Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naga yang mengejar
Segera Xiao Meimei berusaha berdiri, berlari, dan melompat. Ia berusaha membantu Li Yin yang terluka dan memuntahkan darah. Namun, segera angin berhembus kencang, burung-burung beterbangan, dan daun-daun berguguran. Naga itu akhirnya berada di depan mereka. Kedua matanya melotot marah. Itu terlihat besar, mungkin sekitar tiga puluh meter. Kedua kumis panjangnya bergoyang-goyang. Naga itu membuka mulutnya. Raungan yang menggelegar terdengar, memekakkan telinga. Xiao Meimei dan Li Yin terdiam mematung. Mereka masih diam saja dan tidak berani bergerak.
Lalu perlahan-lahan naga itu bergerak mendekat, masuk ke dalam sela-sela pohon. Li Yin dan Xiao Meimei terlihat kecil. Di langit, hanya ada kepala naga yang meraung. Barangkali ini hewan buas level tujuh hingga delapan, mungkin jauh dari itu. Kedua matanya menyeramkan. Sisik-sisiknya terlihat keras dan solid.
Kaki dan tangan Xiao Meimei bergetar. Ia tanpa sadar bergumam, “Kakak... Apa yang harus kita lakukan?”
Li Yin yang terluka hanya diam saja. Ia mendongak menatap naga itu, lalu memejamkan matanya sebentar. Tidak lama, perlahan-lahan muncul sebuah pedang di tangannya. Mula-mula itu hanya gagangnya, lalu perlahan-lahan bilahnya.
Namun sebelum pedang itu terbentuk sepenuhnya, tiga anak panah melesat ke langit. Suaranya mengejutkan, membuat mereka berdua menoleh.
Itu adalah Xuan Han yang keluar dari semak-semak. “Apa yang kalian tunggu? Cepat pergi dari sini!”
Xuan Han mengambil beberapa anak panah yang tersisa. Jumlahnya ada empat, ia meletakkannya di busur lalu mulai membidik.
Xiao Meimei dan Li Yin baru tersadar, segera bergerak menjauh.
Sementara itu, Xuan Han menatap naga tersebut. “Naga bodoh! Coba tangkap aku!”
Empat anak panah melesat. Naga itu segera meraung membuka mulutnya. Suaranya lagi-lagi menggelegar dan empat anak panah itu hancur. Beberapa air liurnya berhamburan. Xuan Han membencinya. Aromanya busuk. Ia telah lama berpikir untuk mengambil tindakan ini. Terlepas apakah setelah ini akan selamat atau tidak, ia tidak bisa mundur lagi.
Xuan Han berbalik pergi, masuk ke semak-semak. Ia berlari ke dalam hutan. Sementara naga itu bergerak cepat di antara pohon-pohon dan menghancurkannya. Gerakannya sangat cepat. Segera tubuh Xuan Han dibanjiri keringat.
Hanya dalam beberapa detik saja, beberapa kali naga itu membuka mulutnya ingin memakan Xuan Han. Xuan Han mengumpat dalam hati, mengapa ia harus seperti ini? Bukankah ini namanya bunuh diri?
Tetapi, beruntungnya semakin lama ada banyak pohon dan tubuhnya terasa jauh lebih ringan.
Naga itu sering meraung dan beberapa kali menyemburkan api panas. Setiap kali ia melintas, beberapa tanaman akan layu.
Xuan Han beberapa kali hampir dimakan, dan pada akhirnya ia melompat, memutar tubuhnya, lalu melempar pedang berkaratnya. Pedang itu meleleh, yang membuatnya terkejut. Ia langsung berbalik dan berlari.
Terus bergerak, ia memikirkan tentang tebing besar itu; rasanya ia telah bergerak menjauh darinya. Ia juga berusaha mengingat-ingat di mana ada pohon besar ketika ia menatap lembah dari atas tebing. Namun, tidak ada pohon besar yang diingatnya. Ia jadi kesal dan menggertakkan giginya.
Berpikir, seharusnya pohon-pohon itu hidup dan ia dapat memperlambat laju naga yang marah ini.
Sembari menghindar dan melempar apa pun yang ditemukannya, Xuan Han mengumpat beberapa kali lagi. Ia bertanya-tanya mengapa hanya ia yang terus dikejar. Mengapa tidak berbalik saja mengejar Xiao Meimei dan Li Yin?
Ia agak menyesal karena bersikap sok pahlawan.
Hutan yang tenang dijatuhkan dalam kekacauan. Banyak hewan yang melihat naga melesat langsung lari ketakutan. Burung-burung beterbangan.
Setelah pengejaran yang melelahkan itu, akhirnya mata Xuan Han menjadi cerah. Di depannya ada dua pohon besar yang menjulang tinggi.
Seingatnya, pohon ini jenis pohon yang sama yang pernah menyerangnya.
