Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.
Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.
Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.
Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Natasha mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya berkaca-kaca karena merasa tidak berdaya.
Memang benar, sejak kakeknya masuk rumah sakit karena serangan jantung, kekuasaan di sekolah ini mulai dikuasai oleh donatur licik seperti Baskoro.
Bayu menatap punggung Natasha yang bergetar menahan tangis.
Dia menghela napas pelan, lalu meletakkan telapak tangan kanannya yang besar dan hangat ke atas puncak kepala gadis itu.
Puk.
Natasha tersentak kaget, hawa panas dari sentuhan Bayu langsung mengalir ke seluruh tubuhnya, memberikan rasa aman yang luar biasa.
"Mundur sedikit, gadis bodoh," ucap Bayu dengan suara rendah yang menggetarkan.
"Kau bisa mengotori seragammu kalau berdiri terlalu dekat dengan sampah-sampah ini."
Natasha menelan ludah, wajahnya merona merah karena perlakuan lembut dan perlindungan mendominasi dari Bayu.
Gadis itu tanpa sadar menurut, melangkah mundur dan berlindung di belakang punggung tegap pemuda tersebut.
Baskoro tertawa keras melihat pemandangan itu.
"Sombong sekali kau, bocah!"
"Satpam! Seret anak ini keluar dari gerbang sekarang juga, dan kalau dia melawan, patahkan saja kakinya!" perintah Baskoro dengan angkuh.
Empat orang satpam berbadan besar langsung berlari mendekat, bersiap menangkap Bayu.
Namun, sebelum tangan para satpam itu menyentuh seragam Bayu, suara decitan rem mobil yang sangat melengking terdengar dari arah halaman depan sekolah.
Ciiiit!
Sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengkilap berhenti tepat di lobi utama sekolah, dikawal oleh empat mobil SUV hitam di belakangnya.
Suasana koridor mendadak hening seketika.
Semua mata menatap ke arah lobi dengan rasa penasaran dan takjub.
Baskoro mengerutkan keningnya, mengenali plat nomor mobil mewah tersebut.
"Itu... itu kan mobil pribadi Ketua Yayasan?" gumam Wakil Kepala Sekolah dengan wajah pucat pasi.
Pintu mobil terbuka, dan belasan pria berjas hitam langsung turun membentuk pagar betis.
Dari kursi penumpang belakang, seorang pria tua melangkah keluar dengan postur tegap dan langkah yang sangat mantap.
Wajahnya terlihat sangat sehat dan segar, jauh dari desas-desus yang mengatakan bahwa dia sedang sekarat di rumah sakit.
Itu adalah Pak Herman, kakek Natasha sekaligus penguasa tertinggi di yayasan sekolah elit tersebut.
"Kakek!" teriak Natasha gembira, air matanya langsung menetes lega.
Pak Herman berjalan membelah kerumunan murid dengan aura intimidasi yang sangat pekat, membuat semua orang refleks menahan napas dan menunduk hormat.
Dia berhenti tepat di hadapan Baskoro dan Wakil Kepala Sekolah yang kini gemetar ketakutan.
Plak!!!
Suara tamparan keras menggema di koridor yang hening itu.
Pak Herman menampar wajah Wakil Kepala Sekolah dengan sekuat tenaga hingga pria penjilat itu tersungkur ke lantai dengan sudut bibir berdarah.
"Siapa yang memberimu wewenang mengeluarkan tamu kehormatanku dari sekolah ini, dasar anjing bodoh?!" murka Pak Herman dengan suara menggelegar.
Baskoro menelan ludah dengan susah payah, wajah garangnya kini berubah menjadi pucat pasi layaknya mayat.
"Pa-Pak Herman? Bukankah Anda sedang koma di rumah sakit?" tanya Baskoro terbata-bata, keringat dingin membanjiri dahinya.
Pak Herman menatap tajam ke arah Baskoro, sorot matanya seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.
"Kau kecewa melihatku masih hidup, Baskoro?"
