Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Nadya melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya yang megah dengan dada yang masih bergemuruh.
Setelah memastikan Armand kembali ke ruang produksi dengan aman, ia menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya.
Sorot matanya yang biasanya hangat kini berubah menjadi begitu tajam dan dingin.
Nadya tidak mau tinggal diam melihat kejadian di luar tadi.
Perempuan licik seperti Sarah tidak akan berhenti hanya karena sebuah ancaman rekaman suara.
Nadya menekat tombol intercom di mejanya dengan mantap.
"Siska, masuk ke ruanganku sekarang."
Hanya dalam hitungan detik, pintu ruang kerja
terketuk pelan.
Siska, sekretaris kepercayaan Nadya yang sigap, masuk ke dalam ruangan dengan membawa buku catatan di tangannya.
"Iya, Nyonya. Ada apa?" tanya Siska penuh hormat.
Nadya menyandarkan punggungnya, menatap sekretarisnya dengan raut wajah penuh keseriusan.
"Cari tim detektif swasta terbaik atau minta seseorang profesional untuk mengawasi Sarah dua puluh empat jam penuh. Jangan sampai dia lepas dari pengawasan kita sedikit pun."
Siska sempat tertegun sesaat mendengar nama itu, namun ia segera mengangguk patuh.
"Baik, Nyonya. Apakah ada instruksi khusus yang harus disampaikan kepada tim pengawas?"
Nadya tersenyum sinis, ada kilatan kemarahan yang tertahan di matanya.
Ia tahu betul siapa Sarah sebenarnya—bukan sekadar mantan istri, tetapi juga sosok yang dulu pernah mengaku sebagai sahabatnya sendiri sebelum pengkhianatan besar itu terbongkar.
Dulu, ketika Armand berada di titik terendahnya, Sarah dengan sangat tega 'menjual' dan melepaskan Armand demi uang tunai sebesar dua miliar rupiah yang dibayarkan untuk memenuhi gaya hidup mewahnya.
Namun kini, melihat Armand telah bangkit, dihormati, dan hidup bergelimang harta bersama Nadya, rasa serakah Sarah kembali membara. Perempuan itu tanpa malu ingin merebut Armand kembali.
"Pastikan mereka mencatat setiap pergerakan, dengan siapa saja dia bertemu, dan rencana apa pun yang sedang dia susun," lanjut Nadya dengan suara rendah yang penuh penekanan.
"Perempuan serakah itu dulu menjual Armand seharga dua miliar rupiah demi kepuasan pribadinya. Sekarang, saat Armand sudah bahagia dan sukses, dia pikir dia bisa mengambilnya lagi begitu saja? Jangan harap. Aku akan memastikan dia membusuk dengan keserakahannya sendiri."
Sementara itu, di dalam ruang produksi yang tenang dan ber-AC, suara ketukan mesin jahit dan gunting yang memotong kain menjadi latar belakang kesibukan sore itu.
Para asisten bekerja dengan fokus tinggi, mengikuti petunjuk pola yang telah disiapkan.
Namun, di sudut mejanya, gerakan tangan Armand yang sedang memegang kapur kain mendadak terhenti.
Satu garis lurus yang seharusnya terukir rapi di atas bahan katun biru dongker itu sedikit melenceng.
Armand menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan matanya sejenak.
Kata-kata Sarah di seberang jalan tadi kembali berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang memuakkan.
Lebih baik kita rujuk, Mas. Dan, kita bisa bekerja sama mengambil harta Nadya.
Senyuman licik Sarah, sorot mata serakah yang tidak pernah berubah, serta tawaran kotor itu membuat dada Armand bergemuruh hebat.
Rasa jijik dan amarah yang luar biasa kembali mencengkeram benaknya.
Dulu, wanita itu membuangnya tanpa belas kasihan saat ia tak berharta, menginjak-injak harga dirinya, dan menganggapnya tak lebih dari sampah.
Kini, tanpa rasa malu sedikit pun, Sarah datang kembali—bukan karena menyesal atau mencintainya, melainkan demi kilau harta yang dimiliki Nadya.
Armand mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Kapur kain di genggamannya hampir saja patah.
“Kamu benar-benar tidak kenal siapa aku sekarang, Sarah,” batin Armand tajam.
Rasa mual atas kelicikan mantan istrinya itu tidak membuatnya gentar, melainkan makin membakar tekadnya untuk melindungi Nadya.
Nadya adalah wanita yang telah mengangkat derajatnya dari keterpurukan, memberinya cinta yang tulus, dan mengembalikan harga dirinya sebagai seorang pria.
Armand membuka matanya kembali. Sorot matanya kini jernih, dingin, dan dipenuhi keyakinan mutlak.
Ia menghembuskan napas perlahan, mengusir sisa-sisa amarah yang tak berguna, lalu kembali membetulkan posisi kain di atas meja.