Ia mengambil dua batu dan melemparkannya.
Tiba-tiba ada wajah yang muncul di batangnya dengan ekspresi dingin. Xuan Han terkejut. Sepertinya ini bukan level tiga lagi. Kedua matanya berwarna ungu cerah. Kala itu, perlahan-lahan akar-akar yang besar melesat ke arah Xuan Han.
Pemuda itu melompat, menyeret kakinya untuk menghindar, dan ia gembira berhasil lolos darinya. Lalu datang naga itu dan meraung, menyemburkan api panas. Kedua wajah pohon itu berkerut, dan tentakelnya melesat menyerang. Hal itu dapat memberi waktu lebih banyak pada Xuan Han. Akar-akar pohon melilit tubuh naga hingga membuatnya meronta-ronta. Tetapi, naga itu meraung-raung. Api menyebar ke segala arah. Pada akhirnya kedua wajah pohon itu pucat dan perlahan-lahan layu. Naga itu berhasil meloloskan diri dan segera melesat menyerang Xuan Han.
“Naga tua! Mengapa kau harus mengejarku lagi?”
Xuan Han bergumam. Ia tiba-tiba berhenti di depan rawa-rawa.
“Rawa-rawa lagi.”
Ia melihat beberapa pasang mata mengintip di permukaannya yang tenang. Xuan Han tidak punya pilihan lagi; Ia melompat-lompat di antara akar pohon. Beberapa buaya melesat menyerangnya. Xuan Han akan memukul, menendang, dan menghindarinya.
Ketika naga itu datang, permukaan air mengeluarkan asap. Ia meraung dan mata-mata buaya tidak berani menampakkan diri lagi.
Kemudian naga itu melesat, berbelok ke kiri, lalu terbang ke langit. Melesat ke depan lalu tiba-tiba mengunci posisi di depan Xuan Han. Pemuda itu terkejut, mendadak berhenti, dan keringat berhamburan dari tubuhnya. Detak jantungnya yang cepat beradu dengan embusan napas naga besar itu.
Xuan Han tidak menyangka naga ini benar-benar sulit dan cerdik. Mereka saling tatap beberapa saat. Tidak lama naga itu membuka mulutnya lalu kembali melesat. Xuan Han memperhatikan sekitarnya. Ia segera melesat ke depan, menunduk di bawah dagu naga, dan akhirnya berhasil melewatinya. Ia segera berlari secepat kilat. Sementara naga itu meraung dan menyemburkan api panas. Itu mengenai tubuh Xuan Han hingga membuatnya terluka. Rasanya panas, perih dan menyakitkan.
Menggertakkan giginya, ia terus berlari. Pakaiannya jadi compang-camping. Naga itu meraung-raung dan melesat menyerang.
“Naga brengsek, kenapa kau tidak lelah!? Cepat pergi! Kedua gadis itu jauh lebih menarik.”
Kaki Xuan Han sudah terasa sakit dan lemas. Jantungnya yang berdetak kencang sudah hampir mau pecah. Namun yang tidak disadarinya di dalam tubuhnya, ketika jantungnya berdetak kencang, ada dua cahaya merah yang mengelilingi jantungnya. Gerakannya semakin lama semakin cepat.
Xuan Han yang kelelahan beberapa kali terjungkal dan jatuh. Ia terus berusaha berdiri lagi. Naga itu semakin ganas.
Pada akhirnya ia kelelahan dan berhenti. Naga itu segera melingkarkan tubuhnya di antara pepohonan, mengurung Xuan Han dari segala sisi. Xuan Han tidak bisa lari. Ia menatap naga besar yang menatapnya tajam.
Tidak lama kemudian, getaran perlahan-lahan muncul dari tanah dan semakin membesar. Naga itu mengangkat kepalanya. Dari kejauhan ada kera hitam yang bergerak membungkuk dan semakin dekat. Tubuhnya setara dengan naga itu. Keduanya seperti raksasa hutan di sini. Saling menatap, naga itu meraung lalu dibalas juga dengan raungan dari kera hitam itu. Suara keduanya mampu membuat pohon-pohon bergoyang. Dan, Xuan Han yang ada di sekitar mereka merasa telinganya pecah.
Kemudian mereka saling menatap lagi. Naga itu tidak memedulikan kera dan segera berusaha mengisolasi Xuan Han dari segala sisi. Sisik-sisiknya yang tajam dan keras bergerak menari-nari, bahkan menghancurkan pohon-pohon di sekitar Xuan Han.
Pemuda itu tidak tahu harus melakukan apa. Tubuhnya kelelahan dan ia tidak punya kemampuan seperti Li Yin dan Xiao Meimei. Pada akhirnya ia duduk lemas sembari mengatur napasnya. Ia sangat kelelahan.