Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Beberapa belas menit kemudian, mobil Rey akhirnya sampai di depan gedung apartemen tempat tinggal Min-ji. Setelah mobil terparkir sempurna, Rey langsung turun dan membukakan pintu belakang.
"Biar saya gendong saja sampai ke atas," ucap Rey menawarkan diri sebelum Hana sempat memapahnya lagi.
Hana mengangguk cepat, sudah terlalu lelah untuk bersikap sungkan.
"Iya, Pak... biar cepat juga, kasihan dia sudah mulai mual."
Rey membungkuk, lalu dengan mudah mengangkat tubuh Min-ji ke dalam dekapan bridal style-nya. Tubuh Min-ji terasa sangat ringan di dalam pelukan lengan kekarnya.
Mereka bertiga naik menggunakan lift menuju lantai kamar Min-ji. Begitu sampai di depan pintu, Hana dengan cepat menekan deretan angka kode kunci digital pada panel pintu hingga terdengar bunyi klik.
Hana membuka pintu lebar-lebar dan mengarahkan Rey menuju kamar tidur Min-ji yang bernuansa warna pastel.
"Tidurin di sini saja, Pak," ucap Hana menunjuk ranjang.
Rey melangkah mendekat, lalu menurunkan tubuh Min-ji ke atas kasur dengan sangat hati-hati, memastikan kepalanya mendarat di atas bantal yang empuk.
Namun, tepat saat Rey menegakkan punggungnya dan bersiap untuk menarik tangannya kembali untuk pamit pulang, sebuah gerakan tak terduga terjadi.
Tangan Min-ji yang tadinya terkulai mendadak bergerak cepat, mencengkeram kuat pergelangan tangan Rey dengan tenaga yang luar biasa besar untuk ukuran orang mabuk.
Bruk!
Tarikan mendadak itu membuat keseimbangan Rey goyah. Tubuh tegapnya ketarik ke depan, dan dalam hitungan detik, Rey sudah berada tepat di atas tubuh Min-ji, menumpu tubuhnya dengan kedua sikut di sisi kiri dan kanan kepala gadis itu agar tidak menindihnya sepenuhnya.
Wajah mereka berjarak sangat dekat, hingga Rey bisa merasakan embusan napas hangat Min-ji yang beraroma alkohol samar di kulit wajahnya.
"Mau kemana... Hana... Jangan tinggalin aku... Nanti kalau aku diculik gimana..." racau Min-ji melantur, matanya masih terpejam erat namun tangannya justru semakin erat melingkar di leher jaket Rey, mengira pria itu adalah Hana.
Hana yang menyaksikan adegan drama accidental hug itu di depan matanya langsung panik tingkat dewa. Ia menghambur ke tepi ranjang, berusaha melepaskan paksa tangan Min-ji dari jaket Rey.
"Aduh, Min-ji! Lepasin! Itu Pak Rey, bukan aku! Astaga, kamu mau dipecat besok pagi ya?!"
Setelah perjuangan keras selama beberapa detik, Hana akhirnya berhasil memaksa jemari Min-ji melepaskan cengkeramannya.
Rey dengan cepat menarik tubuhnya menjauh, berdiri tegak sambil membenarkan posisi jaket kasualnya yang agak berantakan. Wajahnya tampak sedikit terkejut, namun senyuman geli di bibirnya tidak bisa disembunyikan.
"Maaf ya, Pak Rey... Dia kalau sudah mabuk memang sangat resek dan suka memeluk sembarangan," ucap Hana berkali-kali membungkukkan badannya dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
Rey terkekeh pelan, merapikan kerah jaketnya.
"Ya sudah. Saya pamit pulang dulu ya, Hana. Jaga temanmu dengan baik."
"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya malam ini," ucap Hana tulus, mengantarkan Rey hingga ke depan pintu apartemen sebelum akhirnya masuk kembali untuk mengurus Min-ji yang sudah mendengkur halus di kasur.
Rey berjalan menuruni lorong apartemen menuju basemen dengan langkah kaki yang terasa jauh lebih ringan daripada saat ia keluar dari rumahnya tadi. Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, lalu melajukannya kembali membelah jalanan malam menuju apartemen pribadinya.
Ia melirik ke arah pergelangan tangannya yang tadi sempat dicengkeram erat oleh Min-ji. Sebuah senyuman lebar, tulus, dan sangat renyah mendadak terukir di wajah tampannya.
Walaupun rencana awalnya untuk mencari angin segar malam ini gagal total karena harus berakhir menjadi sopir dan penggendong orang mabuk, Rey merasa malam ini tidak buruk sama sekali.
Kehadiran dua sahabat Alesia Fiore yang penuh warna itu terutama gadis resek yang memeluknya di kasur tadi entah bagaimana berhasil mengalihkan seluruh rasa sedih dan sepi yang sempat menggelayuti hatinya.
"Lucu banget," gumam Rey sendirian di dalam kabin mobil yang sunyi, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sisa tawa yang tertinggal.
Bayangan wajah merah padam Min-ji saat meracau tadi mendadak mengunci pikirannya, menjadi awal dari sebuah ketertarikan baru yang tak terduga di tengah rumitnya rencana tiga bulan keluarga Alessio.