"Kau pikir donasi murahanmu itu cukup untuk mengambil alih sekolahku dan menindas orang yang sudah menyelamatkan nyawaku?"
Semua murid di koridor tersentak kaget mendengar ucapan Ketua Yayasan.
Orang yang menyelamatkan nyawa Pak Herman? Siapa?
Mata semua orang langsung tertuju pada sosok Bayu yang masih berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku.
Pak Herman melangkah melewati Baskoro, lalu menundukkan kepalanya sedikit di hadapan Bayu, sebuah gestur hormat yang membuat rahang semua orang nyaris jatuh ke lantai.
"Maafkan saya atas ketidaknyamanan ini, Tuan Muda Bayu."
"Saya jamin, hama-hama ini akan saya bersihkan detik ini juga," ucap Pak Herman dengan nada yang sangat sopan.
Kevin yang melihat kejadian itu langsung lemas, kakinya tidak kuat menahan berat badannya hingga dia jatuh terduduk di lantai koridor.
Ini tidak mungkin, batin Kevin menjerit histeris.
Baskoro buru-buru maju, mencoba membela diri.
"Pak Herman, Anda pasti salah paham! Anak ini telah mencuri aset sekolah, dia pantas dihukum!" elak Baskoro panik.
Pak Herman mendengus jijik.
Dia menjentikkan jarinya, dan salah satu asistennya langsung menyerahkan sebuah tablet layar sentuh ke hadapan Baskoro.
Di layar itu, terpampang jelas rekaman CCTV semalam yang menunjukkan Kevin dan beberapa pesuruh Baskoro menyelundupkan alat lab medis keluar sekolah.
"Kau pikir sistem keamanan sekolahku ini busuk atau gimana?" desis Pak Herman mematikan.
"Mulai hari ini, seluruh kontrak kerja sama pertambangan perusahaanmu dengan grup bisnisku resmi dibatalkan."
Bruk!
Baskoro langsung jatuh berlutut di lantai, memegang ujung celana Pak Herman dengan wajah penuh keputusasaan.
"Tolong, Pak Herman! Jangan batalkan kontrak itu, perusahaan saya bisa bangkrut jika seperti itu! Saya mohon ampun!" tangis pria paruh baya yang beberapa menit lalu bertingkah layaknya raja.
Pak Herman menendang tangan Baskoro dengan kasar.
"Jangan minta ampun padaku."
"Minta ampunlah pada pemuda yang baru saja kau usir itu, karena nyawaku ada di tangannya."
Baskoro merangkak mendekati Bayu, membuang seluruh harga dirinya di depan puluhan murid yang menonton.
"Bayu, tolong maafkan saya! Saya buta, saya bodoh! Tolong bujuk Pak Herman agar tidak menghancurkan perusahaan saya!" mohon Baskoro sambil bersujud di kaki Bayu.
Bayu menunduk, menatap ayah dan anak yang kini terlihat lebih rendah dari kotoran yang menempel di sol sepatunya.
Bibir Bayu menyeringai tipis, sangat dingin dan kejam.
"Aku sudah bilang kan, jangan bertingkah sok jagoan kalau tubuhmu serapuh itu," ucap Bayu mengulang kata-kata yang pernah dia ucapkan pada Kevin.
Bayu melangkah mundur, menghindari sentuhan tangan Baskoro seolah merasa jijik.
"Urus mereka, Pak Herman."
"Aku tidak suka suasana kelasku diganggu oleh bau sampah," ucap Bayu datar, lalu berbalik dan berjalan menuju kelasnya seolah drama pembalasan dendam barusan hanyalah hiburan murahan.
Natasha menatap punggung Bayu yang menjauh dengan dada berdebar sangat kencang.
Gadis itu sadar, pemuda miskin yang selama ini dia remehkan ternyata adalah naga yang sedang tidur.
Dan kini, naga itu telah terbangun untuk menguasai segalanya.