Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1,1
Sebuah kehidupan yang sempurna.
Yamada berhenti di depan sebuah toko kelontong kecil. Toko itu milik seorang nenek tua yang sudah dia kenal sejak SD. Di balik kaca etalase yang sedikit berdebu, berjejer makanan ringan. Ada yang berwarna kuning menyala, ada yang berwarna coklat, ada yang dibungkus dengan gambar karakter kartun yang sedang tersenyum lebar.
Matanya tertuju pada makanan ringan yang terpajang di balik kaca. Sebuah roti krim yang terlihat lembut. Krimnya sepertinya vanilla.
Perutnya, yang sejak tadi diam, tiba-tiba memberikan sinyal protes kecil.
Dia berpikir selama beberapa detik. Proses berpikir yang berat.
"Mau beli..." gumamnya. Tangannya bergerak menuju saku, menuju dompet yang ada di dalamnya. Dompetnya terasa ada. Uang recehnya pasti cukup.
Kemudian, tepat saat ujung jarinya menyentuh resleting dompet, sebuah rasa malas yang lebih besar datang.
Tangannya berhenti.
"...tapi malas."
Malas mengeluarkan dompet. Malas membuka resleting. Malas menghitung uang. Malas menunggu nenek itu mengambilkan roti, memasukkannya ke kantong plastik, dan memberikan kembalian. Malas membawa kantong plastik itu sambil berjalan. Terlalu banyak langkah. Terlalu banyak interaksi sosial yang tidak perlu untuk sebuah roti krim.
Dia menarik tangannya kembali dan memasukkannya lagi ke dalam saku.
Dia berjalan lagi. Meninggalkan toko itu dan roti krim vanilla yang malang itu.
Beberapa meter kemudian, seolah-olah sebagai balasan atas keputusannya yang malas, perutnya berbunyi. Bukan bunyi kecil. Bunyinya cukup keras. "Gruuuk."
Yamada terdiam di tengah trotoar. Seorang ibu-ibu yang lewat sambil membawa belanjaan meliriknya sekilas.
"...Aku benci diriku sendiri," desisnya pelan, dengan nada yang setengah serius, setengah pasrah.
Namun dia tetap tidak kembali. Prinsip adalah prinsip. Kalau sudah memutuskan malas, harus konsisten. Kembali ke toko sekarang akan membuat kemalasannya tadi menjadi sia-sia. Itu tidak efisien.
Begitulah Yamada.
Bahkan untuk membeli makanan pun rasa malasnya bisa menang melawan rasa laparnya sendiri. Dia adalah seorang profesional di bidang kemalasan.
Dia terus berjalan sambil memainkan ponselnya. Ponselnya tidak menampilkan apa pun yang penting. Hanya layar kunci yang dia nyalakan dan matikan berulang kali. Atau scrolling timeline tanpa benar-benar membaca. Kebiasaan kosong untuk membuat tangannya sibuk.
Tidak ada yang aneh.
Sore itu terasa seperti sore-sore lainnya. Jalanan tidak terlalu ramai. Beberapa anak SD berlarian dengan tas besar di punggung mereka. Seorang bapak-bapak mengendarai sepeda dengan pelan.
Tidak ada firasat buruk. Tidak ada bulu kuduk yang berdiri. Tidak ada firasat seperti di film-film di mana tokoh utama merasa hari itu adalah hari terakhirnya.
Tidak ada tanda bahwa hidupnya akan berakhir hari itu. Tidak ada tanda bahwa semua rencananya untuk tidur seharian akan dibatalkan secara permanen oleh alam semesta.
Sampai—
BRUUUUK!
Suara keras terdengar dari persimpangan di depan. Persimpangan yang hanya berjarak sekitar tiga puluh meter dari tempatnya berdiri.
Yamada mengangkat kepalanya. Gerakannya refleks.
Sebuah kendaraan. Sebuah truk pengangkut barang yang ukurannya cukup besar, kehilangan kendali. Mungkin remnya blong. Mungkin sopirnya mengantuk. Yamada tidak tahu. Dan pada detik itu, penyebabnya tidak penting.
Semuanya terjadi terlalu cepat. Terlalu cepat bahkan untuk otak Yamada yang biasanya bisa memproses sesuatu dengan cepat.
Orang-orang berteriak. Bukan teriakan yang jelas, tapi teriakan kaget yang tertahan.
Rem menjerit. Suara decitan ban yang melengking, suara logam yang bergesekan dengan aspal. Bau karet terbakar tiba-tiba menyengat, mengalahkan bau roti manis tadi.
Ban bergesekan dengan aspal, meninggalkan jejak hitam panjang.
Yamada melihat kendaraan itu bergerak ke arahnya. Tidak lurus. Kendaraan itu berputar sedikit, meluncur miring, menyapu trotoar tempat dia berdiri.
Dalam situasi seperti itu, kebanyakan orang mungkin akan panik. Otak mereka akan kosong. Kaki mereka akan kaku. Mereka akan berteriak.
Namun pikiran Yamada justru menjadi sangat jernih. Mungkin ini adalah pertama kalinya dalam 17 tahun hidupnya, otaknya bekerja 100% tanpa dibatasi oleh rasa malas.
