"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH YANG MEMAKAN JIWA
Hujan deras mengguyur Kota Atlas malam itu, menyamarkan suara cambukan gesper kulit yang menghantam punggung polos seorang remaja berusia lima belas tahun.
Di atas lantai marmer dingin berbercak darah kering, Daren meringkuk seperti binatang yang terluka. Matanya samar-samar menatap pecahan porselen putih bercorak emas yang berserakan di depannya—vas antik berharga puluhan juta yang menjadi dalih atas neraka yang sedang menghancurkannya malam ini.
"Dasar anak tidak tahu diri! Sudah ditampung, diberi makan, masih saja merusak barang di rumah ini!" teriakan Deni menggema di ruang tengah yang megah. Suara berat pria berkemeja sutra itu berpadu dengan dengusan napasnya yang memburu, mengayunkan gesper kulit tebal itu sekali lagi ke arah rusuk Daren.
PLAK!
Daren tidak memekik. Tenggorokannya terlalu kering untuk sekadar mengeluarkan jeritan. Rasa panas membakar yang merambat dari kulit punggungnya hingga ke tulang iga hanyalah rutinitas yang sudah mengikis rasa kemanusiaannya selama sepuluh tahun terakhir.
Di sudut ruangan, Tia berdiri melipat tangan di dada dengan gaun mewahnya. Wajah cantiknya terlipat jijik, seolah Daren adalah sampah beracun yang mengotori karpet Persianya.
"Deni, sudahlah. Jangan sampai dia mati di sini. Nanti urusannya repot dengan polisi. Suruh saja anak haram itu membersihkan seluruh darahnya dan pecahan vas itu sampai mengilat sebelum subuh," ucap Tia dingin tanpa sedikit pun empati.
Di samping Tia, berdiri Dion. Anak kandung keluarga kaya itu tersenyum tipis—sebuah senyuman picik yang tersembunyi sempurna di balik kepura-puraan wajah polosnya. Dion-lah yang sejam lalu menyenggol vas itu hingga hancur saat berlari-lari, lalu dengan tenang menunjuk Daren ketika Deni masuk ke ruangan. Dan seperti biasa, kata-kata Dion adalah kebenaran mutlak bagi Deni dan Tia, sementara penjelasan Daren hanyalah angin lalu yang dibalas dengan pukulan.
"Dengar itu, Daren?" Deni meludah tepat di samping wajah Daren yang terkapar di lantai. "Bersihkan semuanya! Jika besok pagi saya melihat ada satu noda darah atau debu tersisa, saya pastikan kamu tidak akan makan selama tiga hari!"
Langkah kaki Deni, Tia, dan Dion menjauh, menaiki tangga menuju lantai dua yang hangat dan nyaman. Meninggalkan Daren sendirian dalam kegelapan ruang tengah yang dingin.
Daren memejamkan mata rapat-rapat. Di antara dentuman dada dan denyut nyeri yang menusuk kepalanya karena demam tinggi yang sebenarnya sudah menyerangnya sejak kemarin pagi, ingatan Daren terlempar jauh ke belakang. Ke masa sepuluh tahun lalu, saat usianya baru lima tahun.
Masa lalu itu hadir bagai ilusi yang manis. Daren ingat betul hari ketika Deni dan Tia datang ke panti asuhan tempatnya tinggal setelah orang tua kandungnya meninggal dalam kecelakaan. Hari itu, pasangan suami istri kaya tersebut datang dengan senyuman paling hangat yang pernah Daren lihat. Mereka memeluk Daren kecil, mengusap kepalanya, dan berjanji akan memberikannya sebuah "rumah" dan "keluarga".
Daren kecil yang polos membayangkan kebahagiaan. Dia membayangkan memiliki kamar tidur sendiri dengan tempat tidur empuk, mainan, makan malam bersama di meja yang hangat, serta orang tua yang menyayanginya. Dia mengira perjalanannya ke Kota Atlas adalah akhir dari kesedihannya sebagai anak yatim piatu.
