Indonesia
NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buku Saku Bersampul Biru

Riuh rendah perayaan ulang tahun Evan minggu lalu perlahan berganti menjadi atmosfer yang menegangkan di koridor kelas 7-B. Minggu ujian semester sudah di depan mata. Semua murid tampak sibuk dengan buku tebal masing-masing, tak terkecuali Auren. Sebagai juara 2 bertahan, tekanan di pundaknya terasa begitu berat. Ia harus mempertahankan posisinya, sekaligus membuktikan bahwa kedekatannya dengan sang ketua kelas tidak membuatnya lengah dalam urusan akademis.

Pagi itu, Auren duduk di bangkunya dengan dahi berkerut dalam. Di depannya terhampar buku paket matematika bab geometri dan fungsi kuadrat yang dipenuhi coretan rumus rumit.

"Kenapa ditekuk begitu mukanya, Aurenku?"

Sebuah suara bas yang familier terdengar dari ambang pintu. Evan berjalan masuk, penampilannya selalu rapi dengan dasi sekolah yang terpasang sempurna. Wajah pucatnya akibat kehujanan minggu lalu sudah sepenuhnya hilang, digantikan oleh gurat ketenangan khas seorang juara 1.

Auren menghela napas panjang, menopang dagunya dengan kedua tangan. "Evan... materi fungsi kuadrat ini susah sekali. Banyak pola grafik yang rumit dan rumusnya sering tertukar di kepalaku. Aku takut nilai ujianku merosot minggu depan."

Evan tersenyum tipis, jenis senyuman menenangkan yang selalu berhasil meredakan badai di kepala Auren. Ia meletakkan tasnya, lalu merogoh kantong seragamnya. Dari sana, Evan mengeluarkan sebuah buku saku kecil berukuran pas di genggaman tangan.

Buku saku itu bersampul kertas tebal berwarna biru tua, warna yang persis sama dengan warna payung lipat milik Evan yang melindungi mereka di halte minggu lalu.

"Ini untukmu," kata Evan sambil meletakkan buku saku itu tepat di atas buku paket Auren.

Auren mengerjapkan mata, sedikit terkejut. Ia mengambil buku kecil itu dan membalik halaman depannya. Di sudut kanan bawah sampul biru tersebut, terdapat coretan tinta hitam dengan tulisan tangan Evan yang sangat rapi dan estetik:

Untuk Aurenku.

Deg.

Jantung Auren seketika berdesir hebat hanya dengan membaca dua kata itu. Dengan jari sedikit gemetar karena gugup, ia membuka halaman demi halaman buku saku tersebut. Matanya berbinar takjub. Buku itu ternyata berisi ringkasan rumus matematika yang ditulis tangan langsung oleh Evan.

Tidak sekadar rumus kaku, Evan menjabarkannya dengan metode cepat, bagan-bagan logika yang mudah dipahami, hingga trik khusus untuk membaca grafik fungsi kuadrat tanpa perlu menghafal seluruh teori yang membosankan. Bahkan, di beberapa sudut halaman, Evan menambahkan catatan kaki kecil yang protektif seperti: 'Jangan dihafal, cukup dipahami polanya, Aurenku' atau 'Kalau bingung di bagian ini, tanya aku besok.'

"Evan... kamu membuat ini semua sendiri?" tanya Auren dengan mata bulatnya yang menatap tidak percaya. "Kapan kamu punya waktu untuk menulis ini semua?"

Evan menggeser kursinya sedikit lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma wangi sabunnya kembali tercium oleh Auren.

"Semalam, sepulang sekolah," jawab Evan santai, seolah usaha kerasnya mengurasi materi semalaman bukanlah hal yang besar. "Aku tidak mau Juara 2-ku stres sebelum bertempur di ruang ujian. Aku mau kita tetap berdiri di podium yang sama saat pembagian rapor nanti. Aku di posisi pertama, dan kamu tepat di sebelahku."

Auren menggigit bibir bawahnya, menahan rasa haru dan bahagia yang membuncah di dalam dada. Buku saku biru di genggamannya mendadak terasa begitu hangat. Perhatian Evan yang sedalam ini selalu sukses meruntuhkan semua dinding pertahanannya.

"Terima kasih banyak, Evan," bisik Auren tulus, memeluk buku saku kecil itu di dadanya. "Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu di ujian nanti."

Evan terkekeh pelan, tangannya bergerak naik untuk mengacak rambut depan Auren dengan gemas. "Belajar yang rajin, Aurenku. Kalau ada yang tidak paham, halte bus sore ini masih menjadi tempat terbaik untuk kita bahas bersama."

Di seberang ruangan, Fathur yang baru saja masuk kelas tertegun di dekat pintu. Matanya menangkap basah interaksi manis itu—buku bersampul biru yang dipeluk erat oleh Auren, dan tatapan penuh kasih sayang dari Evan yang tidak pernah diberikan pada gadis lain. Rahang Fathur mengeras, rasa cemburu kembali membakar dadanya melihat kekompakan kedua penguasa kelas itu yang kian tak tersentuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!