Indonesia
NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jiwa Yang Kuat

Angin musim dingin melolong di luar gubuk, menyelipkan hawa beku melalui celah-celah dinding kayu yang mulai lapuk.

Di dalam ruangan yang hanya diterangi sebatang lilin redup, Aurelia meringis pelan. Pergelangan tangannya yang kurus tampak kontras dengan warna lebam membiru yang mencolok akibat cengkeraman kasar beberapa waktu lalu.

Di depannya, Arthur tampak fokus. Jari-jarinya yang kasar bergerak begitu cekatan, mengoleskan salep herbal dengan ritme yang sangat lambat namun teratur, seolah-olah tekanan sekecil apa pun bisa menghancurkan kulit gadis itu.

Meski ada memar kemerahan di pipi kiri Aurelia—bekas tamparan mentah yang selalu dia terima—wajah Aurelia tidak menunjukkan kehancuran.

Matanya tetap teduh, sedalam telaga es, dingin, dan tidak tersentuh. Klan Es menganggapnya sebagai aib, anak haram yang lemah dan pantas diinjak.

Namun, mereka keliru. Aurelia bukan lemah; dia hanya memilih diam, menunduk, dan mengumpulkan badai dalam keheningan.

"Arthur," suara Aurelia memecah keheningan, terdengar pelan namun sarat akan penekanan yang menuntut.

Gerakan tangan Arthur tidak berhenti, ia hanya bergumam pelan sebagai respons agar gadis itu melanjutkan kalimatnya.

"Apa kau yang melakukannya?" tanya Aurelia penuh selidik, matanya menyipit, berusaha membaca setiap jengkal ekspresi di wajah pemuda itu.

Seketika itu juga, tangan Arthur yang sedang mengobati luka Aurelia terhenti di udara. Keheningan yang mencekam mendadak merayap di antara mereka.

Arthur mengangkat pandangannya, menatap langsung ke dalam manik mata Aurelia selama beberapa detik yang terasa begitu lama, sebelum akhirnya kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya dengan rapi.

"Tentang apa yang Nona maksud? Saya tidak mengerti," sahut Arthur datar, nadanya diatur sedemikian rupa untuk berpura-pura bodoh.

"Harimau itu..." Aurelia mendesak, suaranya menajam bagai mata pisau. "Apa kau yang menghentikan serangannya dan membalas Enzo hingga terlempar?"

Arthur terdiam sejenak. Ia meletakkan wadah salep kecil di lantai papan, lalu menatap lama mata gadis di hadapannya.

"Saya hanya seorang penjaga kuda yang bertugas di kandang kuda, Nona Aurelia," kata Arthur dengan ketenangan yang tidak wajar. "Mana mungkin seorang budak rendah seperti saya memiliki kekuatan sihir sebesar itu untuk melawan Tuan Muda Enzo? Menepis bayangannya saja saya tidak akan mampu. Apa yang Nona lihat mungkin hanya sebuah kebetulan."

Aurelia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ia menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Arthur. Ada sesuatu yang bergeser di sana. Ada kilatan asing yang terasa sangat pekat, kuat, dan berbahaya—sesuatu yang belum pernah ia lihat selama bertahun-tahun mereka tumbuh bersama.

Namun, sebelum Aurelia sempat membuka suara untuk mendesak lebih jauh, Arthur tiba-tiba bergerak maju. Telapak tangannya yang berubah hangat menyentuh kening Aurelia dengan lembut.

Sentuhan tak terduga itu seketika membuat seluruh tubuh Aurelia menegang kaku. Selama ini, batas selalu menjadi dinding tebal di antara mereka.

"Nona sedang demam tinggi... tubuh Anda sangat panas," ujar Arthur, mengalihkan pembicaraan dengan halus seraya menarik kembali tangannya. "Saya akan ke dapur belakang untuk menyiapkan air panas dan handuk bersih. Mohon jangan banyak bergerak dulu."

Aurelia langsung mencekal tangan Arthur, saat ia mengingat sesuatu, matanya berubah menjadi khawatir. "Arthur... punggungmu juga terluka." kata Aurelia merasa bersalah.

Arthur hanya tersenyum tipis, melepaskan tangan Aurelia dari pergelangan tangannya dengan lembut. "Aku bisa menjaga diriku sendiri, Nona."

Tanpa menunggu jawaban, Arthur berdiri dan berbalik, melangkah lebar meninggalkan ruangan. Aurelia hanya bisa terpaku, menatap punggung tegap Arthur yang perlahan menghilang di balik pintu dengan perasaan yang campur aduk antara bingung, curiga, dan hangat yang asing.

