Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 17
Zivana merangkul kepala kedua anak itu secara refleks, dadanya bergemuruh hebat bagai dihantam godam. Pandangannya beralih menatap Aidil lurus-lurus, menuntut penjelasan dari pria yang statusnya masih menjadi suaminya tersebut.
"Mas... apa artinya ini?" tanya Zivana. Suaranya terdengar amat tenang, namun begitu dingin hingga menusuk tulang.
"Kenapa kamu membawa Mbak Stela ke rumah kita? Tanpa bicara dulu padaku?"
Aidil berdeham canggung, menghindari tatapan mata Zivana yang jernih.
"Ziva... Stela cuma mau berkunjung sebentar. Dia mau memasak makan malam untuk Khaisar dan Amora. Dia... dia ingin meluruskan kesalahpahaman dengan anak-anak."
Zivana menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman penuh kehancuran dan keheranan yang amat sangat.
"Memasak makan malam? Meluruskan kesalahpahaman? Tanpa bicara dulu padaku yang masih istri sah kamu, Mas?" Aidil membeku.
Stela melangkah satu tapak maju, memotong percakapan dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut namun sarat akan provokasi.
"Maaf ya, Zivana, kalau kedatanganku membuatmu tidak nyaman," ujar Stela dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
"Tapi bagaimanapun juga, aku adalah ibu kandung Khaisar dan Amora. Kasihan anak-anakku selama ini tidak pernah merasakan masakan ibu kandungnya sendiri. Kamu tidak keberatan, kan? Lagipula... aku dan Aidil sedang berusaha memperbaiki hubungan kami demi masa depan anak-anak."
Zivana menatap Stela, lalu beralih menatap Aidil yang hanya diam membisu, sama sekali tidak menepis atau membenarkan perkataan Stela. Detik itu juga, Zivana menyadari betapa murahnya arti kesetiaan dan pengorbanannya selama tiga tahun ini di mata Aidil.
"Mas Aidil..." panggil Zivana lirih, menatap suaminya dengan pandangan yang perlahan memadamkan seluruh sisa cinta di hatinya.
"Jadi ini keputusanmu? Kamu membiarkan wanita yang dulu membuang anak-anakmu masuk ke rumah ini dan menggeser posisiku di depan anak-anak?"
"Bukan begitu, Ziva!" tangkas Aidil panik saat melihat kilat kekecewaan yang teramat dalam di mata istrinya.
"Stela cuma sebentar! Cuma sampai selesai makan malam!"
"Tidak perlu pura-pura, Aidil," sela Stela cepat seraya memegang lengan kemeja Aidil di depan mata Zivana.
"Zivana harus tahu kenyataannya. Kamu sudah janji padaku di mobil tadi, kan? Kamu bilang kamu akan menceraikannya dan kita akan kembali menjadi keluarga utuh!"
Deg.
Udara di sekitar Zivana serasa tersedot habis. Wajah Zivana memucat pasi, namun tubuhnya tetap berdiri tegak bagaikan karang. Ia menatap Aidil yang mendadak panik luar biasa.
"Mas tidak pernah bilang begitu, Ziva! Stela, jangan mengarang cerita!" bentak Aidil dengan suara gemetaran, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Stela di lengannya.
"Kenapa kamu takut mengakuinya, Dil?!" cerce Stela, matanya berkaca-kaca menuntut.
"Kamu bilang kamu tidak pernah mencintai Zivana! Kamu bilang kamu menyayanginya hanya karena dia mengurus anak-anak kita! Kamu cuma mencintaiku, Aidil!"
Zivana memejamkan matanya sejenak. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Stela dan kebungkaman Aidil yang pengecut terasa bagai belati yang menguliti hatinya tanpa ampun. Ketika ia membuka matanya kembali, tak ada lagi air mata di sana. Yang tersisa hanyalah tatapan hampa yang teramat dingin.
Zivana menunduk, mengelus lembut rambut Khaisar dan Amora yang masih menangis di pelukannya.
"Abang... Adik... ikut Bunda ke kamar, ya," bisik Zivana amat halus.
"Kita biarkan Ayah dan Mama kalian menyelesaikan 'makan malam' impian mereka."
Zivana menuntun kedua anak itu melangkah menuju tangga tanpa memandang Aidil atau Stela sedikit pun.
"Ziva! Ziva, tunggu! Dengarkan Mas dulu!" teriak Aidil panik hendak mengejar Zivana, namun Stela menahan lengan pria itu rapat-rapat, menguncinya dalam manipulasi yang kian erat membelenggu.
Di atas tangga, Zivana berhenti sejenak tanpa membalikkan badan. Suaranya bergema pelan namun sangat jelas di seluruh penjuru rumah.
"Silakan nikmati makan malam kalian, Mas. Karena setelah malam ini..."
Suara langkah kaki Stela yang beradu dengan lantai marmer dapur terdengar seperti derap sepatu tentara yang sedang menaklukkan wilayah baru. Ia melangkah masuk, menyapu pandang ke setiap sudut dapur yang selama tiga tahun ini dikelola dengan penuh cinta oleh Zivana.
