Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — KUIL TIGA ALAM
Hari ketiga di dalam Kuil Tiga Alam menyelimuti ruangan dengan ketegangan yang kian mencekam. Lu Chen bersila tepat di hadapan altar kuno, tubuhnya penuh oleh luka lebam sisa pertempuran sebelumnya. Liontin Segel Tiga Alam di lehernya tampak retak di beberapa sisi, namun masih memancarkan pendar tiga warna yang konstan: Emas, Merah, dan Hitam.
Shen Yue berlutut di sampingnya, membimbing dengan suara lembut namun tegas. "Tarik ketiga aliran darahmu bersamaan. Jangan dilawan, tetapi rangkul mereka sebagai satu kesatuan."
Xue Ling berdiri tegak di ambang gerbang utama, mengacungkan pedang dengan napas terengah-engah. Di luar sana, auman murka Raja Iblis Mo Tian berpadu mengerikan dengan sambaran guntur dari Dewa Eksekusi.
"Satu jam lagi," seru Xue Ling tanpa menoleh. "Mereka akan mendobrak masuk!"
Lu Chen membuka matanya perlahan. Bola mata sebelah kirinya menyala merah darah, sementara sebelah kanannya berwarna hitam pekat, namun sorotannya kini jauh lebih stabil dari sebelumnya.
DARAH IBLIS: 65% - TERKENDALI DARAH MANUSIA: 34% DARAH DEWA: 1% SEGEL TIGA ALAM: 50% AKTIF
"Aku siap," ucap Lu Chen mantap.
BOOM!
Gerbang batu kuno itu jebol seketika berkeping-keping. Mo Tian melangkah masuk dari sisi kiri dengan seringai haus darah, sementara Dewa Eksekusi melayang turun dari sisi kanan membawa aura kematian.
"Ketemu kau," desis Mo Tian. "Akhirnya persembunyian ini berakhir," sambung Dewa Eksekusi dingin.
Tanpa aba-aba, kedua kubu besar itu langsung melancarkan serangan serentak dengan target utama Lu Chen.
DUARRR!
Shen Yue dan Xue Ling bergerak secepat kilat menahan hantaman itu. SHING! SHING! Mereka berdua berdarah-darah, terlampau kalah jumlah menghadapi kekuatan dua petinggi alam semesta.
"Lu Chen! Cepat lari!" teriak Shen Yue di tengah desingan angin serangan musuh.
Lu Chen justru bangkit berdiri, melangkah pasti menaiki permukaan altar batu.
"Tidak," jawab Lu Chen tegas. "Ini tempat kita."
Ia menempelkan telapak tangannya ke permukaan altar. Seketika itu juga, ukiran tiga sosok makhluk di dinding kuil menyala terang benderang.
CAHAYA EMAS + MERAH + HITAM
Lantai kuil bergetar hebat. Retakan di dinding memancarkan tulisan kuno yang menyala:
SAAT TIGA DARAH MENJADI SATU SAAT ANAK YANG DIBUANG MEMILIH MAKA TIGA ALAM AKAN KEMBALI MENJADI SATU
Mo Tian tertegun, matanya membelalak lebar. "Ini... ramalan para leluhur..." Dewa Eksekusi merenggut marah. "Tutup mulutmu!"
Lu Chen mengangkat kedua tangannya ke udara. Ketiga pilar cahaya itu tersedot masuk ke dalam tubuhnya secara bersamaan.
Rasa sakit yang teramat sangat langsung meremukkan kesadarannya. Tulang-tulangnya berderak patah, dan darah segar mengucur deras dari ketujuh lubang di wajahnya.
"BU!" rintih Lu Chen kesakitan.
Shen Yue berlari menembus badai energi, memeluk erat punggung putranya dari belakang. "Tahan, nak! Ibu ada di sini bersamamu."
BOOM!
Ledakan cahaya tritunggal meledak dahsyat, menembus atap kuil, merobek dasar jurang, hingga membubung tinggi menembus langit semesta.
Seluruh Tiga Alam terhening selama sepuluh detik penuh. Di Alam Fana, matahari mendadak berpendar dalam tiga warna. Di Istana Langit, patung-patung para dewa agung retak seketika. Di Jurang Siluman, segel-segel kuno ikut berderak pecah.
Lu Chen melayang di udara. Di punggungnya, bayangan megah terbentang: sayap putih manusia, lingkaran suci dewa, dan sepasang tanduk iblis yang kokoh.
