Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.
Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.
Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.
Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.
Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri yang Salah
Malam semakin larut ketika upacara pernikahan pewaris keluarga Salvadore, Rozen dan Aurora resmi berakhir. Aurora pada akhirnya menerima takdir yang tidak bisa dielakkan lagi. Gadis itu dan janji suci yang diucapkannya. Menjadi istri seorang Rozen Salvadore, menggantikan kakaknya, hingga kematian yang memisahkan. Janji suci yang sejak awal telah tercemari dusta.
Ballroom yang sejak sore dipenuhi ketegangan kini berubah menjadi lautan cahaya dan alunan musik klasik yang mengalun lembut. Gelas-gelas kristal saling beradu, tawa para tamu terdengar bersahut-sahutan, sementara para pelayan berlalu-lalang menyajikan hidangan dan minuman terbaik.
Tamu undangan berdatangan silih berganti, berjabat tangan lalu mengucapkan selamat berbahagia kepada kedua mempelai. Seolah semuanya percaya bahwa pernikahan itu berlangsung sempurna tanpa cela.
Aurora berdiri di sisi Rozen dengan senyumannya yang sedikit kaku, sementara Rozen tetap mempertahankan style wajah datarnya. Jangan lupa bahwa mereka adalah sepasang manusia yang terpaksa menjadi satu.
Sulit dipungkiri bahwa semuanya terasa begitu tidak nyata bagi Aurora.
Sebab beberapa jam yang lalu Aurora hanyalah seorang adik yang datang untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Dan kini, ia justru berdiri sebagai mempelai wanitanya, mengenakan gaun yang bukan miliknya dan menyandang nama keluarga yang sama sekali asing baginya.
Aurora bahkan begitu risau tentang dusta yang sedang ia perankan. Pada kenyataannya gadis itu bukanlah pengantin yang sesungguhnya. Terlebih lagi mempelai pria yang sedang ia dustai adalah keturunan mafia yang kejam. Jika ia ketahuan, bagaimana nasibnya dan keluarganya?
Di balik senyum yang terus dipaksakan itu, hati Aurora dipenuhi rasa kalut. Takut kebohongannya terbongkar di hadapan semua orang. Takut seseorang tiba-tiba memanggil nama kakaknya. Takut Rozen berubah pikiran dan membatalkan pernikahan mereka setelah menyadari kebohongan tersebut.
Aurora memejamkan kedua mata indahnya, memikirkan hidupnya yang telah berubah begitu cepat, tanpa memberinya kesempatan untuk memilih.
...***...
Suasana di ballroom masih dipenuhi tepuk tangan penuh sukacita ketika Rozen menggenggam tangan wanita yang telah sah menjadi istrinya itu dengan lembut, berniat membawanya meninggalkan altar.
Aurora merasakan jemarinya yang terasa dingin mendapat kehangatan dari genggaman tangan Rozen yang jauh lebih besar itu. Aurora meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa nyaman yang dirasakan gadis itu hanya sebatas kehangatan yang tidak sengaja terbagi karena udara malam itu juga cukup dingin.
"Kenapa diam?" tanya Rozen pelan.
Aurora tersentak lalu tersadar dari lamunannya. Gadis itu menyadari bahwa tangannya masih digenggam erat namun tanpa niat menyakiti.
"Tidak apa-apa," jawab Aurora gugup.
Rozen hanya mengangguk singkat. Wajahnya tetap datar, seolah jawaban istrinya itu cukup baginya.
Beberapa menit kemudian, sebuah limusin hitam berhenti di depan pintu hotel. Tanpa perintah dari siapapun, Rozen menuju mobil mewah itu, membukakan pintu untuk Aurora tanpa sepatah kata.
Aurora sempat terkejut.
Setelah mendengar berbagai cerita yang menggambarkan sosok Rozen sebagai mafia yang kejam, Aurora tidak menyangka bahwa pria sedingin es itu masih memiliki sikap yang sopan.
"Masuk," pinta Rozen pelan.
Aurora mendadak gugup. Suara suaminya tidak sedikitpun terdengar memaksa, tapi Aurora tidak berdusta kalau gadis itu sedikit gugup mendengarnya.
"Terima kasih," cicit Aurora sebelum masuk ke mobil.
Setelah memastikan istrinya masuk mobil dengan aman, Rozen menyusul dan duduk di sampingnya.
Perjalanan menuju kediaman keluarga Salvadore dipenuhi keheningan. Aurora beberapa kali melirik pria di sebelahnya, tetapi pria yang telah menjadi suaminya itu lebih memilih menatap keluar jendela.
Aurora mengamati dalam hening bagaimana pria itu tidak tampak marah namun juga tidak tampak bahagia. Sama seperti apa yang ia rasakan.
Tapi jika ditanya siapa yang paling menderita di antara mereka berdua, Aurora akan menyebutkan nama suaminya. Karena orang yang ditinggalkan di hari pernikahan adalah Rozen, suaminya.