Namun, realita menyeretnya turun ke neraka paling dalam begitu pintu gerbang kediaman mewah keluarga itu tertutup rapat.
Senyuman manis Deni dan Tia menguap tanpa bekas dalam hitungan hari. Daren tidak pernah diberikan kamar tidur. Dia ditempatkan di sebuah gudang kecil di bawah tangga—sebuah ruangan sempit bercat mengelupas, tanpa jendela, dengan satu kasur tipis berbau tengik yang diletakkan di atas lantai semen.
Daren tidak diadopsi untuk dijadikan anak. Dia diadopsi untuk dijadikan babu gratisan.
Sejak usia lima tahun, di saat anak-anak sebayanya belajar membaca, bermain di taman, dan mendapatkan pelukan hangat, Daren sudah dipaksa memegang sapu, kain pel, dan sikat kamar mandi. Tangan kecilnya yang belum kuat harus mengangkat ember-ember besar berisi air. Jika dia terlalu lambat, sabetan sapu lidi akan melayang ke betisnya. Jika dia menjatuhkan piring karena tangannya gemetar kelelahan, hukuman dikurung di gudang gelap tanpa makan dan minum selama seharian penuh sudah menantinya.
Pertumbuhan Daren adalah sebuah siksaan yang sistematis. Semakin dia bertambah besar, semakin berat tugas yang dibebankan padanya. Dialah yang harus bangun jam empat pagi untuk membersihkan halaman rumah yang luas, mencuci tiga mobil mewah milik Deni, memasak untuk keluarga, dan mengurusi semua kebutuhan Dion.
Dion menjadikan Daren sebagai sasaran kemarahannya. Setiap kali Dion mendapatkan nilai buruk di sekolah, atau dimarahi gurunya, Daren-lah yang akan dijadikan pelampiasan. Dion akan sengaja mengotori lantai yang baru disapu, merusak barang-barang mahal, lalu menuduh Daren pelakunya. Dan Deni serta Tia tidak pernah sekalipun mempertanyakan kebenaran cerita anak kandung mereka. Bagi mereka, Daren adalah tempat sampah untuk kekesalan dan keangkuhan keluarga mereka.
Bahkan ketika Daren jatuh sakit, neraka itu tidak pernah libur.
Daren ingat betul, tiga hari yang lalu badannya menggigil hebat. Suhu tubuhnya sangat tinggi hingga pandangannya berkunang-kunang. Dia terbaring lemas di atas kasur tipisnya di gudang bawah tangga, tak sanggup bergerak. Namun, bukannya memberikan obat atau memanggil dokter, Tia justru menendang pintu gudang itu hingga terbuka keras.
"Bangun, malas!" bentak Tia saat itu sambil menyiramkan seember air dingin ke tubuh Daren yang sedang menggigil demam. "Jangan berakting sakit di rumah saya! Cuci semua pakaian kotor di belakang dan sikat kamar mandi utama sekarang juga!"
Dengan tubuh gemetar dan napas memburu yang terasa membakar dada, Daren terpaksa merangkak keluar. Dia memegang dinding untuk menjaga keseimbangannya yang goyah, menyikat lantai kamar mandi dengan jari-jari tangan yang membiru karena kedinginan dan lemas. Tidak ada upah, tidak ada kata kasih sayang, tidak ada sedikit pun rasa kemanusiaan yang diberikan padanya. Yang ada hanyalah makian, pukulan, dan rasa lapar yang menggerogoti lambungnya setiap hari.
Daren membuka matanya perlahan. Air mata meleleh melewati pipinya yang lebam, bercampur dengan darah kering di sudut bibirnya.
Pikiran tentang sepuluh tahun penyiksaan itu berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Rasa sakit fisik di punggungnya sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit di dalam dadanya. Sebuah kesadaran bertiup kencang di dalam jiwanya yang hancur: RUMAH INI BUKAN TEMPAT HUKUMAN, RUMAH INI ADALAH KUBURAN YANG SEDANG MEMAKAN DIRIKU PERLAHAN.
