Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Warisan Ingatan Kunpeng
Su Yu masih terjaga di bawah pohon besar itu, punggungnya menyandar pada akar yang menonjol dari tanah. Pikirannya terus berputar pada keanehan tubuhnya yang pulih begitu cepat, seolah ada kekuatan lain di luar kendalinya yang turut campur.
"Apa sebenarnya yang terjadi padaku di dalam air tadi?" batinnya lirih, nyaris tanpa suara.
Ia mencoba mengingat kembali setiap potongan kejadian, mulai dari tubuhnya yang jatuh ke sungai, lalu suara Xioutian, hingga ledakan air yang membuatnya terdampar di tepian. Namun semua itu terasa seperti mimpi yang samar, terlalu jauh untuk digenggam.
"Jika ini efek esensi Kunpeng yang menyatu dengan tubuhku, maka aku harus benar-benar memahaminya. Kalau tidak, keajaiban semacam ini hanya akan menjadi pedang bermata dua."
Pemuda itu menghela napas panjang, lalu menutup kedua matanya.
Tak terasa setengah batang dupa berlalu. Xioutian masih tertidur pulas di atas batu kecil dengan bulu-bulu yang mengembang menahan dingin. Sementara itu, kesadaran Su Yu telah terseret jauh kedalam mimpi.
Ketika matanya terbuka kembali, ia tidak lagi berada di bawah pohon di dasar jurang.
Hamparan biru luas membentang ke segala arah tanpa tepi, bergerak perlahan seperti permukaan samudra. Langit di atasnya tidak tampak, hanya kekosongan tak berujung yang memantulkan cahaya samar. Su Yu berdiri di atas air itu tanpa tenggelam, kedua telapak kakinya menempel pada permukaan yang beriak halus.
"Dimana ini?" gumamnya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.
Tiba-tiba satu zhang di depannya energi biru mulai menggumpal, berputar perlahan hingga membentuk gumpalan cahaya sebesar kepalan tangan.
"Apa itu?"
Su Yu memberanikan diri melangkah mendekat. Setibanya di hadapan gumpalan energi tersebut, tangannya terulur dan ujung jarinya menyentuh permukaan cahaya itu.
Dug!
Seketika kepalanya terasa pusing, pandangannya berputar kacau, lalu satu zhang darinya sesosok pria muncul membelakanginya.
"Kau sudah melewati keadaan hidup dan mati. Itulah sebabnya aku bisa muncul."
Su Yu mencoba menjawab, tetapi tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Ia menekan dadanya sendiri, berusaha memaksakan kata-kata, namun tetap hampa. Tubuhnya terasa seperti patung yang hanya mampu menatap.
"Tentu saja. Aku tidak memiliki waktu untuk tanya jawab."
Sosok itu mulai memudar di bagian tepinya, seperti pasir yang tertiup angin halus. Suaranya tetap terdengar jelas di telinga Su Yu.
"Aku akan memberikanmu warisan ingatan sebelum diriku menghilang. Tetapi ingatan itu sangat dangkal karena aku hampir kehilangan semuanya. Yang tersisa hanya obsesi. Jadi untuk melangkah lebih jauh kau harus mencari tahu sendiri. Jangan berharap banyak dariku."
Sosok tersebut berbalik perlahan, memperlihatkan wajah seorang pria tampan dengan garis rahang tegas dan mata yang menyimpan kedalaman tak terukur. Ia menatap Su Yu sejenak, lalu melanjutkan.
"Sebelumnya, luka-lukamu bisa pulih bukan disebabkan efek Kunpeng. Tapi karena aku yang melakukannya. Setelah ini kau tidak akan mendapatkan keajaiban seperti sebelumnya. Jadi berhati-hatilah ke depannya."
Su Yu masih berusaha bersuara, tetapi tenggorokannya tetap terkunci. Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, menahan dorongan untuk berteriak.
"Jangan khawatir. Aku sudah mempersiapkan teknik dasar agar pertemuan singkat ini tidak sia-sia."
Pria itu mengulurkan tangannya ke depan, lalu seberkas energi biru melayang dari telapak tangannya menuju dahi Su Yu. Cahaya itu masuk tanpa hambatan, menyusup ke dalam kesadarannya seperti aliran air yang menemukan celah.
"Anak muda, kuasailah segala hal. Pemilik Kunpeng sebelumnya pernah melakukan ini di suatu zaman."
Sosok itu tersenyum tipis, kemudian tubuhnya melebur menjadi butiran cahaya yang beterbangan, hilang ditelan hamparan samudra luas yang mulai beriak semakin keras.
"Senior!!!"
Suara itu akhirnya keluar. Namun bersamaan dengan teriakan itu, mata Su Yu terbuka lebar. Ia tidak lagi berada di tengah samudra, melainkan kembali ke dasar jurang, duduk bersandar pada akar pohon dengan napas tersengal.
"Ahyoyoyo!"
Xioutian terperanjat dari tempat tidurnya. Bulu-bulunya berdiri, kepalanya menoleh ke segala arah dengan siaga.
"Siapa senior? Apakah ada musuh?!" serunya sambil memasang kuda-kuda dengan sayap terangkat, siap menyerang ke arah mana pun.