Aurora menundukkan kepala, memandangi gaun putih yang seharusnya tidak melekat di tubuhnya dengan sendu. Terbesit rasa bersalah setiap kali Aurora membayangkan kekecewaan yang kelak akan dialami pria itu ketika mengetahui kebenarannya.
...***...
Perjalanan masih berlangsung sunyi.
Apakah lebih baik jika Aurora mengatakan yang sebenarnya? Bahwa dirinya bukan Isabella melainkan saudari kembarnya, Aurora?
Aurora sangat ingin mengatakan demikian, bahwa dirinya bukan Isabella. Bahwa ia hanyalah pengganti.
Namun niat itu selalu urung setiap kali melihat wajah dan ekspresi Rozen yang sulit ditebak. Keberanian gadis itu seketika menghilang.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah mansion megah yang berdiri di atas bukit.
Aurora tidak berniat menyembunyikan kekagumannya. Tergambar jelas bagaimana gadis itu membuka mulutnya tanpa disadari, menyaksikan secara langsung bangunan yang tampak lebih menyerupai istana daripada rumah.
Keluarga Valencia tergolong berada. Namun jika dibandingkan dengan kekayaan suaminya, ternyata sangat jauh berbeda.
Sudah menanti puluhan pengawal dan pelayan, berjajar rapi untuk menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Tuan Rozen dan Nyonya Salvadore."
Sapaan itu membuat Aurora semakin gugup.
"Nyonya Salvadore," batinnya.
Aurora termenung. Gelar itu terdengar asing. Gelar yang membuat Aurora kembali diingatkan pada kenyataan bahwa gelar itu seharusnya milik kakaknya.
Ditengah kegundahan hati itu, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dengan senyuman ramah yang tidak dibuat-buat.
"Perkenalkan, saya Rosa, kepala pelayan di rumah ini." Kepala pelayan itu memperkenalkan diri dengan sopan, setelah itu kembali menatap Aurora dengan hangat.
"Selamat datang, Nyonya Salvadore. Semoga Anda betah di sini."
Aurora membalas senyumnya dengan canggung. Tidak menyangka kalau kehadirannya akan disambut sehangat ini. Padahal Aurora sempat khawatir kalau rumah seorang mafia akan terasa dingin dan menakutkan.
"Terima kasih," tutur Aurora dengan lembut.
Rozen menyerahkan mantel jasnya kepada Rosa seraya berkata kepada kepala pelayan yang telah mengabdi selama puluhan tahun di keluarganya itu.
"Antar dia ke kamar."
"Lalu Anda, Tuan?" tanya Rosa, menunggu jawaban.
"Aku masih ada pekerjaan."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Rozen berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya. Sementara gadis itu, Aurora, hanya bisa menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik koridor.
Rosa tidak ingin mempertahankan kecanggungan lebih lama. Kepala pelayan itu segera membuka percakapan. Berusaha menenangkan sang majikan.
"Jangan terlalu dipikirkan," ujar Rosa lembut. "Beliau lebih pandai menunjukkan perhatian lewat tindakan daripada kata-kata."
Aurora mengangguk pelan. Berharap ucapan kepala pelayan itu benar. Tapi walau demikian, Aurora tidak berani berharap terlalu banyak. Karena segala sesuatu yang dimulai dari kebohongan biasanya tidak akan bertahan lama.
"Mari, saya antar ke kamar."
Rosa mempersilahkan Aurora untuk masuk lebih dahulu. Kemewahan dan kemegahan mansion menjadi hal pertama yang diabadikan sepasang mata bulat berbulu mata lentik itu.
Rosa juga mengantar Aurora berkeliling mansion sebelum benar-benar menuju kamar. Bangunan itu jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Lorong-lorongnya dipenuhi lukisan klasik dan perabotan mewah. Suasananya terasa tenang walau sedikit sepi.
Bahkan kamar yang disiapkan untuk Aurora tempati juga sangat luas.
Dada Aurora berdesir nyeri. Sorot matanya kembali sendu. Statusnya hanyalah pengganti. Dan segala kemewahan ini tidak pantas ia nikmati.
"Kalau ada yang Anda butuhkan, jangan sungkan memanggil saya," kata Rosa ramah.
Aurora tersenyum kecil menanggapi. "Terima kasih, Bibi Rosa."
Wanita paruh baya itu tampak senang mendengar sapaan tersebut. Bibirnya bahkan menciptakan lengkungan manis yang tulus.
"Saya akan menyiapkan teh hangat."
Setelah Rosa, kepala pelayan itu pergi, Aurora berjalan mendekati jendela kamar. Dari sana gadis itu bisa melihat taman luas yang diterangi lampu-lampu kecil. Taman indah yang dipenuhi bunga mawar putih.
Rumah itu indah. Namun entah mengapa, Aurora merasa seperti orang asing, walau nama Salvadore sudah resmi menjadi miliknya.
Ia mengembuskan napas panjang.
"Apa yang sebenarnya sedang kulakukan di sini?"