Waktu seolah melambat.
Jarak sekitar dua belas meter. Dia mengukurnya secara insting.
Kecepatan kendaraan... terlalu tinggi. Mungkin 60 atau 70 kilometer per jam. Tidak mungkin berhenti.
Waktu sebelum tabrakan mungkin kurang dari dua detik. Satu koma delapan detik, pikirnya.
Matanya bergerak cepat. Bukan karena panik, tapi karena kalkulasi.
Kiri. Ada tembok pembatas toko. Kalau menghindar ke kiri, dia akan terjepit di antara truk dan tembok. Tidak ada ruang.
Kanan. Ada selokan kecil dan tiang lampu. Kalau melompat ke kanan, kakinya mungkin tersangkut selokan. Dia akan jatuh, dan truk masih bisa menyeretnya.
Trotoar. Sempit.
Tiang lampu. Terlalu dekat.
Tidak ada jalan yang cukup aman. Tidak ada opsi yang memberikan kemungkinan selamat 100%. Semua opsi yang ada di kepalanya memiliki probabilitas cedera yang tinggi.
Tubuhnya sudah mulai bergerak. Otot-otot kakinya yang jarang dipakai untuk berlari, akhirnya dipaksa bekerja. Dia mencoba mendorong tubuhnya ke kanan, ke arah selokan, karena itu adalah opsi dengan probabilitas hidup paling tinggi, meski hanya 30%.
Namun terlambat.
Terlambat setengah detik. Setengah detik yang disebabkan oleh 17 tahun kebiasaan bermalas-malasan, yang membuat refleks tubuhnya sedikit lebih lambat dari kalkulasi otaknya.
DUAAAR!
Suara benturan itu tidak seperti di film. Tidak ada ledakan dramatis. Suaranya berat, tumpul, dan basah. Suara yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang mendengarnya di persimpangan itu.
Dunia berputar.
Langit jingga yang indah itu berputar, trotoar berputar, wajah-wajah orang yang berteriak berputar. Tubuh Yamada terlempar seperti boneka kain. Tasnya terlepas dan melayang di udara.
Suara orang-orang terdengar samar. Seperti mendengarkan dari dalam air.
Pandangan matanya mulai kabur. Bintik-bintik hitam bermunculan di tepi penglihatannya, perlahan-lahan merayap ke tengah.
Anehnya, dia tidak merasa takut. Rasa takut membutuhkan energi. Dan dia sudah tidak punya energi lagi.
Dia hanya menatap langit.
Langit sore yang beberapa detik lalu terlihat begitu indah, begitu sempurna untuk tidur, kini perlahan berubah gelap. Warna jingganya memudar, digantikan oleh abu-abu, lalu hitam.
Ah...
Sebuah pikiran melintas dengan sangat pelan.
Jadi begini rasanya mati?
Tidak seperti yang dia bayangkan. Tidak ada rasa sakit yang menusuk seperti ditusuk pisau. Tidak ada drama. Hanya rasa berat yang luar biasa, dan kemudian ringan.
Napasnya semakin berat. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca.
Jari-jarinya bergerak sedikit. Dia ingin menyentuh sesuatu, tapi dia tidak tahu apa.
Tidak ada rasa sakit yang terlalu jelas lagi. Sistem sarafnya sudah mulai menyerah.
Hanya dingin.
Sangat dingin. Dingin yang merayap dari ujung kaki hingga ke dada. Padahal tadi angin sore terasa hangat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yamada menyadari sesuatu. Sebuah penyesalan yang bukan penyesalan yang dramatis, tapi penyesalan yang sangat Yamada.
Ada begitu banyak hal yang belum dia lakukan.
Bukan karena dia tidak mampu. Dia tahu dia mampu melakukan banyak hal jika dia mau.
Tetapi karena dia selalu berpikir masih ada hari esok. Selalu ada besok untuk mengerjakan tugas. Selalu ada besok untuk membeli roti krim itu. Selalu ada besok untuk menjadi sedikit lebih rajin.
Sepertinya... aku terlalu malas hidup.
Pikiran itu membuatnya tertawa kecil. Atau setidaknya, dia merasa seperti tertawa. Bibirnya bergerak sedikit, mengeluarkan suara napas yang hampir tidak terdengar.
"Kalau ada kehidupan kedua..."
Dia berhenti untuk menarik napas. Napas yang terasa sangat panjang dan sulit.
"...aku ingin hidup lebih santai."
Ironis. Bahkan di detik terakhir kematiannya, keinginannya masih tentang bersantai. Tapi kali ini, bersantai yang dia maksud berbeda. Bukan bersantai karena malas, tapi bersantai yang benar-benar menikmati hidup, tanpa menunda-nunda.
Kesadarannya perlahan menghilang. Seperti lampu yang dimatikan dengan dimmer, perlahan-lahan meredup.
Suara dunia semakin jauh. Suara teriakan orang, suara sirene yang mulai terdengar dari kejauhan, semuanya menjadi dengungan yang samar.
Kemudian semuanya menjadi gelap.