Daren bergerak menyamping, menahan rasa nyeri hebat yang menusuk dadanya setiap kali dia menarik napas. Dengan sisa-sisa tenaganya, dia merangkak mendekati pecahan vas mahal di atas karpet. Tangannya yang gemetar mulai memunguti potongan-potongan porselen tajam itu satu per satu.
Jleb.
Salah satu pecahan tajam menggores telapak tangannya, mengalirkan darah segar berwarna merah pekat. Namun Daren tidak merintih. Dia justru menatap darahnya sendiri yang menetes ke lantai marmer.
Warna merah itu... begitu menyala di tengah kegelapan malam.
Di dalam benak Daren yang penuh dengan penderitaan, sesuatu pecah. Rasa takut yang selama sepuluh tahun mengurungnya dalam kepasrahan tiba-tiba menguap, digantikan oleh gelombang dingin yang membekukan seluruh perasaannya. Keputusasaan yang sudah mencapai puncaknya bertransformasi menjadi satu hal: Hasrat untuk bertahan hidup.
Dia tahu, jika dia tetap bertahan di rumah ini, dia tidak akan genap berusia enam belas tahun. Dia akan mati dalam sunyi di atas lantai dingin ini, sebagai babu tanpa nama yang keberadaannya bahkan tidak akan ditangisi oleh siapa pun.
"Cukup..." bisik Daren dengan suara parau yang hampir tak terdengar.
Dia menumpukan kedua tangannya di lantai, berjuang berdiri meski lututnya bergetar hebat. Pandangannya sempat mengabur karena efek demam dan pendarahan di punggungnya, namun Daren menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa sakit baru itu memaksanya tetap sadar.
Dia tidak memedulikan perintah Tia untuk membersihkan pecahan vas itu. Daren membalikkan badan, melangkah pelan namun pasti menuju pintu belakang kediaman mewah tersebut. Langkah kakinya meninggalkan jejak-jejak darah tipis di atas lantai marmer yang mengilat.
Pintu belakang menuju dapur tidak terkunci rapat. Daren membukanya perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Angin malam yang dingin dan hujan deras langsung menyergap tubuhnya yang hanya terbalut kaus lusuh berlubang dan celana pendek yang tipis. Hawa dingin itu menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat luka-luka di punggungnya terasa seperti disiram air garam.
Daren melangkah keluar, menembus kegelapan halaman belakang. Dia memanjat pagar besi setinggi dua meter yang membatasi kediaman Deni dengan gang sempit di luar kawasan perumahan elit tersebut. Dalam kondisi normal, tubuhnya yang lemas tidak akan sanggup memanjat pagar setinggi itu. Namun adrenalin dan dorongan kebebasan memberikan tenaga misterius pada otot-ototnya yang kelaparan.
Dengan sisa kekuatan terakhir, Daren melompati pagar.
THUD!
Tubuhnya jatuh terjerembap di atas tanah basah di luar pagar. Lutut dan sikunya tergores batu, namun Daren tidak peduli. Dia segera bangkit kembali.
Hujatan hujan menimpa wajahnya, menyapu air mata dan darah yang tersisa. Daren menoleh sejenak, menatap megahnya rumah keluarga Deni dari balik pagar. Rumah yang tampak seperti istana dari luar, namun merupakan tempat jagal bagi jiwanya.
Daren mengepalkan tangannya rapat-rapat. Jari-jarinya meremas tanah basah gang sempit itu.
"Malam ini..." gumam Daren, matanya menatap tajam ke arah kegelapan jalanan Kota Atlas di depannya. "Daren yang lemah dan penurut... sudah mati di dalam rumah itu."
Tanpa menoleh lagi, Daren mulai berlari. Dia berlari menembus badai malam Kota Atlas, membiarkan sepatu kainnya yang robek tergenang air, membiarkan dadanya sesak karena kehabisan napas dan rasa sakit. Dia berlari menjauhi neraka tenangnya, menuju kegelapan dunia luar yang tidak dia ketahui—sebuah awal baru bagi seorang pemuda yang baru saja melepaskan rantai penindasannya.