Di tengah keheningan terdengar ketukan di pintu. Bunyi tiba-tiba itu berhasil membuyarkan lamunan Aurora.
Sebelum sempat bereaksi, pintu sudah lebih dahulu terbuka perlahan. Rozen melangkah masuk dengan ekspresi yang masih sulit dibaca, sambil membawa sebuah kotak kecil di tangan kanannya.
"Ada apa? tanya Aurora hati-hati. Kegugupan di wajah cantik itu tidak dapat disembunyikan. Sangat cukup untuk memancing kecurigaan.
"Apa kamar ini sudah sesuai?"
Aurora sedikit terkejut. Ia tidak menyangka pria itu datang hanya untuk menanyakan hal sederhana. Tapi, kenapa?
"Kamarnya sangat nyaman." Aurora mencoba untuk terlihat santai. Namun benaknya tidak berhenti bertanya-tanya.
Rozen mengangguk.Hanya itu responnya. Dan hal itu sangat mengusik ketenangan jiwa Aurora. Rozen sangat sulit dibaca.
Tidak ingin lebih tersiksa, Aurora memberanikan diri menatap mata suaminya. Gadis itu gugup dan takut. Namun rasa penasarannya jauh lebih mendominasi.
"Kenapa kamu tidak bertanya apa pun?"
Rozen mengernyit tipis. "Maksudmu?"
Aurora menggigit bibir bawahnya. Mengumpulkan seluruh keberanian yang masih dimilikinya. Gadis itu tahu, pertanyaannya mungkin berakibat fatal. Namun, entah kenapa Aurora yakin kalau suaminya sudah mengetahui tentang dirinya sejak awal. Sejak kemunculannya di altar.
"Tentang diriku." Aurora akhirnya mengatakannya dengan degup jantung yang kencang.
Rozen terdiam beberapa saat hingga apa yang pria itu ucapkan benar-benar mengejutkan Aurora.
"Aku tahu."
Jantung Aurora semakin memompa liar. Dugaannya ternyata benar? Bahwa Rozen mengetahui semuanya?
"Tahu apa?" Aurora masih harus memastikan kebenarannya dan berharap kalau ketakutannya tidak mungkin terjadi.
"Kau bukan wanita yang seharusnya berdiri di altar bersamaku."
Wajah Aurora memucat. Ternyata ia sudah tertangkap basah sejak awal. Tangannya yang berada di samping tubuh mengepal tanpa sadar. Aurora kesulitan menelan salivanya sendiri.
"Maaf, aku tidak... "
Rozen memberi isyarat pada istrinya untuk berhenti bicara dengan mengangkat satu tangannya. Dengan suara rendah, pria itu melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak butuh alasan."
Aurora memandang suaminya dengan bingung.
"Pernikahan ini bukan karena cinta, bukan juga karena siapa yang berdiri di sampingku. Selama kau bersedia menjalani peranmu sebagai istriku, itu sudah cukup."
Aurora menatap pria itu tidak percaya. Sebuah respon yang sangat berbeda dari apa yang Aurora bayangkan.
Tidak ada kemarahan. Tidak ada ancaman. Hanya kalimat datar yang terdengar seperti sebuah kesepakatan.
"Jadi, kamu tidak akan menceraikan aku?"
Rozen menggeleng pelan. "Tidak."
"Mulai hari ini, kau adalah Nyonya Salvadore. Istriku.
Setelah mengatakan itu, Rozen berbalik menuju pintu, hendak meninggalkan kamar dengan ekspresi yang tidak berlebihan. Pria itu masih bersikap dingin. Tidak ada tanda kekecewaan seperti yang Aurora bayangkan.
Namun sebelum benar-benar keluar, Rozen menghentikan langkahnya sejenak. Pria itu kembali masuk ke dalam kamar, meletakkan kotak yang tadi dibawanya, lalu meletakkannya di atas meja.
"Besok malam ada jamuan makan keluarga. Datanglah bersamaku."
Aurora menatap sekilas kotak di atas meja lalu kembali menatap suaminya dengan sorot penuh tanya.
"Hadiah pernikahan. Kau boleh memakainya besok jika kau mau."
Usai mengatakan hal itu, pintu pun tertutup bersama dengan lenyapnya sosok Rozen.
Aurora masih berdiri mematung di tempatnya. Kebingungan dan tidak tahu apakah harus merasa lega atau justru semakin cemas.
Yang jelas, satu hal yang gadis itu pahami. Rozen Salvadore bukanlah pria yang mudah ditebak.
Aurora meraih kotak pemberian suaminya tersebut, kemudian membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah gelang perak sederhana dengan liontin berbentuk bunga lili.
"Bukankah ini terlalu mahal?" lirih Aurora di hadapan kehampaan.
Aurora tersenyum kecil. "Terima kasih," bisiknya lembut seolah suaminya sedang berdiri di hadapannya.
Di balik pintu yang tertutup itu, Aurora mengembuskan napas lega. Mungkin menjalani pernikahan ini tidak akan seburuk yang ia bayangkan.
...***...