Gelap total.
Tidak ada suara.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada tubuh.
Tidak ada rasa sakit.
Tidak ada rasa dingin lagi.
Yamada tidak tahu berapa lama dia berada dalam kegelapan. Di sini, waktu tidak ada artinya.
Satu detik?
Satu jam?
Atau bertahun-tahun? Mungkin ribuan tahun? Di dalam kekosongan ini, satu detik dan satu milenium terasa sama.
Dia tidak tahu.
Yang dia tahu hanyalah satu hal. Satu hal yang membuatnya sadar bahwa dia masih ada.
Dia masih berpikir.
Pikiran itu masih ada. Kesadaran itu masih ada, melayang-layang di dalam ketiadaan.
Bukankah aku sudah mati?
Yamada mencoba membuka matanya. Dia memberi perintah pada kelopak matanya, tapi tidak ada kelopak mata untuk dibuka.
Mencoba menggerakkan tangannya. Tidak ada respons. Tidak ada tangan.
Mencoba berbicara. Tidak ada suara yang keluar. Tidak ada mulut, tidak ada pita suara, tidak ada udara untuk membawa gelombang suara.
Apa aku benar-benar sudah mati? Atau ini adalah mimpi aneh sebelum kematian yang sebenarnya? Atau aku koma?
Untuk pertama kalinya, Yamada merasa sedikit penasaran. Rasa penasaran yang sudah lama tidak dia rasakan. Sejak kecil, rasa penasaran adalah musuh kemalasan. Karena penasaran berarti harus mencari tahu, dan mencari tahu itu melelahkan. Tapi sekarang, di dalam kekosongan ini, tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain penasaran.
Lalu—
[........]
Sebuah suara terdengar.
Bukan suara manusia. Bukan suara laki-laki atau perempuan. Bukan pula suara dari luar.
Suara itu tidak memiliki gema. Tidak memiliki aksen. Terasa datar, mekanis, namun jelas.
Suara itu terdengar langsung di dalam pikirannya. Seolah-olah seseorang menulis langsung di dalam otaknya.
Yamada terdiam. Atau lebih tepatnya, kesadarannya berhenti bergumam.
[Soul detected.]
Apa? Jiwa? Terdeteksi?
[Analyzing...]
Siapa kau? Yamada mencoba bertanya di dalam pikirannya. Dia tidak tahu apakah entitas itu bisa mendengar pikirannya.
Tidak ada jawaban. Hanya suara mekanis yang kembali terdengar, melanjutkan tugasnya seolah-olah Yamada hanyalah sebuah file yang sedang dipindai.
Hanya suara mekanis yang kembali terdengar.
[Analysis complete.]
[Soul integrity: 98%.]
Integritas jiwa 98%? Apa artinya? Apa yang 2% yang hilang? Apakah karena kemalasannya?
[Destination confirmed.]
Yamada mulai merasakan sesuatu. Untuk pertama kalinya setelah kegelapan yang tak berujung, dia merasakan sebuah sensasi selain kekosongan.
Seolah-olah dirinya sedang ditarik. Bukan ditarik secara fisik, karena dia tidak punya fisik. Tapi kesadarannya, jiwanya, sedang ditarik menuju tempat yang sangat jauh.
Jauh lebih jauh daripada yang bisa dibayangkan manusia. Melewati konsep jarak itu sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, ketenangan Yamada yang abadi itu mulai menghilang, digantikan oleh sedikit kepanikan. Kepanikan yang murni.
Hei.
Sebentar.
Destination? Tujuan? Ke mana aku akan pergi? Bukankah aku sudah mati? Bukankah seharusnya aku menghilang saja? Atau setidaknya, bukankah seharusnya ada cahaya putih dan terowongan seperti yang diceritakan orang-orang?
Ke mana aku akan pergi?
Suara itu akhirnya menjawab. Jawaban yang tidak menjawab pertanyaannya sama sekali, tapi justru memberikan jawaban yang jauh lebih besar.
[Beginning reincarnation process.]
Mata Yamada yang bahkan tidak memiliki tubuh untuk dibuka seolah terbuka lebar. Jika dia punya jantung, jantungnya pasti sudah berhenti berdetak untuk kedua kalinya.
...Apa?
Reinkarnasi? Proses reinkarnasi? Seperti di manga-manga dan novel-novel yang pernah dia baca sekilas saat bosan?
Kemudian cahaya putih memenuhi seluruh kesadarannya.
Bukan cahaya yang lembut. Cahaya yang terang, murni, yang menghapus kegelapan total tadi dalam sekejap. Cahaya yang terasa hangat, tidak seperti dinginnya kematian.
Dan sebelum Yamada sempat memahami apa yang sedang terjadi sebelum dia sempat memprotes bahwa dia belum siap, bahwa dia masih ingin bermalas-malasan sedikit lagi di dalam kegelapan
[Goodbye, Yamada.]
[Your first life has ended.]
[Your second life is about to begin.]
Suara itu menghilang bersamaan dengan kesadarannya yang kembali ditarik, kali ini lebih kuat, lebih cepat, menuju cahaya.