Su Yu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Darah di tubuhnya terasa mengalir lebih cepat dari biasanya, sementara keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Tidak ada apa-apa. Tidurlah lagi. Aku hanya mengalami mimpi buruk."
Burung kecil itu menggaruk kepalanya dengan ujung sayap, lalu menatap tuannya dengan tatapan tidak percaya.
"Aneh... kau tidak terlihat seperti habis mimpi buruk."
Su Yu tidak menanggapi. Ia segera bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju area yang lebih rata di dekat pohon. Setelah menemukan posisi yang cukup datar, ia duduk bersila dan meletakkan kedua tangannya di atas lutut.
Xioutian masih mengamatinya dari atas akar, tetapi karena tidak melihat ancaman nyata di sekitar mereka, burung itu akhirnya memutuskan untuk tidur lagi.
Sementara itu, Su Yu mulai menenangkan pikirannya. Ingatan yang diberikan oleh sosok misterius itu mengalir perlahan, seperti sungai tenang yang membawa potongan-potongan pengetahuan.
Suara di dalam kesadarannya mulai terbentuk.
"Untuk menguasai Kunpeng, dibutuhkan pemahaman Dao yang kuat. Jika pemahaman itu lemah, paling banter pemilik kekuatan ini hanya akan sampai di fase Kun. Ia tidak akan pernah bisa mencapai fase Peng, apalagi fase sempurna Kunpeng."
Su Yu mencerna kalimat itu dengan saksama. Fase Kun, fase Peng, fase Kunpeng sempurna... ketiganya pernah disebutkan oleh Cangle, tetapi kali ini penjelasannya jauh lebih detail dan menyentuh dasar dari setiap perubahan.
Ia menerima langsung pemahaman tentang tiga wujud tersebut.
Pengguna kekuatan Kunpeng sangat kuat di dalam air ketika berada di fase awal atau setelah memasuki fase Kun. Kelebihan ini jarang dimiliki kultivator mana pun, karena tidak ada energi yang mampu menandingi Kunpeng di kedalaman air. Setelah mencapai fase Peng, pengguna akan menguasai langit, tetapi kekuatan di air tidak hilang karena fase Kun telah dilalui sebelumnya.
"Dan ketika mencapai fase Kunpeng sempurna..." Su Yu meresapi potongan ingatan itu lebih dalam, "di mana pun tempatnya, bahkan di dalam lahar panas dunia bawah, Kunpeng selalu kuat."
Satu syarat terbentuk di benaknya.
Untuk mencapai fase Kun, setidaknya dibutuhkan kultivasi Pendekar Jiwa. Jarak dari Pendekar Besi menengah menuju Pendekar Jiwa terbentang sangat jauh, seperti jurang yang tidak bisa diseberangi dalam semalam.
Namun Su Yu tidak merasa kecil. Ia justru mengepalkan tangannya di atas lutut, menanamkan tekad yang baru.
"Aku harus lebih kuat dari ini. Jika hanya sampai Pendekar Besi, aku tidak akan bisa bertahan dari kejaran para tetua."
Potongan ingatan berikutnya datang dalam bentuk teks yang muncul di kesadarannya.
Teknik Pelarian Air.
Teknik itu memungkinkan penggunanya masuk ke dalam tanah seperti memasuki air, lalu berenang dengan cepat di dalamnya. Teknik ini sangat berguna untuk menghindari para Pendekar Besi hingga Pendekar Emas, tapi tidak berlaku untuk Pendekar Jiwa yang memiliki kesadaran sangat kuat.
"Karena itulah teknik ini disebut teknik dasar," batin Su Yu.
Ia membuka matanya perlahan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, bukan karena ia telah memperoleh teknik menyerang yang hebat, melainkan karena teknik inilah yang paling ia butuhkan saat ini.
"Mengandalkan Xioutian akan sulit. Kondisinya belum pulih sepenuhnya, dan para tetua pasti akan mencariku lagi begitu fajar tiba. Teknik Pelarian Air ini solusi yang sangat tepat."
Su Yu segera memejamkan matanya lagi dan mulai memahami cara menggunakan teknik tersebut. Ia membiarkan aliran energi di dalam dantiannya bergerak, mencoba memahami pola yang dibutuhkan agar tubuhnya mampu melebur dengan tanah seperti air. Teori demi teori ia tata di dalam benaknya, memastikan bahwa ketika waktunya tiba untuk mencoba, ia telah memiliki dasar yang cukup kuat.
Di atas akar pohon, Xioutian ternyata berpura-pura tidur dan mengintip dari sela bulunya. Ia tidak bersuara, tetapi pikirannya bekerja menebak-nebak apa yang sedang dilakukan tuannya.
"Bocah ini barusan berteriak soal senior, lalu duduk bersila seperti orang yang baru mendapat pencerahan. Apa dia sedang menerima warisan leluhur? Sial, kenapa aku tidak ikut ke dalam mimpinya..."
Burung itu menghela napas kecil. Tidak ada gunanya menebak. Ia memutuskan untuk benar-benar tidur dan menyerahkan sisanya pada pagi yang akan datang.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