Indonesia
NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Detak Jantung yang Menular dan Sepotong Memori

Waktu seakan berhenti berdetak di lorong sempit dan gelap di belakang backstage itu.

Hanya ada suara embusan napas mereka berdua yang saling memburu, beradu di udara dingin aula yang setengah kosong.

Dahi Alfian masih menempel di dahi Amira.

Gadis itu berdiri mematung. Rambut sebahunya yang sedari tadi diikat asal kini sedikit berantakan, beberapa helai anak rambutnya jatuh membingkai wajahnya yang memerah sempurna.

Jempol tangan Alfian yang berada di pelipis Amira terasa sangat hangat, mengusap kulit gadis itu dengan gerakan lambat yang memabukkan.

"K-kamu... sadar kan sama apa yang kamu omongin barusan?" cicit Amira susah payah.

Suaranya bergetar hebat. Ia tidak berani menatap langsung ke dalam mata hitam legam di hadapannya, memilih memfokuskan pandangannya pada kancing kedua kemeja seragam Alfian.

Alfian mengerjap lambat.

Hembusan napas Amira yang menerpa dagunya seolah menarik kesadaran sang kapten kembali ke bumi.

Sadar akan posisinya yang terlalu intim dan kata-katanya yang sudah kelewat batas gengsi, tubuh Alfian mendadak menegang.

Sial. Apa yang baru aja gue lakuin? batin Alfian merutuki dirinya sendiri.

Dengan gerakan sedikit kaku, Alfian menarik tubuhnya mundur.

Tangan kanannya yang tadi mengurung Amira di dinding langsung ia tarik dan ia masukkan ke dalam saku celana, menyembunyikan jemarinya yang entah kenapa ikut gemetar.

Jarak di antara mereka kembali melebar, membiarkan udara segar kembali masuk ke paru-paru Amira.

"Lupain," ucap Alfian tiba-tiba.

Suara baritonnya kembali terdengar datar dan dingin, meski raut wajahnya yang sedikit salah tingkah tak bisa membohongi siapa pun.

Amira mendongak, menatap cowok itu dengan dahi berkerut tak percaya.

"Lupain? Habis ngomong hal gila kayak tadi, kamu suruh aku lupain?!" sungut Amira, setengah kesal dan setengah kecewa.

"Gue tadi cuma... kebawa emosi," kilah Alfian membuang muka ke arah tumpukan kardus di ujung lorong.

"Gue kan koordinator lo. Wajar gue marah lihat anggota gue malah asyik pacaran waktu jam kerja."

Amira mendengus tak percaya. Alasan macam apa itu?

"Oh, jadi tadi itu cuma teguran dari atasan ke bawahan? Pakai acara nempel-nempel dahi segala?!" sindir Amira telak.

Wajah Alfian makin memerah, nyaris menyamai warna tomat.

Gengsinya sebagai kakak kelas tingkat akhir benar-benar sedang diuji.

"Itu... ketidaksengajaan kinetik," jawab Alfian asal-asalan.

"Ketidaksengajaan kinetik matamu!" umpat Amira kehabisan kesabaran.

"Kamu kira aku anak IPA yang bisa dikibulin pakai istilah fisika?!"

Melihat Amira yang kembali galak, Alfian justru merasa sedikit lega. Setidaknya cewek ini tidak pingsan atau menangis karena perbuatannya tadi.

"Terserah lo mau bilang apa. Yang penting, jangan deket-deket cowok buaya itu lagi," titah Alfian tajam, menunjuk ke arah pintu aula tempat Devan pergi tadi.

"Aku nggak deket-deket! Kan udah dibilang dia cuma bantuin ngangkat pot!" bantah Amira merapikan ikatan rambutnya yang mulai mengendur.

Alfian menghela napas panjang, memijat pelipisnya perlahan.

Berdebat dengan Amira memang tidak akan pernah ada ujungnya.

"Balik ke kelas lo sekarang. Kerjaan lo di sini udah selesai," perintah Alfian, kembali memasang topeng kaptennya yang berwibawa.