LU CHEN - TAHAP PENYATU STATUS: ANOMALI TINGKAT DEWA
Mo Tian tertawa terbahak-bahak seperti orang kesurupan. "ITU DIA! WADAH SEMPURNA!" Dewa Eksekusi gemetar ketakutan. "Musnahkan dia sekarang juga sebelum terlambat!"
Dua kekuatan kolosal menghujam bersamaan ke arah Lu Chen.
SHING!
Shen Yue melesat mendahului. Ia merentangkan tangan, menahan hantaman maut itu menggunakan seluruh sisa tenaga dan tubuhnya sendiri.
SRET!
Dada Shen Yue tertusuk bilah pedang cahaya Langit, sementara punggungnya terkoyak oleh cakar kegelapan Iblis.
"BUUU!!!" Lu Chen menjerit histeris, jatuh tersungkur ke tanah.
Shen Yue terhempas jatuh ke pangkuan putranya, genangan darah segar mengalir cepat dari luka fatal di tubuhnya.
"Maafkan... Ibu, nak... Ibu gagal melindungimu sampai akhir..." bisiknya terbata-bata.
"TIDAK!" Lu Chen meraung kencang. Level darah iblisnya melonjak dari 65% menuju 70%.
Namun, dengan sisa kesadarannya, ia mencengkeram erat Segel Tiga Alam di dadanya. Ibu bilang... aku bukan alat. Aku bukan noda. Aku... Lu Chen.
CAHAYA!
Ia memeluk tubuh ibunya erat-erat, menyalurkan pendar tiga warna itu langsung ke dalam raga Shen Yue. Seketika, luka-luka di tubuh wanita itu menutup hingga separuhnya, dan Racun Langit yang menggerogoti kembali tertekan jauh ke dasarnya.
"Mustahil..." geram Dewa Eksekusi tak percaya. "Manusia itu bisa menyembuhkan kutukan dewa..."
Mo Tian mengamuk murka. "Jika dia tidak bisa kumiliki, maka mati kalian semua!" Ia mengumpulkan bola energi iblis pemusnah terakhir.
Tepat saat itu, altar di bawah mereka runtuh. Sebuah jalur lorong rahasia terbuka lebar memancarkan cahaya terang.
"Itu... Jalan Pengasingan," seru Xue Ling panik. "Jalur satu-satunya keluar dari Tiga Alam saat ini!"
Shen Yue mengerahkan sisa tenaganya untuk mendorong tubuh Lu Chen masuk ke dalam lorong cahaya. "Pergi dari sini."
"Tidak! Kita pergi bersama, Bu!" tolak Lu Chen histeris.
"Kita pasti akan bertemu lagi," ucap Shen Yue sambil tersenyum tulus di antara kesakitannya. "Di Alam Fana. Itu janji Ibu."
Ia mengecup kening Lu Chen lembut, lalu menendang putranya masuk ke dalam pusaran cahaya.
Xue Ling turut melompat menyusul. "Guru! Aku akan bantu melindunginya!"
SHUUU!
Lu Chen dan Xue Ling tersedot masuk ke dalam pusaran cahaya terang.
Pemandangan terakhir yang disaksikan Lu Chen sebelum kesadarannya terenggut adalah sosok ibunya yang berdiri seorang diri, menghunus pedang menghadang amukan Mo Tian dan Dewa Eksekusi.
"KEMBALIKAN ANAKKU...!" teriak Mo Tian. "KEJAR DAN MUSNAHKAN!" perintah Dewa Eksekusi murka.
BOOM!
Jalur cahaya itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian mutlak di dalam kuil yang hancur.
3 BULAN KEMUDIAN - ALAM FANA
Sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat tampak tenang di pagi hari.
Lu Chen mengerjap perlahan, terbangun di atas sebuah ranjang kayu sederhana. Usianya kini tampak menginjak enam belas tahun, dengan helaian rambut hitamnya yang kini berubah setengah putih.
Di sisi ranjang, Xue Ling terbaring tidur dengan perban melilit di beberapa bagian tubuhnya akibat luka pelarian.
Lu Chen mengangkat tangan kanannya. Di balik kulit telapak tangannya, pola Segel Tiga Alam kini telah menyatu sempurna menjadi bagian dari nadinya.
Ia mengepalkan tangan, menatap langit luar dengan tatapan tajam. "Bu... aku hidup. Dan aku bersumpah... aku pasti akan kembali untuk menjemputmu."
Dari cakrawala langit, suara guntur menggelegar pertanda amukan dewa. Dari dalam kedalaman tanah, getaran auman siluman turut menyusul.
Perang Tiga Alam yang sebenarnya... baru saja dimulai.