"Arthur... tatapanmu hari ini berubah," gumam Aurelia lirih pada kegelapan kamar.

Bagi Aurelia, Arthur bukan sekadar pelayan yang mengurus hewan tunggangan. Dia adalah satu-satunya sahabat di neraka bernama Klan Es ini.

Selama ini, Arthur selalu tahu diri; ia menjaga jarak beberapa langkah di belakang Aurelia demi menghormati status darahnya, meskipun seluruh dunia mencaci Aurelia sebagai anak haram yang hina. Arthur selalu memperlakukannya bak seorang ratu.

Namun hari ini, entah mengapa, dinding pembatas dan jarak yang mereka pelihara bertahun-tahun itu hancur seketika oleh sebuah rahasia yang tidak terucapkan.

Sementara itu, Arthur berdiri mematung di halaman yang luas, tanah yang tertutup oleh salju tebal. Matanya yang sewarna perak menatap lurus ke langit malam yang kelabu, menyaksikan ribuan keping es jatuh menghujam bumi.

Anehnya, embusan napasnya tidak memunculkan uap dingin. Kulitnya yang pucat tetap hangat, mengabaikan udara beku yang menusuk tulang.

Sebagai Penyihir Nomor Satu yang dihormati sekaligus ditakuti oleh seluruh penjuru dunia, cuaca alam ini hanyalah gangguan kecil. Dirinya telah lama melampaui batas wajar tubuh manusia fana.

Di puncak pencapaiannya, ia telah menembus Tingkat 10 Keabadian—sesuatu yang mungkin tidak akan pernah di miliki Penyihir mana pun. Tubuh itu bukan lagi sekadar daging dan darah, melainkan tubuh yang jauh melampaui batas manusia normal.

Meskipun saat ini jiwanya terperangkap di dalam raga pemuda bernama Arthur, kesadaran dan identitasnya tidak pernah berubah. Jiwanya tetaplah dirinya yang agung—Lucien.

Arthur perlahan mengangkat tangan kanannya. Jari-jemarinya bergerak memanggil energi kekuatan nya, cahaya putih terang yang berputar-putar statis di atas telapak tangannya.

Aliran sihir itu begitu padat, memancarkan tekanan tak kasat mata yang membuat salju di sekitarnya menguap sebelum menyentuh tanah.

Ia tersenyum tipis, sebuah seringai yang asing bagi wajah polos milik Arthur.

"Bagus... kekuatan ku masih sempurna," kata Arthur, nada suaranya bergetar oleh kepuasan hati yang mendalam.

Ia mengepalkan tangan, meredam pusaran energi itu kembali ke dalam nadinya dalam satu hentakan halus. "Meskipun tubuh laki-laki ini sangat lemah... tapi di luar dugaan, dia mampu menampung seluruh kekuatan yang aku punya tanpa hancur menjadi abu," lanjut Arthur, berbicara pada kesunyian malam yang dingin.

Selama dua puluh tahun penuh penderitaan, jiwanya terlunta-lunta, berkelana di dunia bawah hanya untuk mencari cangkang fisik yang cocok.

Itu adalah pencarian yang nyaris sia-sia. Berkali-kali ia menemukan jasad para ksatria tangguh, atau mungkin tubuh kuat lainnya yang masih hidup namun jiwanya nyaris hilang.

Berkali-kali pula ia mencoba merasuki mereka, namun setiap kali ia melakukan itu, jiwanya yang terlampau kuat menolak dan menghancurkan tubuh-tubuh itu dari dalam karena tidak kuat menahan beban energinya.

Namun, takdir memiliki selera humor yang unik. Entah keajaiban atau apa yang terjadi pada raga rapuh Arthur ini.

Cangkang ini mampu menampung setiap jengkal kekuatan Lucien, bahkan memiliki daya tarik magnetis yang kuat hingga menarik jiwanya yang tersesat untuk menetap dan menyatu dengan sempurna.

Arthur menurunkan tangannya, lalu mengusap dadanya, merasakan detak jantung baru yang kini berdenyut selaras dengan sihir abadi miliknya. Tatapannya menyapu halaman paviliun yang sepi, membayangkan intrik dan kekacauan dunia luar yang akan segera ia hadapi dengan identitas baru ini.

"Hidup sebagai Arthur... mungkin akan menjadi babak baru yang sangat menyenangkan," gumam Arthur, menarik ujung bibirnya membentuk senyuman misterius yang sarat akan rencana besar.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!