Ia tidak akan membiarkan bayangan masa lalu atau ambisi busuk Sarah merusak masa depan indah yang sedang ia bangun bersama istrinya.
Armand kembali fokus pada gulungan kain di depannya. Jemarinya yang terampil bergerak cepat dan presisi, memotong pola demi pola dengan ketelitian yang luar biasa.
Ia mengalihkan seluruh emosi negatif dari ingatan tentang Sarah menjadi energi kreatif yang memukau.
Kelima asistennya yang melihat dedikasi sang pimpinan semakin bersemangat dan takjub akan kepiawaian Armand dalam memimpin proses produksi tersebut.
Waktu berlalu tanpa terasa hingga jam kerja usai. Ruang produksi sudah tertata rapi, dan beberapa sampel awal seragam baru telah selesai dijahit dengan sangat sempurna.
Setelah berpamitan dengan para asistennya, Armand melangkah menuju ruang kerja Nadya.
Tanpa mengetuk pintu, ia masuk dan menemukan istrinya sedang merapikan beberapa berkas di atas meja kerja.
Nadya mendongak dan tersenyum hangat saat melihat suaminya datang.
"Sudah selesai untuk hari ini, Mas?"
"Sudah, Dek," jawab Armand lembut sambil berjalan mendekat.
Ia mengecup dahi Nadya dengan penuh kasih sayang, meluruhkan sisa-sisa keletihan hari itu.
"Semua sampel awal berjalan lancar. Hasil jahitannya sangat memuaskan."
"Alhamdulillah," bisik Nadya bahagia. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Armand, bersandar nyaman di dada suaminya.
"Ayo kita pulang. Aku ingin istirahat di rumah bersamamu."
Keduanya keluar dari gedung kantor dengan bergandengan tangan, memancarkan aura kebahagiaan yang tidak bisa digoyahkan oleh siapa pun.
Setibanya di kediaman mereka, suasana malam terasa begitu menenangkan.
Bibi menyambut kedatangan mereka dan meminta mereka untuk segera mandi.
Usai membersihkan diri dan menyantap makan malam sederhana buatan Bibi, Armand dan Nadya menghabiskan sisa malam di ruang keluarga.
Mereka duduk bersisian di atas sofa empuk, menonton tayangan televisi dengan jemari yang saling bertaut erat.
Sisa-sisa ketegangan akibat ulah Sarah siang tadi perlahan menguap, tergantikan oleh kehangatan yang menyelimuti seluruh ruangan.
Namun, kedamaian di rumah itu berbanding terbalik dengan kondisi di sudut kota yang lain.
Di sebuah kafe remang-remang yang tenang, Siska duduk berhadapan dengan seorang pria berjaket kulit hitam.
Pria itu adalah detektif swasta berpengalaman yang baru saja disewa atas perintah langsung dari Nadya.
"Ini identitas target, foto, serta nomor plat kendaraannya," ujar Siska seraya menggeser sebuah amplop cokelat tebal ke tengah meja.
"Nyonya Nadya ingin pengawasan penuh dua puluh empat jam. Catat setiap orang yang dia temui, lokasi yang dia kunjungi, dan setiap transaksi yang dia lakukan. Jangan sampai ada satu detail pun yang terlewat."
Pria berjaket kulit itu membuka amplop, mengamati foto Sarah sejenak, lalu mengangguk mantap.
"Serahkan padaku. Dalam dua hari, kamu akan mendapatkan laporan lengkap mengenai seluruh pergerakannya."
Siska mengangguk puas. Setelah menyelesaikan pembayaran uang muka, ia segera meninggalkan kafe tersebut dan memberikan laporan singkat melalui pesan singkat kepada Nadya.
Sementara itu, di dalam apartemennya, Sarah duduk di tepi ranjang dengan napas memburu.
Rasa malu akibat gertakan Armand dan rekaman suara siang tadi masih membuat dadanya sesak oleh emosi.
Namun, bukannya mundur, penolakan Armand justru makin membakar ketamakan dan dendam di kepalanya.
"Kamu pikir kamu bisa mengancamku dengan rekaman murah itu, Armand?" desis Sarah dengan mata bersirat kebencian.
Ia mencengkeram ponselnya erat-erat, lalu mengetik sebuah nomor yang sudah lama tidak ia hubungi.
Setelah beberapa nada panggil, suara berat seorang pria terdengar dari seberang telepon.
"Halo, Sarah? Ada angin apa kamu menghubungiku malam-malam begini?"
Sarah menyunggingkan senyum licik, suara bergetar emosinya mendadak berubah menjadi manis dan penuh manipulasi.
"Aku punya penawaran menarik buat kamu. Ini tentang perusahaan Nadya, dan mantan suamiku yang sok suci itu."
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,