat membuat beberapa tamu di sekitarnya menoleh dengan kesal.

​Namun Senja tidak memedulikan tatapan marah mereka. Gadis itu tidak memedulikan apa pun lagi di dunia ini. Kedua tangannya terangkat naik, menutupi mulutnya yang terbuka lebar. Napasnya tersengal putus-putus seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya dengan brutal.

​Bola mata cokelatnya membelalak hingga batas maksimal, air mata shock dan ketidakpercayaan seketika menggenang, mengaburkan pandangannya. Namun, siluet pria di atas panggung itu terlalu jelas untuk disangkal.

​T-Tidak... ini tidak mungkin... batin Senja menjerit histeris. Otaknya menolak memproses realita yang menghantamnya.

​Pria yang berdiri di panggung itu... pria yang dipuja dan ditakuti oleh ribuan konglomerat di ruangan ini... pria yang mengenakan jas miliaran rupiah dan memancarkan aura membunuh yang mengerikan itu...

​Itu adalah 'Kak Arga'-nya.

​Pria amnesia miskin yang ia rawat dengan sisa uang recehnya. Pria yang ia tangisi setiap malam selama sebulan terakhir. Pria yang ia pikir tersesat dan kelaparan di jalanan. Pria yang berjanji tidak akan pernah membiarkannya sendirian.

​Di atas panggung, Arga Danendra melangkah menuju mikrofon. Pandangannya yang setajam silet menyapu lautan manusia di bawahnya. Namun tiba-tiba, insting primitif sang predator yang sangat kuat membuatnya menghentikan pandangannya.

​Seolah ditarik oleh takdir yang tak kasat mata, mata elang Arga berhenti bergerak, menembus jarak puluhan meter melintasi ballroom, melewati gaun-gaun gemerlap dan perhiasan berkilau para tamu, lalu menabrak lurus ke arah sebuah sudut remang-remang di balik pilar.

​Di sanalah, di tengah kemegahan yang palsu, mata sang Raja Iblis bertemu langsung dengan mata bulat penuh air mata milik gadis pembuat roti yang mengenakan seragam pelayan katering usang.

​Jarak memisahkan mereka. Kasta memisahkan mereka. Namun pada detik itu, kebohongan terbesar abad ini akhirnya runtuh tak bersisa, dan dunia Arga Danendra serasa berhenti berputar, hancur berkeping-keping oleh tatapan terluka dari satu-satunya bidadari yang ia cintai.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!