Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kobaran Api di Langit Pagi
Udara di sekitar tepi sungai kecil itu mendadak berubah menjadi neraka mini. Suhu melonjak drastis hingga puluhan derajat dalam sekejap, membuat air sungai yang tadinya jernih mulai mendidih dan mengeluarkan uap panas mengepul ke udara. Rerumputan hijau yang subur layu, menghitam, lalu berubah menjadi abu dalam hitungan detik akibat gelombang panas yang dipancarkan oleh puluhan kapal perang spiritual Paviliun Langit Membara di langit.
Di atas kapal utama yang berukuran paling besar, Huo Yan-Zhu berdiri tegak dengan jubah merah menyalanya yang berkibar liar. Rambut merahnya berayun diterpa angin panas, memancarkan aura mengerikan dari puncak alam Nirwana tahap akhir. Matanya menatap tajam ke arah Ji Mo-Xian yang berdiri seorang diri di tepi sungai, bagaikan seekor singa tua yang siap mencabik-cabik mangsanya yang terluka.
"Ji Mo-Xian, kesabaran sekte kami ada batasnya," suara Huo Yan-Zhu menggelegar, memenuhi angkasa dan membuat getaran hebat di dada siapa pun yang mendengarnya. "Kau mungkin bisa memperdaya para pemimpin sekte rendahan di kota malam tadi, tetapi di hadapan Paviliun Langit Membara, keberuntunganmu telah habis. Serahkan mata dewa naga air itu sekarang juga, atau rasakan penderitaan dibakar hidup-hidup selama tujuh hari tujuh malam!"
Di bawah sana, Ji Mo-Xian menarik napas panjang. Rasa sakit di dada kirinya terasa semakin membakar, dan setetes darah kebiruan kembali mengalir dari balik kain sutra hitam di matanya, menetes ke tanah yang kini telah berubah menjadi abu hitam. Ia tahu persis kondisi tubuhnya saat ini. Meridiannya hampir hancur total akibat penggunaan kekuatan mata dewa naga air secara terus-menerus tanpa jeda pemulihan.
Namun, di dalam kegelapan di balik kain hitam itu, tekadnya sama sekali tidak goyah. Ji Mo-Xian tidak pernah mengenal kata menyerah, terutama di hadapan para penguasa munafik yang selalu membenarkan segala cara demi ambisi kekuasaan.
"Kalian selalu berbicara tentang kekuatan dan takdir," suara Ji Mo-Xian meluncur tenang, datar, namun terdengar sangat jelas menembus deru angin panas di sekitarnya. "Tetapi kalian lupa... api sebesar apa pun tidak akan pernah bisa membakar sesuatu yang telah mati rasa terhadap rasa sakit."
Wajah Huo Yan-Zhu menggelap seketika. Seringai penuh amarah tersungging di bibirnya. "Anak sialan! Kau benar-benar mencari mati dengan sukarela! Para tetua, hancurkan dia!"
BWOOOOM!
Atas perintah sang master utama, ratusan murid tingkat tinggi Paviliun Langit Membara yang berdiri di atas kapal perang melesat turun secara serentak. Mereka mengayunkan pedang berbalut kobaran api suci, menciptakan hujan meteor api yang meluncur deras dari langit, mengarah langsung ke tempat Ji Mo-Xian berdiri. Serangan gabungan dari ribuan kultivator itu dirancang khusus untuk meratakan seluruh area lembah dalam radius beberapa mil menjadi lautan api tanpa sisa.
Ji Mo-Xian tidak mengelak. Ia tidak mencoba melarikan diri ke dalam hutan purba di dekatnya.
Ia berdiri tegak, merentangkan sedikit tangan kanannya, lalu membuka mulutnya. Meskipun ia tidak lagi memiliki seruling bambu, suaranya yang tenang mulai melantunkan bait syair kematian dengan nada yang begitu merdu namun mematikan:
“Api neraka membakar bumi yang sunyi...”
“Mengejar bayang dalam lautan api...”
“Tiada ampun bagi yang mencari mati...”