Amira memicingkan mata, menatap Alfian dengan curiga.

"Terus kamu mau ke mana?"

"Bukan urusan lo," balas Alfian singkat.

Tanpa menunggu balasan Amira, cowok itu langsung berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan lorong backstage dengan langkah panjang dan cepat.

Amira menatap punggung tegap itu perlahan menghilang dari pandangannya.

Perlahan, gadis itu menyandarkan kembali punggungnya ke dinding triplek.

Tangannya naik menyentuh dahinya sendiri, tepat di titik di mana dahi Alfian bersandar beberapa menit yang lalu.

Panas.

Sentuhan itu masih terasa sangat nyata.

"Amira, kamu beneran udah gila," bisik Amira merutuki jantungnya yang masih berdetak tak karuan.

Dan yang paling menakutkan, debaran ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Sky.

Ini murni karena Alfian.

Di sisi lain sekolah, Alfian berjalan setengah berlari menuju kamar mandi pria di dekat lapangan indoor.

Begitu masuk, cowok itu langsung membuka keran wastafel dan membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali.

Air menetes dari ujung rambut hitamnya, membasahi kerah kemeja seragamnya.

Alfian menatap pantulan dirinya sendiri di cermin wastafel.

Wajahnya masih terlihat memerah, dan napasnya memburu tak terkendali.

"Bodoh banget lo, Yan," maki Alfian pada bayangannya di cermin.

"Kenapa lo bisa lepas kendali kayak gitu cuma gara-gara lihat dia senyum ke Devan?"

Alfian mencengkeram pinggiran wastafel dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa cemburu yang membakar dadanya tadi benar-benar asing baginya.

Selama ini, ia tidak pernah peduli dengan cewek mana pun.

Tapi saat melihat senyum Amira diberikan kepada cowok lain, insting primitif di dalam kepalanya langsung berteriak marah.

Tiba-tiba, sebuah rasa nyeri yang sangat familiar menusuk pelipis kirinya.

Nyuuuut

Alfian mendesis tertahan, memejamkan matanya kuat-kuat.

Sakit kepala ini... datang lagi. Jauh lebih hebat dari biasanya.

Di balik kelopak matanya yang terpejam, potongan memori buram yang acak mulai berkelebat seperti film usang yang putus-putus.

Sebuah pohon besar yang rindang.

Tangan kecil yang menggenggam sebuah kalung berwarna keemasan.

Dan suara tangisan seorang anak perempuan yang sangat melengking.

"Jangan pergi... Sky..."

Suara itu.

Alfian membuka matanya dengan napas tersengal.

Tangannya mencengkeram kepalanya sendiri dengan kuat.

"Siapa..." gumam Alfian parau, menatap nanar ke arah cermin.

Kata 'Sky' terus berdengung di telinganya.

Nama yang selalu diteriakkan Amira dengan penuh amarah di awal pertemuan mereka.

Kenapa suara anak kecil di ingatannya itu terasa begitu mirip dengan suara Amira?

Alfian memaksa otaknya untuk menggali lebih dalam, mencoba menyambungkan potongan memori yang berserakan itu.

Namun semakin keras ia mencoba, rasa sakit di kepalanya semakin tak tertahankan, seolah ada dinding baja yang secara paksa memblokir ingatannya.

Brak!

Pintu kamar mandi tiba-tiba didorong dari luar.

Rio melangkah masuk sambil bersiul santai, namun siulannya langsung terhenti saat melihat kondisi sahabatnya.

"Woi, Yan! Lo kenapa?!" seru Rio panik, langsung berlari menghampiri Alfian yang menunduk mencengkeram wastafel.

"K-kepala gue..." desis Alfian menahan sakit.

Rio langsung memapah tubuh sahabatnya itu, merangkulkan satu lengan Alfian ke bahunya.

"Kumat lagi? Udah gue bilang lo jangan terlalu capek ngurusin Pensi!" omel Rio dengan nada khawatir.