Stela menyeringai. Ia meraih celemek katun milik Zivana yang tergantung di dinding, lalu melemparnya dengan kasar ke keranjang cucian kotor. Dengan gerakan cekatan, ia mulai menggeledah kabinet bumbu. Ia membuang bumbu yang biasa dipakai Zivana, menggantinya dengan bahan-bahan yang ia tahu persis disukai Aidil.
"Dapur ini terlalu steril, terlalu membosankan," gumam Stela sinis pada dirinya sendiri.
"Sudah saatnya rumah ini kembali memiliki nyawa."
Di lantai atas, ketegangan berada pada titik didih. Zivana sedang berdiri di depan cermin, memasukkan beberapa potong baju ke dalam tas kecilnya, sementara Khaisar dan Amora duduk terdiam di atas tempat tidur, mata mereka sembap karena ketakutan.
Pintu kamar terbuka kasar. Aidil berdiri di sana, napasnya memburu, wajahnya pucat pasi. Ia segera mengunci pintu kamar agar tidak terdengar ke luar.
"Ziva, dengarkan aku!" desak Aidil, berusaha mendekat. Namun Zivana mundur selangkah, menjaga jarak seolah Aidil adalah benda asing yang menjijikkan.
"Kamu salah paham. Stela itu... dia tidak stabil. Dia mengancam akan mengambil hak asuh anak-anak kalau aku tidak menuruti kemauannya hari ini. Aku melakukan ini demi kamu, demi kita!"
Zivana berhenti melipat bajunya. Ia berbalik, menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang, dingin, dan sangat mengintimidasi.
"Demi kita? Jadi membawa wanita yang dulu menelantarkan anak-anak ini ke rumah kita, membiarkannya menguasai dapurku, dan membiarkan dia memaki-maki anak-anak di depan mata kita... itu cara kamu melindungi kita?"
Aidil tergagap. "Bukan begitu... Kamu tahu bagaimana Stela. Dia manipulatif. Kalau aku menolaknya, dia akan berbuat nekat. Aku cuma ingin meredamnya sampai dia tenang, lalu aku akan mengusirnya!"
Zivana tertawa kecil, tawa yang tak sampai ke matanya. "Oh, benarkah? Kamu begitu hebat memerankan tokoh pahlawan yang terpaksa, ya, Mas? Berhenti membohongi dirimu sendiri. Kamu takut padanya bukan karena ancaman, tapi karena kamu masih menikmati perhatiannya. Kamu masih menikmati menjadi pusat dunianya, kan? Kamu masih sangat mencintai Mbak Stela, Mas!"
"Tidak! Aku mencintaimu, Ziva!" seru Aidil, berusaha meraih tangan Zivana, namun sang istri menepisnya dengan gerakan secepat kilat.
"Cinta?" Zivana menatap Aidil seolah pria itu baru saja mengucapkan lelucon yang paling buruk di dunia.
"Kamu tahu arti kata itu, Mas? Cinta itu menjaga, bukan membiarkan orang lain menginjak-injak harga diri pasangannya. Cinta itu jujur, bukan bermain sandiwara di belakang punggungku."
"Ziva, tolonglah..." suara Aidil merendah, ia hampir berlutut.
"Aku cuma butuh waktu. Kamu kan tahu, Stela itu masa laluku yang belum tuntas. Aku harus menyelesaikannya agar kita bisa hidup tenang. Kamu harus sabar sedikit lagi."
Zivana mendekat, menatap wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat. Ia bisa melihat keringat dingin di pelipis Aidil.
"Kamu tahu kenapa aku diam saja selama ini, Mas? Bukan karena aku bodoh. Bukan karena aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku."
Aidil menegang. "Apa maksudmu?"
"Aku tahu semuanya," ujar Zivana dengan nada bicara yang luar biasa tenang, justru itulah yang membuat Aidil gemetar.
"Aku tidak tahu kalau suamiku ternyata adalah pria yang sangat pandai bersandiwara dan berbohong. Aku diam karena aku masih mengharapkan keajaiban. Aku berharap kamu akan sadar siapa yang ada di sampingmu saat kamu jatuh, siapa yang menyuapimu saat kamu sakit, dan siapa yang mencintai anak-anakmu tanpa syarat. Aku hanya berharap akan kejujuran suamiku, tapi ternyata hal itu tak pernah kamu lakukan, Mas! Bahkan kamu sampai berciuman di apartemen Mbak Stela, dia mantan istri kamu, Mas. Bukan mahram kamu. Lalu setelahnya kamu pulang dan meminta hakmu padaku? Sungguh kamu benar-benar pria jahat, Mas! Apa kamu tahu betapa sakitnya hatiku?"
"Ziva..."
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home
hrusnya tegas saat stella datang .... tiba" mngusik keluargamu...
bukan mlah ngasih tempat & mmbuka pintu krusakan lebar"
kmunya aja yg suka trgoda nafsu setan🙄🙄