“Kembalilah pada abu dan sunyi abadi.”
BOOM! KABOOOM!
Gelombang sonik bertekanan ekstrem meledak dari bibir Ji Mo-Xian, berbenturan secara frontal dengan hujan meteor api yang turun dari langit. Suara ledakan itu begitu dahsyat hingga menciptakan gelombang kejut melingkar berwarna biru kehitaman, menyapu bersih kobaran api suci dalam sekejap.
Hujan api itu terpental balik ke udara, menghantam kapal-kapal perang spiritual Paviliun Langit Membara.
CRACK! BARRR!
Dua kapal perang utama langsung meledak berkeping-keping. Ratusan murid sekte yang berada di atasnya tidak sempat berteriak; tubuh mereka hancur lebur diterpa oleh gelombang syair maut dan api mereka sendiri, berubah menjadi debu yang langsung diterpa angin pagi.
Huo Yan-Zhu melotot ngeri di atas kapal utama yang tersisa. Wajahnya yang tadinya dipenuhi arogansi kini pucat pasi, dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat. "Ba... bagaimana mungkin?! Syair itu... kekuatan macam apa yang bisa membalikkan serangan api suci kita dalam satu detik?!" teriaknya histeris.
Ji Mo-Xian tidak membuang waktu. Sebelum Huo Yan-Zhu sempat mengerahkan serangan balasan, Mo-Xian melangkah maju ke depan. Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak es tipis di atas tanah yang tadinya terbakar panas.
Ia mengangkat wajahnya, mengarahkan pandangannya yang tertutup kain hitam langsung ke arah kapal utama tempat Huo Yan-Zhu berdiri. Di balik kain itu, mata dewa naga air berdenyut kencang, menuntut kebebasan.
"Kalian mengira api kalian mampu membakar segalanya," bisik Ji Mo-Xian lirih, suaranya bergemerincing dingin di telinga sang master utama. "Tetapi kalian lupa... air purba yang terkunci di dalam tubuhku diciptakan untuk memadamkan segala jenis api kesombongan."
Sebelum Huo Yan-Zhu sempat melarikan diri, Ji Mo-Xian sedikit membuka ikatan kain sutra hitam di matanya—hanya sepersekian inci.
FZZZRT!
Sinar biru kebiruan yang menyilaukan melesat tajam dari mata dewa naga air, menembus ruang dan waktu dalam sekejap. Sinar itu menghantam kapal utama Paviliun Langit Membara secara telak.
CRACK-BOOM!
Kapal raksasa itu terbelah menjadi dua bagian yang membeku seketika sebelum hancur berkeping-keping menjadi debu es. Huo Yan-Zhu, sang master utama yang berada di puncak alam Nirwana, tidak sempat mengeluarkan jurus pertahanan terakhirnya. Tubuhnya membeku di udara, disusul oleh retakan hebat dari dalam yang menghancurkan seluruh jiwa raganya tanpa sisa.
Dalam waktu kurang dari dua menit, kekuatan utama Paviliun Langit Membara musnah tak bersisa di tepi sungai kecil tersebut.
Ji Mo-Xian segera merapatkan kembali kain sutra hitam di matanya, mengikatnya erat-erat untuk meredam kembali amukan energi dewa naga air. Ia terbatuk hebat, memuntahkan genangan darah kebiruan yang cukup banyak ke atas tanah. Tubuhnya terhuyung, nyaris jatuh ke atas abu yang berserakan, namun ia berhasil menopang dirinya dengan menancapkan jari-jarinya ke tanah.
Pertarungan hari ini telah merusak meridiannya hingga batas paling kritis. Ia tahu, ia harus segera mencari tempat persembunyian yang benar-benar terisolasi untuk menjalani meditasi pemulihan yang panjang.
Tanpa menoleh ke belakang, Ji Mo-Xian berbalik arah, melangkah perlahan meninggalkan lembah yang kini telah berubah menjadi reruntuhan sunyi, melanjutkan perjalanan panjangnya sebagai sang pendekar buta yang terus berjalan di atas garis takdir darah dan keheningan.