"Ayo, gue bawa lo ke ruang UKS. Obat lo masih ada di tas kan?"

Alfian tidak menjawab, ia hanya membiarkan Rio memapahnya berjalan keluar dari kamar mandi.

Namun di dalam hatinya yang sedang kacau balau, Alfian bersumpah.

Ia harus mencari tahu apa sebenarnya kepingan masa lalu yang hilang itu.

Dan kenapa bayangan masa lalu itu selalu muncul setiap kali ia berhadapan dengan Amira?

Sore harinya, hujan gerimis turun membasahi kota.

Amira sedang duduk di ruang keluarga rumahnya, menonton tayangan televisi tanpa benar-benar memperhatikan jalan ceritanya.

Ibunya sedang sibuk menjahit di sofa seberang.

"Mir, kamu itu dari tadi ganti-ganti channel terus, pusing Mama lihatnya," tegur ibunya tanpa mengalihkan pandangan dari jarum jahit.

Amira tersentak, meletakkan remote TV itu di atas meja.

"Bosen, Ma. Nggak ada acara yang bagus," kilah Amira.

"Kalau bosen ya belajar sana. Kemarin ulangan Matematika kamu dapat berapa?" todong ibunya langsung.

Amira hanya meringis, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Pikirannya kembali melayang pada kejadian di sekolah tadi.

Sejak insiden di backstage, ia tidak melihat Alfian lagi.

Bahkan saat Amira pulang melewati lapangan basket, cowok itu tidak terlihat memimpin latihan seperti biasanya.

Apa dia sakit ya? batin Amira tanpa sadar mengkhawatirkan cowok arogan itu.

Amira menarik napas panjang, meraih sebuah bantal sofa dan memeluknya erat-erat.

Gadis itu menenggelamkan wajahnya di bantal, mencoba menyembunyikan senyum tipis yang tiba-tiba terbit di bibirnya.

Ia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.

Meskipun Alfian menyebalkan, arogan, hobi marah-marah, dan memiliki gengsi setinggi langit... cowok itu selalu ada di saat Amira benar-benar membutuhkannya.

Bukan sebagai Sky si teman masa kecilnya.

Melainkan sebagai Alfian Pratama. Kakak kelas yang berhasil membuat dunianya jungkir balik dalam waktu kurang dari sebulan.

"Mama," panggil Amira tiba-tiba dari balik bantal.

"Hm? Kenapa?" sahut ibunya santai.

"Kalau misalnya... kita udah terlanjur benci banget sama orang, terus tiba-tiba perasaan benci itu berubah jadi... eh, jadi suka, itu wajar nggak sih?" tanya Amira dengan suara malu-malu.

Gerakan tangan ibunya terhenti.

Sang ibu menoleh, menatap anak gadisnya dengan alis terangkat dan senyum menggoda yang sangat kentara.

"Ooh... anak Mama lagi jatuh cinta ya sama teman sekolahnya?" goda ibunya sukses membuat wajah Amira semerah kepiting rebus.

"B-bukan gitu! Ini kan nanya doang!" sanggah Amira panik, buru-buru berdiri dari sofa.

"Aku mau ke kamar dulu, mau ngerjain PR!"

Amira berlari terbirit-birit menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan ibunya yang terkekeh geli di ruang keluarga.

Sesampainya di kamar, Amira langsung merebahkan diri di atas kasur.

Matanya menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang luar biasa ringan, namun sekaligus mendebarkan.

Benci jadi cinta?

Mungkin itu kalimat yang paling pas untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

Tapi masalahnya, apakah Alfian merasakan hal yang sama?

Atau jangan-jangan, cowok kulkas itu besok pagi akan kembali ke setelan pabriknya dan menganggap kejadian di backstage tadi tidak pernah ada?

Amira menutup matanya perlahan.

Apapun yang akan terjadi besok, ia siap menghadapinya. Karena mulai detik ini, ia tidak akan lagi mencari Sky di dalam diri Alfian.

Ia akan menerima Alfian, sebagai dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!